Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
28Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAB VI PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN

BAB VI PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN

Ratings: (0)|Views: 7,286|Likes:
Published by Hyun Jae Fullbuster

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Hyun Jae Fullbuster on Apr 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/29/2013

pdf

text

original

 
BAB VIPENGKREDITAN PAJAK MASUKANA.Pengertian Pajak MasukanDalam pasal 1 poin 24 UU No. 8 TH 1983 sebagaimana diubah terakhir pada UU No 42tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai, dinyatakan bahwa Pajak Masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) karena perolehan Barang Kena Pajak (BKP) dan atau penerimaan Jasa KenaPajak (JKP), dan atau pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean dan impor Barang Kena Pajak.Pengertian di atas menunjukkan bahwa pajak masukan timbul karena PKP melakukan pembelian Barang Kena Pajak atau menerima Jasa Kena Pajak atau jelasnya karena konsumsi BKP atau JKP. Ungkapan “seharusnya sudah dibayar” pada pengertian di atas merupakan penerapan accrual basic, artinya meskipun belum dibayar oleh pembeli BKPatau penerimaan JKP maka PPN tersebut tetap dapat dikreditkan.B.Mekanisme Pengkreditan Pajak Masukan1.Prinsip Dasar Pengkreditan Pajak MasukanDalam pasal 9 UU PPN & PPnBM, diatur tentang prinsip pengkreditan Pajak Masukan:a.Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran dalam Masa Pajak yang sama.b.Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan.c.Pajak Masukan yang dikreditkan harus menggunakan Faktur Pajak yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) dan ayat (9) UUPPNd.Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus disetoroleh Pengusaha Kena Pajak.e.Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yangdikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.f.Atas kelebihan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat diajukan permohonan pengembalian pada akhir tahun buku.g.Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.2.Persyaratan umum Pajak Masukan yang Dapat DikreditkanSukardji (2003, 267-275) mengemukakan persyaratan Pajak masukan yang dapat dikreditkan, sebagai berikut :Persyaratan Formal :oTercantum dalam Faktur Pajak Standar atau dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai faktur pajak standar sesuai dengan ketentuan pasal 13 ayat 5 dan pasal 14 (6) UU PPN.oBelum dilakukan pemeriksaan.Apabila dalam suatu pemeriksaan ditemukan Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP atau JKP yang dapat dikreditkan tetapi belum dilaporkan maka PM tersebut tidak dapat boleh dikreditkan.oPajak Masukan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran dalam masa Pajak yang sama atau tidak sama sepanjang belum melampaui bulan ke tiga setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan. Pasal 9 (9) UU PPN.Ketentuan ini memberikan kesempatan bagi PKP untuk mengkreditkan PM dalam Masa Pajak Tidak Sama (MTS) dalam masa paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya masa pajak bersangkutan terhadap PK yang disebabkan karena keterlambatan penerimaan Faktur Pajak. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui, Pajak Masukan tersebut masih dapat dikreditkan melalui pembetulan Surat Pemberitahuan MasaPajak Pertambahan Nilai yang bersangkutan, dengan syarat Pajak Masukan tersebutbelum dibebankan sebagai biaya atau tidak ditambahkan (dikapitalisasikan) kepadaharga perolehan BKP atau JKP yang bersangkutan, dan belum dilakukan pemeriksaan
 
