tidak boleh didirikan di tempat lintasan binatang buas atau tempat-tempat yang diyakini ada makhluk halus penghuni rimba. Bahanyang digunakan untuk penyangga gubuk juga tidak bolehmenggunakan kayu bekas lilitan akar (
uroet
), karena ditakutkan akanmengundang ular masuk ke
jambô
tersebut.Ada pula
pantang daruet
yang maksudnya anggota
suneubôk
dilarang menggantung kain pada pohon, mematok parang padatunggul pohon, dan menebas (
ceumeucah
) dalam suasana hujan. Halini karena ditakutkan dapat mendatangkan hama belalang (
daruet
).Selain itu, di dalam kebun (hutan) juga dilarang berteriak-teriak atau memanggil-manggil seseorang saat berada dihutan/kebun. Hal ini ditakutkan berakibat mendatangkan hamaatau hewan yang dapat merusak tanaman, seperti tikus, rusa, babi,monyet, gajah, dan sebagainya.Disebutkan pula bahwa dalam adat Aceh terdapat pantanganmasuk hutan atau hari-hari yang dilarang.
Karena
ureueng Aceh
kental keislamannya, hari yang dilarang itu biasanya berkaitandengan ´hari-hari agamaµ seperti Jumat, hari meugang (
uroe makmeugang
), hari raya fitri dan adha (
uroe raya
), termasuk hari
rabu abéh
(rabu terakhir pada bulan Safar). Dilarang juga masuk kebun
bak uroe pring
atau
kom
(hari libur), yakni sehari setelah
peutua blang simula
(
keujruen
menanam padi). Hari
khanduri meulôd
(memperingatikelahiran nabi Muhammad saw.) juga menjadi hari yang pantangmasuk hutan, baik dalam konteks berkebun, menebang kayu,maupun berburu binatang. Jika hari-hari yang sudah disepakatisebagai ´
hari pantang meublang
µ ini kedapatan ada yang masukhutan, akan dijatuhkan sanksi adat di bawah kendali
panglima uteuen.
Ini membuktikan betapa kukuhnya instansi adat dalammasyarakat Aceh. Namun, semua ini mulai luntur, terutama daerah-daerah perkotaan.Aceh juga mencatat sejumlah larangan atau pantangan dalamperilaku. Hal ini seperti memanjat atau melempar durian muda,meracun ikan di sungai atau
alue
, berkelahi sesama orang dewasadalam kawasan
seuneubôk,
mengambil hasil tanaman orang lainsemisal buah rambutan, durian, mangga, dll. walaupun tidakdiketahui pemiliknya, kecuali buah yang jatuh. Larangan tersebuttentunya menjadi cerminan sikap kejujuran dalam kehidupan dibumi yang mahaluas ini.
Adat Bersawah
Dalam bersawah (
meupadé
), juga terdapat sejumlah ketentuandemi keberlangsungan kenyaman dan keamanan bercocok tanam.Hal ini seperti
hanjeut teumeubang watèe padé mirah.
Maksudnyaadalah tidak boleh memotong kayu saat padi hendak dipanen. Kalauini dilanggar, dipercaya akan mendatangkan hama wereng (
geusong
)
.
Demi menghindari sawah sekitar ikut imbas hama wereng, bagi sipelanggar ketentuan itu dikenakan denda oleh
keujruen blang.
Add a Comment