Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemilu-Legislatif-2009-Dan-Kesiapan-Infrastruktur-Politik-Demokrasi-di-Daerah---Bab-3-2009

Pemilu-Legislatif-2009-Dan-Kesiapan-Infrastruktur-Politik-Demokrasi-di-Daerah---Bab-3-2009

Ratings: (0)|Views: 854|Likes:
Published by reno_fernandes

More info:

Published by: reno_fernandes on May 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/24/2012

pdf

text

original

 
62
BAB IIIRekrutmen PolitikPerempuan Bakal Calon Anggota DPRDProvinsi Sumatera UtaraOleh: Sitti Nur Solechah
1
 I. PendahuluanA. Latar Belakang Masalah
Pasca reformasi 1998, rezim pengganti Pemerintah Orde Baru melakukanliberalisasi yakni suatu bentuk proses demokratisasi yang dikendalikan olehnegara. Pemerintahan Habibie tidak bisa menolak tuntutan masyarakat yangdimotori mahasiswa untuk mereformasi sistem politik. Salah satu agenda yangdituntut waktu itu adalah reformasi melalui sebuah pemilihan umum secarademokratis. Para mahasiswa menganggap bahwa pemilu yang benar-benardemokratis pada tahun 1999 akan menjadi penyelesaian institusional bagi krisispolitik dan ekonomi.Paralel dengan agenda Pemilu, pelembagaan partisipasi politik rakyatdalam bentuk keterlibatan dan keterwakilan publik dalam lembaga politik terbukalebar. Hasil penelitian Demos tentang
Masalah-masalah dan Pilihan-pilihan Demokratisasi di Indonesia 
, menunjukkan adanya fakta tentang peningkatankebebasan untuk berkumpul, berserikat dan mengeluarkan pendapat sejak 1999sebesar 78,9% (Demos, 2003). Hal ini diakui oleh para aktivis prodemokrasicukup memberikan peluang bagi para aktor khususnya politisi untuk kembalimemasuki arena politik.Segera setelah rejim Suharto jatuh, bermunculan partai-partai politik baru.Ada fenomena munculnya kesadaran bahwa partisipasi untuk merubah sistempolitik hanya bisa dicapai melalui partai politik. Pendirian partai ini merupakangejala yang umum di setiap proses transisi, karena secara konstitusional daninstitusional partailah yang sebagian besar akan mengisi proses transisiselanjutnya ke demokrasi. Tetapi yang mengejutkan besarnya jumlah danberagamnya partai yang didirikan berjumlah lebih dari 100 partai.Banyaknya jumlah partai itu mengindikasikan besarnya derajatpenindasan dan represi yang dialami masyarakat pada era sebelumnya.Pendirian itu bisa dipahami dengan asumsi partai disatu sisi bisa menjadiaparat pelampiasan ketidakpuasan dan rasa ketertindasan, disisi lain menjadialat pemenuhan harapan, cita-cita dan aspirasi. Bersamaan dengan munculnyakesadaran berpartai, muncul pula kesadaran dari para perempuan untuk ikut
1
Penulis adalah Peneliti Politik dan Pemerintahan Indonesia, Pusat Pengkajian Pengolahan Data Informasi (P3DI) SetjenDPR RI
 
