/  4
 
Adat
Meublang 
, Mitos atau Kearifan
 
Ol
eh Herman RN
Sebagai masyarakat yang terkenal menjunjung tinggi budaya leluhur,
ureueng Aceh 
memiliki keberagaman adat dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, masyarakat yang mendiami Aceh sekarang ³ kemungkinan masyarakat Aceh asli³sudah mulai kurang memahamiantara adat dengan yang hanya merupakan sebuah kebiasaansemata (reusam). Ada pula yang mulai menganggap adat sebagaimitos belaka, terutama bagi sebagian orang yang mengklaim dirinyatelah berpikir maju alias modern. Akibatnya, kearifan sebagai adatatau tradisi hanya kamuflasi mistik alias terbelakang.Bagi sebagian
ureueng Aceh 
, adat tetaplah sebuah kearifanyang mesti dijaga, dilestarikan, dijalani, dan diterapkan dalamkehidupan sebagai bagian dari ¶norma kedamaian·. Karena itu, bagiyang melanggar adat dikenakan sanksi yang telah disepakati dalamkawasan masyarakat adat dimaksud, tentu saja sanksi adat satudaerah dengan daerah lain berbeda. Namun, inti dari sebuahpelanggaran adat adalah ´maluµ merupakan sebuah keseragaman.Hal ini senada dengan hadih maja
meulangga hukôm raya akibat,meulangga adat malèe bak donya 
¶melanggar hukum (syar·i) besarakibat, melanggar adat malu di dunia·.Tingginya nilai-nilai adat dalam masyarakat Aceh tercerminpula dalam bercocok tanam yang dimulai sejak pembukaan lahan.Dalam hal ini, ada lembaga/instansi adat yang berwenang, yakni
panglima uteuen 
yang dibawahi beberapa struktur adat lainnyaseperti
petua seuneubôk, keujruen blang, pawang glé,
dan sebagainya.Dalam sistem pengelolaan hutan sebagai lahan bercocoktanam, fungsi
petua seuneubôk 
tak dapat dinafikan.
Seuneubôk 
 sendiri maknanya adalah suatu wilayah baru di luar gampông yangpada mulanya berupa hutan. Hutan tersebut kemudian dijadikanladang. Karena itu, pembukaan lahan
seuneubôk 
harus selalumemperhatikan aspek lingkungan agar tidak menimbulkan dampaknegatif bagi anggota
seuneubôk 
dan lingkungan hidup itu sendiri.Maka fungsi
petua seuneubôk 
menjadi penting dalam menatabercocok tanam, di samping kebutuhan terhadap
keujruen blang.
Menurut qanun nomor 10 tahun 2008 pasal 32,
petua seuneubôk 
dipilih oleh masyarakat dalam kawasan hutan yang telahµdilahankanµ tersebut, yang ditentukan dalam musyawarahmasyarakat kawasan
seuneubôk 
dimaksud. Seorang
petua seuneubôk 
mempunyai tugas (a) mengatur dan membagi tanah lahan garapandalam kawasan
seuneubôk; 
(b) membantu tugas pemerintah bidangperkebunan dan kehutanan; (c) mengurus dan mengawasipelaksanaan upacara adat dalam wilayah
seuneubôk 
; (d)menyelesaikan sengketa yang terjadi dalam wilayah
seuneubôk; 
dan
 
(e) melaksanakan dan menjaga hukum adat dalam wilayah
seuneubôk 
.
Membuka Lahan
Berbicara masalah adat identik dengan aturan-aturan di suatutempat/daerah/wilayah. Dalam pembukaan lahan untuk bercocoktanam, bagi
ureueng Aceh 
terdapat sejumlah aturan yang sudahhidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Aturan-aturan tersebutdimisalkan terhadap tata cara penebangan kayu hutan seperti tidakboleh menebang kayu-kayu besar yang menjadi tempat bersaranglebah (tawon). Hal semacam ini sudah menjadi pantangan umumyang apabila dilanggar dapat merugikan orang banyak.Kearifan
ureueng Aceh 
juga terdapat dalam larangan menebangpohon pada radius sekitar 500 meter dari tepi danau, 200 meter daritepi mata air dan kiri-kanan sungai pada daerah rawa, sekitar 100meter dari tepi kiri-kanan sungai, sekitar 50 meter dari tepi anaksungai (alue). Semua aturan ini sudah menjadi ketetapan lembagaadat suatu daerah demi menjaga keberlangsungan hidup alam danmasyarakat di daerah tersebut. Jika aturan-aturan ini dilanggar,
panglima uteuen 
sebagai instansi adat berhak menjatuhkan sanksikepada si pelanggar atau imbasnya akan mendera masyarakatbanyak semisal banjir dan turunnya binatang buas ke pemukimanpenduduk.Adat semacam ini terkesan mulai dikesampingkan dengandalih zaman sudah maju sehingga semua aturan-aturan yang sudahlestari dalam masyarakat adat itu dianggap sebagai mitos. Akibatnya,saat ini terdapat daerah-daerah rawan banjir dan daerah-daerahrawan binatang buas.Manakala adat semacam itu dianggap mitos, bagaimana puladengan hadih maja
tanoh sih·èt u timu pusaka jirat/ sih·èt u barat pusaka papa/ sih·èt u tunong geulantan/ sih·èt u seulatan pusaka kaya ¶ 
tanah miring ke timur pusaka kubur/ miring ke barat pusakapapa/ miring ke utara tanah menang/ miring ke selatan pusakakaya· 
.
Tentu kearifan yang tergambar dalam hadih maja tersebutakan dianggap oleh orang-orang yang mengaku berpikir maju sebagaimistik yang dibuat-buat atau kepercayaan yang ditambah-tambah.Padahal, maksud kata-kata bijak tersebut jelas menyiratkan betapaletak kemiringan tanah sangat berpengaruh pada hasil tanam karenamenyangkut siklus edar cahaya matahari. Bukankah di alam initerdapat ilmu semesta?
P
antangan
Selain itu, dalam adat Aceh dikenal pula sejumlah pantangansaat membuka lahan di wilayah
seuneubôk.
Pantangan itu seperti
peudong jambô.
 
