Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Journal Publication Thesis 1

Journal Publication Thesis 1

Ratings: (0)|Views: 825 |Likes:
Published by Brooke Allen

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Brooke Allen on Mar 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

 

ISOLATION AND IDENTIFICATION OF FLAVONOIDS COMPOUNDS AND TOXICITY TEST OF METHANOLEXTRACT FROM BROWN ALGAE (
Sargassum cristaefolium 
)
Muhammad Fahri
1
, Yenny Risjani
2
, Sasangka P
31)
Post Graduent Student of Brawijaya University
2)
Brawijaya University
3)
Brawijaya University
ABSTRACT
Indonesia has a very high potential of algae. Noted there are at least 555 species of algae in the waters ofIndonesia.
Sargassum 
is a brown algae (
Phaeophyceae 
) multicellular suspected of secondary metaboliccompounds such as alkaloids or flavonoids. This compound may be bioactive compounds that can be used inthe medical world, such as anticancer.Have been isolated and identification of flavonoid compounds and test the toxicity of methanol extract of
Sargassum cristaefolium 
. Extraction was done by maceration increased, so that the extract of chloroform,acetone and methanol extracts. All three extracts obtained were tested by animal test activities Brine shrimp
Artemia salina 
L with BSLT method. Toxicity test is to extract showed chloroform extract with LC
50
value of 1.88ppm, acetone extract with LC
50
values of 3.97 ppm and methanol extracts with LC
50
values of 3.02 ppm. Allthree extracts are included in the category of very toxic.Phitochemistry test of methanol extract from
S. cristaefolium 
is compounds such as flavonoid, flavon,alkaloids, terpenoids and steroids. The methanol extract of Thin Layer Chromatography (TLC) qualitative andpreparative with toluene : ether : acetic acid eluent (10:10:2) and HPLC qualitative analysis. Identification ofisolates by analysis of UV-vis spectrophotometer using shift reagents and Infrared Spectrophotometry (FT-IR).The identification with the UV-visual and IR is estimated that isolates obtained flavonoids namely 5,6,7, -dihidroflavonol.
Key words :
Isolation, Identification, Toxicity Testing, Methanol, Flavonoids, S. cirstaefolium. dihidroflavonol.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOID SERTA UJI TOKSISITAS EKSTRAK METANOLDARI ALGA COKLAT (
Sargassum cristaefolium 
)ABSTRAK
Indonesia memiliki potensi alga yang sangat tinggi. Tercatat sedikitnya ada 555 jenis alga di perairanIndonesia.
Sargassum 
merupakan alga coklat (
Phaeophyceae 
) multiseluler yang diduga memiliki senyawa-senyawa metabolisme sekunder berupa alkaloid atau flavonoid. Senyawa-senyawa tersebut kemungkinanmerupakan senyawa bioaktif yang dapat digunakan dalam dunia pengobatan, misalnya sebagai antikanker.Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa golongan flavonoid serta uji toksisitas ekstrak metanol
Sargassum cristaefolium.
Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi bertingkat, menghasilkan ekstrakkloroform, ekstrak aseton dan ekstrak metanol. Ketiga ekstrak yang diperoleh diuji aktifitasnya dengan hewanuji larva udang
Artemia salina 
L dengan metode BSLT. Hasil uji toksisitas ekstrak adalah ekstrak klorofomdengan nilai LC
50
sebesar 1,88 ppm, ekstrak aseton dengan nilai LC
50
sebesar 3,97 ppm dan ekstrak metanoldengan nilai LC
50
sebesar 3,02 ppm. Ketiga ekstrak termasuk dalam kategori bersifat sangat toksik.Uji golongan fitokimia senyawa ekstrak metanol
S. cristaefolium 
mengandung beberapa senyawadiantaranya flavonoid, flavon, alkaloid, terpenoid dan steroid. Isolasi ekstrak metanol dilakukan denganKromatografi Lapis Tipis (KLT) kualitatif dan preparatif dengan eluen toluen:eter:asam asetat (10:10:2) sertaanalisa HPLC kualitatif. Analisa Identifikasi isolat dengan spektrofotometri UV-vis menggunakan pereaksi geserdan Spektrofotometri Infrared (FT-IR).Hasil identifikasi menggunakan UV-visual dan IR bahwa isolat yang diperoleh diduga merupakan senyawagolongan flavonoid yakni 5,6,7,- dihidroflavonol.
Kata Kunci
Isolasi, Identifikasi, Uji Toksisitas, Metanol, Flavonoid, S. cirstaefolium. dihidroflavonol.
PENDAHULUANLatar Belakang
Kelautan meliputi hampir 70% dari permukaanbumi merepresentasikan sumber terbaik bagikekayaan bahan alam planet ini. Berbagai literaturmengemukakan bahwa banyak hasil bahan alamkelautan yang mempunyai bioaktivitas antitumor(Kamiya,
et al 
. 1987), antiviral (Rinehart
et al 
., 1993),komponen sitotoksik (Schmitz
et al 
. 1993), dan lain-lain. Studi-studi tersebut memperlihatkan bahwalingkungan kelautan merupakan sumber yang kayaakan komponen bioaktif, banyak di antaranyamemiliki struktur kimiawi yang tidak ditemukan dalamsumber dari lingkungan terestial (Jadulco, 2002).
 

