Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
44Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Jurnal Pengaruh Suhu / Termoregulasi Pada Produksi Ternak

Jurnal Pengaruh Suhu / Termoregulasi Pada Produksi Ternak

Ratings: (0)|Views: 1,991 |Likes:
Published by Taufiq Ali

More info:

Published by: Taufiq Ali on Mar 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2014

pdf

text

original

 
 Edisi April 2006 
Pengaruh Iklim Mikro terhadap Respons Fisiologis Sapi Peranakan
 Fries Holland 
dan Modifikasi Lingkungan untukMeningkatkan Produktivitasnya(ULASAN)
A.Yani & B.P. Purwanto
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPBJl. Agatis Kampus IPB Darmaga, Fakultas Peternakan, IPB Bogor 16680a_yanicirebon@yahoo.co.id.
(Diterima 25-08-2005; disetujui 10-03-2006)
ABSTRACT
Most of Holstein in Indonesia were imported from European countries which havetemperate climate (13-25
o
C). If those Holstein were kept under high temperature and highhumidity and exposed to direct solar radiation, the cattles would be experienced with heatstress, resulted in decreasing appetite, increased water intake, decreased metabolism,increased catabolism, increased heat loss through evaporation, decreased hormoneconcentration in blood, increased body temperature, increased respiration and heart rateand behavioral changes. To reduce the heat stress can be achieved by environmentmodification, such as type of animal house construction, type of roof material selected foranimal house and determination of animal housing height. The improvement of environmental condition was gained for maintaining the animal heat balance in steadystate, due to reducing the thermoregulatory responses (i.e heart rate, respiration rate andmean body temperature). Controlling the heat stressed animals to lower thermoregulatoryactivities will improve their productivity.
Key words : Holstein, physiological responses, heat stress, micro-climate, environmentalmodification
PENDAHULUAN
Penampilan produksi ternak dipengaruhioleh beberapa faktor, antara lain faktorketurunan (genetic), pakan, pengelolaan,perkandangan, pemberantasan dan pencegahanpenyakit serta faktor lingkungan lainnya. Salahsatu faktor lingkungan yang cukup dominandalam mempengaruhi produktivitas ternak adalah iklim mikro. Iklim mikro di suatu tempatyang tidak mendukung bagi kehidupan ternak membuat potensi genetik seekor ternak tidak dapat ditampilkan secara optimal.Ada empat unsur iklim mikro yang dapatmempengaruhi produktivitas ternak secaralangsung yaitu : suhu, kelembaban udara, radiasidan kecepatan angin, sedangkan dua unsurlainnya yaitu evaporasi dan curah hujanmempengaruhi produktivitas ternak secara tidak langsung. Interaksi keempat unsur iklim mikro35
Vol. 29 No. 1Media Peternakan, April 2006, hlm. 35-46ISSN 0126-0472Terakreditasi SK Dikti No:56/DIKTI/Kep/2005
 
