Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
P. 1
NKRI Dalam Lintasan Sejarah Indonesia

NKRI Dalam Lintasan Sejarah Indonesia

Ratings: (0)|Views: 4,681|Likes:
Published by Peter Kasenda
Negara–bangsa (nation-state) adalah fenomena modern karena bentuk pengaturan hidup bersama seperti itu baru muncul sekitar abad 16 dan 17, seiring dengan berkembangnya paham demokrasi dan diletakkannya dasar-dasar bagi dunia modern sekarang ini. Semenjak itu negara-bangsa telah menjadi model bagi organisasi yang mengatur sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Organisasi tersebut dinamakan negara, sedangkan sekelompok orang (yang terdiri dari sejumlah besar manusia) disebut bangsa.

Konsep negara-bangsa mempunyai daya tarik karena dianutnya paham persamaan di antara setiap orang yang menjadi warga bangsa. Anggota negara-bangsa (atau warga negara) mempunyai kedudukan yang sama, baik dalam berhubungan dengan warga negara yang lainnya maupun dalam berhubungan dengan negara. Oleh karena itu tidak ada lagi warga negara kelas satu (seperti kelompok penakluk dalam sistem kekaisaran ataupun kelompok penjajahan dalam negara jajahan). Semua warga negara merasa menjadi bagian negara-bangsa yang setara, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan secara kultural dan agama. Paham negara-bangsa didasarkan atas adanya keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kesatuan di antara para warga negara meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tadi. Oleh karena itu paham negara-bangsa lebih mementingkan aspek politik (keinginan untuk bersatu sebagai bangsa dan tunduk kepada satu penguasa politik). Perbedaan-perbedaan kultural dan agama tidak perlu menghalangi mereka untuk terikat dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Masa pasca Perang Dunia II memberi peluang bagi banyak negara jajahan untuk membentuk negara-bangsa masing-masing. Dalam kasus Indonesia kekalahan Belanda oleh Jepang pada awal Perang Dunia II dan kekalahan Jepang kemudian terhadap Sekutu memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Kelihatannya para founding father Republik Indonesia dengan mudah mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah negara Indonesia yang didasarkan atas paham kebangsaaan Indonesia karena memang alternatif itulah yang dianggap terbaik.

Masalah-masalah negara-bangsa tidak dengan sendirinya selesai dengan terbentuknya negara-bangsa bersangkutan. Seperti halnya setiap negara-bangsa, negara-bangsa Indonesia juga tidak lepas dari gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya hidupnya ataupun ancaman terhadap integrasi nasional. Masalah ini akan ada sepanjang massa. Ia tidak mungkin bisa dihilangkan karena gangguan itu melekat pada setiap negara-bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap negara-bangsa Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang masa, kadang-kadang ancaman itu terasa sangat besar, kadang-kadang kecil. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan tersebut sehingga tidak mengancam integrasi nasional.

Nasionalisme Indonesia dalam wujud tali persaudaraan, sesungguhnya telah terajut sejak berabad-abad lalu melalui proses-proses politik, sosial, dan ekonomi. Dalam proses politik ada empat faktor yang telah berperan mempersatukan 17.000 lebih pulau-pulau dengan sekitar 636 suku ini mejadi satu, yakni pertama, kerajaan Sriwijaya (abad 9); kedua; kerajaan Majapahit (abad 14); negara kolonial Hindia Belanda, serta keempat didirikannya Volksraad pada tahun 1917.