terhadap Pengusaha Kena Pajak tsb.Contoh :Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tertanggal 7Juli 2006 dapat dikreditkan terhadap Pajak Keluaran pada Masa Pajak Juli 2006 atau pada Masa Pajak berikutnya paling lambat Masa Pajak Oktober 2006. Apabila telah lewat waktu 3 bulan, maka pengkreditan dilakukan melalui pembetulan SPt Masa.Persyaratan Materil :oBerhubungan langsung dengan kegiatan usaha.berhubungan langsung dengan kegiatan usaha adalah pengeluaran untuk kegiatan-kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen. Ketentuan ini berlaku untuk semua bidang usaha.oBelum dibebankan sebagai biaya atau dikapitalisasi.C.Pengembalian atas Kelebihan Pajak MasukanAtas kelebihan Pajak Masukan dapat diajukan permohonan pengembalian pada akhir tahun buku, kecuali atas kelebihan Pajak Masukan dapat diajukan permohonan pengembalian pada setiap Masa Pajak oleh :1.Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud;2.Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai;3.Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang Pajak Pertambahan Nilainya tidak dipungut;4.Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud;5.Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Jasa Kena Pajak; dan/atau6.Pengusaha Kena Pajak dalam tahap belum berproduksi sebagaimana dimaksudpada ayat (2a).D.Pajak Masukan yang Tidak dapat DikreditkanDalam Pasal 9 ayat 8 UU PPN No. 42 tahun 2009, dinyatakan Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan adalah atas :1.Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;Aturan ini merupakan suatu kepastian hukum tentang Pajak Masukan yang diperolehsebelum pengusaha melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.Contoh :Pengusaha A melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP pada tanggal 3 Januari 2006 dan mendapatkan pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak pada tanggal 5Januari 2006 yang berlaku surut sejak tanggal 3 Januari 2006. Maka berdasarkan aturan ini Pajak Masukan yang diperoleh sebelum tanggal 3 Januari 2006 tidak dapat dikreditkan.2.Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha;Contoh :PT. X adalah PKP yang bergerak dalam usaha industri rumah tangga membeli sebuahrumah real estate untuk peristirahatan direksi dan tamu. Rumah tersebut tidak ada hubungan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan, maka PM atas perolehan rumah tersebut tidak dapat dikreditkan.3.Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;Contoh :PT. X sebuah perusahaan industri perkayuan membeli sebuah sedan untuk dinas direktur. Maka Pajak Masukan atas perolehan sedan tersebut tidak dapat dikreditkan.Contoh :PT. Rental Riau, PKP. Membeli sebuah kendaraan station wagon untuk disewakan untuk dinas direksi. Maka Maka Pajak Masukan atas perolehan station wagon tersebutdapat dikreditkan.4.Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena
 
Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;Contoh :Pengusaha A melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak pada tanggal 3 Januari 2006. Oleh DJP dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak padatanggal 5 Januari 2006 dan berlaku surut sejak tanggal 3 Januari 2006. Dengan demikian Pajak Masukan atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang diperoleh sebelum tanggal 3 Januari 2006 tersebut tidak dapat dikreditkan.5.Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagiamana dimaksud dalam pasal 13 ayat 5 UU PPN (FakturPajak);Faktur Pajak merupakan bukti pungutan pajak dan sarana untuk mengkreditkan PajakMasukan. Sehingga Faktur Pajak harus benar, baik secara formal maupun secara materiil. Faktur Pajak harus diisi secara lengkap, jelas dan benar dan ditandatangani oleh pejabat yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak untuk menandatanganinya. Faktur Pajak yang tidak diisi sesuai dengan ketentuan dalam ayat ini dapat mengakibatkan Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum di dalamnya tidak dapat dikreditkan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (8) huruf f.6.Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa kenaPajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat 6 UU PPN (dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak);Penjelasan sama dengan no 6.7.Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak;Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan BKP atau JKP yang dibayar oleh PengusahaKena Pajak berdasarkan suatu ketetapan pajak bukan merupakan Pajak Masukan yangdapat dikreditkan.8.Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa PPN, diketemukan pada waktu pemeriksaan.9.perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha Kena Pajak berproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2a).Indonesia menganut sistem self assesment, dimana Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan sendiri seluruh kegiatan usahanya dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Apabila ada kekeliruan dalam pelaporan Pengusaha Kena Pajak diberikan kesempatan untuk melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Oleh karena itu apabila dalam pemeriksaan ditemukan Pajak Masukanyang tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai maka PM demikian tidak dapat dikreditkan.Contoh :Laporan Surat Pemberitahuan Masa :Pajak Keluaran = Rp10.000.000,00Pajak Masukan= Rp 8.000.000,00Hasil pemeriksaan diketahui :Pajak Keluaran = Rp15.000.000,00Pajak Masukan = Rp11.000.000,00Berdasarkan ketentuan di atas makaPajak Masukan yang dapat dikreditkan bukan sebesar Rp 11.000.000,00, tetapi tetap sebesar Rp 8.000.000,00, sesuai dengan laporan Surat Pemberitahuan Masa. Sehingga perhitungan hasil pemeriksaan adalah:Pajak Keluaran= Rp15.000.000,00Pajak Masukan =Rp 8.000.000,00Kurang Bayar menurut hasil pemeriksaan= Rp 7.000.000,00Kurang Bayar menurut Surat Pemberitahuan= Rp 2.000.000,00

Activity (28)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Harry Dharmawan liked this
Ayuni Puspa liked this
ghytap liked this
Adelia Savitri liked this
Busra Kurniawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->