Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahasa Dan Perwakilan

Bahasa Dan Perwakilan

Ratings: (0)|Views: 66 |Likes:
Published by aadipurwawidjana
Ini draf awal untuk bahasan yang seharusnya mungkin lebih komprehensif dan rinci.
Ini draf awal untuk bahasan yang seharusnya mungkin lebih komprehensif dan rinci.

More info:

Published by: aadipurwawidjana on Apr 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2012

pdf

text

original

 
Bahasa dan PerwakilanAri AdipurwawidjanaKetika para anggota delegasi berbagai organisasi kepemudaan 82 tahun yang lalumenyatakan: “Kami, poetera dan poeteri Indonesia,” siapakah yang mereka maksuddengan “kami?” Apakah yang dimaksud dengan “kami” itu hanya peserta KongresPemuda II yang hadir di gedung Oost-Java Bioscoop pada tanggal 28 Oktober 1928?Ataukah “kami” itu berarti berbagai organisasi yang diwakili oleh para anggota delegasi?Bahkan, lebih luas lagi, sudah menjadi pemahaman umum (tanpa mempermasalahkan initepat atau justru salah kaprah) bahwa kata “kami” dalam redaksi Sumpah Pemudamewakili setiap insan yang menghuni wilayah yang kini disebut Republik Indonesia, baik yang hidup pada tahun 1928, sebelumnya, ataupun sesudahnya. Satu kata ternyata dapatmelampaui lokasi geografis dan momen historis tempat ia secara spesifik diujarkan.
 Pars
dapat bersuara
 pro toto.
Dalam esainyanya yang berjudul “Representation” W. J. T. Mitchell (1995) memetakan berbagai berbagai masalah yang terkait dengan perihal representasi, yang dinyatakannyasebagai “intuisi yang paling awam dan paling naif tentang kesusastraan.” Pemahaman bahwa karya sastra sebagai cerminan kehidupan ini sudah dianggap lumrah di berbagailapisan masyarakat. Merujuk kepada dua filsuf Yunani kuno yang dapat dikatakan paling berpengaruh terhadap pola pikir awam dewasa ini, Mitchell menjelaskan bahwarepresentasi merupakan kegiatan dasar yang mendefinisikan manusia sebagai
homo symbolicum.
Dalam pemahaman ini bahasa dipandang sebagai sistem simbol, yangmewakili kenyataan. Kenyataan itu sendiri, menurut Plato, merupakan pengejawantahandari ide-ide yang ada dalam pikiran Tuhan, manifestasi material dari unsur-unsur  penghuni dunia ideal.Beranjak dari ini, kita pun dapat memandang bahwa representasi adalah fungsi utama bahasa secara umum. Pemahaman dunia akademis mulai berbeda dari pemahaman awam.Kita baca saja
Cours de linguistique général 
(1916),
 
yang merupakan hasil kompilasiCharles Bally dan Albert Sechehaye atas catatan kuliah
 
Ferdinand de Saussure.Cendikiawan Swis yang dipandang sebagai bapak linguistik itu memperkenalkan konseptentang penanda dan petanda sebagai anasir dasar dalam proses kebahasaan. Namun,lebih dini lagi, kita dapat membaca John Locke dalam “An Essay on HumanUnderstanding” (1690) ketika filsuf berkebangsaan Inggris ini memaparkan bahwa setiapkata dalam sebuah bahasa mewakili sebuah konsep dalam pikiran manusia, bukan dalam pikiran Tuhan.Walaupun gagasan Platonik-idealis yang teosentris dan konsep ilmiah yang humanis tadi bertolak belakang dalam hal apa yang diwakili oleh bahasa, keduanya sepakat bahwa perwakilan merupakan elemen integral fungsi kebahasaan. Selain itu, keduanya punsama-sama menjelaskan bahwa proses representasi yang terjadi melalui bahasa selalumelakukan generalisasi. Artinya, orang, benda, kegiatan, dan keadaan yang khas menjadi bersifat umum ketika diwakili oleh bahasa. Dengan kata lain, ketika seseorangmenggunakan satu kata tertentu dalam sebuah bahasa, ia senantiasa berpretensi mewakilisegala sesuatu yang dianggapnya tercakup oleh kata tersebut.Selanjutnya, Mitchell juga menyatakan bahwa dalam kurun waktu tiga abad terakhir representasi memiliki muatan politis yang sangat mendasar ketika demokrasi menjadi
 