Jambô 
atau gubuk tempat persinggahan melepaslelah sudah tentu ada di setiap lahan. Dalam adat
meublang, jambô 
 
tidak boleh didirikan di tempat lintasan binatang buas atau tempat-tempat yang diyakini ada makhluk halus penghuni rimba. Bahanyang digunakan untuk penyangga gubuk juga tidak bolehmenggunakan kayu bekas lilitan akar (
uroet 
), karena ditakutkan akanmengundang ular masuk ke
jambô 
tersebut.Ada pula
pantang daruet 
yang maksudnya anggota
suneubôk 
dilarang menggantung kain pada pohon, mematok parang padatunggul pohon, dan menebas (
ceumeucah 
) dalam suasana hujan. Halini karena ditakutkan dapat mendatangkan hama belalang (
daruet 
).Selain itu, di dalam kebun (hutan) juga dilarang berteriak-teriak atau memanggil-manggil seseorang saat berada dihutan/kebun. Hal ini ditakutkan berakibat mendatangkan hamaatau hewan yang dapat merusak tanaman, seperti tikus, rusa, babi,monyet, gajah, dan sebagainya.Disebutkan pula bahwa dalam adat Aceh terdapat pantanganmasuk hutan atau hari-hari yang dilarang.
 
Karena
ureueng Aceh 
kental keislamannya, hari yang dilarang itu biasanya berkaitandengan ´hari-hari agamaµ seperti Jumat, hari meugang (
uroe makmeugang 
), hari raya fitri dan adha (
uroe raya 
), termasuk hari
rabu abéh 
(rabu terakhir pada bulan Safar). Dilarang juga masuk kebun
bak uroe pring 
atau
kom 
(hari libur), yakni sehari setelah
peutua blang simula 
(
keujruen 
menanam padi). Hari
khanduri meulôd 
(memperingatikelahiran nabi Muhammad saw.) juga menjadi hari yang pantangmasuk hutan, baik dalam konteks berkebun, menebang kayu,maupun berburu binatang. Jika hari-hari yang sudah disepakatisebagai ´
hari pantang meublang 
µ ini kedapatan ada yang masukhutan, akan dijatuhkan sanksi adat di bawah kendali
panglima uteuen.
Ini membuktikan betapa kukuhnya instansi adat dalammasyarakat Aceh. Namun, semua ini mulai luntur, terutama daerah-daerah perkotaan.Aceh juga mencatat sejumlah larangan atau pantangan dalamperilaku. Hal ini seperti memanjat atau melempar durian muda,meracun ikan di sungai atau
alue 
, berkelahi sesama orang dewasadalam kawasan
seuneubôk,
mengambil hasil tanaman orang lainsemisal buah rambutan, durian, mangga, dll. walaupun tidakdiketahui pemiliknya, kecuali buah yang jatuh. Larangan tersebuttentunya menjadi cerminan sikap kejujuran dalam kehidupan dibumi yang mahaluas ini.
Adat Bersawah
Dalam bersawah (
meupadé 
), juga terdapat sejumlah ketentuandemi keberlangsungan kenyaman dan keamanan bercocok tanam.Hal ini seperti
hanjeut teumeubang watèe padé mirah.
Maksudnyaadalah tidak boleh memotong kayu saat padi hendak dipanen. Kalauini dilanggar, dipercaya akan mendatangkan hama wereng (
geusong 
)
.
 Demi menghindari sawah sekitar ikut imbas hama wereng, bagi sipelanggar ketentuan itu dikenakan denda oleh
keujruen blang.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...