Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Etika dengan Ilmu

Etika dengan Ilmu

Ratings: (0)|Views: 855|Likes:
Published by uan_is

More info:

Published by: uan_is on Mar 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

 
Hubungan Etika Dengan Ilmu
10 Februari 2010administratorTinggalkan komentarGo to comments
 (Daldjoeni dalam Jujun, 1987 hal. 233 ~ 236)Tulisan ini menyajikan hubungan antar etika dan ilmu, dimana etika lengket dengan ilmu. Sesungguhnya bebasnilai atau tidaknya ilmu merupakan masalah rumit, yang tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak.Mereka yang berpaham ilmu itu bebas nilai menggunakan pertimbangan yang didasarkan atas nilai diri yangdiwakili oleh ilmu bersangkutan.Bebas disitu berarti tak terikat secara mutlak. Padahal bebas dapat mengandung dua jenis makna. Pertama,kemungkinan untuk memilih; keduanya, kemampuan atau hak untuk menentukan subyeknya sendiri. Disitu harusada penentuan dari dalam bukan dari luar.Dengan penggulatan masalah di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa dua paham yang berbeda itu tak perludilihat sebagai suatu pertentangan.
Fase empiris rasional
 Di zaman Yunani dulu, Aristoteles mengatakan bahw ilmu itu tak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digulati olehmanusia demi ilmu itu sendiri. Sebagai latar belakangnya dikenal ucapan:
Primum vivere, deinde philosophari 
yangartinya kira-kira: berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafah. Memang, kegiatan berilmu barulahdimungkinkan setelah yang bersangkutan tak banyak lagi disibukkan oleh perjuangan sehari-hari mencari nafkah.Pendapat orang, kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Dengan demikian orangdapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya. Menurut faham Yunani,bentuk tertinggi dari ilmu adalah kebijaksanaan. Bersama itu terlihat suatu sikap etika.Di zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik mengajarkan bagaimana manusiaharus mengarahkan negara. Sebaliknya ilmu tak dapat mengubah apa-apa, baik yang ada maupun yang akandatang. Pada masa itu, ilmu adalah sekedar apa yang dicapai; ilmu tak dirasakan sebagai suatu tantangan.Tugas suatu generasi terbatas pada mencapai ilmu tersebut, untuk kemudian diteruskan kepada generasiberikutnya. Belum ada tuntutan supaya sebelum ilmu diteruskan harus terlebih dulu dikembangkan. Baru sejakabad ke-17 ilmu giat dikembangkan di Eropa; orang juga mencari apa tujuan sebenarnya dari ilmu. Dengan itufase yang sifatnya empiris rasional mulai bergeser ke fase eksperimental rasional. Sifat progresif ini menunjukkanbahwa ilmu bukan sekedar tujuan bagi dirinya sendiri melainkan suatu sarana untuk mencapai sesuatu.
Faham pragmatis
 Jika sekarang ditanyakan kepada kita: apakah sebenarnya tujuan dari ilmu itu; jawaban dapat beraneka. Misalnya,untuk kemajuan, perkembangan ekonomi dan teknik, kemewahan hidup, kekayaan, kebahagiaan manusia.Mungkin ada yang mau menambahkan yang lebih mulia lagi seperti: untuk menemukan harta-harta ciptaan Tuhan.Demikian, tadi cara manusia merenungkan tujuan ilmu. Bukan ilmu sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan yangkongkret kita hayati. Ilmu yang memunculkan diri berdampingan dengan gejala kerumitan spesialisasi, rutin kerja,krisis ekonomis, teknik perang modern, aneka gangguan rohani dan dehumanisasi.Dalam menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya yang dalam, di situ kita terdoronguntuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat ini pertama-tama tak diajukan kepada ilmu murni tetapi ilmusebagaimana telah diterapkan dalam kehidupan.Sebenarnya nilai dari ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi masyarakat sehingga ia menjadi saranakemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa ilmu itu mengejar kebenaran dan kebenaran itu inti etika ilmu,tetapi jangan dilupakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu. Pandangan yangdemikian itu termasuk faham pragmatis tentang kebenaran. Di situ kebenaran merupakan suatu ide yangberlandaskan efek-efeknya yang praktis.
Logos dan Ethos
 Apa yang sebenarnya merupakan daya tarik dari ilmu bagi ilmuwan?
an Peursen
sehubungan dengan inimenunjukkan pada sifat ilmu yang
tak akan selesai 
. Dijelaskan bahwa ilmu itu beroperasi dalam ruang yang tak
 