Indonesia memiliki potensi alga sangat tinggidengan panjang pantai sekitar 81.000 Km (Bengen,2001). Tercatat sedikitnya ada 555 jenis alga diperairan Indonesia. Sebanyak 555 jenis dalam 4 sukualga yang dikenal, yakni alga biru (
Cyanophyceae 
),alga hijau (
Chlorophyceae 
) alga coklat(
Phaeophyceae 
) dan alga merah (
Rhodophyceae 
).
Sargassum cristaefolium 
merupakan salah satugolongan alga coklat (
Phaeophyceae 
). Makroalgajenis ini belum banyak dimanfaatkan dandibudidayakan oleh masyarakat Indonesia.
Sargassum 
merupakan alga multiseluler yang didugamemiliki senyawa-senyawa hasil metabolismesekunder berupa alkaloid atau flavonoid. Senyawa-senyawa tersebut kemungkinan merupakan senyawabioaktif yang dapat digunakan dalam duniapengobatan, misalnya sebagai antikanker(Khurniasari, 2004).Skrining awal untuk menguji bahan alam denganuji toksisitas terhadap larva udang
Artemia salina 
L.sering digunakan untuk mengetahui senyawa aktifyang terkandung dalam ekstrak tanaman, karenarelatif murah, cepat, dan hasilnya dapat dipercaya. Ujisenyawa aktif dilakukan dengan larva udang
Artemia salina 
L. sampai diperoleh isolat aktif. (Ledenberg,1992).Isolasi dan identifikasi senyawa bioaktif dari
S.cristaefolium 
dimaksudkan untuk mengetahuisenyawa-senyawa yang memiliki potensi untukdigunakan dalam berbagai bidang yang dapatmeningkatkan peluang pemanfaatan alga coklat inisebagai alternatif baru sebagai bahan pengobatan.Dalam penelitian ini dilakukan analisa fitokimiaterhadap senyawa golongan flavonoid yang terdapatdalam
S. cristaefolium 
. Tahapan penelitian meliputipembuatan ekstrak
S. cristaefolium 
, isolasi senyawaflavonoid secara KLT (
Kromatografi Lapis Tipis 
) dananalisa HPLC (
High Performance Liquid Chromatography 
) dan dilanjutkan identifikasi dengananalisa senyawa kimia secara spektrofotometri UV-vis menggunakan pereaksi geser danSpektrofotometri Infrared (FT-IR). Sedangkan ujipotensi daya toksisitas ekstrak senyawa denganmetode BSLT (
Brine Shrimp Lethality Test 
).
Rumusan Masalah
Apakah kandungan senyawa bioaktif flavonoidyang terkandung dalam ekstrak alga coklat
S.cristaefolium 
. Apakah ekstrak senyawa yang terdapatpada
S. cristaefolium 
mempunyai daya toksisitassehingga memiliki potensi untuk dikembangkandalam dunia pengobatan seperti antikaknker atauantitumor.
Tujuan Penelitian
(1) Isolasi dan Identifikasi senyawa flavonoid yangterdapat dalam S.
cristaefolium 
.(2) Mengetahui daya toksiksitas ekstrak senyawapada
S. cristaefolium 
sebagai uji pre-skreningawal untuk senyawa yang memiliki potensi dalamdunia pengobatan.
Manfaat Penelitian
(1) Dapat memberikan informasi tentang metodeisolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dari
S.cristaefolium.
(2) Memberikan informasi tentang daya toksisitasekatrak senyawa dari
S. cristaefolium 
sehinggadapat menjadi dasar pertimbangan untukmengetahui potensi bioaktif senyawa sebagaisalah satu alternatif bagi pengobatan berbasisbahan alam.(3) Memberikan informasi kandungan senyawa dari
S. cristaefolium 
sehingga dapat dimanfaatkansecara optimal dan dapat memberikan nilaitambah dan nilai ekonomis serta peluang barubagi pengembangan lahan usaha budidaya lautkhususnya alga coklat yang bermanfaat dalampeningkatan pendapatan dan kesejahteraanmasyarakat pesisir pada umumnya.
METODELOGI PENELITIANTempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium KimiaOrganik Fakultas Matematika dan Ilmu PengetahuanAlam (FMIPA) dan Laboratorium Reproduksi IkanFakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK),Universitas Brawijaya pada Bulan Juli 2009 sampaidengan Mei 2010.
Rancangan Penelitian
Ekstrak kasar yang diperoleh dari ekstraksimaserasi bertingkat dilakukan uji prekrening awaldengan hewan uji
Artemia salina 
dengan metodeBrine Shrimp Lethality Test (BSLT). Keaktifan ekstraksenyawa dilihat dari nilai LC
50
pada uji toksisitas.Ekstrak yang aktif dilanjutkan dengan isolasi senyawadengan KLT kualitatif dan preparatif serta HPLC.Identifikasi senyawa dengan Spektrokopis UV-vismenggunakan pereaksi geser dan SpektrokopisInfrared.
Rancangan Uji Toksisitas
Uji toksisitas menggunakan rancanganeksperimental dengan perlakuan perbedaankonsentrasi ekstrak
S. cristaefolium 
terhadapkematian larva
Artemia salina 
L umur 48-72 jamsetelah penetasan telur. Konsentrasi ekstrak yangdigunakan adalah 0 μg/ml (kontrol), 6,25 μg/ml, 12,5μg/ml, 25 μg/ml, 50 μg/ml, 100 μg/ml dengan 5 kaliulangan. Penempatan perlakuan dilakukan secaraacak. Parameter yang digunakan adalah jumlah
A.salina 
L yang mati dari total larva hewan uji.Kemudian di hitung nilai LC
50
dengan menggunaknanalisa probit (50% kematian hewan uji). Uji toksisitasuntuk mendapatkan nilai Lethal Concentration 50(LC
50
) dari ekstrak tersebut. Ekstrak yang bersifattoksik dengan diketahui dari nilai LC
50
pada ujitoksisitas.
Prosedur PenelitianEkstraksi Metabolit Sekunder
S. cristaefolium 
Alga coklat
S. cristaefolium 
yang digunakandalam penelitian ini berasal dari perairan Sumenep
 