Sriwijaya bersama-sama dengan Mapajahit adalah dua kerajaan yang telah berjasa mengubah rangkaian Nusantara dari sekedar untaian geografis menjadi entitas politik yang kokoh dan berjaya. Kejayaan dua kerajaan ini memang hampir meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke India Selatan dan negeri Campa. Rasa kekompakan dalam ke-kita-an memang sempat terbangun secara signifikan. Kohesi politik ini semakin diperkuat secara internal ketika penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda secara berturut-turut ke wilayah ini. Belandalah yang kemudian berhasil menguasai wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Pendirian Volkraad, walaupun tidak terlalu berarti, dapat dikatakan teleh menyemaikan benih perasaan ke-kita-an di pihak anggota pribumi. Perlu ditekank
Negara–bangsa (nation-state) adalah fenomena modern karena bentuk pengaturan hidup bersama seperti itu baru muncul sekitar abad 16 dan 17, seiring dengan berkembangnya paham demokrasi dan diletakkannya dasar-dasar bagi dunia modern sekarang ini. Semenjak itu negara-bangsa telah menjadi model bagi organisasi yang mengatur sekelompok orang dalam rangka mencapai tujuan bersama. Organisasi tersebut dinamakan negara, sedangkan sekelompok orang (yang terdiri dari sejumlah besar manusia) disebut bangsa.

Konsep negara-bangsa mempunyai daya tarik karena dianutnya paham persamaan di antara setiap orang yang menjadi warga bangsa. Anggota negara-bangsa (atau warga negara) mempunyai kedudukan yang sama, baik dalam berhubungan dengan warga negara yang lainnya maupun dalam berhubungan dengan negara. Oleh karena itu tidak ada lagi warga negara kelas satu (seperti kelompok penakluk dalam sistem kekaisaran ataupun kelompok penjajahan dalam negara jajahan). Semua warga negara merasa menjadi bagian negara-bangsa yang setara, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan secara kultural dan agama. Paham negara-bangsa didasarkan atas adanya keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah kesatuan di antara para warga negara meskipun terdapat perbedaan-perbedaan tadi. Oleh karena itu paham negara-bangsa lebih mementingkan aspek politik (keinginan untuk bersatu sebagai bangsa dan tunduk kepada satu penguasa politik). Perbedaan-perbedaan kultural dan agama tidak perlu menghalangi mereka untuk terikat dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Masa pasca Perang Dunia II memberi peluang bagi banyak negara jajahan untuk membentuk negara-bangsa masing-masing. Dalam kasus Indonesia kekalahan Belanda oleh Jepang pada awal Perang Dunia II dan kekalahan Jepang kemudian terhadap Sekutu memberi peluang bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Kelihatannya para founding father Republik Indonesia dengan mudah mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah negara Indonesia yang didasarkan atas paham kebangsaaan Indonesia karena memang alternatif itulah yang dianggap terbaik.

Masalah-masalah negara-bangsa tidak dengan sendirinya selesai dengan terbentuknya negara-bangsa bersangkutan. Seperti halnya setiap negara-bangsa, negara-bangsa Indonesia juga tidak lepas dari gangguan-gangguan terhadap berlangsungnya hidupnya ataupun ancaman terhadap integrasi nasional. Masalah ini akan ada sepanjang massa. Ia tidak mungkin bisa dihilangkan karena gangguan itu melekat pada setiap negara-bangsa. Sejarah telah menunjukkan bahwa ancaman terhadap negara-bangsa Indonesia mengalami fluktuasi sepanjang masa, kadang-kadang ancaman itu terasa sangat besar, kadang-kadang kecil. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan tersebut sehingga tidak mengancam integrasi nasional.

Nasionalisme Indonesia dalam wujud tali persaudaraan, sesungguhnya telah terajut sejak berabad-abad lalu melalui proses-proses politik, sosial, dan ekonomi. Dalam proses politik ada empat faktor yang telah berperan mempersatukan 17.000 lebih pulau-pulau dengan sekitar 636 suku ini mejadi satu, yakni pertama, kerajaan Sriwijaya (abad 9); kedua; kerajaan Majapahit (abad 14); negara kolonial Hindia Belanda, serta keempat didirikannya Volksraad pada tahun 1917.

Sriwijaya bersama-sama dengan Mapajahit adalah dua kerajaan yang telah berjasa mengubah rangkaian Nusantara dari sekedar untaian geografis menjadi entitas politik yang kokoh dan berjaya. Kejayaan dua kerajaan ini memang hampir meliputi seluruh Nusantara bahkan sampai ke India Selatan dan negeri Campa. Rasa kekompakan dalam ke-kita-an memang sempat terbangun secara signifikan. Kohesi politik ini semakin diperkuat secara internal ketika penjajah Portugis, Spanyol dan Belanda secara berturut-turut ke wilayah ini. Belandalah yang kemudian berhasil menguasai wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Pendirian Volkraad, walaupun tidak terlalu berarti, dapat dikatakan teleh menyemaikan benih perasaan ke-kita-an di pihak anggota pribumi. Perlu ditekank

More info:

Published by: Peter Kasenda on Mar 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
 
 _h|h{ I`uhdl` DI[B l`j`a jbd|`u`d uhg`{`c Bdlmdhub`
 Dhn`{`―k`dnu` #d`|bmd!u|`|h" `l`j`c fhdmahd` amlh{d i`{hd` khd|xi  phdn`|x{`d cblxp kh{u`a` uhph{|b b|x k`{x axdexj uhib|`{ `k`l 06 l`d 0>*uhb{bdn lhdn`d kh{ihak`dndr` p`c`a lhami{`ub l`d lbjh|`ii`ddr` l`u`{!l`u`{ k`nb lxdb` amlh{d uhi`{`dn bdb$ Uhahdg`i b|x dhn`{`!k`dnu` |hj`cahdg`lb amlhj k`nb m{n`dbu`ub r`dn ahdn`|x{ uhihjmapmi m{`dn l`j`a{`dni` ahde`p`b |xgx`d kh{u`a`$ M{n`dbu`ub |h{uhkx| lbd`a`i`d dhn`{`*uhl`dni`d uhihjmapmi m{`dn #r`dn |h{lb{b l`{b uhgxaj`c khu`{ a`dxub`"lbuhkx| k`dnu`$Imduhp dhn`{`!k`dnu` ahapxdr`b l`r` |`{bi i`{hd` lb`dx|dr` p`c`a ph{u`a``d lb `d|`{` uh|b`p m{`dn r`dn ahdg`lb ~`{n` k`dnu`$ @dnnm|`dhn`{`!k`dnu` #`|`x ~`{n` dhn`{`" ahapxdr`b ihlxlxi`d r`dn u`a`* k`bi l`j`a kh{cxkxdn`d lhdn`d ~`{n` dhn`{` r`dn j`bddr` a`xpxd l`j`a kh{cxkxdn`d lhdn`d dhn`{`$ Mjhc i`{hd` b|x |bl`i `l` j`nb ~`{n` dhn`{`ihj`u u`|x #uhph{|b ihjmapmi phd`ijxi l`j`a ubu|ha ihi`bu`{`d `|`xpxdihjmapmi phdg`g`c`d l`j`a dhn`{` g`g`c`d"$ Uhax` ~`{n` dhn`{` ah{`u`ahdg`lb k`nb`d dhn`{`!k`dnu` r`dn uh|`{`* ahuibpxd |h{l`p`| ph{khl``d! ph{khl``d uhe`{` ixj|x{`j l`d `n`a`$ _`c`a dhn`{`!k`dnu` lbl`u`{i`d `|`u`l`dr` ihbdnbd`d xd|xi cblxp kh{u`a` l`j`a uhkx`c ihu`|x`d lb `d|`{` p`{`~`{n` dhn`{` ahuibpxd |h{l`p`| ph{khl``d!ph{khl``d |`lb$ Mjhc i`{hd` b|x p`c`a dhn`{`!k`dnu` jhkbc ahahd|bdni`d `uphi pmjb|bi #ihbdnbd`d xd|xi  kh{u`|x uhk`n`b k`dnu` l`d |xdlxi ihp`l` u`|x phdnx`u` pmjb|bi"$_h{khl``d!ph{khl``d ixj|x{`j l`d `n`a` |bl`i ph{jx ahdnc`j`dnb ah{hi`xd|xi |h{bi`| l`j`a u`|x ihu`|x`d dhn`{`!k`dnu`$A`u` p`ue` _h{`dn Lxdb` BB ahakh{b phjx`dn k`nb k`dr`i dhn`{` g`g`c`dxd|xi ahakhd|xi dhn`{`!k`dnu` a`ubdn!a`ubdn$ L`j`a i`uxu Bdlmdhub`ihi`j`c`d Khj`dl` mjhc Ghp`dn p`l` `~`j _h{`dn Lxdb` BB l`d ihi`j`c`dGhp`dn ihaxlb`d |h{c`l`p Uhix|x ahakh{b phjx`dn k`nb k`dnu` Bdlmdhub`xd|xi ahaph{mjhc ihah{lhi``ddr`$ Ihjbc`|`ddr` p`{`
 fmxdlbdn f`|ch{ 
[hpxkjbi Bdlmdhub` lhdn`d axl`c ahde`p`b ihuhp`i`|`d xd|xi ahakhd|xi 
~~~$ph|h{i`uhdl`$~m{lp{huuHa`bj7 a{$i`uhdl`Ona`bj$ema* ph|h{i`uhdl`Ora`bj$ema0
 
uhkx`c dhn`{` Bdlmdhub` r`dn lbl`u`{i`d `|`u p`c`a ihk`dnu```d Bdlmdhub`i`{hd` aha`dn `j|h{d`|bf b|xj`c r`dn lb`dnn`p |h{k`bi$A`u`j`c!a`u`j`c dhn`{`!k`dnu` |bl`i lhdn`d uhdlb{bdr` uhjhu`b lhdn`d|h{khd|xidr` dhn`{`!k`dnu` kh{u`dnix|`d$ Uhph{|b c`jdr` uh|b`p dhn`{`! k`dnu`* dhn`{`!k`dnu` Bdlmdhub` gxn` |bl`i jhp`u l`{b n`dnnx`d!n`dnnx`d|h{c`l`p kh{j`dnuxdndr` cblxpdr` `|`xpxd `de`a`d |h{c`l`p bd|hn{`ubd`ubmd`j$ A`u`j`c bdb `i`d `l` uhp`dg`dn a`uu`$ B` |bl`i axdnibd kbu`lbcbj`dni`d i`{hd` n`dnnx`d b|x ahjhi`| p`l` uh|b`p dhn`{`!k`dnu`$ Uhg`{`c|hj`c ahdxdgxii`d k`c~` `de`a`d |h{c`l`p dhn`{`!k`dnu` Bdlmdhub`ahdn`j`ab fjxi|x`ub uhp`dg`dn a`u`* i`l`dn!i`l`dn `de`a`d b|x |h{`u`u`dn`| khu`{* i`l`dn!i`l`dn ihebj$ R`dn kbu` lbj`ixi`d `l`j`c ahdnx{`dnbn`dnnx`d |h{uhkx| uhcbdnn` |bl`i ahdn`de`a bd|hn{`ub d`ubmd`j$ D`ubmd`jbuah Bdlmdhub` l`j`a ~xgxl |`jb ph{u`xl`{``d* uhuxdnnxcdr` |hj`c|h{`gx| uhg`i kh{`k`l!