bekerja sebagai seorang beauty advisor kosmetik terkenal di counter kosmetik sebuah plaza megah. Anita supel, periang dan pandai berdandan.Kamar kedua dipakai oleh Tina. Ia juga cantik. Katanya ia bekerja di sebuahrestaurant. Tetapi yang mengantarnya pulang selalu bukan laki-laki yang sama.Kepulan rokok mild juga tidak pernah lepas dari bibirnya yang seksi.Tetapi aku bukan tipe pemilik kost yang rese’. Mereka kuberi kunci pintu supayabila pulang larut malam tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan membuatkuterganggu. Aku tidak terlalu pusing dengan apa pun yang mereka kerjakan. Tohmereka selalu membayar uang kost tepat waktu. Bukan itu saja, menurutku,mereka cukup baik. Mereka hormat dan sopan kepadaku. Apa pun yang merekalakoni, tidak bisa membuatku memberikan stempel bahwa mereka bukanperempuan baik-baik.Nina datang dua bulan yang lalu dan menempati kamar ketiga. Kutaksir usianyabelum mencapai tiga puluh tahun. Paling-paling hanya terpaut dua tiga tahun dibawahku. Ia tidak secantik Anita dan Tina, tetapi ia manis dan menarik denganmatanya yang selalu beriak dan senyumnya yang tulus. Ia rapi. Bukan sajakamarnya yang selalu tertata, tetapi kata-katanya pun halus dan terjaga. Iamembuatku teringat kepada seorang perempuan yang nyaris sempurna.Perempuan di masa lampau yang…ah…aku luka bila mengingatnya.Oh ya, Nina juga tidak pernah keluar malam. Ia lebih banyak berada di rumah,bahkan ia tidak segan-segan membantuku menjaga warung. Kalaupun ia keluarrumah, ia akan keluar untuk tiga sampai empat hari setelah menerima telepondari seseorang laki-laki. Laki-laki yang sama.Bukan masalah kemurungannya saja yang aneh bagiku. Tetapi sudah dua mingguterakhir Nina tidak pernah keluar rumah. Bahkan tidak menerima ataumenelepon sama sekali. Yang tampak olehku hanyalah kegelisahan yangmenyobek pandangannya. Dan puncaknya adalah empat hari terakhir ini."Nina, ada apa? Beberapa hari ini kamu kelihatan murung…," aku tidak bisamengerem lidahku untuk bertanya, ketika kami hanya berdua saja di rumah.Warung sudah tutup pukul sepuluh malam. Anita dan Tina belum pulang. TetapiNina kulihat masih termangu dengan mata kosong.Ia menoleh dengan lesu setelah sepersekian menit diam seakan-akan tidak mendengarkan apa yang aku tanyakan. Kemurungan tampak menggunung di