Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Lembaga Pengangkatan Anak Dalam Kewenangan

Lembaga Pengangkatan Anak Dalam Kewenangan

Ratings:
(0)
|Views: 90|Likes:
Published by Uzwa Khazana Aquino

More info:

Published by: Uzwa Khazana Aquino on Feb 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

 
LEMBAGA PENGANGKATAN ANAK DALAM KEWENANGANPENGADILAN AGAMA[ Oleh : Uswatun Khasanah Alaqila, S.HI]
A. PendahuluanKeinginan mengembangkan keturunan adalah naluri setiap manusia. Untuk kepentingan itumanusia perlu melakukan pernikahan. Dari pernikahan tersebut terjalinlah sebuah ikatan suamiisteri yang pada gilirannya terbentuk sebuah sebuah keluarga berikut keturunannya berupa anak-anak. Dengan demikian kehadiran anak tidak hanya dipandang sebagai konsekuensi adanyahubungan biologis antara janis kelamin laki-laki dan perempuan, tetapi lebih dari itu, jugamerupakan keinginan yang sudah melembaga sebagai naluri setiap manusia. Oleh karenanya,rasanya kurang lengkaplah sebuah keluarga tanpa kehadiran seorang anak. Bahkan, dalam kasustertentu tanpa kehadiran seorang anak dianggap sebagai aib yang menimbulkan rasa kurang percaya diri bagi pasangan suami istri.Akan tetapi, karena berbagai hal atau alasan tertentu keinginan memperoleh anak tidak dapattercapai. Dalam keadaan demikian berbagai perasaan dan pikiran akan timbul dan pada tatarantertentu tidak jarang perasaan dan pikiran tersebut berubah menjadi kecemasan. Kecemasantersebut, selanjutnya diekspresikan oleh salah satu pihak atau kedua pihak, suami istri, dalam bentuk tindakan-tindakan tertentu. Salah satu tindakan suami istri, ketika keturunan berupa anak yang didambakan tidak diperoleh secara natural adalah dengan cara mengambil alih anak oranglain. Selanjutnya, anak tersebut dimasukkan ke dalam anggota keluarganya sebagai penggantianak yang tidak bisa diperoleh secara alami tersebut. Cara memperoleh anak dengan cara ini,dalam istilah hukum Perdata Barat lazim disebut sebagai adopsi yang dalam tulisan ini disebut penulis sebut sebagai pengangkatan anak.Pengangkatan anak yang ada di Indonesia sekarang, memang telah dimulai sejak lama. Dalammasyarakat yang memiliki adat tertentu, telah lama dijumpai praktek pengangkatan anak ini.Hanya saja, motivasi dan cara serta akibat pengangkatan anak tersebut berbeda-beda antaramasyarakat yang satu dengan yang lain.Meskipun praktek pengangkatan anak telah lama melembaga di berbagai suku bangsa di tanahair, akan tetapi di satu sisi, sebagaimana diakui Mahkamah Agung, aturan hukumyang mengatur mengenai hal itu sampai saat ini belum memadai.1 Di sisi yang lain, pengesahan pengangkatan anak tersebut telah diklaim sebagai lembaga hukum yang menjadi kewenanganmutlak Pengadilan Negeri. Pada hal, pada saat yang sama sejak diberlakukannya KHI PengadilanAgamapun merasa berkepentinganµ pula untuk menangani pengesahan pengangkatan anak ini.Alasannya adalah KHI telah secara eksplisit istilah anak angkat menurut versinya. KetantuanKHI tersebut berikut, secara yuridis formal, telah tertuang dalam ketentuan dalam penjelasanPasal 49 ayat 1 huruf UU Nomor 3 Tahun 2006. Letak persoalannya adalah, bahwa sampai saatini belum ada juklakµ yang tegas dari Mahkamah Agung terkait dengan praktek pengangkatananak versi Hukum Islam di lingkungan Peradilan Agama. Kondisi demikian tidak saja akanmembingungkan para pencari keadilan ketika akan mengajukan permasalahannya
, tetapi jugaakan menimbulkan benturan pemahaman ketika produk peradilan itu harus berhubungan denganinstitusi lain non peradilan dalam sistem kenegaraan. Tulisan berikut, dimaksudkan untuk membahas seputar pengangkatan anak dengan mencari jawaban atas rumusan masalah sebagaisebagaui berikut :1. Bagaimana pandangan Hukum Barat, Hukum Adat, dan Hukum Islam terhadap lembaga pengangkatan anak;
 
