Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Hasyasyin (Assassin)

Sejarah Hasyasyin (Assassin)

Ratings: (0)|Views: 207 |Likes:
Published by Fadh_Ahmad
Sejarah Hasyasyin (Assassins)
Saifuddin Zuhri Qudsy Dosen Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Sejarah Hasyasyin (Assassins)
Saifuddin Zuhri Qudsy Dosen Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: Fadh_Ahmad on Apr 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2014

pdf

text

original

 
1
Sejarah Hasyasyin (Assassins)
Saifuddin Zuhri Qudsy
 
Dosen Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran IslamUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
 
Pendahuluan
 Dalam
Syi‘ah, perpecahan terjadi diantara para ekstrimis dan moderat setelah wafatnya Ja‘far 
Shadiq pada 765, imam yang keenam setelah
Ali. Pada waktu itu, anak yang tertua Ja‘far adalah
Ismail. Karena alasan-alasan yang belum jelas, dan barangkali karena kerja samanya dengan elemen-elemen ekstrimis, Ismail tidak dianggap sebagai pewaris keimaman, dan sebagian besar orang Syiahmenjadikan adiknya yakni Musa al-Kazim sebagai Imam ketujuh. Garis keturunan Musa bersambunghingga imam kedua belas yang menghilang pad
a 873, beliau tetap menjadi imam ‗yang dinantikan‘
atau imam Mahdi, bagi sebagian besar orang-
orang Syi‘ah saat ini. Para pengikut
keduabelas imamtersebut terkenal dengan nama Itsna Asyariyah atau Twelver Syiah yang merupakan sekte yangpaling moderat di antara sekte yang lain. Perbedaan mereka dari Sunni hanya sebatas pada pokok-pokok ajaran tertentu saja yang pada tahun-tahun terakhir menjadi tidak signifikan lagi. Sejak abadXVI sekte Syiah Itsna syariyah menjadi anutan resmi penduduk Iran (Bernard Lewis, 1967: 26.Kelompok yang lain mengikuti Ismail dan keturunannya, dan dikenal sebagai Ismailiyah. Untuk sekian lama bekerja secara diam-diam, dan mendirikan sebuah sekte yang terorganisir dengan baik dan memiliki daya tarik intelektual maupun emosional yang jauh melampaui saingan-saingannya.Untuk mengganti semrawutnya dugaan-dugaan dan takhayul primitif dalam sekte-sekte Ismailiyahyang terdahulu, sejumlah teolog terkemuka membangun sebuah sistim doktrin religius yangmengandung filsafat tingkat tinggi dan mengarang berbagai karya yang, setelah beberapa abadkemudian masih diakui kehebatannya. Bagi orang-orang saleh, sekte Ismailiyah sebenarnya jugamenghormati al-
Qur‘an, hadits, dan Syari‘ah sama halnya dengan yang dilakukan oleh orang
-orangSunni. Dalam masalah intelektual, mereka memberikan penjelasan-penjelasan filosofis mengenaialam semesta, dengan merujuk pada sumber-sumber kuno khususnya ide-ide platonik. Dalammasalah spiritual membawa kehangatan, kepercayaan emosional dan personal yang disokong olehcontoh penderitaan para imam dan pengorbanan para pengikutnya
— 
pengalaman tentang gairah danpencapaian kebenaran. Kepada orang-orang yang tidak puas terhadap penguasa, merekamenawarkan daya tarik sebuah gerakan oposisi yang kuat, tersebar luas, dan terorganisir denganbaik, yang tampaknya mampu menawarkan kemungkinan untuk menggulingkan penguasa yang ada,dan membangun sebuah tatanan masyarakat baru yang adil, dipimpin oleh Imam
– 
pewaris nabi yangdipilih oleh Tuhan dan satu-satunya pemimpin yang paling tepat untuk seluruh manusia.Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa pada masa sepeninggal al-Mustansir (1035-1094M),gerakan Ismailiyah mengalami perpecahan serius dengan adanya dua kelompok yang berada dibelakang kedua putra Al-Mustansir yakni Nizar dan Al-Musta'li. Kelompok Nizar cendrung ekstremdan aktif, basis gerakannya di Suriah dan Persia. Kelompok Nizar inilah yang menjadi cikal bakaldari kelompok Hasyasyin yang menentang kepemimpinan Fatimiyyah, bahkan Nizar memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang syah dengan gelar Al-Musthafa li Din Allah (AjidThahir, 2004: 121-122). Kelompok Nizariyah dapat ditumpas kekuatannya oleh Khalifah Al-
 
