Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
1
Hachiko dan Luka yang Setia
Eka KurniawanHachiko pertama kali datang ke Tokyo tahun
1924
, diadopsi seorang profesor dari Universitas Tokyo, Hidesaburo Ueno. Ia seekor anjing putihperanakan Akita Inu, lahir setahun sebelumnya di Odate.
Anita datang ke Tokyo tepat saat musim gugur berakhir.Dengan mantel yang tampak berat untuk tubuh mungilnya, ser-ta sepatu boot setinggi lutut, ia keluar dari kereta dan masukke aliran manusia yang tumpah melalui pintu Stasiun Shibuya.Udara dingin yang berembus dari utara terasa sangat dingin.Anita mencopot
earphone 
di telinganya, mematikan musik danberdiri di tepi persimpangan. Tanpa maksud menyeberang.Ia melirik ke jam tangannya, lalu mengedarkan tatapannyake sekitar. Seperti apa wajahnya sekarang, pikirnya. Orang-oranglalu-lalang. Jika ia tak salah ingat, itu simpang jalan paling sibukdi dunia. Agak susah menemukan seseorang di tengah jubelanmanusia. Tapi ia yakin, ia bisa mengenalinya. Sebagaimana ter-akhir kali ia meninggalkan lelaki itu. Terakhir kali menyakitinya.“Anita.” Tiba-tiba telinganya mendengar seseorang ber-bisik.***
© 2010, Eka Kurniawan (http://ekakurniawan.com). Cerpen ini pernah dimuat di
Femina
, Edisi Ulang Tahun, 23 September 2010.
 
2
Hachiko dan Hidesaburo Ueno setiap hari berjalan bersama ke StasiunShibuya. Hidesaburo Ueno melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Universitas Tokyo, sementara Hachiko pulang.
Delapan tahun lalu, mereka masih suka berjalan bersamake Shibuya walau sekadar minum kopi di Starbucks, tepat diseberang jalan stasiun Shibuya. Jika mereka memperoleh tempatduduk persis di dekat jendela, mereka akan menonton orang-orang yang lalu-lalang, serta gadis-gadis yang menawarkan sele-baran. Tapi yang paling mereka suka, tentu saja melihat parapelancong yang berfoto di depan patung Hachiko.Di sanalah terakhir kali mereka bertemu. Hakim jauh-jauhdatang dari Nara dengan kereta untuk bertemu dengannya. Se-lama lebih dari dua jam, mereka hanya duduk memandangi pe-lataran stasiun, dengan kopi yang nyaris tak tersentuh, tak bicarasatu sama lain. Anita ingat, saat itu bartender kafe memutar lagu“Your Body is a Wonderland” John Mayer. Hingga kemudianHakim berkata:“Anita, kembalilah padaku.”Anita, hampir menumpahkan airmatanya, menggeleng per-lahan. “Enggak,bisiknya.***
Di sore hari, Hachiko akan menjemput tuannya di muka pintu StasiunShibuya. Ia akan menemukan Hidesaburo Ueno di antara jubelan pen-umpang kereta, sebelum bersama-sama kembali ke rumah mereka.
Sama-sama kesepian di tengah hiruk-pikuk Tokyo, merekaberjumpa tak sengaja di gerbang masuk Kuil Meiji. Saat itu Ani-ta sedang membasuh tangannya dengan air dari gayung, sepertiorang berwudhu, dan untuk pertama kali mengunjungi kuiltersebut. Matanya menatap seorang lelaki yang tengah menu-liskan doa di papan permohonan dan menggantungkannya ditiang. Dengan sekali lirik, Anita tahu, lelaki itu dari Indonesia.“Kamu memohon apa dalam doamu?” tanya Anita, basa-
 
3
basi perkenalan.“Itu bukan urusanmu,” kata si lelaki.Itu kali pertama pula Anita merasa sakit hati oleh lelakitersebut, yang kemudian ia kenal bernama Hakim. Dan kisahselanjutnya merupakan sejarah saling menyakiti di antara mereka,selama lima tahun.***
Hachiko terus mengantar dan menjemput sang profesor, hingga bahkanpara pelaju dan petugas di Stasiun Shibuya segera mengenali rutinitastersebut. Namun itu berakhir di bulan Mei 
1925
.
Sekali waktu, karena tersinggung dengan kata-katanya,Anita menjambak rambut Hakim sementara mereka berjalandi trotoar yang mengarah ke Roponggi. Hakim mendorongnyahingga Anita terhuyung dan terjerembab ke gerumbul pohonpinggir jalan. Itu membuatnya makin kesal, ia menghampiri Ha-kim dan menampar pipinya. Hakim balas menamparnya. Anitakembali menjambat rambut Hakim, yang setengah gondrong.Hakim meraih rambut Anita yang tergerai sebahu.Anita nyaris menggigit tangan kekasihnya, dan Hakim nyarismelemparkan gadis itu ke jalan, seandainya dua orang polisi taklewat dan melerai mereka. Keduanya menginap semalam di kan-tor polisi. Tapi itu tak menghalangi mereka untuk saling melem-parkan kopi panas di warung kopi dua minggu setelahnya, danharus dilerai oleh bartender sebelum mereka saling melempar kursi.“Brengsek, kita bubar. Kamu dan aku,” kata Hakim sambilmeninggalkan Anita di meja kafe.“Baik kalau itu maumu!” teriak Anita. Gaunnya koyak kenatarik tangan Hakim.***
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more