Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kado Kecil Untuk Yeoung Ill (Cerpen)

Kado Kecil Untuk Yeoung Ill (Cerpen)

Ratings: (0)|Views: 17 |Likes:
Published by Reny Handayani
Ini salah satu hasil karyaku. Sebuah cerpen yang terinspirasi oleh seseorang yang sangat kucintai..my mom :)
Ini salah satu hasil karyaku. Sebuah cerpen yang terinspirasi oleh seseorang yang sangat kucintai..my mom :)

More info:

Published by: Reny Handayani on Mar 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2011

pdf

text

original

 
Langit mendung dihiasi hujan gerimis menaungi desa kecil di ujungprovinsi Chungbuk, Korea yang sore itu baru saja diguyur hujan yang cukupderas. Udara dingin berhembus memilukan tulang dan sendi-sendi yangmemapah tubuh mungilnya yang kuyu. Kotak bambu berisi nasi dan lauk alakadarnya dibawa dipunggungnya yang mulai terasa pegal. Biasanya iamenyusuri pematang sawah dengan berlari kecil, namun sore itu, rintikanhujan membuat jalan sedikit licin. Yeoung Ill takut nasi dan lauk yangdibawanya tumpah, karena cuma itu yang ia miliki untuk dimakan nenek hariini.Dihampirinya seorang nenek yang dari sosoknya terlihat memaksakandiri untuk tetap kuat memikul tumpukan padi di atas punggungnya yang mulaiterserang osteoporosis. Nenek Chan, begitu Yeoung Ill menyapa nenek tuayang telah mengasuhnya. Sejak ia berusia satu tahun, Yeoung Ill tidakpernah lagi bertemu sang ibu yang kabarnya bekerja di Seoul.Nenek Chan bersama beberapa buruh sawah lainnya terlihat cemasmenghitung berat padi yang akan mereka serahkan kepada Pak Bin, si pemiliksawah. Hama tikus dan curah hujan yang cukup banyak membuat hasil panenkali ini tidak terlalu memuaskan. Tanaman padi di sawah tidak lagi menguninglayaknya hamparan emas dari kejauhan pada saat panen seperti ini. Hal inipasti akan berpengaruh pada upah yang akan diterima oleh para buruh sawah,termasuk Nenek Chan. Begitu banyaknya tanaman padi yang rusak membuatraut wajah Nenek Chan yang semakin tua bertambah pesimis.“Nek, ayo dimakan nasinya!” ajak Yeoung Ill mengusik kekhawatiranNenek Chan.
1
 
“Kamu sudah makan belum, Yeoung? Kok mukamu pucat sekali?Hidungmu mimisan lagi ya?” tanya Nenek Chan dengan suaranya yang paraudan lemah.“Ah tidak, Nek. Aku tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan. Aku jugasudah makan kue moci, Nek.” Yeoung Ill mencoba menenangkan hati sangnenek.Nenek Chan meletakkan arit, lalu mencuci kedua tangannya yangkeriput di air yang mengalir dari bambu pengairan sawah Pak Bin. Perlahan-lahan, ia mulai mencomot sedikit demi sedikit nasi dan sepotong kecil ikanyang dimasak Yeoung Ill untuk Nenek Chan.Hmm… enak sekali ikan ini, Yeoung Ill.nenek Chan memujinya.Makanan yang terhantar untuk nenek memang merupakan menu spesialbaginya. Biasanya mereka hanya makan ubi yang dikeringkan, ditumbuk dandikukus.“Ya sudah, cepat dihabiskan, Nek. ” ajak Yeoung Ill seraya memberisemangat agar ia cepat-cepat menghabiskan makanannya yang sejak tadidipelototi dan membuatnya ikut lapar serta menelan ludah.“Ehem… ehem...,” elaknya mengalihkan perhatian si nenek dari bunyiperut laparnya yang sejak tadi ia coba sembunyikan.Kamu masih lapar, Yeoung Ill? Kenapa kita tidak makan sama-samasaja?” tanya Nenek Chan penasaran.“Ah tidak, Nek. Yeoung Ill tidak lapar, mungkin Yeoung Ill hanya masukangin saja.” sanggahnya.“Masuk angin karena perutmu lapar, kan? Ayo kita makan sama-sama!”ajak Nenek Chan seraya menyodorkan nasinya pada Yeoung Ill. Dengan malu-
2
 
malu, Yeoung Ill melahap juga nasi dan ikan yang dari tadi mengusik rasalaparnya.Hari sudah semakin sore. Yeoung Ill membantu Nenek Chanmengangkat gelondongan kayu bakar pemberian Pak Bin di atas tubuhnya yangkecil dan ringkih karena kurang gizi. Mengangkut kayu bakar atau tumpukanpadi sudah sering dijalaninya. Beban berat di atas punggungnya sudah tidakmenjadi kendala lagi bagi Yeoung Ill. Selama mereka bisa tetap menyambunghidup dan bisa makan tiap hari, itu sudah cukup.Canda dan gurauan Yeoung Ill selalu menjadi obat rasa lelah NenekChan. Tak sedetik pun Yeoung Ill pernah membuatnya sedih. Tak terasa,darah segar mulai menetes lagi keluar dari hidungnya. Entah kenapa, YeoungIll mulai sering mimisan ketika mengalami kelelahan yang luar biasa. YeoungIll cepat-cepat memalingkan badannya, ia tak ingin Nenek Chan melihatkejadian itu dan membuatnya khawatir.“Nek, aritnya tertinggal, sebentar ya Nek. Nenek duluan saja, akuakan menyusul nanti,” Yeoung Ill berjalan menghampiri pancuran air dekatsawah Pak Bin dan membasuh hidungnya, menyumbatnya rapat-rapat dengansepucuk daun yang ia ambil di kebun Pak Bin, lalu pulang.Direbahkan tubuh mungilnya di lantai tanah beralaskan tikar, begitupula Nenek Chan yang sudah tak kuat menahan lelah. Hari semakin gelap,mata kantuk dan wajah lelah Nenek Chan sudah tak dapat ia tutupi lagi.Namun tidak dengan Yeoung Ill. Kedua bola matanya masih menerawangi atapgubuk reot yang terbuat dari pelepah kering pohon kelapa, pandangannyamenjelajahi sudut demi sudut ruang. Matanya masih membelalak sulitterpejam, mencoba menahan diri untuk tidak mengusik istirahat Nenek Chan
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->