2
Musta‘li. Sedangkan Kelompok Al
-
Musta‘li lebih moderat, mereka adalah leluhur dari kelom
pok spiritual Ismailiyah Bohra di Bombay India (Bosworth, 1993: 73).
Sejarah Assassins
 Assassins atau hasyasyin, begitulah sebutannya. Kata inilah yang kemudian populer saatterjadinya perang Salib, dan di Barat kata ini dibawa oleh Marco Polo, serta dipopulerkan olehEdward Burman (1987) dan Bernard Lewis. Dalam sejarahnya, hasyasyin merupakan satu kelompok sempalan dari sekte Syiah Ismailiyyah. Hitti dalam bukunya tidak menyebutkan kata assassins, tetapihasyasyin. Gerakan ini merupakan gerakan sempalan dari ajaran Ismailiyyah yang berkembang padadinasti Fathimiyyah, Mesir. Hassan Sabbah (w. 1124) adalah pendirinya dan para anggota hasyasyin
menyebut gerakan mereka sebagai da‘wah jadidah (ajaran baru). Menurut Hitti, Hassan Sabbah
mengaku sebagai keturunan raja-raja Himyar di Arab Selatan. Menurutnya motif gerakan ini murnimemuaskan ambisi pribadi, dan dari sisi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam (Philip K. Hitti,2010: 565). Hassan Sabbah dilahirkan di kota Qumm, salah satu pusat perkampungan Arab di Persiadan benteng orang-
orang Syi‘ah Itsna Asyariyah. Ayahnya, seorang pengikut Syiah Itsna Asyariyah,
datang dari Kufah, Iraq, dan dikatakan sebagai orang asli Yaman. Tanggal kelahiran Hasan tidak ketahui, namun barangkali sekitar pertengahan abad XI. Ketika dia masih kecil, ayahnya pindah keRayy
– 
kota modern di dekat Tehran, di sana Hasan mendapatkan pendidikan agamanya. Rayymerupakan pusat aktivitas para dai semenjak abad IX dan tak lama kemudian Hasan mulaiterpengaruh oleh mereka (Philip K. Hitti, 2010: 565).Alamut merupakan basis pertahanan dari hasyasyin. Benteng ini dibangun di atas punggung bukitdi puncak sebuah gunung batu yang tinggi pada jantung pegunungan Elburz, serta mempunyaisebuah lembah yang tertutup dan kuat, yang panjangnya sekitar 30 mil, dan luasnya 3 mil. Tinggigunung tersebut sekitar 6000 kaki di atas permukaan laut, dan hanya bisa dicapai melalui sebuahjalan sempit, curam dan berliku. Untuk mendekati batu tersebut orang harus melalui jurang sempit disungai Alamut, yang terletak diantara jurang tegak lurus dan kadang menggantung.Istana tersebut dikatakan telah dibangun oleh salah seorang raja Daylam. Ketika dia sedang keluaruntuk berburu dia kehilangan burung Elang piarannya yang ternyata hinggap di gunung batutersebut. Raja melihat nilai strategis posisi gunung batu tersebut dan saat itu pula dia membangunsebuah istana di atasnya. Dia memberi nama istana tersebut Aluh Amut yang dalam bahasa orang-orang Daylam berarti ajaran burung Elang.Alamut, sebagai benteng pertahanan yang dimiliki oleh hasyasyin dipandang mempunyai perananpenting dalam melakukan serangan-serangan mendadak ke berbagai arah yang mengejutkan benteng-benteng pertahanan lawan. Dalam berbagai upayanya untuk mencapai tujuan, mereka menggunakanpisau-pisau belati yang indah, yang menjadikan pembunuhan sebagai seni. Organisasi rahasiamereka, yang didasarkan atas ajaran Ismailiyyah, mengembangkan agnostisisme yang bertujuanuntuk mengantisipasi anggota baru dari kekangan ajaran, mengajari mereka konsep keberlebihanpara nabi dan menganjurkan mereka agar tidak mempercayai apa pun serta bersikap berani untuk menghadapi apa pun. Di bawah mahaguru ada tingkatan guru senior yang masing-masingbertanggung jawab atas setiap daerahnya. Di bawahnya, ada dai-dai biasa, sedangkan tingkatan yang
paling rendah adalah para fida‘i yang selalu siap sedia melaksanakan setiap perintah sang Mahaguru
(syekh, the elder, orang tua) (Philip K. Hitti, 2010: 565).
 
