Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
29Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pembuktian

pembuktian

Ratings: (0)|Views: 3,833 |Likes:
Published by ztergodha

More info:

Published by: ztergodha on Apr 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

 
 
BAB IIPEMBUKTIAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA INDONESIAA. Pengertian Pembuktian
Hukum pembuktian dalam hukum acara perdata menduduki tempat yangsangat penting. Kita ketahui bahwa hukum acara atau hukum formal bertujuanhendak memelihara dan mempertahankan hukum material. Jadi secara formalhukum pembuktian itu mengatur cara bagaimana mengadakan pembuktian sepertiterdapat di dalam RBg dan HIR. Sedangkan secara materil, hukum pembuktian itumengatur dapat tidaknya diterima pembuktian dengan alat-alat bukti tertentu dipersidangan serta kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti tersebut.Dalam jawab menjawab di muka sidang pengadilan, pihak-pihak yangberperkara dapat mengemukakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijadikan dasaruntuk meneguhkan hak perdatanya ataupun untuk membantah hak perdata pihak lain. Peristiwa-peristiwa tersebut sudah tentu tidak cukup dikemukakan begitusaja, baik secara tertulis maupun lisan. Akan tetapi, harus diiringi atau disertaibukti-bukti yang sah menurut hukum agar dapat dipastikan kebenarannya. Dengankata lain, peristiwa-peristiwa itu harus disertai pembuktian secara yuridis.Dengan demikian, yang dimaksud dengan pembuktian adalahpenyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yangmemeriksa suatu perkara guna memberikan kepastian tentang kebenaran21
Universitas Sumatera Utara
 
peristiwa yang dikemukakan.
 Pembuktian diperlukan dalam suatu perkara yang mengadili suatusengketa di muka pengadilan
( juridicto contentiosa )
maupun dalam perkara-perkara permohonan yang menghasilkan suatu penetapan
( juridicto voluntair )
.Dalam suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidikiapakah suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atautidak. Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugatmenginginkan kemenangan dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasiluntuk membuktikan dalil-dalil yang menjadi dasar gugatannya, maka gugatannyatersebut akan ditolak, namun apabila sebaliknya maka gugatannya tersebut akandikabulkan.
 Pasal 283 RBg/163 HIR menyatakan :“ Barangsiapa mengatakan mempunyai suatu hak atau mengemukakansuatu perbuatan untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, haruslah membuktikan adanya perbuatan itu.”Tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikankebenarannya, sebab dalil-dalil yang tidak disangkal, apalagi diakui sepenuhnyaoleh pihak lawan tidak perlu dibuktikan lagi. Dalam hal pembuktian tidak selalupihak penggugat saja yang harus membuktikan dalilnya. Hakim yang memeriksaperkara tersebut yang akan menentukan siapa diantara pihak-pihak yangberperkara yang diwajibkan memberikan bukti, apakah pihak penggugat ataupihak tergugat. Dengan perkataan lain hakim sendiri yang menentukan pihak yang
11 H. Riduan Syahrani,
 Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata
, PT. Citra Aditya Bakti,Bandung, 2004, hlm. 83.12 Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata,
 Hukum Acara Perdata dalamTeori dan Praktek 
, Alumni, Bandung, 1983, hlm. 53.
Universitas Sumatera Utara
 
mana akan memikul beban pembuktian. Hakim berwenang membebankan kepadapara pihak untuk mengajukan suatu pembuktian dengan cara yang seadil-adilnya.
 Dalam melakukan pembuktian seperti yang telah disebutkan di atas, parapihak yang berperkara dan hakim yang memimpin pemeriksaan perkara dipersidangan harus mengindahkan ketentuan-ketentuan dalam hukum pembuktianyang mengatur tentang cara pembuktian, beban pembuktian, macam-macam alatbukti serta kekuatan alat-alat bukti tersebut, dan sebagainya. Hukum pembuktianini termuat dalam HIR
( Herziene Indonesische Reglement )
yang berlaku diwilayah Jawa dan Madura, Pasal 162 sampai dengan Pasal 177; RBg
( Rechtsreglement voor de Buitengewesten )
berlaku diluar wilayah Jawa danMadura, Pasal 282 sampai dengan Pasal 314; Stb. 1867 No. 29 tentang kekuatanpembuktian akta di bawah tangan; dan BW
( Burgerlijk Wetboek )
atauKUHPerdata Buku IV Pasal 1865 sampai dengan Pasal 1945.
B. Prinsip Hukum Pembuktian
Prinsip-prinsip dalam hukum pembuktian adalah landasan penerapanpembuktian. Semua pihak, termasuk hakim harus berpegang pada patokan yangdigariskan prinsip dimaksud.1.
 
Pembuktian Mencari dan Mewujudkan Kebenaran FormilSistem pembuktian yang dianut hukum acara perdata, tidak bersifat stelselnegatif menurut undang-undang
( negatief wettelijk stelsel )
, seperti dalam proses
13
 Ibid 
., hlm. 53.
Universitas Sumatera Utara

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Salim Anshori liked this
Mochamad Indra S liked this
Ittihad Alie liked this
RiNny OkTavia liked this
samuel_aland liked this
Irfan Evan Rpc liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->