Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Filantropi dan CSR

Filantropi dan CSR

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 1,089|Likes:
Published by boniap
Ketika gerakan CSR dimulai di Indonesia, kebanyakan perusahaan—dan banyak pemangku kepentingan mereka memahaminya sebatas filantropi.
Ketika gerakan CSR dimulai di Indonesia, kebanyakan perusahaan—dan banyak pemangku kepentingan mereka memahaminya sebatas filantropi.

More info:

Published by: boniap on Aug 26, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2011

pdf

text

original

 
 boni.agung@gmail.com/ http://info-csr.blogspot.com
Ketika gerakan CSR dimulai di Indonesia, kebanyakan perusahaan—dan banyak  pemangku kepentingan mereka—memahaminya sebatas filantropi. Ini bukanlah suatugejala yang khas Indonesia, melainkan merupakan gejala global. Hingga kini pun banyak  perusahaan yang ”mendefinisikan” CSR sebagai ”giving back to society” yang berarti bahwa karena ada perasaan seharusnya perusahaan memberikan sesuatu kepadamasyarakat setelah mereka mendapatkan keuntungan dari masyarakat. Logika ”giving back”itulah yang mendasari filantropi, yang dalam CSR sesungguhnya dikritik. CSR menekankan pentingnya memastikan bahwa cara-cara yang dipergunakan oleh perusahaan dalam menangguk keuntungan adalah benar, baru kemudian berbicaramengenai bagaimana keuntungan dibagi di antara pemangku kepentingan perusahaan.Dengan logika yang berbeda antara filantropi dan CSR tersebut, masihkah filantropimemiliki tempatnya? Di tahun 2007 lalu, sebuah penyataan yang mengagetkandilontarkan: filantropi seharusnya udah tidak lagi dilakukan. Lontaran provokatif itudinyatakan oleh
 Michael Hopkins dalam bukunya yang banyak dipuji kritikusCorporate Social Responsibility and International Development.
 Namun, sebetulnya apa yang dimaksud oleh Hopkins tidaklah sekeras itu. Kalaulembar demi lembar bukunya dibaca dengan hati-hati, sesungguhnya yang ia maksudadalah bahwa filantropi yang tak terkait dengan CSR dan pembangunan keberlanjutansudah seharusnya ditinggalkan secara perlahan-lahan. Menurutnya, tidak ada tempatdalam 10 tahun ke depan bagi filantropi yang tidak ditujukan untuk keberlanjutanekonomi, sosial dan lingkungan. Apakah pernyataan ini tak sekadar provokasi saja,mengingat sesungguhnya filantropi merupakan pemberian sumberdaya secara sekuarelasaja, sehingga tidak seharusnya diatur ia terkait dengan apa saja? Ada memang yang punya pendirian demikian. Tetapi, menurut Hopkins, persoalan pembangunan di dunia inisangatlah besar, sehingga menjadi tidak etis apabila memberikan sumberdaya finansial bukan kepada mereka yang membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah pembangunan. Dengan pertimbangan yang demikian, maka memang sudah seharusnyatujuan kegiatan yang dibiayai oleh filantropi menentukan bisa atau tidaknya filantropi1
 
