Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PP RI No 71 Tahun 2008

PP RI No 71 Tahun 2008

Ratings: (0)|Views: 70 |Likes:
PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 48 TAHUN 1994 TENTANG PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN
PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 48 TAHUN 1994 TENTANG PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN

More info:

Published by: Ferry Penky Primardhani on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2011

pdf

text

original

 
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIANOMOR 71 TAHUN 2008TENTANGPERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 48 TAHUN 1994 TENTANGPEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATASTANAH DAN/ATAU BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
 
Pasal 1
 (1) Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari pengalihan hak atastanah dan/atau bangunan wajib dibayar Pajak Penghasilan.(2) Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:a. penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak, pelepasan hak, penyerahan hak, lelang, hibah,atau cara lain yang disepakati dengan pihak lain selain pemerintah;b. penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain yang disepakati denganpemerintah guna pelaksanaan pembangunan, termasuk pembangunan untuk kepentingan umum yangtidak memerlukan persyaratan khusus;c. penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain kepada pemerintah gunapelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus.
Pasal 2
(1) Orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atastanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf a, wajib membayar sendiri Pajak Penghasilan yang terutang ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum akta,keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/ataubangunan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.(2) Pejabat yang berwenang hanya menanda tangani akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan ataurisalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan apabila kepadanya dibuktikan olehOrang pribadi atau badan dimaksud bahwa kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telahdipenuhi dengan menyerahkan fotokopi Surat Setoran Pajak yang bersangkutan dengan menunjukanaslinya.(3) Pejabat yang berwenang menandatangani akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalahlelang wajib menyampaikan laporan bulanan mengenai penerbitan akta, keputusan, perjanjian,kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebagaimanadimaksud pada ayat (2) kepada Direktur Jenderal Pajak.
 
(4) Yang dimaksud dengan pejabat yang berwenang adalah Notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah,Camat, Pejabat Lelang, atau pejabat lain yang diberi wewenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 3
 (1) Orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atastanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf b dipungut PajakPenghasilan oleh bendaharawan atau pejabat yang melakukan pembayaran atau pejabat yangmenyetujui tukar-menukar.(2) Bendaharawan atau pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib menyetor PajakPenghasilan yang telah dipungut ke bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro sebelum melakukanpembayaran kepada orang pribadi atau badan yang berhak menerimanya atau sebelum tukar-menukar dilaksanakan.(3) Penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menggunakan SuratSetoran Pajak atas nama orang pribadi atau badan yang menerima pembayaran atau yang melakukantukar-menukar.(4) Bendaharawan atau pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib menyampaikan laporanmengenai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepadaDirektur Jenderal Pajak.
Pasal 4
(1) Besarnya Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (1)adalah sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan,kecuali atas pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan olehWajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dikenakanPajak Penghasilan sebesar 1% (satu persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan.
Penjelasan:
 Besarnya Pajak Penghasilan yang wajib dibayar sendiri oleh orang pribadi dan badan atau yang dipotongatau dipungut oleh bendaharawan atau pejabat yang berwenang sehubungan dengan pengalihan hakatas tanah dan/atau bangunan adalah sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihantersebut.Bagi Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/ataubangunan, besarnya Pajak Penghasilan yang wajib dibayar sendiri adalah 1% (satu persen) untukpengalihan Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana, dan sebesar 5% (lima persen) untukpengalihan lainnya.(2) Nilai pengalihan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah nilai yang tertinggi antara nilaiberdasarkan Akta Pengalihan Hak dengan Nilai Jual Objek Pajak tanah dan/atau bangunan yangbersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumidan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentangPerubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 Tentang Pajak Bumi Dan Bangunan, kecuali:a. dalam hal pengalihan hak kepada pemerintah adalah nilai berdasarkan keputusan pejabat yangbersangkutan;
 
b. dalam hal pengalihan hak sesuai dengan peraturan lelang (Staatsblad Tahun 1908 Nomor 189 dengansegala perubahannya) adalah nilai menurut risalah lelang tersebut.
Penjelasan:
 Besarnya nilai pengalihan sebagai dasar perhitungan besarnya Pajak Penghasilan yang wajib dibayarsendiri oleh orang pribadi atau badan, atau dipungut oleh bendaharawan atau pejabat yang berwenang,adalah nilai yang tertinggi antara nilai menurut akta dengan nilai menurut Nilai Jual Objek Pajak untukpenghitungan Pajak Bumi dan Bangunan atas tanah dan/atau bangunan yang bersangkutan dalam tahunpajak terjadinya pengalihan. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memperoleh nilai yang paling mendekatinilai yang sebenarnya.Dalam hal pengalihan kepada Pemerintah, maka besarnya nilai pengalihan adalahberdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Pemerintah.(3) Nilai Jual Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Nilai Jual Objek Pajak menurutSurat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan tahun yang bersangkutan atau dalam halSurat Pemberitahuan Pajak Terutang dimaksud belum terbit, adalah Nilai Jual Objek Pajak menurutSurat Pemberitahuan Pajak terutang tahun pajak sebelumnya.(4) Apabila tanah dan/atau bangunan tersebut belum terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak Pratamaatau Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, maka Nilai Jual Objek Pajak yang dipakai adalah NilaiJual Objek Pajak menurut surat keterangan yang diterbitkan Kepala Kantor yang wilayah kerjanyameliputi lokasi tanah dan/atau bangunan yang bersangkutan berada.
Penjelasan:
 Apabila tanah dan/atau bangunan tersebut belum terdaftar, maka untuk memperoleh besarnya NilaiJual Objek Pajak, orang pribadi atau badan yang melakukan pengalihan wajib meminta surat keteranganmengenai besarnya Nilai Jual Objek Pajak atas tanah dan/atau bangunan untuk tahun pajak yangbersangkutan kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama atau Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunanyang wilayah kerjanya meliputi lokasi tanah dan/atau bangunan tersebut berada.(5) Rumah Sederhana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas Rumah Sederhana Sehat danRumah Inti Tumbuh, yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(6) Rumah Susun Sederhana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bangunan bertingkat yangdibangun dalam suatu lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi denganKM/WC dan dapur baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan penggunaan komunaltermasuk Rumah Susun Sederhana Milik, yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PajakPertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan."
Pasal 5
 Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksuddalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (1) adalah:

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->