2. Bagaimana Pengadilan Agama melaksanakan kewenangan pengesahan pengangkatan Anak.B. Pengertian Pengangkatan Anak dan Macam-macamnya1. PengertianDalam Kamus Hukum kata adopsi yang berasal dari bahasa latin
adoptio
diberi arti :Pengangkatan anak sebagai anak sendiri.2Rifyal Kaµbah, dengan mengutip
 Blackl¶s Law Dictionary
, mengemukakan bahwa adopsi adalah penciptaan hubungan orang tua anak oleh perintah pengadilan antara dua pihak yang biasanyatidak mempunyai hubungan (keluarga ).31 Lihat SEMA RI Nomor 6 Tahun 1983 2 Andi Hamzah, 1986,
 Kamus Hukum,
PT Ghalia,Bandung, halaman 28 3 Rifyal Kaµbah,
 Pengangkatan Anak Dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UU Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama
( Artikel dalamSuara UldilagEdisi Maret 2007 )2. Macam-macamnyaa. Dilihat dari jenis norma hukumnya, bahwa setidaknya dikenal 3 macam pengangkatan anak yaitu :1) Pengangkatan anak yang bersumber dari Hukum Barat;2) Pengangkatan anak yang bersumber dari Hukum Adat3) Pengangkatan anak yang bersumber dari Hukum lainnya.Pengangkatan anak versi ketiga ini termasuk di dalamnya pengangkatan anak yang bersumber dari Hukum Islam. Dalam pembahasan ini pengangkatan jenis inilah yang mendapat porsi inti pembahasan. b. Dilihat dari segi subjek dan objeknya, ada tiga macam pengangkatan anak :1) Pengangkatan anak oleh dan kepada sesama WNI;2) Pengangkatan anak oleh WNI kepada anak WNA;3) Pengangkatan anak oleh WNA kepada anak WNI;Dengan pertimbangan urgensinya dan keterbatasan ruang, dalam pembahasan berikut, penulishanya membahas pengangkatan jenis pertama, yaitu pengangkatan anak oleh dan kepada WNI.C. Aturan Hukum Yang Berkaitan Dengan Pengangkatan Anak.Sebagaimana telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu bahwa adopsi merupakan istilahyang dikenal dari lembaga hukum yang berasal dari hukum perdata Barat (Belanda ). Olehkarena sampai saat ini, Indonesia sebagian hukum perdatanya juga masih memberlakukanHukum Perdata Barat, dalam hal ini Burgelijk wet Boek ( BW ), maka ketentuan-ketentuanmenganai pengangkatan anak tersebut, dapat dilihat pada ketentuan-ketantuan yang ada dalamBW. Akan tetapi kenyataannya BW sendiri tidak mengatur mengenai adopsi sebagaimana yangterjadi dalam praktek.Sebagaimana dikemukakan oleh R. Soeroso, adopsi yang diatur dalam BW hanya adopsi atau pengangkatan
anak luar kawin
, yaitu sebagaimana termuat pada Buku I Bab XII Bagian III pasal280 sampai dengan 290. Sedangkan, pengangkatan anak sebagaimana terjadi dalam praktek dimasyarakat dan dunia peradilan sekarang, tidak hanya terbatas pada pengangkatan anak luar kawin, tetapi sudah mencakup pengangkatan anak dalam arti luas. Dengan demikian,sebenarnya, BW tidak mengatur pengangkatan anak sebagaimana dikenal sekarang. Hanya sajakemudian, untuk memenuhi tuntutan masyarakat, olehPemerintah Belanda dikeluarkan Stb. 1917 Nomor 129 yang memberikan ketantuan mengenaiadopsi bagi masyarakat Tionghoa, dalam hal ini diatur dalam ketentuan Pasal 5 sampai denganPasal 15. Di dalamnya diatur tentang siapa yang boleh mengangkat, siapa yang boleh diangkat
 
