Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
kependudukan jawa barat

kependudukan jawa barat

Ratings: (0)|Views: 220 |Likes:
Published by Nenkthayank_Te_1675

More info:

Published by: Nenkthayank_Te_1675 on Mar 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/10/2014

pdf

text

original

 
BANDUNG, KOMPAS.com
- Dengan populasi yang terhitung besar dibandingkan provinsilain, Jawa Barat menghadapi masalah kependudukan yang kompleks. Pendidikan diyakinisebagai sektor kunci dalam penanganan masalah kependudukan ini.Demikian salah satu masalah yang mengemuka dalam
media gathering 
Badan KoordinasiKeluarga Berencana Nasional Jawa Barat bertema Budaya, TKI, dan Ketahanan Keluargayang digelar di Bandung, Selasa (26/5). Jabar yang memiliki penduduk sekitar 42 jutamenjadi salah satu provinsi di Indonesia yang menanggung masalah pendudukan yangkompleks itu. Meski berdekatan dengan ibu kota, sejauh ini Jabar masih menghadapi masalahklasik seperti tingginya angka pengangguran yang berdampak pada pengiriman tenaga kerjadi luar negeri, tingginya pertumbuhan jumlah penduduk, serta tingginya angka kematian ibudan bayi."Pendidikan adalah investasi terbesar untuk menyelesaikan masalah kependudukan. Namun,faktanya pendidikan kita masih buruk. Pendidikan di sini bukan sekedar bisa baca tulis, tetapiadalah kemampuan orang untuk menangkap pesan," ujar Valentina Sagala, pendiri InstitutPerempuan yang menjadi salah satu pembicara.Dalam masalah pengiriman tenaga kerja keluar negeri misalnya, Valentina melihat latar belakangnya bukan sekedar masalah ekonomi. "Di beberapa daerah yang saya kunjungi,orang yang mengirim anaknya menjadi TKI punya rumah yang bagus. Artinya, seseorangmengirim anaknya sebagai TKI karena banyak sebab, bukan sekedar kemiskinan," tegasValentina.Ia menambahkan, sangat tidak mungkin untuk melarang seseorang untuk bermigrasi sebagaiTKI. Melarang migrasi melanggar hak asasi manusia. Namun, kita harus mengatur agar seseorang melakukan migrasi dengan aman, ujar Valentina. Dengan pendidikan cukup, kataValentina, seseorang diharapkan tidak mudah terkena bujukan untuk melakukan migrasisecara ilegal.Sementara, dalam pertambahan penduduk, pendidikan cukup juga bisa menjadi rem sekaligusmendorong peningkatan kualitas keluarga. Dari sisi alat kontrasepsi, 99 persen pasangan usiasubur di Jabar sudah mengenalnya. Namun, yang menjadi masalah adalah masih tingginyajumlah pasangan usia subur. Hal ini dikarenakan masih maraknya pernikahan dini. "Di Jabar,usia pernikahan pertama perempuan adalah 18,5 tahun dan itu lebih rendah dari rata-ratanasional," kata Sekretaris BKKBN Jabar Saprudin Hidayat . Pendidikan, kata Saprudin akanmendorong perempuan dan laki-laki untuk menikah lebih lambat.
SETIAP kali bertemu, setiap kali kami terlibat pembicaraan tentang Priangan, setiap kali itu pulaalmarhum MAW Brouwer selalu memuji keindahan alamnya. “Tuhan menciptakan tanah Prianganketika sedang tersenyum,” begitu selalu dikatakan pastor dan psikolog yang kecewa berat karenagagal menjadikan Priangan sebagai tanah kelahirannya yang kedua.TANAH Priangan bukan hanya terkenal karena keindahannya sehingga pemerintah kolonial Belandapernah merencanakan Kota Bandung sebagai ibu kota pengganti Batavia. Tanah ini juga merupakanperpaduan yang harmonis antara alam dan penduduk yang ramah. Ke mana kita melangkah, ke sanaakan disambut senyuman. Khas orang Sunda.
 
