2
Hachiko dan Hidesaburo Ueno setiap hari berjalan bersama ke StasiunShibuya. Hidesaburo Ueno melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Universitas Tokyo, sementara Hachiko pulang.
Delapan tahun lalu, mereka masih suka berjalan bersamake Shibuya walau sekadar minum kopi di Starbucks, tepat diseberang jalan stasiun Shibuya. Jika mereka memperoleh tempatduduk persis di dekat jendela, mereka akan menonton orang-orang yang lalu-lalang, serta gadis-gadis yang menawarkan sele-baran. Tapi yang paling mereka suka, tentu saja melihat parapelancong yang berfoto di depan patung Hachiko.Di sanalah terakhir kali mereka bertemu. Hakim jauh-jauhdatang dari Nara dengan kereta untuk bertemu dengannya. Se-lama lebih dari dua jam, mereka hanya duduk memandangi pe-lataran stasiun, dengan kopi yang nyaris tak tersentuh, tak bicarasatu sama lain. Anita ingat, saat itu bartender kafe memutar lagu“Your Body is a Wonderland” John Mayer. Hingga kemudianHakim berkata:“Anita, kembalilah padaku.”Anita, hampir menumpahkan airmatanya, menggeleng per-lahan. “Enggak,” bisiknya.***
Di sore hari, Hachiko akan menjemput tuannya di muka pintu StasiunShibuya. Ia akan menemukan Hidesaburo Ueno di antara jubelan pen-umpang kereta, sebelum bersama-sama kembali ke rumah mereka.
Sama-sama kesepian di tengah hiruk-pikuk Tokyo, merekaberjumpa tak sengaja di gerbang masuk Kuil Meiji. Saat itu Ani-ta sedang membasuh tangannya dengan air dari gayung, sepertiorang berwudhu, dan untuk pertama kali mengunjungi kuiltersebut. Matanya menatap seorang lelaki yang tengah menu-liskan doa di papan permohonan dan menggantungkannya ditiang. Dengan sekali lirik, Anita tahu, lelaki itu dari Indonesia.“Kamu memohon apa dalam doamu?” tanya Anita, basa-