`k`l j`jx ahj`jxb p{muhu!p{muhu pmjb|bi* umub`j* l`dhimdmab$ L`j`a p{muhu pmjb|bi `l` hap`| f`i|m{ r`dn |hj`c kh{ph{`dahaph{u`|xi`d 0>$??? jhkbc pxj`x!pxj`x lhdn`d uhib|`{ 656 uxix bdb ahg`lbu`|x* r`idb ph{|`a`* ih{`g``d U{b~bg`r` #`k`l 2"9 ihlx`9 ih{`g``d A`g`p`cb|#`k`l 0<"9 dhn`{` imjmdb`j Cbdlb` Khj`dl`* uh{|` ihhap`| lblb{bi`ddr`Vmjiu{``l p`l` |`cxd 020>$U{b~bg`r` kh{u`a`!u`a` lhdn`d A`p`g`cb| `l`j`c lx` ih{`g``d r`dn |hj`c kh{g`u` ahdnxk`c {`dni`b`d Dxu`d|`{` l`{b uhihl`{ xd|`b`d nhmn{`fbuahdg`lb hd|b|`u pmjb|bi r`dn imimc l`d kh{g`r`$ Ihg`r``d lx` ih{`g``d bdbaha`dn c`apb{ ahjbpx|b uhjx{xc Dxu`d|`{` k`ci`d u`ap`b ih Bdlb` Uhj`|`dl`d dhnh{b E`ap`$ [`u` ihimap`i`d l`j`a ih!ib|`!`d aha`dn uhap`||h{k`dnxd uhe`{` ubndbfbi`d$ Imchub pmjb|bi bdb uha`ibd lbph{ix`| uhe`{`bd|h{d`j ih|bi` phdg`g`c _m{|xnbu* Up`drmj l`d Khj`dl` uhe`{` kh{|x{x|!|x{x|ih ~bj`r`c bdb$ Khj`dl`j`c r`dn ihaxlb`d kh{c`ubj ahdnx`u`b ~bj`r`c r`dnihaxlb`d lbihd`j uhk`n`b Bdlmdhub`$ _hdlb{b`d Vmji{``l* ~`j`xpxd |bl`i |h{j`jx kh{`{|b* l`p`| lbi`|`i`d |hjhc ahdrha`bi`d khdbc ph{`u``d ih!ib|`!`dlb pbc`i `dnnm|` p{bkxab$ _h{jx lb|hi`di`d lbubdb k`c~` jhak`n` bdb* r`dn`dnnm|` p{bkxabdr` `l`j`c a`d|`d phg`k`| Cbdlb` Khj`dl` |hj`c kh{fxdnubuhk`n`b `j`| lh|hiub ih{hu`c`d p{bkxab r`dn lba`df``|i`d mjhc phah{bd|`cimjmdb`j Khj`dl`$L`j`a p{muhu kxl`r`* p`jbdn ix{`dn `l` |bn` f`i|m{ r`dn |hj`c ahdrxak`dn|h{ebp|`dr` {`u` ph{u`|x`d Bdlmdhub`* _h{|`a`* `n`a` Buj`a uhk`n`b `n`a`a`rm{b|`u {`ir`| 9 ihlx`9 ihdr`|``d k`c~` lb Cbdlb` Khj`dl` uhg`i `k`l ih
~~~$ph|h{i`uhdl`$~m{lp{huuHa`bj7 a{$i`uhdl`Ona`bj$ema* ph|h{i`uhdl`Ora`bj$ema;
 