 Edisi April 2006 
tersebut dapat menghasilkan suatu indeksdengan pengaruh yang berbeda terhadap ternak.Berdasarkan hasil pendataan, sebagianbesar sapi-sapi perah yang ada di Indonesiaadalah sapi bangsa
Fries Holland 
(FH) yangdidatangkan dari negara-negara Eropa yangmemiliki iklim sedang (temperate) dengankisaran suhu termonetral rendah (13 – 25
o
C).Berdasarkan kondisi iklim asal tersebut, sapiperah FH sangat peka terhadap perubahan suhutinggi. Apabila sapi FH ditempatkan pada lokasiyang memiliki suhu tinggi, maka sapi-sapitersebut akan mengalami cekaman panas terusmenerus yang berakibat pada menurunnyaproduktivitas sapi FH. Cekaman panas yangditerima oleh sapi FH sebenarnya dapatdireduksi oleh angin dengan kecepatan tertentu.Usaha lain yang perlu dilakukan untuk mereduksi cekaman panas sapi FH adalahmodifikasi lingkungan ternak melaluipemberian naungan, pemilihan bahan atap danpengaturan ketinggian kandang. Tulisan iniberisi ulasan hasil-hasil penelitian mengenai“Pengaruh Iklim Mikro Terhadap ResponsFisiologis Sapi FH serta Modifikasi Lingkungansebagai Upaya Mempertahankan ProduktivitasSapi FH”.
PENGARUH IKLIM MIKRO TERHADAPRESPONS FISIOLOGIS SAPIPERANAKAN
 FRIES HOLLAND
(FH)
Besarnya penambahan panas yang berasaldari radiasi matahari di daerah tropis dapatmencapai empat kali lebih besar dari produksipanas hasil metabolisme (Thwaites, 1985).Besarnya penambahan panas ini tergantungpada ukuran tubuh ternak. Makin kecil ukurantubuh seekor ternak, akan mendapatkanpenambahan panas yang lebih tinggi dari ternak yang lebih besar ukuran tubuhnya, sepertidomba vs sapi.Perolehan panas dari luar tubuh (heatgain) akan menambah beban panas bagi ternak,bila suhu udara lebih tinggi dari suhu nyaman.Sebaliknya, akan terjadi kehilangan panas tubuh(heat loss) apabila suhu udara lebih rendah darisuhu nyaman. Perolehan dan penambahan panastubuh ternak dapat terjadi secara
sensible
melalui mekanisme radiasi, konduksi dankonveksi. Jalur utama pelepasan panas melaluimekanisme
evaporative heat loss
dengan jalanmelakukan pertukaran panas melaluipermukaan kulit (
sweating
) atau melaluipertukaran panas di sepanjang saluranpernapasan (panting) (Purwanto, 1993) dansebagian melalui feses dan urin (McDowell,1972). Unsur iklim mikro yang dapatmempengaruhi produksi panas dan pelepasanpanas pada sapi FH adalah suhu dankelembaban udara, radiasi matahari dankecepatan angin.
Suhu dan Kelembaban Udara
Suhu dan kelembaban udara merupakandua faktor iklim yang mempengaruhi produksisapi perah, karena dapat menyebabkanperubahan keseimbangan panas dalam tubuhternak, keseimbangan air, keseimbangan energidan keseimbangan tingkah laku ternak (Esmay,1982). McDowell (1974) menyatakan bahwauntuk kehidupan dan produksinya, ternak memerlukan suhu lingkungan yang optimum.Zona termonetral suhu nyaman untuk sapi Eropaberkisar 13 – 18
o
C (McDowell, 1972); 4 – 25
o
C(Yousef, 1985), 5 – 25
o
C (Jones & Stallings,1999). Hubungan besaran suhu dan kelembabanudara atau biasa disebut
“Temperature Humidity Index (THI)”
yang dapat mempengaruhi tingkatstres sapi perah dapat dilihat pada Tabel 1.Sapi FH menunjukkan penampilanproduksi terbaik apabila ditempatkan pada suhulingkungan 18,3
o
C dengan kelembaban 55%.Bila melebihi suhu tersebut, ternak akanmelakukan penyesuaian secara fisiologis dansecara tingkah laku (behaviour). Usahapeternakan sapi FH di Indonesia, padaumumnya dilakukan pada daerah yang memiliki36
Media PeternakanYANI & PURWANTO
 
