BAB I PENDAHULUANA.
Latar Belakang Masalah
Di tengah gaya hidup berbusana global yangmasuk ke Indonesia, pemunculan batik dengan gayatrendi memang sangat menarik perhatian. Baju daritekstil tradisional yang dirancang modis ternyatabisa tampil segar, ringan dan disukai masyarakat(http://id.wikipedia.org/wiki/Batik).Batik sebagai salah satu kekayaan budayabangsa Indonesia mempunyai nilai yang tinggi danabadi sepanjang masa. Namun tetap harus dilakukanupaya untuk melestarikannya. Berdasarkankecintaan pada batik, pengrajin batik berupaya untuk mengangkat batik untuk menjadi bagian pentingdalam dunia
fashion
saat ini, yaitu denganmenciptakan kreasi batik dalam bentuk desainproduk yang lebih modern, dengan tetapmemperhatikan makna dari batik tersebut(www.wordPress.com).Nilai-nilai estetik modern selama satu abadtelah memiliki peran yang lebih bermakna dalammempertahankan dan menganekaragamkan produk batik dan ragam hias batik di dalam masyarakatindonesia. Peran nilai estetik tersebut tidak hanyasebagai pengayaan ragam hias batik saja, tetapi jugamemberi kontribusi terhadap proses pemberdayaanproduk batik secara lebih luas, baik dikalanganpejabat pemerintah, para pegawai negeri sipil,maupun masyarakat pada umumnya dalam wujuddesain yang semakin beragam. Meskipun sejumlahragam hias batik tersebut mulai menghilang, maknayang diperoleh dari bentuk-bentuk persilanganbudaya, maupun inovasi-inovasi baru yang terjadipada batik modern, tetaplah merupakan prosespemantapan jati diri bangsa melalui nilai-nilaiestetik yang dihasilkannya (Agus Sachari,2007:201).Meluasnya busana batik dalam beberapa dekadeterakhir berkembang menjadi bagian dari gaya hidupmasyarakat. Di dalam tubuh masyarakatberkembang kebiasaan baru untuk memakai busanabatik modern pada acara-acara resmi, seperti pestapernikahan, pertemuan para pejabat tinggi negara,upacara pembukaan pameran, dan kegiatan lainnyayang sebelumnya cenderung mengenakan jas.Demikian pula muncul kewajiban para siswasekolah dasar dan menengah setiap satu minggusekali untuk memakai pakaian batik. Hal itumerupakan fakta-fakta penguatan budaya lokaldalam kehidupan masyarakat modern di perkotaandan indikasi terciptanya gaya hidup untuk menggunakan pakaian batik (Agus Sachari,2007:196).Pandangan lama tentang batik kian berubah.Batik bergaya muda rupanya mengena di hatipeminat mode. Peminatnya dari berbagai kalangan.Mulanya memang kelompok terbatas, para sosialitadan selebriti. Namun kini sudah mulai mewabah dikalangan umum. Bukan baru sekali ini batik popularmenjadi gaya hidup kosmopolitan. Di era 1970-an,sang maestro batik Iwan Tirta menaikkan gengsikain tradisional itu menjadi gaun malam mewah danelegan. Ketika itu gaun batik sutra bercorak bungahokokai, yang diperkaya tinta emas prada, sangatdigemari ibu-ibu kelas atas sebagai gaun malam(SwaBerita.com).Orang yang berasal dari subkultur, kelas sosialdan pekerjaan yang sama dapat mempunyai gayahidup yang berbeda. Gaya hidup seseorangmenunjukkan pola kehidupan orang yangbersangkutan yang tercermin misalnya dalamkegiatan sehari-hari, minat, perilaku, danpendapatannya terhadap sesuatu hal yang sudahmelekat pada diri personal seseorang. Konsep gayahidup apabila digunakan oleh pemasar secaracermat, dapat membantu untuk memahami niali-nialikonsumen yang terus berubah dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat mempengruhi perilakukonsumen. (Bilson Simamora, 2004:10).Menurut Kotler (2005:210) Gaya hidup secaraluas didefinisikan sebagai pola hidup seseorang didunia yang terungkap pada aktifitas, minat danopininya. Gaya hidup menggambarkan ”keseluruhandiri seseorang” yang berinteraksi denganlingkungannya.Gaya hidup dapat dipahami sebagai sebuahkarakteristik seseorang secara kasat mata, yangmenandai sistem nilai, serta sikap terhadap dirisendiri dan lingkungannya. Gaya hidup merupakankombinasi dan totalitas cara, tata, kebiasaan, pilihan,serta objek-objek yang mendukungnya, dalampelaksanaanya dilandasi oleh sistem nilai atau sistemkepercayaan tertentu (Piliang dalam Agus Sachari,2007:73).Sutisna (2002:145) mengemukakan bahwa gayahidup diidentifikasikan oleh bagaimana orangmenghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yangmereka anggap penting dalam lingkungannya(ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentangdiri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya(pendapat). Gaya hidup akan mempengaruhikeinginan seseorang untuk berperilaku dan akhirnyamenentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang(Kasali, 1998:225). Menurut (Handi Irawan D,www.handiirawan.com/2009) ada 10 tipekarakteristik gaya hidup konsumen Indonesia, yaitu:berpikir jangka pendek, tidak terencana, sukaberkumpul, gagap teknologi, orientasi pada konteks,suka merek luar negeri, religius, gengsi, kuat disubculture, dan kurang peduli lingkungan.Produk dan jasa diterima atau ditolak konsumenberdasarkan sejauh mana keduanya dipandangrelevan dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka.