Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kecemasan

Kecemasan

Ratings: (0)|Views: 468|Likes:
Published by Odinka Wisanindhi

More info:

Published by: Odinka Wisanindhi on Mar 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

07/28/2013

pdf

text

original

 
 
© 2003 Digitized by USU digital library 
1
CEMAS: NORMAL ATAU TIDAK NORMALDra.JOSETTA MARIA REMILA TUPATTINAJAProgram Studi PsikologiFakultas KedokteranUniversitas Sumatera UtaraBAB IPENDAHULUAN
Bila dicermati lebih jauh, dapat dikatakan bahwa sejak tahun 1998 kehidupankita sebagai masyarakat di negeri Indonesia tercinta ini sering di warnai situasi yangtidak nyaman. Beberapa kali terjadi perubahan dan kenaikan harga barang-barangkebutuhan pokok maupun kebutuhan pendukung lainnya. Belum lagi kerusuhan yangmelanda di beberapa kota yang meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan sehari-hariyang biasa dijalani dan menimbulkan trauma pada sebagian besar anggotamasyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa lainnya. Demonstrasi dariberbagai kelompok masyarakat juga semakin marak. Jika dulu, di tahun 1980-an,kegiatan demonstrasi merupakan hal yang unik dan menjadi tontonan walaupunmendebarkan, sekarang justru relatif tidak mendapat perhatian masyarakat lagi.Terlalu seringnya melihat atau mendengar kata demonstrasi membuat masyarakattidak gentar lagi dan bersembunyi di rumah. Mereka tetap menjalani rutinitaskehidupan sehari-hari sebagaimana biasanya, asalkan tetap berhati-hati danmenghindari daerah-daerah sasaran demonstrasi di gelar.Ternyata serangkaian kejadian atau perubahan yang terjadi selama beberapatahun belakangan ini belum juga tuntas. Di awal tahun 2003, kembali masyarakatIndonesia harus berhadapan dengan perubahan tarif dasar listrik, peningkatan biayatelepon dan air serta harga BBM – yang tentu saja akan diikuti dengan serangkaianperubahan harga-harga kebutuhan dasar pokok, yang tidak mau atau tidak dapatketinggalan, terpaksa harus ‘melonjak’.Kondisi ini tidak hanya berpengaruh pada para pengusaha yang harus tetapmenjaga ritme produksi agar bisa terus memperoduksi, tetapi juga berpengaruhpada rakyat kecil yang bertanya-tanya mengapa mereka juga harus menanggungkesulitan ini.Ketidak-mampuan seseorang dalam menghadapi perubahan yang demikiancepat dan dirasakan semakin bertambah berat dapat menimbulkan perasaan cemaskarena ketidak-mampuan atau ketidak-berdaya untuk apa-apa selain mengikuti sajaalur keputusan yang ada dan berupaya melewati hari demi hari sebagaimanaadanya.Kecemasan, yang menurut kamus lengkap psikologi disebut sebagai
anxiety
 ini, oleh Neale (2001) digambarkan sebagai suatu perasaan takut yang tidakmenyenangkan. Sebagaimana diketahui, perasaan manusia ada yang positif, sepertibahagia, gembira, senang – tetapi ada juga yang negatif, seperti kecewa, bingung,khawatir dan sebagainya. Tidak ada satupun dari kita yang memilih untukmengembangkan perasaan negatif. Tetapi seringkali kita tidak punya pilihan lain,selain menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan dan harus masuk kedalamperasaan yang negatif.
 