00* k`c`u` Ahj`rx |hj`c ah{xp`i`d k`c`u` ph{n`xj`d #
jbdnx` f{`de`
" 9ih|bn`* lbph{ihd`ji`d ubu|ha phdlblbi`d Khj`dl` lb `~`j `k`l ih 02$ [`u`ih!Bdlmdhub`!`d aha`dn uhe`{` hfhi|bf lbuhk`{i`d mjhc p`{` phl`n`dn Buj`aaxj`b l`{b @ehc |x{xd ih l`h{`c Abd`dni`k`x* |h{xu ahdrbub{ phubub{ |bax{ Uxa`|{` ih uhj`|`d l`d ih |bax{ ahdrhkh{`dn ih I`jba`d|`d l`d G`~` L`{bN{hubi l`d \xk`d pxd phl`n`dn Buj`a ihaxlb`d ahdrhkh{`dn ih Uxj`~hub *A`jxix X|`{`* l`d kh{chd|b lb ihp`j` Kx{xdn #Um{mdn" lb _`px`$ [`u` ih!Xa`|!`d r`dn ix`| lb i`j`dn`d Axujba |hj`c kh{c`ubj ahdlhi`| uxix!uxixr`dn lhabib`d kh{`n`a l`d kh{g`xc`d u`|x l`d r`dn j`bd$ Kh{u`a``dlhdn`d b|x* k`c`u` Ahj`rx gxn` |x{x| ahdrhk`{ kh{u`a` lhdn`d `n`a`Buj`a$ K`c`u` Ahj`rx |bl`i u`g` ahdg`lb k`c`u` ph{n`xj`d lb p`u`{!p`u`{ |h|`pb gxn` lb i`d|m{!i`d|m{ phah{bd|`c`d imjmdb`j* lb i`j`dn`d phdnnha`{  kxix!kxix ubj`|* {ma`d l`d dmvhj$Bd|{mlxiub ubu|ha phdlblbi`d Khj`dl` lb i`j`dn`d p{br`rb* u`d|{b* l`dnmjmdn`d \bax{ `ubdn j`bddr` |hj`c ah{`dnu`dn lx` {h`iub$ _h{|`a`*ahabex uha`ibd a`{`i lbk`dnxddr` Ubu|ha _hdlblbi`d \{`lbubmd`j#_hu`d|{hd" |h{x|`a` lb phlhu``d K`d|hd uhk`n`b ux`|x ahi`dbuahlhfhdubf$ Lb l`h{`c ph{im|``d kh{k`n`b ihjmapmi d`ubmd`jbuahdnhak`dni`d Ubu|ha _hdlblbi`d D`ubmd`j* uhph{|b \`a`d Ubu~`$Bd|{mlxiub b|x gxn` uhe`{` |bl`i uhdn`g` ahdlm{mdn `d`i!`d`i p{br`rb|h{lblbi xd|xi ahabjbc k`c`u` Ahj`rx uhk`n`b ahlbxa imaxdbi`ub ah{hi`lhdn`d k`dnu` Khj`dl` i`{hd` ihi`nmi`d imaxdbi`ub r`dn |h{ebp|`$A`ur`{`i`| Khj`dl` lb Cbdlb` Khj`dl` hdnn`d kh{k`c`u` Khj`dl` lhdn`d p{br`rb |h{lblbi i`{hd` lhdn`d lhabib`d ahduhg`g`{i`d ah{hi` lhdn`d `d`i  p`{` p{br`rb* uhl`dni`d k`c`u` G`~` |bl`i lbpbjbc i`{hd` u`dn`|ah{hdl`ci`d lh{`g`| phdg`g`c$ Uhph{|b lbih|`cxb k`c~` k`c`u` G`~` r`dn kh{|bdni`| `i`d ahdhap`|i`d ~`{n` Khj`dl` uhk`n`b m{`dn `ubdn uh|bdni`|jhkbc {hdl`c l`{b p`{` `d`i p{br`rb$I`p`d lbaxj`bdr` d`ubmd`jbuah lb Bdlmdhub` |bl`i l`p`| lbuhkx|i`d `|`xlbp{`i|hii`d uhe`{` |hp`|$ Bdb ah{xp`i`d ux`|x f`uh r`dn k`{x axj`b lbuhkx|lhdn`d ghj`u l`d |h{m{n`dbu`ub p`l` l`u`~`{u` ihlx` `k`l ih ;?* d`axdihk`dr`i`d xdux{ pmimidr` r`dn phd|bdn uxl`c `l` g`xc uhkhjxadr`*axdnibd k`ci`d khkh{`p` uxl`c `l` p`l` ph{bmlh |`|i`j` l`ap`i  phah{bd|`c`d Khj`dl` axj`b lb{`u`i`d$ L`p`| pxj` lbph{lhk`|i`d k`c~`uhg`i b|x d`ubmd`jbuah!d`ubmd`jbuah j`|hd r`dn kh{ubf`| hak{bm* |hj`c `l` lbl`j`a a`ur`{`i`| bd|b lb Bdlmdhub`* l`d k`ci`d phdn`g`~`d|`c`d `i|bfdr`|hj`c khnb|x j`a` |h{i`|xdn!i`|xdn* |h{x|`a` i`{hd` |bl`i `l`dr`ihphabapbd`d$
~~~$ph|h{i`uhdl`$~m{lp{huuHa`bj7 a{$i`uhdl`Ona`bj$ema* ph|h{i`uhdl`Ora`bj$ema5

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
sinratense liked this
sinratense liked this
Hilmi Husada added this note
i liket it
Erwin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->