Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pukat Hancurkan Nelayan Tradisional

Pukat Hancurkan Nelayan Tradisional

Ratings: (0)|Views: 2,901|Likes:
Published by achmad_nurdin

More info:

Published by: achmad_nurdin on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/11/2012

pdf

text

original

 
Pukat Hancurkan Nelayan Tradisional
Pantai Cermin, (Analisa)
Merajalelanya pukat-pukat besar seperti, trawl, apung dan gandeng yang beroperasidi wilayah tangkapan nelayan tradisional khususnya perairan pinggiran Selat Malakamenunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap aksi liar para ‘mafia’."Nelayan tradisional adalah korban utama dari merajalelanya pukat-pukat besartersebut. Bagi nelayan tradisional, pukat-pukat besar merupakan ‘tsunami’mengerikan yang telah memorak-porandakan segala sistem dan lini kehidupanmereka" ungkap Direktur Eksekutif Institut Pembaharuan Desa (IPD) Syamsul Bahrikepada Analisa, Jumat (12/2) menyikapi keluhan nelayan tradisional terhadap masihmaraknya pukat-pukat besar memasuki wilayah tangkap mereka.Kurangnya komitmen pemerintah dan penegakkan hukum yang tidak tegas terhadappemilik pukat-pukat besar yang melanggar ketentuan menyebabkan mereka tidakpeduli terhadap nasib nelayan-nelayan tradisional dan membentuk semacam ‘imej’bahwa telah terjadi ‘transaksi’ antara penegak hukum dan pemerintah dengan pemilikpukat."Wajar juga kalau imej ini muncul. Sebab, aturan larangan sudah ada, tapikenyataannya pukat-pukat besar dan canggih tersebut masih merajalela beroperasi"ujarnya.Menurutnya, aksi yang sudah menjadi ‘rahasia’ umum ini secara sistemik telahmenghancurkan segala lini kehidupan nelayan tradisional. Selain pendapatan yang jauh berkurang, berdampak pula terhadap kehidupan sosial mereka. Ada semacamindikasi negatif seakan menjadi ‘label’ bagi masyarakat pesisir pantai bahwa merekakomunitas masyarakat yang identik dengan kemiskinan dan kebodohan.Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan IPD, persentase cukup tinggiditemukan masyarakat pesisir tidak mengecap pendidikan sehingga sangat sinerjisdengan imej yang melekat pada mereka.Kenyataannya, tambah Syamsul, salah satu faktor yang melatarbelakangi faktatersebut disebabkan kemiskinan terkait juga dengan minimnya pendapatan nelayanakibat semakin berkurangnya hasil tangkapan dari melaut.Mata rantai kepelikan yang dihadapai nelayan tradisional, ternyata terkait puladengan merajalelanya pukat-pukat besar yang masuk ke wilayah tangkapan merekayang tidak saja merebut hewan lautnya, tapi juga merusak komunitas terumbukarang tempat aneka ragam hewan laut berkembang biak."Semuanya kembali kepada pemerintah dan penegak hukum agar tegas
 
mengeksekusi peraturan yang berlaku" ujar Syamsul yang juga Bakal Calon WakilBupati Sergai dari jalur perseorangan.Tak Bisa DibendungMabin, warga Desa Pantai Cermin Kanan, salah seorang nelayan tradisional yangbernaung di bawah kelompok nelayan "Usaha Karya" menilai, merajalelanya pukat-pukat besar di wilayah tangkap nelayan tradisional khususnya di perairan PantaiCermin sampai saat ini tak bisa dibendung.Dari hari ke hari, pukat-pukat yang merambah ikan di perairan Pantai Cermin terusbertambah. Bahkan dari daerah lain seperti, Tanjungbalai, Belawan, Asahansemuanya masuk dan merusak lingkungan laut di tepian yang turut membunuhbenih-benih ikan kecil."Cemana la Pak, alat tangkap kita apa adanya. Sedangkan pukat-pukat itu sudahpakai alat canggih yang bisa tahu daerah mana yang banyak ikannya" ujarnyadengan nada dan raut wajah seakan putus asa.
(ak)
www.analisadaily.comdocs.google.com
Ekspor Tuna Merosot Gara-gara Pukat Harimau
Jum'at, 12 Februari 2010 | 14:15 WIB
TEMPO
Interaktif 
,
Cilacap
- Pencurian ikan dan penggunaan pukat harimau diduga menjadi penyebabutama penurunan hasil tangkapan ikan tuna nelayan Cilacap. Akibatnya, ekspor produk laut tersebut keJepang dan sejumlah negara Eropa turun hingga 50 persen.“Kami semakin kesulitan mendapatkan tangkapan ikan tuna,” kata salah satu pengusaha kapalpenangkap ikan tuna di Cilacap, Atai Hartono, Jumat (12/2).Atai mengatakan sulitnya mencari ikan tuna membuat pemilik kapal mengalihkan tangkapannya di daerahsekitar Sumatera. Pengalihan tersebut otomatis membuat semakin sedikitnya tangkapan karena waktuyang ditempuh semakin panjang.Ia menambahkan, dalam setahun ia hanya bisa mengekspor sekitar 75 ton ikan tuna. Padahal,sebelumnya ia bisa mengekspor 150-200 ton per tahun.Menurut Atai, ikan tuna memang makin sulit diperoleh karena berbagi macam faktor, di antaranyabanyaknya pencurian ikan di wilayah Indonesia yang dilakukan nelayan asing. Selain itu, nelayan pantura juga banyak yang menggunakan pukat cincin di Samudera Indonesia. “Penggunaan pukat cincinmembuat segala jenis ikan tertangkap,” keluhnya.Ketua Asosiasi Pengusaha Kapal Cilacap Sanpo mengatakan penurunan tangkapan sudah berlangsungsejak setahun terakhir. “Ekspor turun hingga 50 persen. Biasanya saya bisa mengekspor tuna hingga 3-4ton per tahun, sekarang tinggal 1,5 ton per tahun,” katanya.Padahal, kata Sanpo, di Cilacap setidaknya ada 100 pengusaha kapal dan masing-masing pengusaha
 