 boni.agung@gmail.com/ http://info-csr.blogspot.comdibenarkan. Kalau “benar atau tidaknya” filantropi ditentukan dari tujuannya yang searahatau tidak dengan pembangunan berkelanjutan, pertanyaannya kemudian adalah: kegiatanapa saja yang memiliki tujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan? Jawabanmudahnya adalah segala kegiatan yang mempertinggi kapital sosial, ekonomi danlingkungan secara sendiri-sendiri atau sekaligus, tanpa mengorbankan salah satunya— atau salah duanya. Artinya: trade off dalam aspek tertentu diharamkan dalam berfilantropi. Asumsi mendasar dari pembangunan berkelanjutanAsumsi mendasar dari pembangunan berkelanjutan memang kesetaraan antaratiga ranahnya memang kesetaraan antara tiga ranahnya, sehingga mengorbankan ranahtertentu untuk peningkatan ranah yang lain tidaklah bisa dibenarkan. Sebagai catatan saja,kalau sejarah pembangunan berkelanjutan mau dilacak hingga pemikiran terkenalHerman Daly, maka pernyataan keseimbangan itu adalah sebuah kompromi politis.Dalam pemikiran Daly, tak ada pembangunan ekonomi yang bermakna positif yang biasdilakukan apabila lingkungan tidak terjaga dengan benar. Kemudian, pembangunan socialhanya bisa dilakukan di atas kondisi ekonomi yang baik, dan hanya dengan kondisi sosialyang baik saja maka kesejahteraan individu bisa dibuat. Ini artinya Daly berpikir bahwasesungguhnya lingkungan adalah yang utama, disusul ekonomi, baru kemudian sosial dankesejahteraan individu.Pelebaran kesenjangan "dikutuk" oleh pembangunan berkelanjutan, karenadiyakini akan membuat masalah baru. Dan masalah baru itu akan membuat kerusakan berbagai capital yang ada dalam masyarakat. Bayangkan, apabila suatu jenis sumberdayaalam tertentu dibuat timpang akses atasnya, maka akan ada kelompok yang mendapatkan banyak manfaat, sementara kelompok lain hanya memperoleh sedikit manfaat atau bahkan tidak menerimanya sama sekali. Kelompok yang mendapat banyak biasanya akan bersikap eksploitatif, sementara yang mendapat sedikit bisa berpikiran untuk merusak saja sumberdaya itu karena insentif memeliharanya memang tidak tersedia.Artinya: yang boleh dan harus dilakukan oleh kegiatan filantropi adalah kegiatan yangmengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial, serta yang menyediakan akses padasumbersumber ekonomi, sosial dan lingkungan. Hal ini merupakan penegakan prinsip2
 
 boni.agung@gmail.com/ http://info-csr.blogspot.comkesetaraan dalam generasi atau intragenerational equity dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam hal ini filantropi mustilah sangat sadar mengenai kondisiketimpangan, kemudian memikirkan cara terbaik—paling efisien secara sumberdaya— untuk mengikis sedikit demi sedikit ketimpangan tersebut.Dari sudut pandang ini, hanya kegiatan yang menjamin bahwa kapital ekonomi,sosial dan lingkungan minimal tidak berkuranglah yang boleh dilaksanakan.Istilah untuk kegiatan-kegiatan ini adalah promosi kesetaraan antargenerasi atauintergenerational equity. Karena intragenerational equity harus dipromosikan, makahanya filantropi bagi kalangan yang tidak mampu saja yang bisa dibenarkan. Karenamemberikan filantropi kepada mereka yang mampu berarti menambah kesenjangan, bukan menguranginya. Ini juga sejalan dengan berbagai pendirian yang paling mutakhir mengenai peran perusahaan di masyarakat:
bottom of the pyramid ala CK Prahalad dan Stuart Hart, Creative Capitalism ala Bill Gates, dan social business ala Muhammad Yunus.
Ketiga pemikiran ini menekankan pentingnya perusahaan untuk melayanikelompok masyarakat miskin dengan alasan untuk mengikis kesenjangan. Ketiga pemikiran juga menekankan bahwa kesenjangan adalah buruk bagi bisnis. KarenanyaPrahalad dan Hart meyakinkan kita bahwa memenuhi kebutuhan kaum miskin bukan sajamulia namun sangat menguntungkan baik bagi kaum miskin itu sendiri maupun perusahaan. Dengan memberi contoh keberhasilan Unilever di India yang melayanikeperluan kaum miskin,berhasil meningkatkan penjualan, serta membuka peluang usaha bagi kaum miskin, mereka melancarkan kritik bahwa kebanyakan perusahaan hanya“malas berpikir” mengenai bagaimana caranya melakukan itu semua.Persoalannya bukan uang di kaum miskin yang tidak ada, melainkan bagaimanauang tersebut bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, selain jugadiperbesar jumlahnya. Ketika kemiskinan teratasi, maka pasar juga membesar dengansendirinya. Kapitalisme kreatif menekankan pentingnya perusahaan untuk melayani permasalahan kaum miskin karena “kapitalisme tradisional” yang bersumberkan darimekanisme pasar pengejaran keuntungan tidak memberikan ruang yang memadai untuk  pelayanan kepada kelompok miskin. Gates menekankan bahwa perusahaan harus3

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Fajar Suyamto liked this
Arthur Brown liked this
Taqy Keren liked this
mukinam liked this
santi1601 liked this
triayu_soepandi liked this
Haedi De Spinoza liked this
eawmks liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->