sebagai anak angkat, dan tatacara pengangkatan anak, termasuk di dalamnya syarat-syarat pengangkatan anak.4Menurut R. Soeroso Staatsblad tersebut merupakan satu-satunya pelengkap dari BW. Olehkarena itu, segala persoalan menyangkut adopsi versi Barat semata-mata harus beranjak dariStaatsblaad tersebut.5 Melihat praktek permohonan pengangkatan anak di peradilan dari hari kehari semakin marak, terlepas dari motivasi yang melatarbelakangi pemohon, dan aturan yangmengatur mengenai hal itu masih dirasa kurang, maka Mahkamah Agung memandang perluuntuk memberikan tambahan aturan yang bersifat teknis mengenai pengangkatan anak tersebut.Kepedulian Mahkamah Agung tersebut diwujudkan dengan mengeluarkan aturan dalam bentuk Surat Edaran. Paling tidak sudah ada 4 ( empat ) Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA)mengenai pengangkatan anak tersebut, antara lain:a. Surat Edaran Nomor 2 Tahun 1979.6 b. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1983.7c. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 1989.8Ketiga Surat Edaran yang isinya saling melengkapi tersebut disamoping berisi koreksiseperlunya terhadap praktek pengesahan pengangkatan anak yang selama ini dilakukan olehPengadilan Negeri, juga berisi tambahan petunjuk teknis pengangkatan anak yang ideal.Beberapa petunjuk teknis tersebut antara lain sebagai berikut :1. Syarat dan bentuk surat permohonan;2. Isi Surat Permohonan;3. Syarat calon orang tua angkat dan anak angkat;4. Seputar teknis pemeriksaan perkara dalam persidangan;5. Format putusan;4 R.Soeroso, 2001,
 Perbandingan Hukum
, halaman 179. 5 Ibid. 6Mahkamah Agung RI,Himpunan Surat Edaran Mauhakamah Agung RI, halaman 7
 Ibid 
8
 Ibid 
Dengan demikian, beberapa tambahan petunjuk teknis tersebut ada yang menyangkut HukumAcara.D. Pengangkatan Anak Menurut Hukum Barat dan Hukum Adat.1. Menurut Hukum AdatMenurut catatan Ter Haar, sebagaimana dikutip oleh J. Satrio, pengangkatan anak di dalamHukum Adat bukan merupakan sesuatu lembaga yang asing. Lembaga ini dikenal luas hampir diseluruh Indonesia.
9
Alasan
yang menjadi pertimbangan pengangkatan anak juga bermacam-macam. Ada yang karena untuk kepentingan pemeliharaan di hari tua dan ada yang keranakasihan terhadap anak yatim piatu. Bahkan, ada kalanya pengangkatan anak dilakukan dengan pertimbangan yang mirip dengan adopsi yang diatur oleh ketentuan adopsi ( Stb Nomor 129tahun 1917 ) yaitu untuk menghindari punahnya suatu keluarga.10Tentang
 siapa yang boleh mengangkat anak 
tidak ada ketentuannya. Akan tetapi menurut R.Soeroso, dijumpai ketentuan minimal berbeda 15 tahun. Demikian juga tentang siapa yang bolehdiadopsi juga tidak ada ketentuan harus anak laki-atau anak perempuan. Batas usia anak yangdapat diangkat juga berbeda antara dearah hukum yang satu dengan daerah hukum yang lain.11Hal ini wajar mengingat perbedaan-perbedaan adat di suatu tempat juga memungkinkanterjadinya perbedaan nilai-nilai hukum mereka.Adapun
akibat hukum
 pengangkatan anak menurut adat, menurut J.Satrio, bahwa anak itumempunyai kedudukan seperti anak yang lahir dari perkawinan suami istri yang mengangkatnyadan hubungannya dengan keluarga asal menjadi putus. Penerimaan anak angkat sebagai keluarga

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->