 
© 2003 Digitized by USU digital library 
2
Ilustrasi cerita yang disampaikan Acocella dkk (1996) tentang Richard Bensonadalah salah satu contoh individu yang mengalami
anxiety
. Pria berusia 37 tahun inisering kelihatan seperti sedang mendapat serangan jantung secara tiba-tiba; diamengalami kesakitan di bagian dada dan jantung yang berdebar-debar, mati rasadan nafas yang pendek-pendek. Masa kecilnya memang pernah mengalami infeksipada kandung kemih dan ginjal tetapi sudah sembuh sejak usia 11 tahun. Namunpengalamannya saat kecil membuat ia yakin dan memastikan dirinya belum sembuhsehingga ia mudah panik dengan nafas yang pendek dan cepat jika berada di suatulokasi yang tidak dikenal sementara ia tidak menemukan kamar kecil saat ia merasabutuh buang air kecil. Hal ini berkepanjangan hingga ia dewasa, ia tidak dapatbertahan lama untuk melakukan pekerjaannya, apalagi yang menuntutnya untukpergi ke kantor lain yang sulit baginya untuk dapat segera menemukan kamarmandi.Kasus lain yang juga mencerminkan gejala
anxiety
adalah adanya rasa takutyang berlebihan terhadap suatu objek atau situasi tertentu. Jika objek tersebutadalah ular misalnya, maka kecemasan yang muncul dalam diri seseorang dapatdikatakan sebagai suatu perasaan yang wajar dan memang sudah semestinyademikian. Tetapi jika ternyata yang ditakutinya adalah terowongan, ruangantertutup, kerumunan orang atau berada di dalam
lift
,
elevator
dan sejenisnya makahal ini dapat menjadi eksklusif. Maksudnya adalah hanya dialami oleh beberapaorang saja sementara sebagian besar orang lain umumnya tidak mengalamikecemasan.Sebenarnya masih banyak contoh kasus yang menceminkan adanya
anxiety
dan perlu ditangani secara profesional sehubungan dengan pikiran atau perasaanmaupun tindakan mereka yang tidak lazim atau tidak umum dialami olehkebanyakan orang.Masyarakat melihat normal-tidaknya suatu perilaku seseorang terpulang padadua pertanyaan dalam mendefinisikan istilah tidak-normal (abnormal), yang olehAcocella dkk (1996) di uraikan sebagai pertama, bagaimana masyarakat meletakkanbatasan antara perilaku yang dapat diterima (
acceptable behavior
) dan perilaku yangtidak dapat diterima (
unacceptable behavior
). Kedua, masyarakat melihat perilakuyang tidak dapat diterima (
unacceptable behavior
) sebagai gangguan (
disorder
)daripada sekedar perilaku yang tidak diinginkan (
undesirable
).Dengan gambaran seperti tersebut maka dapatkah dikatakan bahwa perasaancemas atau kecemasan atau
anxiety
menghadapi perubahan dan kesulitan hidupyang beruntut merupakan suatu fenomena yang menggambarkan atau yangmengarah ke perilaku yang normal, ataukah tidak-normal (abnormal) ?. Sementarakita tahu bahwa setiap individu dalam menjalani kehidupan ini bisa saja secara sadaratau tidak sadar, suka atau tidak suka harus masuk kedalam suatu situasi yang bisamenimbulkan perasaan cemas.
 
 
© 2003 Digitized by USU digital library 
3
BAB IITINJAUAN PUSTAKAII. 1. Batasan Perilaku Normal dan Tidak Normal (abnormal)
Acocella dkk (1996) memberikan beberapa kriteria dalam upaya memahamiapakah suatu perilaku dapat dikatakan normal atau tidak normal (abnormal),walaupun mungkin yang paling umum adalah norma-norma yang ada dalam satumasyarakat. Adapun kriteria tersebut adalah:1.
Norm Violation
:Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk sosial sehingga ia selaluberada bersama-sama dengan manusia lain dalam satu komunitas. Di setiapkomunitas ada tata-cara atau norma-norma yang mengatur perilaku dari setiapmanusia yang di dalamnya saling berinteraksi satu dengan lainnya. Tata caraatau norma ini merupakan aturan main yang bisa saja berlaku sama pada duaatau beberapa komunitas, tetapi juga bisa berbeda. Oleh sebab itu, satuperilaku yang diterima sebagai perilaku yang ‘benar’ bisa saja menjadi perilakuyang ‘salah’ jika kita berada pada komunitas lain.“Every human groups lives by a set of norms rules that tell us what it it‘right’ and ‘wrong’ to do, and when and where and with, whom.” Jika lingkungan komunitas dimana seseorang itu berada termasuk kecil danterintegrasi dengan baik maka ketidak setujuan terhadap norma yang berlakujuga semakin kecil. Sebaliknya, jika ternyata lingkungan komunitasnya besardan merupakan masyarakat yang kompleks lebih mungkin menimbulkanketidak-setujuan mengenai mana perilaku yang diterima dan mana yang tidak.2.
Statistical Rarity
:Kriteria ini berdasaran sudut pandang statistik yang menyatakan bahwa suatuperilaku itu normal atau tidak normal (abnormal) tergantung pada dimanaperilaku tersebut muncul. Suatu perilaku dinyatakan abnormal jika berada padatitik deviasi dari penyebaran rata-rata, baik itu rata-rata atas maupun rata-ratabawah dari kurve normal.“abnormality is any substantial deviation from a statisticallycalculated average. Those who fall within the ‘golden mean’ – those,in short, who do what most other people do – are normal, whilethose behavior differs from what of the majority are abnormal.” 3.
Personal Discomfort
:Penetapan suatu perilaku apakah normal atau tidak normal (abnormal)tergantung pada penghayatan masing-masing individu atas pengalaman atauaktivitas kehidupannya sehari-hari. Kriteria ini lebih liberal karena tidakditetapkan oleh pihak di luar dirinya sebagaimana dua kriteria sebelumnya,melainkan ditentukan oleh normalitas keadaan diri mereka sendiri. Memangkelemahan dari kriteria ini adalah karena tidak adanya standar untukmengevaluasi perilaku itu sendiri, tetapi banyak digunakan dalam sesipsikoterapi dimana penetapan perilaku seseorang bukan dari orang lain tetapioleh diri mereka sendiri yang menetapkan apakah mereka merasa tidak bahagia(
unhappy
) dengan beberapa aspek dalam kehidupannya.“If people are content with their lives, then their lives are of noconcern to the mental health establishment. If, on the other hand,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->