Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Goosebumps - Pembalasan Kurcaci Ajaib

Goosebumps - Pembalasan Kurcaci Ajaib

Ratings: (0)|Views: 1,298|Likes:
Published by Mas Basuki Basuki
ADA YANG MENGENDAP-ENDAP DI KEBUNKU!
Ayah Joe Burton gemar sekali pada hiasan kebun. Begitu banyak hiasan di kebunnya, sehingga tanaman-tanamannya sendiri tak kelihatan. Terakhir, ia membeli dua patung kurcaci bertampang jelek.

Sejak itulah terjadi hal-hal yang aneh. Setiap malam. Saat semua orang sudah terlelap.
Ada yang mengendap-endap di kebun, mencorat-coret mobil, menyiramkan cat ke dinding, meremukkan buah-buahan. Juga tawa cekikikan dan bisik-bisik parau di tengah kegelapan malam.

Tidak mungkin kedua patung kurcaci itu pelakunya, bukan?
Atau, benarkah setiap malam mereka hidup?
ADA YANG MENGENDAP-ENDAP DI KEBUNKU!
Ayah Joe Burton gemar sekali pada hiasan kebun. Begitu banyak hiasan di kebunnya, sehingga tanaman-tanamannya sendiri tak kelihatan. Terakhir, ia membeli dua patung kurcaci bertampang jelek.

Sejak itulah terjadi hal-hal yang aneh. Setiap malam. Saat semua orang sudah terlelap.
Ada yang mengendap-endap di kebun, mencorat-coret mobil, menyiramkan cat ke dinding, meremukkan buah-buahan. Juga tawa cekikikan dan bisik-bisik parau di tengah kegelapan malam.

Tidak mungkin kedua patung kurcaci itu pelakunya, bukan?
Atau, benarkah setiap malam mereka hidup?

More info:

Published by: Mas Basuki Basuki on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/05/2012

pdf

text

original

 
 Goosebumps - Pembalasan Kurcaci Ajaib
 
R.L. Stine
PDF & ePub by
 
fotoselebriti.net
 
 
1KLAK, klak, klak.Bola pingpong itu melompat-lompat di lantai ruang bawah tanah. "Yes!" seruku ketikamelihat Mindy pontang-panting mengejar bola itu.Udara sore di bulan Juni itu gerahnya minta ampun. Ini hari pertama liburan musimpanas. Dan Joe Burton baru saja melayangkan satu lagi pukulan mematikan.Joe Burton itu aku. Umurku dua belas. Dan bagiku tak ada yang lebih asyik daripadamelancarkan smes tajam yang tak terjangkau oleh kakak perempuanku, dan menonton iakocar-kacir mengejar bola.Jangan salah sangka. Aku bukannya sok jago. Aku cuma mau memperlihatkan kepadaMindy bahwa ia tidak sehebat yang disangkanya.Ibarat kucing dan anjing, aku dan Mindy memang sering bertengkar. Dan kenyataannya,dibanding dengan anggota keluarga yang lain, aku memang berbeda.Mindy, Mom, dan Dad berambut pirang, bertubuh kurus dan jangkung. Sedang akuberambut cokelat, bertubuh agak gemuk dan pendek. Mom bilang itu karena aku belummemasuki masa pertumbuhan yang pesat.Oke, aku memang pendek. Bahkan aku mengalami kesulitan untuk melihat ke seberangnet. Tapi, meski dengan sebelah tangan terikat pun aku tetap bisa mengalahkan Mindy.Aku senang sekali kalau menang. Sebaliknya Mindy marah sekali kalau kalah. Dan iaselalu ingin menang sendiri. Setiap kali aku membuatnya pontang-panting, segera saja iamenuduhku curang."Joe, bolanya tidak boleh ditendang ke seberang net," keluh Mindy -ambil meraih bola kebawah sofa."Jangan ngawur!" seruku. "Semua Juara pingpong juga melakukannya. Itu yang disebutSoccer Slam!"Mindy memutar-mutar bola mata. "Oh, yang benar saja," ia bergumam. "Giliran aku yangserve."Mindy memang aneh. Mungkin ia anak umur empat belas yang paling aneh di seluruhkota.Misalnya saja, di kamarnya Mindy mengatur buku-bukunya menurut abjad-berdasarkannama pengarangnya. Ada-ada saja, kan?
 
Dia membuat kartu untuk setiap buku, yang disusunnya di laci paling atas di mejabelajarnya. Seperti di perpustakaan umum saja.Kalau bisa, ia tak keberatan memangkas bagian atas buku-bukunya supaya semuaberukuran sama.Pokoknya ia serba rapi. Baju-baju di lemarinya disusun sesuai urutan warna pelangi.Pertama merah. Lalu jingga. Terus kuning. Setelah itu hijau, biru, dan ungu.Kalau makan malam, ia menghabiskan makanannya mengelilingi piring, searah jarum jam. Pertama-tama ia makan bubur kentangnya. Kemudian kacang polong. Sesudah itudaging gulung. Kalau sampai ada satu kacang polong nyasar ke bubur kentangnya, iapasti langsung sewot!Aneh. Benar-benar aneh.Aku sama sekali berbeda. Aku sih cool. Tidak serius seperti kakakku. Kalau mau, akubisa lucu sekali. Teman-teman bilang, aku pelawak. Malah semua orang bilang begitu.Kecuali Mindy."Ayo cepat serve, dong!" seruku. "Apa aku harus tunggu sampai tahun depan?!"Mindy bersiap-siap. Setiap kali serve ia berdiri di tempat yang persis sama. Dengan gayapersis sama. Sampai-sampai jejak kakinya membekas di karpet."Sepuluh-delapan, dan aku serve," kata Mindy. Ia selalu menyebutkan skor sebelummelakukan servis. Lalu tangannya terayun ke belakang.Kutempelkan betku ke mulut seperti mikrofon. "Ia mengambil ancang-ancang," akuberkomentar. "Penonton terdiam. Suasana menjadi tegang.""Joe, jangan macam-macam," hardiknya. "Aku tak bisa konsentrasi."Aku paling suka berlagak jadi komentator olah raga. Sebaliknya Mindy paling jengkelmelihatku begitu.-Tangannya kembali terayun ke belakang. Ia melemparkan bola, dan..."Awas! Labah-labah!" teriakku. "Di pundakmu!""Ihhhhh!" Mindy langsung melepaskan betnya dan sibuk menepuk-nepuk pundak. Bola jatuh ke bidang permainannya sendiri."Hah, ketipu!" seruku. "Tambah satu angka untukku. "

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->