Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
(06) - Pendekar Bongkok

(06) - Pendekar Bongkok

Ratings: (0)|Views: 604|Likes:
Published by nsuryatna

More info:

Published by: nsuryatna on Apr 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/01/2011

pdf

text

original

 
Serial Bu Kek Sian Su (6)
-Episode 1
Kisah Pendekar Bongkok
SIE Kauwsu (Guru Silat Sie) membaca surat itu dengan kedua tangan agak gemetar dan mukanyaberubah pucat. Karena senja hari telah tiba dan cuaca tidak begitu terang lagi, dia lalumenyalakan sebuah lampu meja, kemudian dibacanya sekali lagi surat itu. Sehelai kertas yangbertuliskan beberapa buruf dengan tinta merah."Sie Kian, akhirnya aku dapat menemukan engkau! Sebelum malam ini habis, seluruh keluargamudan segala mahluk yang hidup di dekat rumahmu, akan kubunuh semua!"Demikianlah bunyi surat itu. Tanpa nama penulisnya. Akan tetapi, Sie kauwsu atau Sie Kian tahubenar siapa penulisnya. Tadi dia menemukan surat itu pada daun pintu belakang rumahnya,tertancap pada daun pintu dengan sebatang piauw (senjata rahasia) beronce merah. Diamengenal benar piauw itu. Lima tahun yang lalu, dia pernah terluka pada pundaknya oleh piauwseperti itu. Dia tahu benar siapa pemilik piawsu, siapa penulis surat.Peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu. Ketika itu, dia melakukan perjalanan ke daerah Hok-kianuntuk mengunjungi seorang sahabat lamanya. Juga dia ingin melancong, karena semenjakmenjadi guru silat, dia tidak pernah sempat melancong. Kini dia mempunyai seorang muridterpandai yang dapat mewakilinya mengajar para murid sehingga dia mempunyai kesempatanuntuk pergi. Kepergiannya direncanakan selama satu bulan. Dia tidak dapat membawa anakisterinya, karena anaknya yang ke dua, baru lahir beberapa bulan yang lalu. Masih terlalu keciluntuk diajak pergi. Anaknya yang pertama, seorang anak perempuan yang sudah berusia limabelas tahun, juga tidak dapat diajak pergi karena harus membantu ibunya di rumah. Maka diapunpergi seorang diri ke timur.Di dalam perjalanan inilah terjadinya peristiwa itu. Dia melihat perampokan di dalam hutan terhadapsebuah keluarga bangsawan yang melakukan perjalanan dengan kereta. Perampok itu adalahsepasang suami isteri yang masih muda. Kurang lebih duapuluh lima tahun usia mereka. SieKian turun tangan melindungi bangsawan itu dan terjadilah perkelahian antara dia dan suamiisteri itu. Ternyata suami isteri itu lihai juga, akan tetapi mereka masih belum mampumengalahkan Sie Kian yang pandai bersilat pedang. Perkelahian itu berakhir dengan kematianisteri perampok itu, dan luka parah pada perampok yang dengan penuh duka memangguljenazah isterinya dan menanyakan Sie Kian. Sie Kian sendiri juga terluka di pundaknya, terkenasebatang senjata rahasia piauw yang dilempar oleh perampok itu."Sie Kian, kalau engkau membunuhku, aku tidak akan begini merasa sakit hati," demikian perampokitu sebelum pergi. "Juga kalau engkau hanya menghalangi perbuatan kami merampok, akupuntidak perduli. Akan tetapi engkau telah membunuh isteriku tercinta dan aku bersumpah bahwakelak aku akan mencarimu dan aku akan membunuh seluruh keluargamu dan semua penghunirumahmu!" Setelah mengeluarkan ucapan itu, perampok muda itu pergi dengan muka berduka.Sie Kian membiarkannya pergi dan mengira bahwa ucapan itu tentu hanya ancaman seorangperampok yang kecewa.Akan tetapi, ternyata hari ini ada surat dan piauw beronce merah! Perampok itu ternyata bukan hanyameninggalkan ancaman kosong belaka dan hari ini, kurang lebih lima tahun semenjak peristiwaitu, perampok itu benar-benar datang untuk melaksanakan ancamannya dan sumpahnya! Diam-diam Sie Kian bergidik. Ancaman dalam surat itu sungguh menyeramkan. Akan tetapi, dia tidaktakut! Selama hidupnya, Sie Kian adalah seorang laki-laki yang jantan. Demi membelakebenaran, dia tidak takut kehilangan nyawa! Ancaman surat itu hanya ancaman seorangpenjahat, seorang perampok, dan dia akan menyambutnya, menandinginya dengan sikapseorang pendekar sejati! Tidak, dia tidak akan minta bantuan orang lain!Setelah termenung sejenak, Sie Kian menyimpan surat dan piauw itu ke dalam kantung bajunya, dandiapun memasuki kamar di mana isterinya sedang berbaring menyusui anak mereka, anak laki-
 
