Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pluralisme

Pluralisme

Ratings: (0)|Views: 411 |Likes:
Published by amrisjenar

More info:

Published by: amrisjenar on May 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

 
A. Latar Belakang Masalah
Istilah ‘pluralismeyang berarti ‘beragam’, pendapat orang tentang istilah ini juga beraneka ragam pula. Secara harfiah pluralisme berarti jamak, beberapa, berbagaihal, keberbagaian atau banyak. Oleh karenanya sesuatu dikatakan plural pasti terdiridari banyak hal; jenis, berbagai sudut pandang serta latar belakang. 
1
 Dengan kata Pluralisme adalah gagasan atau pandangan yang mengakuiadanya hal-hal yang bersifat banyak dan berbeda-beda (heterogen) di suatu komunitasmasyarakat.
2
Istilah pluralisme sendiri sesungguhnya adalah istilah lama yang hari-hari inikian mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Dikatakan istilah lama karena perbincangan mengenai pluralitas telah dielaborasi secara lebih jauh oleh para pemikir filsafat Yunani secara konseptual dengan aneka ragam alternatif memecahkannya.Para pemikir tersebut mendefinisikan pluralitas secara berbeda-beda lengkap dengan beragam tawaran solusi menghadapi pluralitas. Permenides menawarkan solusi yang berbeda dengan Heraklitos, begitu pula pendapat Plato tidak sama dengan apa yangdikemu-kakan Aristoteles.
3
Hal itu berarti bahwa isu pluralitas sebenarnya setua usiamanusia.Dalam kehidupan praktis sehari-hari, umat manusia telah menjalani kehidupanyang pluralistik secara alamiah dan wajar-wajar saja. Kehidupan mengalir apa adanyatanpa ada prasangka dan perhitungan lain yang lebih rumit. Persoalan menyeruak 
1
 
Syafa’atun Elmirzanah, et. al.,
 Pluralisme, Konflik dan Perdamaian Studi Bersama Antar  Iman,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), 7.
 
2
Lorens Bagus,
 Kamus Filasafat,
Gramedia, Jakarta, 2000, hal. 853
3
Perbincangan pluralisme menurut Amin Abdullah sesungguhnya tak lebih seperti
 put a newwine in the old bottle
(memasukkan minuman anggur baru dalam kemasan lama). Baca M. AminAbdullah,
 Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Islam Kontemporer,
Bandung: Mizan,2000), 68.
 
ketika berbagai kepentingan dan pertimbangan tadi menempel dalam pola interaksiantar manusia. Apalagi jika kepentingan yang disebut di atas lebih menonjol, makagesekan dan konflik adalah sesuatu yang tak terelakkan.Demikian juga dalam menyikapi pluralisme beragama, Alwi Shihab memberigabaran cukup baik dalam mengartikulasikan pluralisme agama. Menurutnya,“Pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakuikeberadaan dan hak orang lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaandan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan”. Hal ini senadadengan pernyataan Adhyaksa Dault bahwa pluralitas di satu segi dipandang sebagaisesuatu yang dengan mudah diikat dalam selogan Bhinneka Tuggal Ika.
4
Melalui pe-mahaman tentang pluralisme yang benar dengan diikuti upaya mewujudkan kehidupanyang damai seperti inilah akan tercipta toleransi antar umat beragama.Toleransi yang sesungguhnya, yang mengajak setiap umat beragama untuk  jujur mengakui dan mengekspresikan keberagamaannya tanpa ditutup-tutupi. Dengandemikian identitas masing-masing umat beragama tidak tereliminasi, bahkan masing-masing agama dengan bebas dapat mengembangkannya. Inilah toleransi yang dulu pernah dianjurkan oleh Kuntowijoyo.
5
Jika Pluralitas telah menjadi kenyataan dalam kehidupan masyarakat(
 Pluralistic Societi)
, maka kebutuhan yang segera muncul mukan meredam danmenyembunyikan pluralitas yang ada, atau memaksanya agar menghablur, melainkanmember ruang terbuka agar berbagai perbedaan tersebut muncul kepermukaan,
4
Adhiyaksa Dault,
 Islam dan Nasionalisme: Reposisi Wacana Universal Dalam Konteks Nasional,
(Jakarta: Pustaka Alkausar, 2005), hal. 88
5
Bachtiar Effendi, “Menyoal Pluralisme di Indonesia” dalam
 Living Together in Plural Societies; Pengalaman Indonesia Inggris,
ed. Raja Juli Antoni (Yogyakarta: Pustaka Perlajar, 2002),239-249.
 
 berkelindan dan berdialektika secara wajar.
6
Pengabaian hak-hak minoritas olehkelompok mayoritas adalah kecenderungan arogan yang dapat memunculkan konflik dan pertentangan peradaban.
7
 Pernyataan ini memiliki implikasi strategis dalammencermati realitas kebijakan komunitas dalam sebuah negara. Negara Muslim padaumumnya menunjukkan sikap toleransi yang cukup baik dibandingkan dengan negaraKristen Barat. Adalah sangat
 signifikan
 jika dihadapkan betapa sikap masyarakat Islamterhadap penganut Yahudi, dengan perlakuan Kristen Eropa terhadap minoritas Yahudiselama berabad-abad.
8
Karena itu, persoalan yang penting didiskusikan kembali adalah posisi minoritas non-muslim ditengah-tengah mayoritas muslim.Berkaitan dengan itu belakangan ini sering dibicarakan bagaimana "nasib"masyarakat non-muslim di Aceh ketika diberlakukannya penerapan syariat Islam.
9
Secara
de facto
masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sosio-kulturalnyamencerminkan ruh yang Islam. Akan tetapi, ketika ada 'kebijakan politik' penegakkansyariat Islam secara luas diberikan kewenangan bagi masyarakat Aceh, sehingga telahmemunculkan harapan dan tantangan yang amat varian, salah satunya adalah seringorang mempertanyakan "Bagaimana non-muslim ?". Meskipun demikian, semua pihak diharapkan berkenan mengevaluasi kembali kepada berbagai pemikiran dan data sejarahyang diwarisi oleh masyarakat Islam. Konsekuensi ini akan memberi arti serta solusi terhadap problematika tersebut. Namun tanpa berlebihan dan tidak cenderung emosional, dapat ditegaskan bahwa penegakan syariat Islam di Aceh adalah sangat didukung oleh sosio-kultural
6
Samoel Koto,
 Pluralitas dan Demokrasi,
Makalah Diskusi Mingguan INDEMO, Jakarta2002
7
Hasan Hanafi, pemikiran muslim kontemporer, tesis tersebut diperoleh ketika penulis aktif sebagai peserta acara
 International Conference on Word Peace
di IAIN Alauddin Makassar.
8
Ann Elizabeth Mayer.
 Islam and Human Righ: Tradition and Politics
(London: PintePublisher), 1991, hal. 148.
9
UU Nomor 44 tahun 1999 dan Perda Nomor 5 tahun 2000 adalah ketentuan yangmenegaskan diberlakukannya penegakan syariat Islam di Aceh.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Khalidah Amin liked this
Maria Mendoza liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->