Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahasa dalam Jurnalistik

Bahasa dalam Jurnalistik

Ratings: (0)|Views: 1,255 |Likes:
Published by Herman RN

More info:

Published by: Herman RN on Mar 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

 
Makalah ini disampaikan pada pelatihan jurnalistik mahasiswa se-Aceh, 28- 30 Desember 2009, di Wisma Kompas, Banda Aceh.
 
RN Page 1
Bahasa dalam Jurnalistik
Oleh Herman RN
enulis dan penyuka sastra, alumni I Sekolah Menulis Dokarim 
TENTU sudah banyak buku tentang jurnalistik yang diterbitkan. Diantara buku-buku itu ditulis langsung oleh mereka yang terlibatsecara praktis di dunia pers. Sebut saja di antaranya Rosihan Anwar(1991), Asegaf (1982), Jacop Oetama (1987). Namun demikian, bukanmustahil pula masih terdapat kesalahan penulisan berita di mediamassa, terutama cetak, oleh para wartawan. Oleh karena itu, melihatdan menyimak kembali kebahasaan dalam berita bukan tidakmungkin dilakukan secara kontinyu.Hal ini tentunya sangat penting bagi wartawan pemula maupuncalon wartawan³termasuk orang-orang yang berminat jadi jurnalis.Membatasi kajian dalam warkah ini, saya hanya mengemukanbeberapa hal yang acap terjadi dalam bahasa tulis jurnalistik.Bahasa jurnalistik disebut juga dengan bahasa pers.Pembicaraan bahasa jurnalistik tentunya berkait dengan bahasa tulis(teks). Akan tetapi, bukan berarti ini hanya berguna bagi jurnalismedia cetak, sebab berita telivisi dan radio juga mulanya ditulis, barukemudian dibacakan oleh pembawa acara.
P
engaruh Media
Tak dapat dipungkiri bahwa media massa telah membawapengaruh besar terhadap bahasa masyarakat. Sisi positifnya, adasejumlah kosa kata yang dulunya tidak pernah kita temui, saat inimenjadi akrab di telinga kita karena sudah sering digunakan olehmedia. Namun, tidak tertutup kemungkinan pula media massa dapatmenghancurkan bahasa dalam masyarakat. Misalkan saja jika adakosa kata yang salah pemakaiannya, sedangkan masyarakatmencontoh yang salah tersebut dengan dalih sudah sering dipakaioleh media.Beranjak dari sini, sangat penting memahami kebahasaandalam menulis, meskipun bentuk tulisan jurnalistik. Penting puladipahami bahwa sebuah media berfungsi memberikan pendidikankepada masyarakat. Ia juga sebagai ruang publik dan ruang advokasimasyarakat.Munculnya bahasa baru dalam masyarakat dan punahnyabahasa lama tidak terlepas dari pengaruh media. Kelihatan bahwabahasa dan waktu seolah seperti benang dan jarum, yang mesinnyaadalah media massa.
 
Makalah ini disampaikan pada pelatihan jurnalistik mahasiswa se-Aceh, 28- 30 Desember 2009, di Wisma Kompas, Banda Aceh.
 
RN Page 2
Ironis, perjalanan waktu telah membuat bahasa mengalami tigakejadian yang sangat menjebak, yakni
manipulasi, feodalisme,
dan
eufemisme.
 
