Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ajaran moral tentang perkawinan ibu dan anak dalam naskah cariyosipun tiyang kalang karya tumenggung arung binang (suatu tinjauan struktural dan moralitas)

Ajaran moral tentang perkawinan ibu dan anak dalam naskah cariyosipun tiyang kalang karya tumenggung arung binang (suatu tinjauan struktural dan moralitas)

Ratings: (0)|Views: 743 |Likes:
Published by Teguh
analisis sastra,indonesia
analisis sastra,indonesia

More info:

Published by: Teguh on Mar 27, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2013

pdf

text

original

 
Ajaran moral tentang perkawinan ibu dan anak dalamnaskah cariyosipun tiyang kalang karya tumenggung arungbinang (suatu tinjauan struktural dan moralitas)
BAB I
 
PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang Masalah
 Karya sastra adalah hasil budi daya manusia yang menarik, yang berupalisan dan tulisan. Karyasastra diciptakan untuk dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Oleh karena itu pelestariandan pengembangan kebudayaankebudayaan daerah yang merupakan peninggalan dari nenek moyang perlu dilaksanakan, sebab tanpa cara tersebut maka warisan leluhur yang sudah terkenal diberbagai negara asing ini niscaya akan mati dinegaranya sendiri. Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan olehmasyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, yang terikat oleh status sosialtertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itusendiri merupakan ciptaan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antara masyarakat dengan orang-orang, antar manusia dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimanapun juga, peristiwa yang terjadi dalam batin seseorangitu merupakan pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat (Sapardi DjokoDamono, 1987:1) Sebuah karya sastra biasanya mengungkapkan tentang masalah kehidupan sosial manusia.Tentang makna hidup manusia yang meliputi perjuangan manusia, penderitaan, kasih sayang,kebencian, nafsu, dan segala sesuatu yang dialami manusia. Sastra terlebih-lebih bukan karenayang tersurat melainkan yang tersirat (dalam Darmanto Jatman, 1985: 96) Karya sastra Jawa yang berupa naskah di dalamnya tersirat kehidupan manusia serta harapan-harapan, keputusannya, siasatnya, serta dimensi dari peristiwa kehidupan yang menyeluruh.Sastra klasik secara kultural dipengaruhi oleh kebudayaan asing, terutama oleh kebudayaan Indiadan Arab, maka teksteks itu sudah pasti banyak mengandung kata-kata Arab dan Sanskerta, disamping Jawa Kuno yang paling banyak didokumentasikan (Sulastin Sutrisno, 1981: 20). Agardapat mengetahui dan mengungkapkan isinya sesuai dengan maksud pengarang maka teks perluditerjemahkan dalam bahasa yang mudah ditangkap dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Objek yang akan di kaji dalam penelitian ini adalah naskah berjudul
Cariyosipun Tiyang Kalang
(selanjutnya disingkat
CTK 
). CTK merupakan hasil karya Raden Tumenggung Arung Binang,Bupati Kebumen, ditulis pada tahun 1878. Hal tersebut terlihat dalam kutipan teks CTK sebagaiberikut: 
 
 Kutipan:
 
Cariyosipun tiyang kalang, pikantuk saking Bok Kaji Ngabdul
 
 Baki ing Dhusun Wanayasa, Dhistrik sarta Kabupatèn Kebumèn
 
Parésidhènan Bagelèn, ing nalika taun 1878……… (Transl. CTK, p: 1)
 
Terjemahan :
 Cerita Tiyang Kalang, berasal dari bok Kaji Ngabdul Baki dari Desa Wanayasa Kabupaten Kebumen Karesidenan Bagelen, pada tahun 1878
………
(Transl.CTK, p: 1) Naskah asli CTK dalam bentuk prosa (gancaran) ditulis dalam huruf Jawa menggunakan bahasaJawa ragam ngoko, dan juga bahasa Jawa Kuno. CTK ditinjau secara leksikal dari kata Kalangmenurut Kamus Jawa Kuna- Indonesia (L. Mardiwarsito
,
1986, h.261) berarti Kalangan,lingkaran, lingkungan, gelanggang, sedangkan kata Kalang dalam naskah CTK menurut KamusBausastra Jawa-Indonesia (S. Prawiro Atmojo.1993, h.201) berasal dari kata Wong-Kalang yangberarti segerombolan orang kuno yang tidak tetap tempat tinggalnya. Arti Kalang sendiri dalamnaskah CTK terdapat dalam paragraf 54 
 Kutipan:
 