Madura, yang telah dikeringkan dengan kadar airsekitar 10-20 %. Sampel dalam bentuk serbuk haluskering digunakan untuk diekstraksi.Ekstraksi senyawa bioaktif dari
S. cristaefolium 
menggunakan metode maserasi bertingkat.Sebanyak 500 gram sampel diekstraksimenggunakan pelarut dengan kepolaran berbeda.Pelarut non polar kloroform sebanyak 1 liter (1000 ml)selama 24 jam pertama kemudian disaring. Maserasidengan pelarut kloroform ini sebanyak 3 kali. Setelahitu ampas dikeringkan hingga terbebas dari pelarutkloroform dan dimaserasi kembali selama 24 jammenggunakan pelarut semi polar aseton sebanyak 1liter (1000 ml) kemudian disaring. Maserasi denganpelarut aseton ini sebanyak 2 kali. Setelah itu ampaskembali dikeringkan sampai terbebas dari pelarutnya.Selanjutnya dimaserasi kembali dengan pelarut polaryaitu metanol sebanyak 1 liter (1000 ml) selama 24jam kemudian disaring. Maserasi dengan pelarutmetanol ini sebanyak 2 kali. Ketiga ekstrak yangdiperoleh dipekatkan dengan
rotary vacum evaporator 
pada suhu 60
0
sampai diperoleh ekstrakpekat kloroform, aseton, dan metanol. Asumsiperbandingan pelarut kloroform, aseton, dan metanoldengan sampel secara berturut-turut sebanyak 6:1,4:1 dan 4:1.Ketiga ekstrak pekat yang diperoleh selanjutnyadiuji toksisitasnya dengan mengunakan larva udang
Artemia salina 
L.
Uji Toksisitas Ekstrak Metode BSLT
. Media penetasan berupa air laut buatan denganmelarutkan garam dapur sebanyak 38 gram dalam1000 ml air tawar sehingga salinitas air berkisar 32-35 ppm. Salinitas ini sesuai dengan salinitas habitathidup alami dari
A. salina 
L. Media penetasan iniditempatkan dengan pencahayaan yang cukup.Wadah penetasan
A. salina 
L menggunakan botolplastik transparan ukuran volume 1500 ml yangdimodifikasi dengan perlengkapan aerasi kuatSebanyak 1 gram kista
A. salina 
L dimasukandalam media 1500 ml air laut buatan denganpemberian aerasi yang cukup. Suhu penetasanadalah ± 25-30
0
C dan pH ± 6-7. Telur akan menetassetelah 18-24 jam dan larvanya disebut nauplii.Nauplii siap untuk uji BSLT setelah larva ini berumur48 jam (Subyakto, 2003).Konsentrasi masing-masing sampel dibuat 5konsentrasi berbeda yaitu 6,25 μg/mL, 12,5 μg/mL,25 μg/mL, 50 μg/mL, dan 100 μg/mL dan masing-masing dengan kontrol (0 μg/mL). Ekstrak pekatkloroform, aseton dan metanol ditimbang sebanyak50 mg dan dilarutkan dengan menggunakan 5 mlpelarutnya masing-masing. Selanjutnya, larutandipipet masing-masing sebanyak 500 μL, 250 μL, 125μL, 62,5 μL, dan 31,25 μL, kemudian dimasukkan kedalam botol vial, pelarutnya diuapkan selama 24 jam.Masing-masing vial dimasukkan 2 mL air laut, 10 μLdimetil sulfoksida (DMSO) sebagai emulsigator, 10ekor larva udang, dan setetes larutan ragi roti,kemudian ditambahkan air laut sampai volumenyamenjadi 5 mL, sehingga konsentrasi masing-masingmenjadi 100, 50, 25, 12,5 dan 6,25 ppm.Pada control dimasukkan 2 mL air laut dalambotol vial, 10 μL dimetil sulfoksida, 10 ekor larva
