Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Masalah Kemampuan Berbahasa

Masalah Kemampuan Berbahasa

Ratings: (0)|Views: 47 |Likes:
Published by lukman_files

More info:

Published by: lukman_files on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2011

pdf

text

original

 
Masalah KemampuanBerbahasa Indonesia
Sebagaimana sudah diketahui, ada empat kemampuan berbahasa. Keempatnya meliputimendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Setidaknya, demikianlah urut-urutannya.Kemampuan mendengarkan menjadi kemampuan berikutnya. Secara normal,seseorang sudah akan dapat mendengarkan bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh apa punyang ada di sekitarnya. Namun, sebagai individu yang baru saja mulai bertumbuh, apa yangdidengarkan tidak dapat langsung dikenali. Ada proses pengenalan terhadap apa dan siapayang mengeluarkan bunyi. Hal ini, secara luar biasa, terasah dengan baik di sepanjang hidupmanusia sehingga kita dapat membedakan siapa atau apa yang mengeluarkan bebunyian itu.Dengan cara seperti inilah kiranya seorang bayi dapat mengenali suara ibunya atau ayahnya.Kemampuan berbicara menjadi kemampuan berikut yang dimiliki oleh setiap manusia. Halini diperolehnya sebagai bentuk peniruan bunyi bahasa sebagaimana dijelaskan di atas.Itulah sebabnya, seorang yang dalam masa kecilnya, atau yang terlahir dengan kecacatandalam pendengaran akan menjadi orang yang tidak mampu berbicara.Meski demikian, dari sudut bahasa nonverbal, kemampuan berbicara tampaknya sudahmelekat dalam diri seseorang sejak ia lahir. Hal ini diwujudkan dalam bentuk tangisan.Ketika lahir, jerit tangisnya mulai mengarahkan dirinya untuk berbicara secara nonverbal.Itulah bahasa lisan pertama umat manusia. Dalam perspektif guru Seni Rupa saya dulu diSMU, jerit tangis bayi ini menjadi seni pertama yang ada dalam diri manusia, yaitu senisuara.Kemampuan membaca menjadi kemampuan ketiga sekaligus kemampuan tingkat tinggipertama sebelum menulis. Saya ingat bagaimana saya bisa membaca untuk pertama kalinya.Ketika itu saya belum masuk TK dan seorang saudara mengajarkan saya membaca — dan halini membuktikan bahwa kemampuan membaca baru diperoleh setelah kemampuanmendengar. Ketika itu, saudara saya membacakan beragam kata dan huruf yangbebunyiannya sampai ke telinga saya. Lewat proses peniruan, saya bisa mengikuti sampaiakhirnya bisa membaca sendiri.Sebagai kemampuan tingkat tinggi tahap pertama, membaca menjadi kemampuan yangharus dimiliki dengan baik oleh seseorang sebelum masuk ke tahap berikutnya, yaitukemampuan menulis. Herannya, kemampuan membaca di kalangan masyarakat Indonesiabelumlah terlalu baik. Hal ini ternyata berdampak juga di lingkungan akademik. Coba sajasimak pandangan dari Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan (
Kompas
, Senin, 6November 2006).
 
Kita tentu saja boleh menuduh bahwa pengajaran bahasa Indonesia di sekolahternyata tidak berhasil meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak kitaseperti yang kita harapkan. Di perguruan tinggi kita latih lagi mereka agar penguasaan berbahasanya meningkat, tetapi ternyata dalam proses penulisanskripsi, tesis, dan disertasi pun mahasiswa kita tidak menunjukkankemampuan itu, tidak terkecuali yang dikerjakan oleh dosen-dosen yangmengajar kemampuan berbahasa Indonesia.
Jelas saja kondisi seperti ini merupakan kondisi yang tidak baik. Karena bagaimana kita bisamengharapkan masyrakat Indonesia bisa memiliki kemampuan berbahasa yang baik bilaternyata para pengajarnya pun masih belum memiliki kemampuan berbahasa yangmumpuni. (Hal ini mengingatkan saya pada seorang dosen mata kuliah Bahasa Indonesiayang menolak kritikan dari mahasiswanya hanya karena mahasiswanya belum bergelarsarjana.)Tidak dapat dielakkan bahwa kemampuan membaca menjadi pintu menuju kemampuanmenulis. Hal ini juga ditegaskan oleh sastrawan yang juga menjadi dosen pada Fakultas IlmuBudaya UI ini.
Hal yang juga penting dibicarakan adalah pandangan yang mutlak keliru,yang menyatakan bahwa keterampilan menulis bisa ditingkatkan terlepas dari kemampuan membaca.Saya berpendirian bahwa kemampuan memahami bacaan merupakan landasan utama, bahkan satu-satunya, bagi kemampuanmenulis.
Pandangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketika seseorang mampu memahamisuatu bacaan, ia akan memiliki suatu pengetahuan, katakanlah bank data di dalam otaknya.Bank data ini jelas sangat berguna ketika ia hendak menulis. Ibarat menabung uang di bank,membaca dapat dipandang sebagai kegiatan menabung ribuan kosakata di dalam otak kita,yang sewaktu-waktu dapat dikeluarkan kembali secara tertulis.
Itulah sebabnya, pada hemat saya, membaca harus merupakan kegiatanutama dalam mata kuliah Bahasa Indonesia.
Pandangan beliau sungguh masuk akal. Sayangnya, ketika berhadapan dengan kebiasaan,yang mungkin dibentuk dari budaya yang malas membaca, cita-cita mulia untuk menghasilkan mahasiswa dan masyarakat untuk terampil dalam menulis akan sulitdiwujudkan.
Boro-boro
menghabiskan dua belas tahun, seumur hidup pun tidak akan bisamenghasilkan seseorang dengan kemampuan menulis dengan baik, bila kemalasan sudahmembudaya dalam dirinya.Memang, ada masalah lain yang membayangi kondisi ini. Budaya lisan di Indonesiatampaknya masih dominan. Tidaklah mengherankan ketika seseorang membaca buku, ia

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->