Namun, kekhasan itu tak selamanya bisa abadi. Alam Priangan yang indah hanya tinggal secuil yangtersisa. Di antaranya puisi Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH dan lukisan-lukisan karya YusRusamsi yang mengabadikan suasana pedesaan di atas kanvas. Selebihnya adalah fatamorganabelaka. Tanah Priangan yang dikenal dengan Cekungan Bandung itu kini “amburadul”, sebuah istilahyang menunjukkan kekecewaan amat sangat karena eksploitasi yang berlebihan.CEKUNGAN Bandung terdiri dari wilayah Kabupaten Bandung dan Kota Bandung dengan luasseluruhnya 326.000 hektar lebih. Namun, setelah 26 tahun, sejak tanggal 17 Oktober 2001, wilayahadministratif pemerintahannya bertambah dengan diresmikannya Cimahi menjadi “kota”. Cimahisebelumnya merupakan kota administratif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung.Pusat Cekungan Bandung adalah Kota Bandung yang sekaligus menjadi ibu kota Provinsi JawaBarat. Sebagai kota terbesar di Jawa Barat, Kota Bandung dengan beberapa kelebihan sarana danprasarana tidak mengherankan memiliki daya tarik yang sangat kuat. Bahkan sedemikian“serakahnya”, kota ini pernah dijadikan “kota serba muka” yang menampung berbagai aktivitas.Antara lain sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat, pusat perdagangan lokal dan regional, pusatpendidikan dan pengetahuan, kota pariwisata, kebudayaan dan konferensi, dan pusat industri.Bahkan pada masa jaya IPTN yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia, Bandung pernahdirencanakan menjadi “kota dirgantara”. Bayangkan!Pemberian fungsi-fungsi itu memang menjadi daya tarik investor untuk melakukan investasi. Dengandemikian, pada gilirannya, akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi yang selama ini dijadikansalah satu indikator kemajuan. Harapan itu memang tidak meleset.Selama periode 1975-1985, misalnya, laju pertumbuhan ekonomi nyata Kota (saat itu masih kotamadya) Bandung mencapai rata-rata 9 persen per tahun berdasarkan harga konstan tahun 1973.Pada periode 1985-1990 meningkat tajam menjadi 12,02 persen. Jauh di atas rata-rata lajupertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang sebesar 7,6 persen.Namun, meningkatnya investasi tersebut pada gilirannya mendorong makin meningkatnya arusmigrasi. Padahal, Kota Bandung bukanlah Surabaya atau apalagi DKI Jakarta. Wilayah fisik KotaBandung memiliki beberapa keterbatasan walaupun sudah lima kali mengalami perluasan wilayah.Ketika pertama kali dibentuk sebagai Gemeente, 1 April 1906, penduduknya 38.403 jiwa dengan luaswilayah 1.922 hektar. Kini dengan luas wilayah sekitar 17.000 hektar, jumlah penduduknya 2,5 jutajiwa. Ini berarti, kepadatan rata-rata penduduk sekitar 110 jiwa per hektar, jauh di atas standar yangditetapkan PBB, 60 jiwa per hektar (baca: “Kampung di Tengah Metropolitan Bandung”).KOTA Bandung khususnya, dan Cekungan Bandung pada umumnya, menghadapi masalah seriusdalam kependudukan dengan segala implikasinya, merupakan masalah serius sekarang ini, apalagiuntuk masa yang akan datang. Dan, penduduk wilayah ini akan terus berkembang pesat.Jika ditelisik lebih rinci, pada periode 1980-1990, laju pertumbuhan penduduk rata-rata beberapa kotakecil di Kabupaten Bandung meningkat cukup besar. Kota industri Banjaran dan Majalaya tumbuh7,10 persen dan 5,95 persen. Kota-kota kecil lainnya yang mengalami hal serupa adalah Cimahi 6,50persen, Cileunyi 6,30 persen, Padalarang 5,80 persen, dan Lembang 3,80 persen.Betul laju pertumbuhan penduduk Kota Bandung pada periode yang sama 3,32 persen, lebih rendahdari laju pertumbuhan penduduk kota-kota kecil di Kabupaten Bandung. Namun, Kepala P3WK ITBProf Dr Ir BS Kusbiantoro mengingatkan, secara absolut, penduduk Kota Bandung dalam Repelita Xakan mencapai 3,6 juta jiwa. Jadi, jumlah penduduk kedua wilayah itu pada Repelita X sudahmencapai 6 juta jiwa.Jumlah itu sebenarnya sudah terlampaui. Jika kita menyimak hasil Susenas yang dilakukan BadanPusat Statistik, penduduk Cekungan Bandung pada tahun 2002 hampir 6,5 juta jiwa. Jumlahpenduduk Kota Bandung 2.142.914 dan Kabupaten Bandung 4.335.578 jiwa.
 