3
Hasyasyin juga cukup dikenal di dunia Barat. Persentuhannya dengan Barat, menurut Lewis,dimulai ketika belati mereka tertancap pada Conrad of Montferrat, raja kerajaan Latin Yerusalem.Pembunuhan tersebut, menurut Lewis, menimbulkan kesan yang mendalam pada para pasukanperang salib, dan mayoritas kronikus perang salib III mempunyai pengungkapan sesuatu mengenaisekte yang menakutkan tersebut, dan keyakinan serta cara-caranya yang aneh, serta pemimpin
mereka yang mengagumkan. ―Saya
 
mengaitkan beberapa hal pada si syekh (the elder) ini‖ kata
penulis kronik Jerman, Ar
nold of Lubbeck, ―yang tampak menggelikan namun dapat saya buktikan
dengan bukti-bukti serta saksi-saksi yang terpercaya. Mahaguru ini mempunyai ilmu sihir yang dapatmembikin kagum banyak orang di negerinya, yang membuat mereka tidak menyembah dan tidak pula percaya kecuali kepadanya. Dia memikat mereka juga dengan cara yang aneh, seperti memberiharapan-harapan, janji-janji kesenangan dan kebahagiaan abadi, yang membuat mereka lebihmemilih mati untuk mendapatkannya. Bahkan banyak diantara mereka yang akan terjun dari dindingyang tinggi yang akan menghancurkan kepala mereka dan membuat mereka mati dengan cara yangamat mengerikan, hanya dengan aba-aba anggukan kepala atau perintahnya. Ketika beberapadiantara mereka lebih memilih mati dengan cara ini
— 
membunuh seseorang dengan keahliannya dankemudian mereka akan membunuh diri mereka hingga sekarat dalam keberkatan
— 
, sang mahagurumemberikan mereka belati yang disiapkan secara khusus untuk prosesi ini, dan kemudian diamemberi semacam obat yang dapat membuat mereka mabuk serta lupa, kemudian merekaditunjukkan, dengan magisnya, pada mimpi-mimpi yang fantastis, penuh kesenangan, atau semacamitu. Tidak hanya berhenti di situ saja, sang mahaguru menjanjikan bahwa mereka akan menikmatikebahagiaan seperti itu selamanya sebagai balasan perbuatan yang telah mereka lakukan
‖ (Bernard
Lewis, 1967: 4).Menurut Lewis, bagi para korbannya, para hasyasyin adalah orang-orang kriminal fanatik yangbergerak dalam konspirasi pembunuhan melawan agama dan masyarakat. Bagi para pengikutIsmailiyah, mereka adalah korps elit yang berperang melawan musuh-musuh imam; denganmenjatuhkan para penindas dan perebut kekuasaan, mereka memberikan bukti nyata akankepercayaan dan loyalitas mereka, serta segera memperoleh kebahagiaan yang abadi. Orang-orangIsmailiyah sendiri menggunakan istilah fidai
— 
yang secara kasar berarti pengikut setia
— 
untuk menyebut pasukan pembunuh mereka, dan sebuah syair Ismailiyah yang indah memuji keberaniandan kesetiaan total mereka. Dalam sebuah kronik lokal Ismailiyah di Alamut, yang ceritakan olehRashid ad-Din dan Kashani, ada sebuah daftar pujian untuk pembunuhan-pembunuhan, yang jugamenyertakan nama-nama korban beserta para pembunuhnya ((Bernard Lewis, 1967: 48).Dari segi bentuk, orang-orang Ismailiyah merupakan sebuah masyarakat rahasia, yangmempunyai sistem sumpah, inisiasi serta tingkatan-tingkatan pangkat dan pengetahuan. Rahasia-rahasia mereka terjaga dengan baik, dan informasi mengenai mereka terpisah-pisah sertamembingungkan. Orang-orang ortodoks yang suka berpolemik melukiskan orang-orang Ismailiyahsebagai gerombolan orang-orang nihilis palsu yang menipu korban-korbannya melalui tahapan-tahapan penistaan yang terus menerus, dan pada akhirnya memperlihatkan hal-hal yang amat buruk kepada orang-orang yang tidak mempercayai mereka.Para penulis Ismailiyah melihat sekte ini sebagai penjaga misteri yang suci yang hanya bisadicapai setelah melalui rangkaian panjang persiapan serta proses. Istilah yang umum dipergunakanuntuk organi
sasi sekte ini adalah da‘wa
 
(dalam bahasa Persianya Da‘vat), yang berarti missi atau
ajaran; agen-agennya adalah para dai atau missionaris
— 
secara literal berarti penyeru ataupengajak 
— 
yang merupakan suatu jabatan kependetaan melalui pengangkatan. Dalam laporan-

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
DarnisEl-haraqi liked this
Reza Putran Wara liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->