Syaikh Hasan Al Banna dalam menerangkan cara"da'wahnya" yang bernafaskan sufi.Sa'id Hawwa bukanlah orang yang per-tama kali yangberkomentar tentang kitab Ihya' dan beliau hanya
taqlid
kepada Syaikh Hasan Al Banna semoga Allahmerahmatinya. Beliau mempelajarinya setelahmengikuti perkumpulan tarekat Al Hashafiyah AsSufiyah (
Mudzakkirat Ad Da'wah
hal. 29) sehinggaberpengaruh pada perilaku dan kepribadinya
(Mudzakkirat
hal. 32).Sa'id Hawwa telah memandang Kitab
Ihya
sebagaiensiklopedi Islam yang terbesar dan salah satuharapannya adalah tersedianya kesempatan untukmen-syarah-kan (menjelaskan) Kitab tersebut. Tidaklama kemudian beliau pun segera melaksanakanrencana tersebut, yaitu ketika beliau menyiapkanpelajaran mingguan di rumahnya untuk sekumpulansahabatnya. Beliau sangat bersemangat dalam menulissetiap pelajaran yang akan beliau sampaikan dan initidak pernah dilakukan pada pelajaran-pelajaran yanglainnya. Akan tetapi keadaanlah yang menghalangipenyempurnaan
syarah
kitab tersebut (Al
IkhwanulMuslimun: Ahdats
jilid 1 hal. 61 dan jilid 2 hal 347)
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga Allahmerahmatinya, telah mengumpulkan pujian dan celaanterhadap Kitab ini. Ketika ditanya tentang kitab
IhyaUlumuddin
dan
Quutul Qulub
beliau menguraikantentang keduanya di dalam suatu uraian ilmiah yangmemikat dan sudah sepantasnyalah bagi saya untukmenukilnya secara utuh
sebagaimana tercantumdalam
Majmu'ul Fatawa
(jilid 10 hal. 55). Beliauberkata:
Adapun kitab Quutul Qulub dan kitab Al Ihyakeduanya sama-sama menyebutkan tentang amalan-
2
Nukilan perkataan beliau yang lain akan dijelaskan lebih lanjut