laki yang baru berusia sepuluh tahun dan mereka beri nama Sie Liong. Dengan wajah tenangsaja Sie Kian duduk di kursi dalam kamar itu dan bertanya kepada isterinya, di mana adanyaputeri mereka yang bernama Sie Lan Hong. Dia dan isterinya memang hanya mempunyai duaorang anak, yaitu pertama Sie Lan Hong yang sudah berusia lima belas tahun dan setelah lewatempat belas tahun lebih barulah isterinya melahirkan Sie Liong."Ia baru saja keluar dari sini, mungkin ia berada di dalam kamarnya," jawab istrinya sambil bangkitduduk karena Sie Liong sudah tidur pulas. "Ada apakah? Kelihatannya engkau begitu pendiam."Isteri yang sudah amat mengenal watak suaminya itu bertanya dengan pandang mata curigamelihat sikap suaminya begitu pendiam, tidak seperti biasanya."Panggil dulu Lan Hong ke sini, juga pangil Cu An yang berada di kamarnya. Ada urusan pentingsekali yang hendak kubicarakan dengan kalian bertiga."Isteri Sie Kian memandang suaminya dengan heran, akan tetapi tidak membantah dan ia lalu keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian ia muncul kembali bersama seorang gadis yang manis, yaituLan Hong, dan seorang laki-laki muda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Pria ini adalahKim Cu An, murid kepala yang kini membantu Si Kian memimpin para murid yang belajar diperguruan silat itu. Karena Kim Cu An seorang yatim piatu yang tidak mempunyai sanakkeluarga, maka dia diterima tinggal di rumah gurunya itu, sebagai murid, juga sebagai pembantuguru. Tentu saja Cu An merasa terkejut dan heran ketika oleh ibu gurunya dia dipanggilmenghadap gurunya di dalam kamar gurunya itu!Setelah isterinya, puterinya dan muridnya duduk di atas bangku dalam kamar itu, dengan sikap masihtenang Sie Kian lalu bicara. "Kalian tentu masih ingat akan ceritaku tentang peristiwa yang terjadilima tahun yang lalu ketika aku mengadakan perjalanan ke Hok-kian itu, bukan?""Peristiwa yang mana?" tanya isterinya."Apakah suhu maksudkan pertemuan suhu dengan suami isteri perampok itu?" tanya Cu An.Gurunya mengangguk. "Benar. Seperti telah kuceritakan, aku berhasil menyelamatkan keluargabangsawan dari kota raja yang dirampok oleh perampok yang terdiri dari suami isteri itu. Dalamperkelahian itu, aku terluka senjata rahasia piauw, akan tetapi aku berhasil membunuh isteriperampok itu dan melukainya. Akan tetapi, ketika itu aku tidak menceritakan kepada kalian akansumpah dan dendam perampok yang kematian isterinya itu. Ketika itu kuanggap tidak pentingdan semua perampok yang dikalahkan tentu akan mengeluarkan ancaman. Akan tetapi...., hariini ancaman perampok itu agaknya akan dilaksanan!" Sie Kian menarik napas panjang."Ancaman bagimana?" tanya isterinya, nampak khawatir."Ketika itu, sambil memanggul jenazah isterinya dan dalam keadaan luka dia bersumpah bahwa padasuatu hari dia akan mencariku dan akan membasmi seluruh keluargaku. Ancaman yang keluar dari mulut seorang perampok seperti itu, mana ada harganya untuk diperhatikan dan dianggapserius!""Akan tetapi.... dia bersumpah karena kematian isterinya, dan hal itu berbahaya sekali!" kata isterinya.Sie Kian kembali menarik napas dan dia mengangguk. "Benar sekali pendapatmu itu dan sekaranginilah buktinya." Dia mengeluarkan senjata piauw dan kertas bersurat itu. "Tadi kutemukan suratini tertancap piauw di daun pintu belakang. Surat itu berbunyi begini." Sie Kian membacakansurat itu, didengarkan dengan muka pucat oleh isterinya. Lan Hong dan Cua An mendengarkandengan sikap tenang. Mereka adalah orang-orang muda yang sejak kecil sudah belajar ilmu silatmaka memiliki ketabahan besar."Ayah, kalau dia muncul, kita lawan dia! Penjahat itu sudah sepatutnya dibasmi!" kata Lan Hongdengan penuh semangat.
 