63
serta berpartisipasi dalam kancah perpolitikan Indonesia. Menurut Ani Sucipto
2
,tuntutan peningkatan peran politik perempuan di Indonesia sudah ramaidibicarakan sejak akhir tahun 1998 setelah turunnya rejim Orde Baru.Isu dan wacana perempuan makin berkembang sejak tahun 1999, ketikapemerintah dan partai-partai politik yang ada sibuk mempersiapkan Pemilu1999, Pemilu pertama di era reformasi. Pada Pemilu 1999 tersebut untukpertama kalinya isu mengenai hak-hak perempuan dikedepankan dalamkampanye. Apalagi, sesuai sensus Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, jumlah perempuan Indonesia sudah lebih dari 100 juta jiwa atau jikadibandingkan dengan jumlah penduduk seluruh Indonesia sebanyak 51%, danangka ini terus naik hingga pada Pemilu 2004 diyakini suara perempuanmencapai 52% dari keseluruhan pemilih. Untuk itu sudah waktunya perempuanmenentukan sikap.Kesadaran akan pentingnya peran politik perempuan semakin nyaringdisuarakan seiring dengan semakin terkuaknya sejumlah persoalan yangmenimpa perempuan. Masalah-masalah yang menimpa perempuan tersebutmulai dari masalah kekerasan terhadap perempuan, kesehatan reproduksiperempuan, perdagangan wanita dan anak-anak, dan sebagainya. Dari sinimuncul kesadaran bahwa sejumlah persoalan yang menimpa perempuan tidakakan bisa diselesaikan kasus per kasus karena jumlahnya cukup besar. Untukmenyelesaikan masalah-masalah itu diperlukan kebijakan politik yangmelahirkan sejumlah aturan perundang-undangan.Meskipun harus menghadapi sejumlah hambatan, namun perjuanganpolitik perempuan bukan tanpa hasil. Masuknya ketentuan kuota 30% bagi partaipolitik untuk calon legislatifnya utnuk Pemilu 2004 merupakan hasil yang sangatnyata untuk perkembangan politik perempuan selanjutnya. Walaupun UU No. 12Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD telahmengakomodasi ketentauan kuota 30% bagi partai politik mengajukan calonanggota legislatif, namun hasil Pemilu 2004 menunjukkan bahwa anggota DPRterpilih dari perempuan masih terbilang rendah. Dari periode ke periodeketerwakilan politik perempuan masih rendah seperti yang ditunjukkan padatabel dibawah.Prosentase keterwakilan laki-laki dan perempuan di Dewan Perwakilan RakyatTabel 1
Perempuan Laki-lakiPeriode MasaBakti% %Jumlah AnggotaDPR1950 – 1955(DPR Sementara)
3,8 96,2 236
1955 – 1960
6,3 93,7 272
2
Ani Sucipto dalam Sarwono Kusumaatmadja (Editor),
Politik dan Perempuan 
, Penerbit Koekoesan, Jakarta, 2007, hal. 3
 
64
1956 – 1959(Konstituante)
5,1 94,9 488
1971 – 1977
7,8 92,2 460
1982 – 1987
6,3 93,7 460
1987 – 1992
8,5 91,5 500
1992 – 1997
12,5 87,5 500
1997 – 1999
10,8 89,2 500
1999 – 2004
9,0 91,0 500
2004 – 2009
11,82 88,18 550Usulan
affirmative action 
yakni ketentuan kuota 30% bagi perempuanuntuk menduduki jabatan politik kembali diatur dalam UU No. 10 Tahun 2008tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, dan DPRD. UU tersebut mengaturbahwa partai peserta Pemilu 2004 menyertakan 30% keterwakilan perempuandalam pencalonan anggota legislatif. Demikian juga dengan UU No. 2 Tahun2008 tentang Partai Politik yang mengatur bahwa pendirian dan pembentukanpartai politik menyertakan 30% keterwakilan perempuan. Demikian juga dengankepengurusan partai politik di tingkat pusat harus menyertakan paling rendah30% keterwakilan perempuan. Di tingkat provinsi, tidak diatur mengenaiketerwakilan 30% perempuan dalam kepengurusan partai di tingkat provinsi.Terkait dengan pengajuan bakal calon Anggota DPRD Provinsi, makadaftar bakal calon anggota DPRD Provinsi ditetapkan oleh Pengurus PartaiPolitik Peserta Pemilu tingkat provinsi. Selanjutnya diatur bahwa daftar bakalcalon tersebut memuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan. Lebihprogresif lagi, bahwa UU Pemilu 2008 ini mengatur tentang
zipper system 
, yaknisetiap 3 orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu orangperempuan bakal calon. UU juga mengamanatkan kepada KPU Provinsi untukmengumumkan persentase keterwkilan perempuan dalam daftar calon tetappartai politik masing-masing pada media massa cetak dan elektronik nasional.Pada Pemilu 2004, di Provinsi Sumatera Utara, dari 24 partai politikkontestan Pemilu hanya 5 yang berhasil mendudukkan wakilnya di DPRD yakniPartai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar, Partai DemokrasiIndonesia Perjuangan (PDIP), Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional(PAN). Proses pencalonan yang dilakukan oleh Pengurus Partai di tingkatprovinsi yang telah memasukkan kuota 30% keterwakilan perempuan dan
zipper system 
bisa jadi tidak akan banyak berpengaruh pada hasil Pemilu nanti. Hal inikarena terpengaruh oleh keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi yangmenetapkan bahwa terpilihnya anggota legislatif didasarkan pada suaraterbanyak.
B. Permasalahan
Walaupun perolehan kursi bagi perempuan calon legislatif potensialterancam oleh ketentuan bahwa calon terpilih didasarkan pada suara terbanyaksebagai akibat pemberlakuan Putusan Mahkamah Konstitusi, namun hal itumerupakan perkembangan terakhir jauh setelah tahap penetapan Daftar Calon

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->