Meningkatnya jumlah penduduk akan menuntut penyediaan lapangan kerja, perumahan, utilitas, danfasilitas kota. Padahal secara geologi, wilayah fisik Cekungan Bandung memiliki beberapaketerbatasan. Bentang alam Cekungan Bandung berbeda dengan kota-kota besar lainnya yangumumnya terletak di dekat pantai. Cekungan Bandung yang berada di atas ketinggian 600 meter lebih dikelilingi jajaran gunung, termasuk gunung api aktif.Daerah utara pada ketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut sudah lama dinyatakansebagai daerah resapan, yang menjadi andalan persediaan cadangan air tanah untuk memenuhikebutuhan penduduk wilayah ini. Daerah tersebut harus dijaga dan dipertahankan kelestariannya jikatidak ingin wilayah ini ditinggalkan penduduknya karena ketidaktersediaan air.Air merupakan segalanya yang bisa mendatangkan kehidupan. Kota Mekah tidak akan menjadi kotayang berkembang seperti sekarang jika saja Siti Hajar, istri Nabi Ismail AS, tidak menemukan air zamzam di sana. Dalam sejarah, banyak kota di dunia yang mati karena ditinggalkan penduduknyaakibat tidak tersedianya air.Padahal, jika kita menoleh ke belakang, sebagai daerah pegunungan, Cekungan Bandung terkenalmemiliki cukup banyak sumber air permukaan dan cadangan air tanah. Berdasarkan toponomi,Cimahi itu berasal dari kata “cai mahi”. Cai dalam bahasa Sunda artinya air dan mahi artinya cukupatau mencukupi.Sampai tahun 1950-an, air di Kota Bandung masih “cur-cor” di mana-mana. “Saya sering mandi diselokan dekat rumah karena airnya bening,” kenang Ny Djoeningsih Abdul Muis, salah seorang tokohpejuang Jawa Barat. “Cur-cor” merupakan istilah bahasa Sunda yang menunjukkan air mengalir dimana-mana.Akan tetapi, hanya dalam kurun waktu beberapa periode, cadangan air di Cekungan Bandungmerosot tajam, dari segi kuantitas maupun kualitas. Pencemaran yang berasal dari limbah rumahtangga dan industri telah menurunkan kualitas air permukaan. Padahal, Cekungan Bandungmerupakan daerah hulu aliran Sungai Citarum dan sejumlah anak sungainya.Sekarang mari kita lihat bagaimana neraca air tanahnya. Di berbagai tempat, penduduk kesulitanmemperoleh air dari sumur dangkal. Apalagi pada musim kemarau. Indikasi ini secara sederhanamemperlihatkan permukaan air tanah di berbagai tempat di Cekungan Bandung menurun tajam.Secara ekstrem, hal ini terlihat di daerah-daerah yang merupakan konsentrasi industri akibatpengambilan air tanah yang melampaui kemampuan daya dukung debit tersimpannya di dalamakuifer. Sebagian besar akuifer yang paling banyak dimanfaatkan adalah akuifer pada kedalaman 40-150 meter.Selama 16 bulan dilakukan penelitian, akibat pengambilan air tanah secara berlebihan, lajupenurunan muka air tanah di Cimindi, Cibaligo (Cimahi) sekitar 0,25-0,37 meter setiap bulan. DiLeuwigajah (Cimahi), muka air tanah turun sekitar 0,18-0,31 meter setiap bulan. Sedangkan di daerahSudirman, Cibuntu, dan Holis, muka air tanah turun 0,25-0,5 meter.Muka air tanah di Cicaheum dalam periode yang sama turun 0,37-0,5 meter per bulan. Di daerahRancaekek, muka air tanah turun rata-rata 0,37-0,5 meter. Sementara di daerah Jalan Moh Toha danBuahbatu, muka air tanah turun rata-rata 0,12-0,31 meter per bulan.Daerah-daerah itu merupakan konsentrasi industri tekstil dan produk tekstil. Industri tersebut memangtelah mengangkat pamor Jawa Barat menjadi daerah penghasil utama yang memberikan kontribusisekitar 70 persen produksi tekstil nasional. Namun, industri tekstil menggunakan sumber daya air cukup besar.Selain itu, terjadinya penurunan muka air tanah di Cekungan Bandung dipengaruhi makin kecilnyadaerah resapan sehingga sebagian besar imbuhan yang berasal dari air hujan lebih banyak menjadiair larian yang mengakibatkan terjadinya banjir. Keadaan ini disebabkan perubahan tata guna lahandi daerah resapan.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
enangdudi liked this
Derry Susanti liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->