Makalah ini disampaikan pada pelatihan jurnalistik mahasiswa se-Aceh, 28- 30 Desember 2009, di Wisma Kompas, Banda Aceh.
RN Page 2
Ironis, perjalanan waktu telah membuat bahasa mengalami tigakejadian yang sangat menjebak, yakni
manipulasi, feodalisme,
dan
eufemisme.
Manipulasi
bahasa maksudnya berusaha mempengaruhseseorang dengan bahasa. Hal ini sering kita dapatkan pada judul-judul berita di surat kabar agar pembaca tertarik membeli suratkabar tersebut. Menarik pembaca dengan judul berita sangatdiperbolehkan. Namun, jangan sampai hanya menarik padajudulnya, sedangkan isinya tidak ada apa-apa, bahkan tidak
nyambung
sama sekali dengan judul. Tak urung orang berpendapat´Ah, isinya kosong,µ setelah selesai membaca berita tersebut. Jika initerjadi, berarti bahasa surat kabar tersebut telah memanipulasipembaca. Memanipulasi sederhana ´membohongiµ. Jika ada sepuluhorang yang membaca berita yang Anda tulis akibat judul yangmemanipulasi tersebut, sejatinya sudah sepuluh orang Anda tipu.
Feodalisme
sering disandingkan dengan kekuasaan tuan tanah,yang sederhananya bisa juga dikatakan dengan ´lintah daratµ. Akantetapi, dalam konteks ini, yang dimaksud dengan feodalisme adalahgaya bahasa kebangsawanan. Lebih jelasnya dapat kita katakanbahasa yang terlalu baku dan ilmiah. Bukan berarti bahasa mediatidak boleh ilmiah, tetapi penggunaan bahasa terlalu ilmiah dapatmengganggu pembaca, kecuali memang media yang ditujukan kepadakaum ilmiah. Perlu diingat bahwa kita menulis berita untukmasyarakat, bukan kalangan tertentu. Yang namanya masyarakatboleh diasumsikan mulai dari ´penanam tomat hingga pembuatpesawatµ. Maka akan menjadi tak bersinergi berita yang disajikanapabila bahasanya tidak mampu dijangkau oleh masyarakat luas.Mengutip pendapat para ahli linguistik, ´Bahasa adalah alatkomunikasiµ. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik seyogianya adalahbahasa komunikatif, mudah dipahami oleh masyarakat luas, dalamartian tidak terlalu pasaran dan tidak terlalu ilmiah. Penggunaanistilah yang berlebihan dapat dikategorikan sebagai bahasa ilmiahyang masyarakat tani belum tentu dapat memahami istilah tersebut.Intinya, ´kalau ada bahasa yang lebih mudah dimengerti, mengapaharus bermain istilah sulit.µ
Eufemisme
dapat dipahami gaya bahasa yang sengaja dihalus-haluskan. Sayangnya, pada taraf penghalusan, sering orang lupabahwa makna yang hendak disampaikan sudah lenyap. Akibatnya,muncul ungkapan ¶bahasa gelap·.Mulanya, bahasa
eufemisme
dalam pers (jurnalistik) marakdigunakan masa Orde Baru (Orba). Maksudnya adalah menghindaripengungkapan yang kasar. Misalnya
bui, sel, (L
P
, Lembaga
P
emasyarakatan), ditahan polisi (diamankan), harga BBM naik (harga BBM disesuaikan), dll.
Gaya
eufemisme
ini akan berakibat fatal jika
Add a Comment