Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KOMPAS Cetak Kebebasan Pers, Telematika, dan Nasionalisme

KOMPAS Cetak Kebebasan Pers, Telematika, dan Nasionalisme

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,797|Likes:
Published by Eddy Satriya
Cerita tentang kemajuan telematika dan kemajuan dunia pers yang terkadang melupakan kepentingan orang banyak. Baik oleh hal yang disengaja atau karena latah ikut-ikutan memanfaatkan teknologi tanpa mengerti apa yang terbaik untuk negeri yang sedang sekarat
Cerita tentang kemajuan telematika dan kemajuan dunia pers yang terkadang melupakan kepentingan orang banyak. Baik oleh hal yang disengaja atau karena latah ikut-ikutan memanfaatkan teknologi tanpa mengerti apa yang terbaik untuk negeri yang sedang sekarat

More info:

Published by: Eddy Satriya on Sep 01, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

 
KOMPAS Cetak : Kebebasan Pers, Telematika, dan Nasionalismehttp://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/01/00571878/kebebasan.per...1 of 29/1/2008 9:35 AM
HomeBerita UtamaBisnis & KeuanganHumanioraInternationalOpiniPolitik & HukumSosokNama & PeristiwaNusantaraMetropolitanOlahragaSumatera BagianSelatanSumatera BagianUtaraTeropongFoto LepasIndex Lalu /Home/Teropong/
Kebebasan Pers, Telematika, danNasionalisme
Senin, 1 September 2008 | 00:57 WIB
Menahan geram, saya terpaksa mengucapkan kata-kata yang tergolong kurang sopansebagai jawaban getir atas pertanyaan seorang wartawan tentang penayangan rekamanpercakapan yang diduga berasal dari kokpit pesawat Adam Air yang jatuh di Majene, awaltahun 2007.Betapa tidak, rekaman teknis pilot dan kopilot yang semestinya digunakan kalangansangat terbatas telah diberitakan sedemikian rupa di layar kaca tanpa menghiraukandampaknya terhadap keluarga para penumpang dan awak pesawat. Ditambah denganteknik editing dan kombinasi visual kepanikan di kokpit pesawat, tak pelak lagi tayanganitu semakin eyes catching, membuai penonton melupakan aspek kemanusiaan bagikeluarga korban. Apalagi, terhadap kepentingan umum yang lebih luas, seperti dampakekonomi sanksi larangan terbang oleh Uni Eropa terhadap penerbangan nasional.Seiring proses demokratisasi yang berjalan cepat, saat ini pers nasional memang sedangmenikmati surga kebebasannya. Namun, selayaknya kebebasan itu juga disesuaikandengan kepatutan dan hukum yang berlaku.Penyebarluasan isi ”black box” Adam Air tersebut menegaskan tingkat profesionalismepers kita. Yang cukup mengherankan pula kenyataan bahwa hingga saat ini belumterdengar langkah konkret dari pihak kepolisian, Departemen Perhubungan, hingga KomisiPenyiaran Indonesia terhadap insiden ini.
Berlandaskan etika
Pemberitaan yang mengumbar kesedihan berlebihan serta berita tragis, seperti kasusAdam Air, bukan hanya sekali ini terjadi. Sudah sering. Dahulu ketika musibah tsunamimelanda Aceh, jelas kita menyaksikan reporter dari sebuah stasiun teve berhasil”menggiring” seorang korban yang kehilangan anak gadis dan belasan anggota keluargalainnya untuk menyanyikan lagu kesayangan sang anak. Belum puas, reporter tersebutmasih membujuk sumber berita itu untuk menyanyikan satu bait lagu lagi yang tentu sajatak mampu dilanjutkan oleh sang ayah.Di tengah kebebasan pers yang harus dijunjung tinggi, tidak ayal lagi rentetan kupasankejadian musibah pesawat di Indonesia ini tentu saja patut diduga berkorelasi dengandijatuhkannya berbagai travel ban oleh beberapa negara, bahkan hingga larangan terbangmaskapai penerbangan nasional—tanpa kecuali—ke Benua Eropa.Menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana seharusnya media massa dan insanpers menyikapi suatu bahan pemberitaan? Apakah memang sudah tidak ada lagipertimbangan yang berlandaskan etika, kepatutan, hingga hukum tentang suatukebenaran isi berita sebelum disebarluaskan?
Alasan pembenaran
Kemajuan dunia telematika atau sekarang dikenal juga dengan teknologi komunikasiinformasi) memang menjanjikan berbagai kemudahan dan ketersediaan aplikasi yangsangat canggih. Saking canggihnya, terkadang bisa menggiring orang untuk lupa diri akanwaktu, tanggung jawab, hingga kepatutan.Kemudahan berselancar di internet serta tersedianya berbagai search engine dan portalberita media massa modern dunia di layar komputer, selain mempermudah tugas parawartawan, juga meningkatkan persaingan dalam bisnis berita ini.Namun, ketatnya tingkat persaingan dan kemampuan berinovasi yang berkaitan eratdengan rating dan jumlah iklan, tentu saja tidak pantas menjadi alasan pembenaran untukmenyebarluaskan berita yang kurang pada tempatnya.Saya mengalami kejadian cukup menegangkan pada Februari 2001 dalam penerbanganmalam Jakarta-Singapura menggunakan Singapore Airlines (SQ). Meski tidak banyakpenumpang di baris belakang yang melihat langsung percikan api di mesin sebelah kiri,proses berlangsungnya kebakaran yang dimulai ledakan itu jelas sangat menakutkan.
BERITA TERPOPULER
Indonesia Masuk "Perangkap Pangan"PKS Siapkan PemimpinBudaya "Cuci Tangan"Memetakan Kekuatan Partai Politik 2009Awal Ramadhan Senin, 1 September 2008Berhimpit di Ruang SempitGardu Rusak, Listrik di Wilayah Jakarta PadamPanser Bukan untuk ParadePolitik dan Demokrasi EkonomiREDAKSI YTHPembekuan DiperpanjangOrganisasi Advokat Tak Terima Usul PembekuanBayi Cantik Ditemukan di Emper TokoPancasila Masih DibutuhkanPresiden Perlu Berinisiatif 
Senin
, 1 September 2008KOMPAS.comBolaEntertainmentTeknoOtomotifForumCommunityImagesMobileCetakKompasTVSelebTVVideokuTVPasangIklan

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Deka Adinova liked this
Eddy Satriya liked this
Amrina Rosyada liked this
wantho jr. liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->