 Ing wingking anak putunipun wisuda sami lampah dagang sarta
 
mituhu welingipun sudarmi, mila saéngga dumugi jaman punika dipun
 
wastani tiyang kalang, sabab wektu Rara Sulastri medal saking wana
 
badhé sowan ing rama Ratu Baka, tansah dipun kalang-kalang déning
 
tiyang kathah, utawi wêktu nusul kang putra Jaka Karung Kala
 
angalang-ngalang saéngga nglangut botên pinanggih,………
 
(Transl. CTK, p: 54)
 
Terjemahan :
 Akhirnya semua anak cucu bekerja sesuai dengan pesan orang tuanya, hingga sampai saat ini dinamakan orang kalang karena pada saat Rara Sulastri keluar dari hutan akan mencari ayahnya Ratu Baka 
 
selalu dikelilingi orang banyak terhalang-halangi oleh orang banyak, atau waktu menyusul sang putra Jaka Karung Kala terhalang-halang sehingga tidak dapat bertemu,
………
(Trans. CTK, p: 54) Jadi dalam naskah CTK mempunyai makna orang yang hidupnya selalu mengembara mencarisesuatu dengan dihalangi berbagai kesulitan dan penderitaan. Naskah CTK sudah dikerjakan oleh
Sugiyarti
pada tahun 2001, Mahasiswi Sastra Daerah Fakultas Sastra Daerah Univesitas SebelasMaret Surakarta dengan judul skripsi
Cariyosipun Tiyang Kalang (Sebuah Tinjauan Filologis)
. Adapun tinjauannya secara filologis, dan mengukapkan isi CTK yang meliputi etika Jawa, unsur-unsur mitos (sugesti, simbolisme) dan juga membahas fungsi CTK bagi pembaca. Seperti yang diungkapkan di atas, naskah CTK digunakan sebagai objek penelitian karena isidari naskah tersebut mengandung ajaran moral dan etika yang masih ada relevansinya dalammasyarakat saat ini. Adapun yang melatarbelakangi penelitian tentang ajaran moral dan etikayang terkandung dalam CTK yaitu sebagai berikut : 
Pertama
, naskah CTK baru dikaji secara filologis, jadi untuk lebih memudahkan penikmat dalammenelaah isi serta ajaran yang ada perlu dikaji dari sudut pandang lain. 
Kedua
, melihat secara mendalam fungsi apa yang dapat ditarik oleh penikmat karya sastra itusendiri. 
Ketiga
, apresiasi sastra yaitu bagaimana masyarakat luas dapat mengenal kesusastraan dan usahauntuk menggelutinya secara keseluruhan karena merupakan warisan budaya bangsa yangmengandung nilai tinggi dan berhubungan dengan aturan tata cara pergaulan dalam kehidupansehari-hari. Cerita yang hendak disampaikan dalam isi dari CTK tersebut sangat unik dan menarik yangmelibatkan kisah asmara yang terjalin antara ibu dan putranya sendiri yang seharusnya tidak boleh terjadi hingga sampai ke sebuah perkawinan. Perkawinan adalah pintu gerbang yang wajar atau biasa dilalui oleh umum nya umat manusia.Dimanapun, dimuka bumi ini dijumpai dua jenis manusia yang berbeda antara pria dan wanitahidup sebagai pasangan suami isteri. Menurut Notopuro, perkawinan diartikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria danseorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk sebuah keluarga (rumah tangga)yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (Notopuro, 1983:17). Berdasarkan pendapat di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa pada hakikatnya setiaporang memasuki pintu gerbang kehidupan berumah tangga melalui perkawinan, tentumenghendaki terciptanya keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir dan batin, serta memperolehkeselamatan di dunia dan di akhirat. 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->