"Sumoi benar, suhu. Kita tidak perlu takut menghadapi ancaman dan gertak kosong seorang penjahatseperti dia....""Ha-ha-ha-ha-ha...!" Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa yang datangnya dari atas genteng.Sie Kian meloncat dari kursinya. "Lan Hong, Cu An, kalian menjaga ibu dan adik kalian di sini!"berkata demikian, tubuh Sie Kian sudah berkelebat keluar dari dalam kamar itu dan dia segerakeluar dan meloncat ke atas genteng. Pada saat dia meloncat ke atas genteng, terdengar suaraanjing menggonggong di belakang, akan tetapi suara gonggongannya berubah pekik kesakitanlalu sunyi.Sie Kian melayang turun dan lari ke belakang. Dia tidak melihat berkelebatnya orang, hanyamenemukan anjing peliharaannya itu telah mati den sebuah ronce merah nampak di lehernya.Anjing itu mati dengan sebatang senjata piauw terbenam di dalam lehernya! Sie Kian mencari-cari, memandang ke kanan kiri dengan waspada. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyiayam-ayam berteriak, disusul ringkik kuda."Celaka....!" serunya dan dia cepat lari ke kandang kuda dan ayam yang berada agak jauh di sampingrumah. Dan seperti juga anjingnya, dia melihat belasan ekor ayam peliharaannya, dan seekor kuda, telah menggeletak mati!Sie Kian tidak memperdulikan lagi keadaan binatang-binatang peliharaannya dan cepat dia lari masukke dalam rumah melalui pintu belakang. Dan pada saat itu, terdengar jerit wanita yang datangnyadari kamar para pelayan di belakang. Sie Kian terkejut dan kembali dia melompat keluar, menujuke kamar pelayan. Dia merasa menyesal sekali mengapa memandang rendah lawan dan dialupa untuk memanggil dua orang pelayannya agar berkumpul di dalam rumah besar. Dan sepertiyang dikhawatirkan, dua orang pelayan wanita itu telah tewas di dalam sebuah kamar pelayan,leher mereka, hampir putus dan kamar itu banjir darah. Jelas bahwa leher mereka terbabat olehpedang!Sie Kian menjadi marah sekali. Dia meloncat masuk ke dalam rumah dan hatinya lega melihat betapaLan Hong dan Cu An masih berjaga di depan kamar, sedangkan isterinya, dengan muka pucat,duduk di atas pembaringan memangku Sie Liong yang masih tidur nyenyak."Apa... apa yang terjadi...?" tanya isterinya ketika dia tiba di kamar itu."Jahanam itu...., dia telah mulai melaksanakan ancamannya! Semua binatang peliharaan kitadibunuhnya, juga dua orang pelayan kita dibunuhnya.""Aihhh....!" Isterinya menangis."Sudah, tenanglah dan jangan menangis. Kita harus siap siaga menghadapinya. Dia tidak main-maindan ancamannya bukan gertak kosong. Cu An dan Lan Hong, kalian tetap berjaga di sini,menjaga keselamatan ibumu dan adikmu. Aku yang akan menghadapi jahanam busuk itu!""Baik, ayah," kata Lan Hong dengan luka pucat walaupun ia masih bersikap tenang. Kini tangannyamemegang sebatang pedang."Teecu akan menjaga subo dengan taruhan nyawa, suhu!" kata Cu An dangan sikap gagah. Juga diamemegang sebatang pedang.Dengan hati penuh kemarahan, Sie Kian lalu keluar dari dalam kamar, berdiri sejenak di ruangantengah, memasang telinga. Akan tetapi tidak mendengar suara apa-apa dan malam tiba dengansunyinya. Dia lalu keluar berindap-indap dari dalam ruangan itu, kemudian mengelilingi rumahdan memeriksa setiap sudut. Namun, tidak nampak bayangan orang.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->