terbatas. Kegiatannya berisi aneka ketegangan dan gerak yang penuh dengan keresahan. Keresahan ilmu itumemang cocok dengan hasrat manusia yang tanpa henti ingin tahu segalanya.Muncul pertanyaan ini: apakah keresahan itu sama dengan kebenaran? Apakah keresahan itu yang menciptakankebenaran? Tulis Van Peursen: keresahan itu keinginan yang tak dapat dipenuhi atau jarak yang prinsipiil kekebenaran.Apakah hubungan antara keresahan ilmu sebagai daya tarik bagi hasrat ingin tahu manusia yang tanpa henti dankebenaran? Apakah karena kebenaran itu lalu ilmu bukan tujuan bagi dirinya sendiri, sehingga perlu diperhatikanetika sebagai efek tambahan dari ilmu setelah diterapkan dalam masyarakat?Untuk menjawabnya perlu diketahui hubungan antara
logos
dan
ethos
sebagai berikut. Martin Heideggermengatakan bahwa jika kita sebutkan manusia itu memiliki logos, itu tak berarti bahwa manusia sekedar ditabiatioleh akal. Ditunjukkannya bahwa logos bertalian dengan kata kerja
legein
yang artinya macam-macam, dariberbicara sampai membaca; kemudian diluaskan menjadi memperhatikan, menyimak, mengumpulkan makna,penyimpan dalam batin, berhenti untuk menyadari.Dalam arti yang disebut terakhir itu, logos bertemu dengan ethos dan ethos ini dapat berarti penghentian, rumah,tempat tinggal, endapan sikap. Kemudian arti logos selanjutnya: sikap hidup yang menyadari sesuatu, sikap yangmengutamakan tutup mulut untuk berusaha mendengar, dengan mengorbankan berbicara lebih. Sehubungan iniKarl Jasper menulis bahwa
ilmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang keluar dari dunia yang dihuninya
. Di sinilah lengketnya etika dengan ilmu!
K
ebenaran
K
eilmuan
 Apa hubungan antara tak akan selesainya ilmu dan usaha mendengarkan jawaban? Batas dari ilmu sesungguhnyabukanlah suatu garis yang dicoretkan dengan tergesa-gesa di belakang gambaran tentang dunia yang terbatas ini,sebagai petunjuk tentang selesainya sesutu. Batasnya justru berupa suatu pespektif baru yang membukakan diri,sebagai petunjuk bahwa manusia siap untuk mendengarkan. Dengan demikian, tak akan ada pertentangan antaramasalah dan rahasia, antara pengertian dan keajaiban, antara ilmu dan agama.Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidangkehidupan. Kebenaran memang merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmusecara netral, tak berwarna, dapat melunturkan pengertian kebenaran, sehingga ilmu terpaksa menjadi steril.Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnyakebenaran.Seperti disebutkan di depan, ilmu bukan tujuan tetapi sarana, karena hasrat akan kebenaran itu berhimpit denganetika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggung jawab secara agama. Sebenarnya ilmuwan dalam gerakkerjanya tak usah memperhitungkan adanya dua faktor: ilmu dan tanggung jawab, karena yang kedua itu sudahlengket dengan yang pertama.Ilmu pun lengket dengan keberadaan manusia yang transenden dengan kata-kata lain, keresahan ilmu bertaliandengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Di situ terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang transenden.Dengan ini berarti pula bahwa titik henti dari kebenaran itu terdapat di luar jangkauan manusia!
D
aftar bacaan:
 Jujun S. Suriasumantri. 1987.
Ilmu
D
alam Perspektif 
. Jakarta. PT Gramedia
Hubungan antara Etika dengan Ilmu
Pada tingkat aksiologis, pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut etika, moral, dantanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatanmanusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif, makadiperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan nafsu manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmupengetahuan. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang akan menjadi pendukung yang baik bagi pemanfaatan ilmu
 
pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Hakikatmoral, tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya.Etika adalah pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar, dan salah. Yang paling menonjol adalah tentang baikdan teori tentang kewajiban. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral (Herman Soewardi1999). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidakdijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnyaadalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan yang pelaksananya tidak ditunjuk. pelaksananya menjadi jelasketika sang subyek menghadapi opsi baik atau buruk, yang baik itulah materi kewajiban pelaksana dalam situasi ini.Hubungan antara estetika dengan ilmuMenurut A.G. Baumgarten, estetika adalah ilmu tenteng pengetahuan yang dihasilkan oleh indeera manusia, atau secarasederhana dapat disebut sebagai pengetahuan inderawi. Perenungan estetika memiliki perbedaan dengan perenunganlogika. Perenungan estetika bertujuan untuk mencapai keindahan, sedangkan perenungan logika bertujuan mencarikebenaran (Earle,1992).Estetika merupakan sesuatu untuk menilai terhadap hasil ilmu, apakah itu indah atau tidak. Misalnya dalam hal bermusik,orang yang suka musik dangdut akan merasa bosan apabila mendengarkan musik jazz. Begitu pula sebaliknya, orang yangsuka musik jazz, akan menganggap musik dangdut membosankan. Etika bersiafat sujektivitas, akan tetapi bias berubahmenjadi objektivitas apabila diberikan ketentuan-ketentuan untuk menilai hasil ilmu tersebut.
Rujukan:
 Soewardi, Herman, 1999,
³R
oda Berputar 
D
unia Bergulir´ 
 
Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi 
, BaktiMandiri, Bandung.
KAITAN ETIKA DENGAN ILMU PENGETAHUAN
PendahuluanSejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusiayang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalahkehidupan. Akan tetapi, sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan, seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahuluialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia.Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Pertama, konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuansederhana dan kedua, pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Artinya, proses berpikir yangmanusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu; pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi(tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->