mampu mendapatkan tangkapan ikan dari 1 ton hingga 80 ton per tahun. “Semua pengusaha memangmengeluhkan turunnya hasil tangkapan tuna ini,” katanya.
ada beberapa faktor turunnya ekspor tuna di cilacap yakni, ada konspirasi aparat dengan nelayan asing, kapal lautAL kita belum mampu mengejar kapal asing karena kecanggihannya, kapal pukat harimau hanya dimiliki oleh asingsehingga daya tangkap maupun jangkauan luas dibandingkan dengan nelayan kita yang masih manual.saran saya, perlu ada koordinasi kembali dengan AL Pusat maupun Kapolri yang menanggani pengamanan laut kita.mengingat hal itu indonesia kaya raya dengan hasil perikanan di laut
Kapal Pukat Harimau Berkeliaran di Bombana
Wahyuch
| 21 Januari 2010 | 20:58
382Belum ada nilai.
Ini ada laporan dari seorang teman tentang aktivitas penggunaan Pukat Harimau dalam penangkapan ikan, yang jelas-jelas dilarang penggunaannya. Moga-moga info ini bisa jadi masukan bagi pemerhati lingkungan.
Kapal Pukat Harimau Berkeliaran di Bombana (Sumber : Mukhtar, A.Pi, M.Si Ka. Satker PSDKP Kendari)
Pukat Hariamau (Trawl) berkeliaran di perairan Selat Tiworo khususnya di Perairan Kabupaten Bombana.Berdasarkan pemantauan lapangan yang kami lakukan baru-baru ini sekitar + 100 unit kapal berukuran dibawah 5GT berlabuh di sepanjang pantai di kampung Baru Kecamatan Rumbia Tenggah Kabupaten Bombana SulawesiTenggara, Jumlah ini akan bertambah karena disepanjang pesisir Kasipute banyak nelayan menggunakannya juga.Pengunaan Pukat Hariamau (Trawl) sudah jelas dilarang dan nyata-nyata tercantum dalam penjelasan pasal 9Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Undang-Undang No, 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan.Memang sebelumnya pelarangan penggunaan pukat harimau/trawl oleh Keppres 39 Tahun 1980 TentangPenghapusan Jaring Trawl yang penafsiran beberapa aparat berbeda, Di Kendari penanganan kasus pukatharimau/trawl sudah ada keputusan pengadilan, sedangkan kasus yang sama 7 kapal yang ditangkap olehPengawas Perikanan yang diserahkan ke Polres Bombana tiga tahun yang lalu sampai saat ini belum jelaspangkalnya. Menurut informasi dari penyidik Polres Bombana bahwa berkas selalu dikembalikan oleh jaksa.Pihak Satker PSDKP Kendari bersama jajaran pengawas perikanan yang berada di Dinas Kelautan dan PerikananPropinsi, dan kabupaten/kota akan melakukan operasi terhadap kapal trawl ini di Kabupaten Bombana, begitu jugapihak Pangkalan TNI Angkatan Laut Kendari sudah melakukan pemantauan keberadaan kapal trawl ini yangdiungkapkan anggota TNI Angkatan Laut Kendari. Tapi sebelumnya akan melakukan sosialisasi denganmenyebarkan poster sadar hukum yang berisi alat tangkap terlarang seperti Bom/Handak, Pukat Harimau/Trawl, Biusdan kompresor kepada masyarakat nelayan.Sudah menjadi kebiasaan, setelah terjadi di lapangan baru akan diadakan pemantauan, pengawasan, danpenangkapan terhadap pelanggaran2 yang terjadi di laut. Ibarat kata pepatah, itu lebih baik dilakukan daripada tidaksama sekali.wajar, panjang garis pantai kita saja terpanjang nomer dua di dunia, sedang armada pengawasan perikanan belumsepenuhnya menjangkau sepanjang pantai tersebut. namun itu bukan halangan untuk berpatroli mengamankan SDLdari ancaman pencurian dan pengrusakan.Saya hnya berharap mengenai kasus di atas, klo pelakunya nelayan kita berarti kita perlu meningkatkan lagi

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Zulkifly Fadli liked this
Saragih Raniwati liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->