• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentsGo Back
Download
 
 
Arogansi & Skeptisme
Berbagai Pihak Dalam Pembangunan Gedung DPR Baru
Videl Farinsi Oemry | 25210056
AR5232  HUKUM & ETIKA PROFESI
Dr. Ir. Woerjantari K. Soedarsono, MT.
 
 2
 Arogansi& SkeptismeBerbagai Pihak Dalam Pembangunan Gedung DPR Baru
Oleh : Videl Farinsi OemryCaturwulan terakhir pada tahun 2010 di Indonesia, khususnya pada kota-kota besar diIndonesia terbentuk sebuah opini baru yang tercipta di masyarakat luas dalammerespon isu arsitektural. Fenomena yang jarang sekali terjadi di negara yang memilikikapasitas rendah dalam menghargai profesi ini secara profesional, namun disadarisecara akademisi. Tepatnya pada September 2010, Isu mengenai pembangunan gedungDPR yang baru, menjadi isu yang diulang-ulang dikabarkan oleh media massa, danmemancing emosi publik dalam menyikapi kondisi yang ada. Bukanlah karenabangunan tersebut memiliki penampilan yang buruk, namun bangunan tersebut memiliki nilai yang tidak pantas dalam merespon kondisi perekonomian negara. Ditengah gunjang-gunjing tindak pidana korupsi dan sebagainya, rencana pembangunangedung ini seolah menjadi panutan dalam rencana korupsi petinggi politik dalamperiode 5 tahun kedepan. Betapa tidak, dana sekitar Rp. 1,138 Triliun dari jumlah awalRp. 1.8 Triliun diajukan dengan mudahnya untuk membiayai pembangunan gedungyang memiliki 600 ruang kantor untuk anggota DPR dengan 4 orang staf dan 1sekretaris, dengan harga fantastis, yakni Rp. 800 juta per unitnya, ketika arsitek dapat mengasilkan 3 rumah mewah dengan dana sebesar itu. Ketika Marzuki Alie (KetuaDPR), Endy Subijono (Ketua IAI), Rizal Syarifuddin danBudi Sukada (IAI  Konsultan Yodya Karya) menjadi tokoh sentral dalam polemik yang berlangsung ini.
2005
Serombongan tim dari Badan Urusan Rumah Tangga DPR berkunjung ke luar negeriuntuk membanding-bandingkan kantor wakil rakyat di beberapa negara. Dariperjalanan itu, anggota dewan menyadari ternyata para wakil rakyat di Singapura atauInggris mampu bekerja lebih baik karena didukung fasilitas lengkap dan para anggotastaf ahli yang cakap. Sebaliknya, di DPR kita, kinerja tiap anggota hanya ditopangbantuan satu sekretaris dan satu anggota staf ahli.
Kita sebetulnya belum punya gedung parlemen ini gedung dibangun untuk konferensiConefo waktu itu, : Wakil Ketua FPP DPR 2004-2009 Lukman Hakim (Parlementaria,Edisi 73 Tahun XL/2009).
 
 
 3
2008
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyampaikan ketidakpuasannya kepada kinerjaSetjen DPR dalam menginventariskan Aset-aset yang dimiliki DPR, dalam hal peralatandan tanah yang memiliki nilai prosentase 7.3 % nilai aktiva. Untuk meresponnya SetjenDPR kemudian membentuk Tim inventaris, untuk menentukan perihal kepemilikanTanah, yang akhirnya mengajukan sertifikasi atas lahan tersebut dalam surat SekjenDPR Surat No. KU.00/11DPR RI/II/2008 tanggal 31 Maret 2008 yang kemudian diajukan lagi Nomor KU.00/5814/DPR RI/2008 tanggal 14 Agustus 2008. (PublikasiLaporan 5 Tahun DPR-RI 2004-2009).
(Dikutip dari Alvin Lie, Harian Nasional Kompas, 5 April 2011,http://nasional.kompas.com/read/2011/04/05/19201918/Sekjen.DPR.Sayembara.Diganti.Workshop)
Workshop Grand Design Komp Parlemen adalah utk menyusun TOR Sayembara.Merespon berbagai kekurangan DPR, pada 14Februari 2006 dibentuk Tim KajianPeningkatan Kinerja DPR utk bkrja selama 1 thKhusus terkait kebijakan tentang Sarana Pendukung disepakati a.l diselenggarakanSayembara Komp Parlemen RI dgn pertimbangan:
y
 
RI belum pernah merencanakan Komp. Parlemen. Gedung yang sekarang adalahGedung ex Conefo;
y
 
Perlu
G
rand Strategy 
untuk antisipasi masa depan, agar pengembangan kompleksparlemen tidak tambal sulam;
y
 
Komp parlemen harus mencerminkan sejarah, keragaman budaya & demokrasiRI;
y
 
Grand Design ditujukan untuk optimalisasi lahan 72,8 Ha yang meliputi kompDPR, Taman Ria, dll
y
 
Pembangunan Komplek Parlemen dilaksanakan bertahap sesuai kebutuhan,
kondisi ekonomi
& kemampuan keuangan negara dengan mengacu pada GrandDesignDibentuk Tim Pengarah yang dipimpin Darul Siska sebagai Ketua dan 3 Wakil yangkemudian
bekerja sama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI)
& INKINDO utk menyusun kerangka acuan kerja (TOR) Sayembara Komp Parlemen RIDisepakati untuk melaksanakan
workshop pada 24-25 Juni 2009
di Gedung PustakaLoka FPR yg diikuti Pemerintah Pusat, Pemda DKI, anggota IAI, anggota INKINDO danpara pakar yg membidangi.Workshop menghasilkan TOR& jadwal pelaksanaan sayembara, diselesaikan dandilaporkan dalam rapat paripurna terakhir DPR 04-09 pada 30September 2009.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...