A.salina 
L dan setetes larutan ragi roti, kemudianditambahkan air laut sampai volumenya menjadi 5mL. Pengamatan Uji Toksisitas ini untuk mengetahuinilai Lethal Concentration 50 (LC
50
) denganmenghitung jumlah larva
A. salina 
yang mati setelahperlakuan dengan pemberian ekstrak senyawadengan konsentrasi berbeda dari
S. cristaefolium 
setelah 24 jam dari perlakuan.
Analisis Hasil Uji Toksisitas
Efek toksisitas dianalisis dari pengamatandengan persen kematian dengan rumus perhitungansebagai berikut ini :
Jumlah Larva Yang Mati% Larva = X 100 %Jumlah Larva Uji
Dengan mengetahui kematian larva
A. salina 
,kemudian dicari angka probit dan dibuat persamaangaris :
Y = Bx + A
dimana :Y = Log konsentrasiX = Angka probit
Dari persamaan tersebut kemudian dihitung LC
50
dengan memasukkan nilai probit (50 % kematian).Apabila pada kontrol ada larva yang mati, maka %kematian ditentukan dengan rumus Abbot (Meyer etal., 1982).
T – K% Kematian Larva = X 100 %10Dimana :T = Jumlah larva uji yang matiK = Jumlah larva kontrol yang mati10 = Jumlah larva uji
Uji Fitokimia Metabolit Sekunder
a. Pemeriksaan Falvonoid, Fenolik dan Saponin.
Flavonoid, ekstrak air (
aqueous extract 
) ditetesilarutan amoniak encer dan ditetesi asam sulfatpekat. Terbentuknya warna kuningmengindikasikan adanya flavonoid. Cara laindengan menambahkan HCl pekat dan beberapabutir serbuk magnesium ke dalam ekstrak air.Pewarnaan oranye sampai merahmengindikasikan adanya flavonoid.
Fenolik, ekstrak dalam tabung reaksi ditetesilarutan FeCl
3.
Pewarnaan biru atau biru keunguanmenunjukkan positif fenolik.
Saponin, ekstrak dalam tabung reaksi dikocokkuat, pembentukan busa permanen (sekitar 15menit) dan tidak hilang dengan penambahan 1tetes HCl pekat menunjukkan positif adanyasaponin.b. Pemeriksaan Alkaloid (Maldoni, 1991)Penambahan larutan kloroform-amoniak 0,05 Npada ekstrak kloroform dalam tabung reaksikemudian ditambahkan H
2
SO
4
2 N (10-20 tetes).Pemberian pereaksi Meyer (1-2 tetes) dan pereaksiDragendorff (1-2- tetes). Uji positif alkaloid ditandaidengan adanya endapan putih yang relatif banyak

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rani Agustian R added this note
jurnalnya manfaat banget terimkasih ya :D
Muhammad Nur Affan added this note
mas fahri analisis pake HPLC dimana?? minta emailnya Prof yenny mas..saya juga bimbingan beliau.. terimakasih jurnalnya sangat bermanfaat...
Freaknie Freakz liked this
ALphii Zakiyah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->