Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PROPOSAL Gejala pleonasme

PROPOSAL Gejala pleonasme

Ratings: (0)|Views: 902 |Likes:
Published by Moena Riswati

More info:

Published by: Moena Riswati on Apr 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

 
GEJALA KONTAMINASI DAN PLEONASME PEMBERITAAN ARTIS IBUKOTA YANG MEMPENGARUHI DALAM SIKAP BAHASA(SEBUAH PENDEKATAN SOSIOLINGUISTIK)BAB 1PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah
Fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesiayang terdiri dari kepulauan. Dalam berbagai bidang khususnya bidang keilmuaanbahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantarnya. Dengan begitu besarnyaperanan bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat Indonesia, maka tak heranperkembangan bahasa Indonesia sangat pesat seiring dengan perkembanganmanusianya (penuturnya).Salah satu aspek kebahasaan yang belum banyak disinggung penelitilinguistik adalah aspek bahasa dilihat dari segi struktural yang berdampingan denganaspek sosial dan psikis (kejiwaan), yaitu tentang
kontaminasi
dan
pleonasme
.Kedua bentuk tersebut merupakan kekurangsempurnaan bahasa apabila ditinjau darisudut kebakuan gramatikalnya. Di antara keduanya memilki sifat yang berlawanandalam kekurangsempurnaan bahasa. Kontaminasi merupakan penggunaan bahasayang rancu akibat dari hilangnya sebagian atau beberapa segmen dari suatu tuturan.Pleonasme merupaakan penggunaan tuturan yang berlebihan.Kontaminasi dan pleonasme bahasa berhubungan dengan sikap bahasa. Sikapbahasa merupakan sikap kejiwaan dan sikap pada umumnya. Ada tiga komponenyang berhubungan dengan sikap bahasa yaitu komponen kognitif, komponen afektif,dan komponen konatif. Komponen kognitif bertalian dengan proses berpikir penutur (pemakai) bahasa dan bersifat mentalitas. Komponen afektif pemakaian bahasaberhubungan dengan perasaan; kemudian komponen konatif berhubungan denganperilaku kebahasaan (Suwito, 1985:87). Sikap-sikap bahasa bagi penutur merupakanhal yang fital bagi perkembangan bahasa itu sendiri, misalnya dalam upayastandarisasi, pembakuan, atau pembentukan tata bahasa. Upaya-upaya yang demikian
 
berkaitan erat dengan fungsi bahasa dan sikap bahasa (Harimurti, 1984:42). Dengandemikian sikap bahasa menentukan pengembangan kebahasaan.Beberapa kendala sering muncul, yang bersifat kontras dengan sikap bahasayang baik. Diantaranya adalah kurang dikuasainya kaidah-kaidah kebahasaan yangberlaku, atau ketidaktaatan pemakai bahasa terhadap kaidah kebahasaan yangdikuasainya. Hal ini sering disadari oleh pemilik dan pemakai bahasa, sehinggamenghambat proses perkembangan bahasa.Kerancuan bahasa lebih dikenal dengan kontaminasi, yang sering ditemukanpada bahasa ragam lisan, walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi pada ragamtulis. Seorang penutur lisan biasa tidak menyadari apakah bahasa yang digunakansudah cukup baik menuangkan pikiran-pikirannya. Aspek penting selalu diperhatikanpenutur adalah aspek informatifnya, yaitu mitra tutur mampu menangkap topik pembicaraan. Kadangkala seorang penutur secara naluri akan merasakan apabilatuturan-turannya kurang sempurna, penutur akan selalu memperbaiki tuturan yangdirasakan kurang lengkap itu. Dengan demikian aspek kejiwaan memperngaruhikebahasaan seseorang.Kontaminasi dan pleonasme berhubungan erat. Dalam suatu gejalakontaminasi sering didapati gejala pleonasme, walaupun dari segi bahasa keduaistilah itu berlawanan, yaitu kurang lengkap (rancu) dan berlebihan. Contoh
ParaBapak-bapak,
adalah gejala pleonasme, penggunaan kata yang berlebihan sehinggakurang efektif. Untuk menunjukkan
bapak 
secara jamak, dapat dikatakan (a)
para
bapak atau (b)
bapak-bapak sehingga lebih efektif. Para bapak-bapak,
mungkin sajamerupakan kontaminasi dari dua frasa (a) dan (b), apabila dimaksudkan oleh penutur penyebutan kedua frasa itu salah satunya untuk mengulang atau menegaskan yanglain, tetapi pengucapannya tidak sempurna. Apabila tidak dimakasudkan demikian,maka hal ini tidak termasuk kontaminasi.Tanpa disadari oleh peneliti bahasa, perkembangan bahasa pada masyarakatsaat ini dapat dilihat pada acara infotainment khususnya pemberitaan artis.Pemberitaan artis sering disebut dengan gosip. Gosip identik dengan suara atau isuyang berkembang dan belum pasti kebenarannya. Namun, pada kenyataannya isu-isuyang diberitakan pada infotainment merupakan hal nyata. Perkembanganinfotainment merupakan sebuah berita yang hanya menyuguhkan berita-berita artis
 