sistem utama bagi manusia dalam bermasyarakat dan bernegara. Representasi menjadi“sokoguru teori-teori perwakilan tentang kedaulatan, kewenangan legislatif, danhubungan individu dengan negara.” Dengan demikian, menurut Mitchell, kini teori-teoritentang representasi mau tidak mau menelaah “relasi antara representasi estetik atausemiotik…dan representasi politik.” Yang satu terkait dengan simbol yang berdirisebagai wakil hal lain, dan yang lain berkenaan dengan manusia yang berbicara dan bertindak atas nama orang lain.Hal ini menimbulkan masalah legitimasi hal atau pihak yang dijadikan wakil.Sebagaimana halnya dalam kelaziman penggunaan surat kuasa, pihak yang menjadi wakilotomatis menerima pula kuasa dari pihak yang diwakilinya. Dalam esai monumentalnya“Can the Subaltern Speak?” (1988) Gayatri Spivak mempermasalahkan hal ini denganmenunjukkan ketidakterpisahan antara representasi estetik dengan representasi politik.Spivak merujuk kepada esai Marx “Der 18te Brumaire des Louis Napoleon”
 
(1852)tentang masa-masa kritis setelah terjadinya Revolusi Perancis. Marx mempermasalahkanlegitimasi anggota kelas menengah dalam mewakili suara kelas buruh di majlis perwakilan nasional yang ada saat itu. Spivak menunjukkan bahwa Marx menggunakandua kata yang berbeda yang sama-sama dapat diterjemahkan sebagai “mewakili.” Yang pertama adalah
vertreten,
yang artinya bertindak sebagai penerima kuasa. Yang keduaadalah
darstellen
, yang artinya menggambarkan. Makna yang pertama lazim digunakandalam kaitannya dengan representasi politik sedangkan makna yang kedua lumrahmenjadi istilah dalam membahas representasi estetik terutama dalam kesusastraan danseni rupa.Tidak jarang pula dan tidak pula janggal bila representasi baik dalam makna
vertreten
maupun
derstellen
padu dan saling menggantikan. Baik teks sastra maupun teks legal- politis (seperti sebuah rancangan UU) akan pada waktu yang sama berpretensi mewakilidan mendapat kuasa dari pihak lain dan juga menggambarkan sebuah wawasan tertentutentang dunia. Terkait dengan problematika inilah tampaknya Benedict Anderson dalam bukunya
 Imagined Communities
yang sohor itu menjelaskan betapa novel yang beredar di abad ke-20 di Hindia Belanda turut membangun wawasan khalayak pembaca tentang bangsa Indonesia. Jutaan insan yang tersebar di ribuan pulau harus dapat dibayangkansebagai satu kesatuan; dan, representasi menjadi cara yang efektif dan efisien agar tujuantersebut tercapai. Anderson memberi contoh betapa pemuda yang tidak bernama dalamcerita pendek 
 
“Semarang Hitam”
 
karya Marco Kartodikromo menjadi titik fokuskisahnya dengan cara menyandingkan sosok 
tunggal 
tersebut dalam sebuah “dunia yang
 jamak 
.” Selain itu, tokoh tersebut diklaim sebagai pemuda
kita.
Dengan demikian, sang pemuda menjadi wakil bagi diri semua pembacanya. Tubuh satu orang menjadi kongruendengan tubuh setiap dan semua orang.Dalam orasinya di hadapan parlemen Inggris di tahun 1588 ketika ia naik tahta, RatuElizabeth I menjelaskan bahwa tubuhnya memiliki dua peran, yaitu sebagai tubuh alamiyang bersifat pribadi dan tubuh politik. Dalam sebuah monarki, sesuai dengan wawasanzaman pertengahan, otoritas sosial-politik mengejawantah dalam tubuh raja. Dalam pemahaman modern tentang negara-bangsa, negara bersemayam dalam tubuh setiapindividu yang menjadi warga negara tersebut. Namun, pada prakteknya, kedaulatan setiapindividu tersebut tetap saja diwakil
kan
kepada dan diwakil
i
oleh satu tubuh—baik itutubuh seorang politikus ataupun tubuh protagonis sebuah cerpen.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->