Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Manajemen Terpadu Balita Sakit

Manajemen Terpadu Balita Sakit

Ratings: (0)|Views: 855|Likes:
Published by Yanonk Mellysha

More info:

Published by: Yanonk Mellysha on Mar 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/04/2013

pdf

text

original

 
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of ChildhoodIllness (IMCI)Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKMMonday, 07 December 2009 17:00
Apakah MTBS itu?
 
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau
Integrated Management of Childhood Illness
(
IMCI 
) adalahsuatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepadakesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu programkesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Konsep pendekatan MTBS yangpertama kali diperkenalkan oleh WHO merupakan suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatanyang ditujukan untuk menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita dinegara-negara berkembang.
 
P
endekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanankesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (
P
uskesmas dan jaringannya termasuk
P
ustu,
P
olindes,
P
oskesdes, dll). Upaya ini tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yangsering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia. Dikatakan lengkap karena meliputi upayapreventif (pencegahan penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang sering terjadi pada balita.Strategi MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
 1.
 
Komponen I: Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit(selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasienasalkan sudah dilatih).
 2.
 
Komponen II: Memperbaiki sistem kesehatan (utamanya di tingkat kabupaten/kota).
 3.
 
Komponen III: Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah danupaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan keluarga danmasyarakat), yang dikenal sebagai'MTBS berbasis Masyarakat.'
 
Sejarah Penerapan MTBS di Indonesia
 
Strategi MTBS mulai diperkenalkan di Indonesia oleh WHO pada tahun 1996. Pada tahun 1997 Depkes RIbekerjasama dengan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan adaptasi modul MTBS WHO.Modul tersebut digunakan dalam pelatihan pada bulan November 1997 dengan pelatih dari SEARO. Sejak itupenerapan MTBS di Indonesia berkembang secara bertahap dan
up-date
modul MTBS dilakukan secara berkalasesuai perkembangan program kesehatan di Depkes dan ilmu kesehatan anak melalui IDAI.
 
Hingga akhir tahun 2009, penerapan MTBS telah mencakup 33 provinsi, namun belum seluruh Puskesmas mampumenerapkan karena berbagai sebab: belum adanya tenaga kesehatan di Puskesmasnya yang sudah terlatihMTBS, sudah ada tenaga kesehatan terlatih tetapi sarana dan prasarana belum siap, belum adanya komitmen dariPimpinan Puskesmas, dll. Menurut data laporan rutin yang dihimpun dari Dinas Kesehatan provinsi seluruhIndonesia melalui Pertemuan Nasional Program Kesehatan Anak tahun 2010, jumlah Puskesmas yang melaksanakanMTBS hingga akhir tahun 2009 sebesar 51,55%. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS bila memenuhi
 
kriteria sudah melaksanakan (melakukan pendekatan memakai MTBS) pada minimal 60% dari jumlah kunjunganbalita sakit di Puskesmas tersebut.
 
Latar Belakang Perlunya Penerapan MTBS di Indonesia
 
Menurut data hasil Survei yang dilakukan sejak tahun 1990-an hingga saat ini (SKRT 1991, 1995, SDKI 2003 dan2007), penyakit/masalah kesehatan yang banyak menyerang bayi dan anak balita masih berkisar padapenyakit/masalah yang kurang-lebih sama yaitu gangguan perinatal, penyakit-penyakit infeksi dan masalahkekurangan gizi.
 
Penyebab kematian neonatal (bayi berusia 0-28 hari) menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dapatdilihat pada tabel dibawah ini.
 
Tabel proporsi penyebab kematian neonatal di Indonesia tahun 2007
 
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007
 
Sedangkan penyebab kematian bayi dan anak balita menurut Riskesdas 2007, pada kelompok bayi (29 hari - 11bulan) dan kelompok anak balita (12 bulan - 59 bulan) ada dua penyebab kematian tersering yaitu diare danpneumonia. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
 
 
Tabel proporsi penyebab kematian bayi dan anak balita di Indonesia tahun 2007
 
Sumber: Badan Litbangkes, Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2007
 
Penyakit-penyakit penyebab kematian tersebut pada umumnya dapat ditangani di tingkat Rumah Sakit, namunmasih sulit untuk tingkat Puskesmas. Hal ini disebabkan antara lain karena masih minimnya sarana/peralatandiagnostik dan obat-obatan di tingkat Puskesmas terutama Puskesmas di daerah terpencil yang tanpa fasilitasperawatan, selain itu seringkali Puskesmas tidak memiliki tenaga dokter yang siap di tempat setiap saat. Padahal,Puskesmas merupakan ujung tombak fasilitas kesehatan yang paling diandalkan di tingkat kecamatan. Kenyataanlain di banyak provinsi, keberadaan Rumah Sakit pada umumnya hanya ada sampai tingkat kabupaten/kotasedangkan masyarakat Indonesia banyak tinggal di pedesaan.
 
Berdasarkan kenyataan (permasalahan) di atas, pendekatan MTBS dapat menjadi solusi yang jituapabila diterapkan dengan benar (ketiga komponen diterapkan dengan maksimal).
P
ada sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat ke
P
uskesmas, keluhan tunggal jarang terjadi. Menurut data WHO, tigadari empat balita sakit seringkali memiliki beberapa keluhan lain yang menyertai dan sedikitnya menderita1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi fokus MTBS. Hal ini dapat diakomodir oleh MTBSkarena dalam setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering menyebabkan keluhan anakakan ditanyakan dan diperiksa.
 
Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang paling
ost effe
tive
yangmemberikan dampak terbesar pada beban penyakit secara global. Bila
P
uskesmas menerapkan MTBSberarti turut membantu dalam upaya pemerataan pelayanan kesehatan dan membuka akses bagi seluruhlapisan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang terpadu. Oleh karena itu, bila andamembawa anak balita berobat ke
P
uskesmas, tanyakanlah apakah tersediapelayanan MTBS di

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->