yang aktual pada waktunya. Adapun penggunaaan bahasa acara infotainment tidak seperti pemakaian bahasa pada berita-berita yang resmi (misalya,
L
iputan6, metrohead line news
, dsb), penggunaan bahsanya lebih santai dan seolah-olah bersifatsubjektif yaitu dengan memojokkan subjek yang diberitakan jika berita tersebutbersifat negatif.Setelah melakukan kroscek pada infotainment, peneliti mendapati sebuah halyang perlu digali dan dipahami pada pemakaian bahasa infotainment. Pembawa acarainfotainment pada umumnya menggunakan ragam tidak baku yaitu lisan dan tanpadisadari terjadi gejala kontaminasi dan pleonasme. Mungkin mereka tidak menyadaribahwa hal tersebut merupakan bentuk pelanggaran kaidah bahasa baku Indonesia.Gejala kontaminasi dan pleonasme tersebut merupakan bentuk sikap bahasa padalingkungan sosial tentang isi pemberitaan. Karena infotainment identik denganpemberitaan-pemberitaan yang menginformasikan permasalahan-permasalahanpribadi artis yang cenderung negatif, meskipun tidak menutup kemungkinanpemberitaan positif.Adapun contoh bentuk kontaminasi dan pleonasme pada infotainment adalah,³
Arumi Bachsin telah mengakui semua kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, dan ia membeberkan bahwa adanya pihak ketiga yang memprovokatorinya untuk pergi dari rumahnya yang berulang kali.´(C&R/061010/07)
Berdasarkan kutipan tersebut terjadi bentuk kontaminasi dan pleonasme.Gejala pleonasme terjadi pada frasa
semua kesalahan-kesalahan diperbuatnya,
yangdapat diringkas dengan
semua kesalahan
atau
kesalahan-kesalahan
. Selain itu, padakata
berulang-kali
yang sebenarnya berasal dari kata
berulang-ulang.
Dari gejalapleonasme tersebut menjadikan kalimat di atas terjadi kontaminasi. Kontaminasiterjadi karena satu kalimat yang terdiri dari beberapa anak kalimat denganketidakefektifan bahasa. Maka terjadi keambiguan kalimat yaitu pada kata
berulang kali
dapat diartikan bahwa
berulang kali
atas perlakukan pihak ketigamemprovokatori Arumi Bachsin atau
berulang kali
pada kepergian Arumi Bachsin.Adapun pembenarannya jika kata berulang kali untuk kepergian Arumi Bachsinadalah.

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Diah Ika Refade liked this
Cuzy Odame liked this
Cuzy Odame liked this
Cuzy Odame liked this
Cuzy Odame liked this
Cuzy Odame liked this
Cuzy Odame liked this
Cuzy Odame liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->