Manipulasi 
bahasa maksudnya berusaha mempengaruhseseorang dengan bahasa. Hal ini sering kita dapatkan pada judul-judul berita di surat kabar agar pembaca tertarik membeli suratkabar tersebut. Menarik pembaca dengan judul berita sangatdiperbolehkan. Namun, jangan sampai hanya menarik padajudulnya, sedangkan isinya tidak ada apa-apa, bahkan tidak
nyambung 
sama sekali dengan judul. Tak urung orang berpendapat´Ah, isinya kosong,µ setelah selesai membaca berita tersebut. Jika initerjadi, berarti bahasa surat kabar tersebut telah memanipulasipembaca. Memanipulasi sederhana ´membohongiµ. Jika ada sepuluhorang yang membaca berita yang Anda tulis akibat judul yangmemanipulasi tersebut, sejatinya sudah sepuluh orang Anda tipu.
Feodalisme 
sering disandingkan dengan kekuasaan tuan tanah,yang sederhananya bisa juga dikatakan dengan ´lintah daratµ. Akantetapi, dalam konteks ini, yang dimaksud dengan feodalisme adalahgaya bahasa kebangsawanan. Lebih jelasnya dapat kita katakanbahasa yang terlalu baku dan ilmiah. Bukan berarti bahasa mediatidak boleh ilmiah, tetapi penggunaan bahasa terlalu ilmiah dapatmengganggu pembaca, kecuali memang media yang ditujukan kepadakaum ilmiah. Perlu diingat bahwa kita menulis berita untukmasyarakat, bukan kalangan tertentu. Yang namanya masyarakatboleh diasumsikan mulai dari ´penanam tomat hingga pembuatpesawatµ. Maka akan menjadi tak bersinergi berita yang disajikanapabila bahasanya tidak mampu dijangkau oleh masyarakat luas.Mengutip pendapat para ahli linguistik, ´Bahasa adalah alatkomunikasiµ. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik seyogianya adalahbahasa komunikatif, mudah dipahami oleh masyarakat luas, dalamartian tidak terlalu pasaran dan tidak terlalu ilmiah. Penggunaanistilah yang berlebihan dapat dikategorikan sebagai bahasa ilmiahyang masyarakat tani belum tentu dapat memahami istilah tersebut.Intinya, ´kalau ada bahasa yang lebih mudah dimengerti, mengapaharus bermain istilah sulit.µ
Eufemisme 
dapat dipahami gaya bahasa yang sengaja dihalus-haluskan. Sayangnya, pada taraf penghalusan, sering orang lupabahwa makna yang hendak disampaikan sudah lenyap. Akibatnya,muncul ungkapan ¶bahasa gelap·.Mulanya, bahasa
eufemisme 
dalam pers (jurnalistik) marakdigunakan masa Orde Baru (Orba). Maksudnya adalah menghindaripengungkapan yang kasar. Misalnya
bui, sel, (L 
, Lembaga 
emasyarakatan), ditahan polisi (diamankan), harga BBM naik (harga BBM disesuaikan), dll.
Gaya
eufemisme 
ini akan berakibat fatal jika
 
Makalah ini disampaikan pada pelatihan jurnalistik mahasiswa se-Aceh, 28- 30 Desember 2009, di Wisma Kompas, Banda Aceh.
 
RN Page 3
peletakannya tidak sesuai seperti ungkapan
harga BBM disesuaikan.
 Inilah yang sedang ¶gila· dalam bahasa pers kita sekarang.
Mengapa Terjadi?
Pertanyaan sederhana, ´mengapa hal di atas terjadi?µBukankah para jurnalis sudah diberikan pembekalan/pelatihanjurnalistik? Bukankah para redaktur (editor) media orang-orangyang dianggap handal dalam berbahasa jurnalistik?Terhadap pertanyaan itu, pembelaan editor bisa jadi´silapµ. Maka kecenderungan kesalahan itu tetap terletak padawartawannya, karena dialah yang menulis berita tersebutpertama sekali. Kesalahan tersebut biasa terjadi pada wartawanyang ´berpikiran besarµ saat menulis berita. Tentunya hal inijuga acap dialami para penulis ragam apa pun.Kecenderunganya, sebelum menulis, orang berpikir
begini nantinya tulisan ini aku buat, seperti ini kubahasakan, kemari kubawa anggle-nya, dan sebagainya.
Pemikiran
´Lagee nyoe kucang, meudeh kutak, meunyo kusieµ 
mesti dihindari sewaktumenulis. Jika tidak, bahasa yang disampaikan akan amburadurseperti amburadurnya pemikiran saat menulis. Yang terjadiberikutnya adalah ´penghamburan kata-kata berlebihanµ dan´penggunaan istilah-istilah kliseµ.Penggunaan kata berlebihan sering disebut dengan gayabahasa
pleonasme.
Perlu diingat bahwa segala sesuatu yangberlebihan itu sifatnya mubazir. Mubazir itu teman syaitan.Karenanya, penggunaan kata mubazir mesti dihindari.Pemubaziran kata dapat terjadi dalam bentuk gramatikal(tata bahasa), leksikal (pemilihan kosa kata), dan ortografis(ejaan). Berdasarkan aspek kebahasaan, kesalahan yangterbanyak dilakukan para jurnalis terdapat pada bentukgramatikal, sedangkan kesalahan terendah pada ortografis.Berdasarkan jenis berita, berita olah raga adalah yang memilikifrekuensi kesalahan tertinggi.
Contoh: 
 
Banyak rumah-rumah
penduduk tenggelam dalammusibah banjir di Pidie.
 
Menurut saksi mata,
insiden kejadian
itu berlangsungsekitar dinihari.
 
Bermacam-macam ragam
lukisan tsunami dipamerkan.
 
Hujan yang turun dari langit
tiada henti sejak dua harikemarin,telah membuat Kota Banda Aceh
tergenang air.
 

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Elvina Maryani liked this
Rahmat Zainun liked this
Zier de Zier liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->