betapa pun usaha pencegahan dilakukan, tidak seorang pun dapat belajar bahasa tanpamelakukan kekhilafan (kesalahan) berbahasa.Menurut temuan kajian dalam bidang psikologi kognitif, setiap anak yang sedangmemperoleh dan belajar bahasa kedua (B2) selalu membangun bahasa melalui proseskreativitas. Jadi, kekhilafan adalah hasil atau implikasi dari kreativitas, bukan suatukesalahan berbahasa. Kekhilafan adalah suatu hal yang wajar dan selalu dialami olehanak (siswa) dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua. Hal itumerupakan implikasi logis dari proses pembentukan kreatif siswa (anak). Hendricksondalam Nurhadi (1990) menyimpulkan bahwa kekhilafan berbahasa bukanlah sesuatu yangsemata-mata harus dihindari, melainkan sesuatu yang perlu dipelajari. Dengan mempelajarikekhilafan minimal ada 3 (tiga) informasi yang akan diperoleh guru (pengajar) bahasa,yakni:
a.
kekhilafan berguna untuk umpan balik (feedback), yakni tentang seberapa jauh jarak yang harus ditempuh oleh anak untuk sampai kepada tujuan serta hal apa (materi)yang masih harus dipelajari oleh anak (siswa);
b.
kekhilafan berguna sebagai data/fakta empiris untuk peneliti atau penelitiantentang bagaimana seseorang memperoleh dan mempelajari bahasa;
c.
kekhilafan berguna sebagai masukan (input), bahwa kekhilafan adalah hal yangtidak terhindarkan dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa, dan merupakansalah satu strategi yang digunakan oleh anak untuk pemerolehan bahasanya(Corder; Richard, 1975).Kesalahan berbahasa dipandang sebagai bagian dari proses belajar bahasa. Ini berarti bahwa kesalahan berbahasa adalah bagian yang integral dari pemerolehan dan pengajaran bahasa. Sekarang “Apa yang dimaksud kesalahan berbahasa Indonesia?”Apabila kesalahan berbahasa itu dihubungkan dengan pernyataan atau semboyan“Pergunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar,” ada 2 (dua) parameter atautolok ukur kesalahan dalam berbahasa Indonesia.
Pertama, pergunakanlah bahasa Indonesia yang baik. Ini berarti bahwa
bahasa Indonesia yang baik adalah penggunaan bahasa sesuai dengan faktor-faktor penentu dalam komunikasi. Inilah faktor-faktor penentu dalam komunikasi, antara lain:
a.
siapa yang berbahasa dengan siapa; b.untuk tujuan apa;