 Edisi April 2006 
ketinggian lebih dari 800 m di atas permukaanlaut, dengan tujuan untuk penyesuaianlingkungan.Suhu udara dan kelembaban harian diIndonesia umumnya tinggi, yaitu berkisar antara24 – 34
o
C dan kelembaban 60 - 90%. Haltersebut akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas sapi FH. Pada suhu dankelembaban tersebut, proses penguapan daritubuh sapi FH akan terhambat sehinggamengalami cekaman panas. Pengaruh yangtimbul pada sapi FH akibat cekaman panasadalah : 1) penurunan nafsu makan; 2) peningkatan konsumsi minum; 3) penurunanmetabolisme dan peningkatan katabolisme; 4) peningkatan pelepasan panas melalui penguapan; 5) penurunan konsentrasi hormondalam darah; 6) peningkatan temperatur tubuh,respirasi dan denyut jantung (McDowell, 1972);dan 7) perubahan tingkah laku (Ingram &Dauncey, 1985), meningkatnya intensitas berteduh sapi (Combs, 1996). Respons fisiologissapi FH akibat cekaman panas dapat dilihat padaTabel 2.Pada malam hari, suhu rektal akan terusmengalami penurunan, sedangkan pada pagisampai sore suhu rektal mengalami kenaikan.Perubahan denyut jantung dan frekuensi pernapasan sapi FH dipengaruhi oleh suhulingkungan. Denyut jantung sapi FH yang sehat pada daerah nyaman (suhu tubuh 38,6
o
C) adalah60 – 70 kali/menit dengan frekuensi nafas 10 – 30 kali/menit (Ensminger, 1971). Perubahandenyut jantung dan fekuensi pernapasan sapi FH(tiga ekor sapi dara peranakan FH dengan bobotrata-rata 195 kg) di Darmaga dapat dilihat padaGambar 1 dan 2 dengan kondisi suhu pengamatan pada Gambar 3 (Prayitno, 1999).Reaksi sapi FH terhadap perubahan suhuyang dilihat dari respons pernapasan dan denyut jantung merupakan mekanisme dari tubuh sapiuntuk mengurangi atau melepaskan panas yangditerima dari luar tubuh ternak. Peningkatandenyut jantung merupakan respons dari tubuhternak untuk menyebarkan panas yang diterimake dalam organ-organ yang lebih dingin.Pernapasan merupakan respons tubuh ternak untuk membuang atau mengganti panas denganudara di sekitarnya. Jika kedua respon tersebuttidak berhasil mengurangi tambahan panas dariluar tubuh ternak, maka suhu organ tubuh ternak akan meningkat sehingga ternak mengalamicekaman panas (Anderson, 1983). Cekaman panas yang terus berlangsung pada ternak akan
Tabel 1. Indeks suhu dan kelembaban relatif untuk sapi perah
Sumber : Wierama (1990)
 
Kelembaban relatif (%)
0
C
 
0
 
5
 
10
 
15
 
20
 
25
 
30
 
35
 
40
 
45
 
50
 
55
 
60
 
65
 
70
 
75
 
80
 
85
 
90
 
95
 
100
 
23,39
72 72 73 73 74 74 75 75 
26,67
72 72 73 73 74 74 75 76 76 77 78 78 79 
79
 
80
 
29,44
 72 72 73 74 75 75 76 77 78 78 79 
80
 
81
 
81
 
82
 
83
 
84
 
84
 
85
 
32,22
 72 73 74 75 76 77 78 79 
79
 
80
 
81
 
82
 
83
 
84
 
85
 
86
 
86
 
87
 
88
 
89
 
90
 
35,00
 75 76 77 78 79 
80
 
81
 
82
 
83
 
84
 
85
 
86
 
87
 
88
 
89
 
90
 
91
 
92
 
93
 
94
 
95
 
37,78
 77 78 79 
80
 
82
 
83
 
84
 
85
 
86
 
87
 
88
 
90
 
91
 
92
 
93
 
94
 
95
 
97 
 
98
 
99
 
40,56
 79 
80
 
82
 
83
 
84
 
86
 
87
 
88
 
89
 
91
 
92
 
93
 
95
 
96 
 
97 
 
43,33
 
81
 
83
 
84
 
86
 
87
 
89
 
90
 
91
 
93
 
94
 
96 
 
97 
 Stres Ringan 
46,11
 
84
 
85
 
87
 
88
 
90
 
91
 
93
 
95
 
96 
 
97 
 
Stres Sedang
 
48,89
 
88
 
88
 
89
 
91
 
93
 
94
 
96 
 
98
 
Stres Berat 
 
37
PENGARUH IKLIM MIKROVol. 29 No. 1

Activity (44)

You've already reviewed this. Edit your review.
Eka Trifina added this note
:)
Eka Trifina liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Dwie Nur Natalia liked this
Yudi Efriansyah liked this
Dwie Nur Natalia liked this
Aam Amelia liked this
Welnia FaUuziah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->