Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KEADAAN PEMBIAYAAN KESEHATAN DI INDONESIA

KEADAAN PEMBIAYAAN KESEHATAN DI INDONESIA

Ratings: (0)|Views: 52 |Likes:
Published by futri_mariana

More info:

Published by: futri_mariana on Mar 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

 
3
KEADAAN PEMBIAYAAN KESEHATAN DI INDONESIAMasalah Pembiayaan Kesehatan di Indonesia
Kesehatan adalah unsur vital dan merupakan elemen konstitutif dalam proses kehidupanseseorang. Tanpa kesehatan, tidak mungkin bisa berlangsung aktivitas seperti biasa. Dalamkehidupan berbangsa, pembangunan kesehatan sesungguhnya bernilai sangat investatif. Nilaiinvestasinya terletak pada tersedianya sumber daya yang senatiasa ³siap pakai´ dan tetapterhindar dari serangan berbagai penyakit. Namun, masih banyak orang menyepelekan hal ini.Negara, pada beberapa kasus, juga demikian.Di Indonesia, tak bisa dipungkiri,
trend pembangunan kesehatan
bergulir mengikutipola rezim penguasa. Pada zaman ketika penguasa negeri ini hanya memandang sebelah matakepada pembangunan kesehatan, kualitas hidup dan derajat kesehatan rakyat kita juga sangatmemprihatinkan. Angka Indeks Pembangunan Manusia (
Human Development Index
)
negara kitaselalu stagnan pada kisaran 117-115 dari sekitar 175 negara Sebagai catatan, HDI adalah ukurankeberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa yang dilihat dari parameter pembangunanekonomi, kesehatan dan pendidikan. Ironisnya, rentetan pergantian tampuk kekuasaan selamabeberapa dekade terakhir, pun tak kunjung membawa angin perubahan. Apa pasal?Belum terbitnya kesadaran betapa tercapainya derajat kesehatan optimal sebagai syaratmutlak terwujudnya tatanan masyarakat bangsa yang berkeadaban, serta di pihak lain masihlekatnya anggapan bahwa pembangunan bidang kesehatan semata terkait dengan penanganansejumlah penyakit tertentu dan penyediaan obat-obatan.
 
4
 
Sudut pandang yang teramat sempit memang, ditambah dengan kecenderungan untuk mendahulukan hal lain yang sesungguhnya masih bisa ditunda. Variabel tadi menemukan titik singgung dengan belum adanya keinginan politik dari pemerintah, rezim boleh berganti namunmodus operandi dan motifnya masih serupa; bahwa isu-isu kesehatan hanya didendangkansekedar menyemarakkan janji dan program-program politik tertentu dalam tujuan jangka pendek.Untuk kasus Indonesia, belum ada grand strategy yang terarah dalam peningkatankualitas kesehatan individu dan masyarakat, yang dengan tegas tercermin dari minimnya posanggaran kesehatan dalam APBN maupun APBD. Belum lagi jika kita ingin bertutur tentangprogram pengembangan kesehatan maritim yang semestinya menjadi keunggulan komparatif negeri kita yang wilayah perairannya dominan. Pelayanan kesehatan di tiap sentra pelayananselalu jauh dari memuaskan.Minimnya Anggaran Negara yang diperuntukkan bagi sektor kesehatan, dapat dipandangsebagai rendahnya apresiasi kita akan pentingnya bidang ini sebagai elemen penyangga, yangbila terabaikan akan menimbulkan rangkaian problem baru yang justru akan menyerap keuangannegara lebih besar lagi. Sejenis pemborosan baru yang muncul karena kesalahan kita sendiri.Kabar menarik sesungguhnya mulai terangkat ketika Departemen Kesehatan padabeberapa waktu lalu, mengelurkan konsep pembangunan kesehatan berkelanjutan, dikenalsebagai Visi Indonesia Sehat 2010. Berbagai langkah telah ditempuh untuk mensosialisasikankeberadaan VIS 2010 tersebut, tetapi kemudian menjadi lemah akibat kebijakan desentralisasidan akhirnya ³terpental´ dengan diberlakukannya UU No. 32/2004 tentang PemerintahanDaerah.
 
5
 
Konsepsi
V
isi Indonesia Sehat 2010
, pada prinsipnya menyiratkan pendekatansentralistik dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, sebuah paradigma yang nyatanyacukup bertentangan dengan anutan desentralisasi, dimana kewenangan daerah menjadi otonomuntuk menentukan arah dan model pembangunan di wilayahnya tanpa harus terikat jauh daripusat.
Sistem Kesehatan Nasional
 Kebijakan desentralisasi, pada beberapa sisi, telah ikut menggerus pola lama pembangunan,termasuk di bidang kesehatan. Relatif ³berkuasanya´ kembali daerah-daerah dalam menentukankebijakan pembangunannya, membuat konsepsi Visi Indonesia Sehat seakan tidak menemukanrelung untuk dapat diwujudkan. Impian untuk mewujudkan tangga-tangga pencapaian ³sehat´,mulai dari Indonesia sehat 2010, Propinsi Sehat 2008, Kabupaten Sehat 2006 dan KecamatanSehat 2004, menjadi miskin makna.Pada kenyataannya, masih sangat banyak wilayah-wilayah di negeri ini yang sangat jauh darijangkauan pelayanan kesehatan berkualitas. Padahal pada saat yang sama, kecenderunganepidemiologi penyakit tak kunjung berubah yang diperparah lemahnya infrastruktur promotif danpreventif di bidang kesehatan.Kali terakhir, ini juga dapat dipandang sebagai sebuah ³terobosan´ baru, pemerintahmenerbitkan dokumen panduan pembangunan kesehatan yang dikenal sebagai ³SistemKesehatan Nasional´. Dokumen ini antara lain disusun berdasarkan pada asumnsi bahwapembangunan kesehatan merupakan pembangunan manusia seutuhnya untuk mencapai derajat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->