Mazhab Wahabi dan Peta Oposisi di Arab SaudiMazhab Wahabi dan Peta Oposisi di Arab Saudi
ARAB Saudi memiliki tempat yang sangat signifikan di dunia Arab dan Islam. Ini disebabkanstatusnya sebagai negara terbesar di Semenanjung Jazirah Arab, kepemimpinannya di DewanKerja Sama Teluk (GCC), dan negara penghasil serta pemilik cadangan minyak terbesar. Lebihdari itu Arab Saudi juga tempat beradanya dua tanah suci, yakni Kota Mekkah Al Mukarramahdan Madinah Al Munawwarah, serta Ka’bah di Masjid Al Haram yang menjadi kiblat shalat umatIslam seluruh dunia.ARAB Saudi juga dikenal sebagai negara yang menganut sistem monarki mutlak dengandiperintah oleh
keluarga Al Saud
yang berpijak pada ideologi
mazhab Wahabi
. Maka, mazhabWahabi menjadi dasar legitimasi kekuasaan dan pengembangan pengaruh pemerintah keluargaAl Saud di Semenanjung Jazirah Arab.Akan tetapi sejak lahirnya mazhab Wahabi itu sendiri, telah timbul reaksi oposisi dari dalamterhadap mazhab itu lantaran doktrin mazhab Wahabi yang mengkafirkan mereka yang menolakajarannya. Doktrin itu ternyata menjadi khazanah yang dianut sebagian segmen masyarakat diArab Saudi dan Semenanjung Jazirah Arab hingga saat ini.
Sheikh Sulaiman bin Abdul Wahab
(saudara pendiri mazhab Wahabi,
Sheikh Muhammad binAbdul Wahab
) mengarang kitab berjudul
Petir Ilahi
untuk Menangkis Ajaran Wahabi. Isi kitabtersebut
menolak ajaran Wahabi yang diusung Muhammad bin Abdul Wahab
.Arab Saudi pun dikenal negara Islam konservatif lantaran sandaran ideologi Wahabinya itu dandukungannya terhadap lembaga-lembaga Islam. Label Islam konservatif pada negara Arab Saudiitu tercipta pada tahun 1745 menyusul koalisi antara Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab(pendiri mazhab Wahabi) dan keluarga Al Saud dan terus berlanjut hingga sekarang.Islam tercantum sebagai agama negara dan sumber hukum. Ajaran Islam versi mazhab Wahabiitulah yang merajut aktivitas pendidikan, hukum, dan dasar etika masyarakat di Arab Saudi.Misalnya, pemerintah mengharuskan pertokoan dan kantor-kantor pemerintah ditutup ketika azanshalat dikumandangkan dan mereka sangat dianjurkan shalat berjamaah.Menurut Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab, para ulama bertanggung jawab memperkenalkandan mensosialisasikan ajaran Islam. Kerja sama ulama dan pemerintah (umara) disebutkanmerupakan kewajiban.Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan ajaran agama seperti shalat, zakat, puasa, danhaji. Adapun ulama membantu pemerintah memberi petunjuk bagi pelaksanaan ajaran agama itu.Hubungan keluarga Al Saud dan para ulama pada abad ke-18 merupakan hubungan kemitraanyang sangat strategis sesuai dengan teori politik Islam tradisional dan prinsip-prinsip yangdiletakkan Muhammad bin Abdul Wahab. Hubungan kemitraan yang harmonis antara agama dannegara pada era negara Arab Saudi pertama itu barangkali disebabkan adanya kesamaan tujuansaat itu.Kemitraan strategis itu membuka peluang bagi Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab memilikikekuatan politik untuk penerapan mazhab Wahabi di Arab Saudi. Dalam waktu yang sama,mazhab Wahabi memberi legitimasi agama pada kekuasaan keluarga Al Saud. Mazhab Wahabimemberi doktrin bahwa patuh pada pemerintah merupakan kewajiban agama selama pemerintahitu melindungi syariat agama dan membangkang pemerintah adalah khianat.