Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ragam Model Bisnis Kemitraan Pemerintah-swasta

Ragam Model Bisnis Kemitraan Pemerintah-swasta

Ratings: (0)|Views: 102 |Likes:
Published by Syarief Ariefa'id

More info:

Published by: Syarief Ariefa'id on May 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2011

pdf

text

original

 
 
Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung
 
48
RAGAM MODEL BISNIS KEMITRAAN PEMERINTAH-SWASTASebuah Kunci Sukses Pengembangan E-Government di Indonesia
Richardus Eko Indrajit,indrajit@post.harvard.edu Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan KomputerSTIMIK Perbanas – Jakarta, Indonesia
 ABSTRAK 
Pada era pasca krisis ini, reformasi lembaga pemerintahan pusat dan daerah mengalami tantangan yang berat. Disatu sisi pemerintah sebagai penyelenggara negara dituntut untuk melakukan transformasi internal agar lebihadaptif terhadap kebutuhan globalisasi – dengan tetap mengedepankan aspek akuntabilitas, transparansi, dan profesionalisme – namun di pihak lain yang bersangkutan masih mengalami permasalahan keterbatasan sumber daya yang tersedia. Dalam kerangka inilah maka pelaksanaan implementasi e-government kerap mengalamikendala di lapangan sehingga banyak inisiatifnya yang berjalan secara lambat dan tersendat-sendat. Bercermin pada keberhasilan sejumlah pengembangan e-government di negara lain, salah satu jawaban terhadap isu terkait adalah dijalinnya kemitraan strategis antara pemerintah dan swasta (baca: industri) dalam merencanakan danmengembangkan berbagai inisiatif e-government. Kemitraan yang tangguh tidak saja akan dapat menjawabtantangan jangka pendek implementasi e-government semata, namun dapat menjamin tingginya tingkat sustainabilitas dan kesinambungan program yang ada. Tantangan terbesar dalam proses menjalin kemitraan iniadalah ditemukannya model bisnis (baca: business model) yang disepakati oleh kedua belah pihak. Penentuanmodel bisnis yang dimaksud tidaklah semudah yang diduga, karena selain harus bersifat ‘win-win’ bagi keduabelah pihak, bentuknya tidak boleh bertentangan dengan peraturan maupun etika bisnis dan pemerintahan yangberlaku. Artikel ini menawarkan beragam bentuk model bisnis yang dapat diadopsi oleh pemerintah dan pelakuswasta di Indonesia dalam rangka mencari bentuk kemitraan yang efektif untuk mempercepat implementasi e-government secara berhasil di berbagai wilayah tanah air.
 Kata kunci
: model bisnis (business model), kemitraan, e-government, swasta, kunci sukses.
1. TANTANGAN INISIATIF E-GOVERNMENT
 Belajar dari pengalaman beraneka ragamimplementasi e-government di berbagai belahandunia, permasalahan terbesar terletak padabagaimana membuat agar inisiatif yang ada dapatsecara kontinyu bertahan dan berkesinambungan(baca: sustainable) tanpa harus tergantung padakekuatan anggaran pemerintah pusat maupun daerah.Kuncinya adalah terjalinnya hubungan kemitraanstrategis antara pihak pemerintah dengan sektorindustri atau yang lebih dikenal dengan istilah”Public-Private Partnerships” (PPP). Namunmengembangkan pola kemitraan yang dimaksud,tidaklah semudah menelurkan konsepnya. Kerap kalikemitraan yang terjadi hanya bertahan seumur jagungalias hanya mampu diterapkan dalam jangka waktuyang sangat pendek – dan kemudian secara alamiatau terpaksa berangsur-angsur berhenti (baca:bubar). Isu-isu terkait dengan sulitnya membangunkemitraan yang langgeng antara lain:
 
Tidak dimilikinya model kerjasama yangdapat secara signifikan mendatangkan situasi”win-win” bagi kedua belah pihak;
 
Sikap saling menunggu antara kedua pihakuntuk memulai menawarkan bentukkerjasama;
 
Ketakutan pemerintah dalam menjalinkerjasama khusus dengan satu atau duaperusahaan karena dapat dianggap tidak adildan pilih kasih (baca: takut dianggap KKN);
 
Fenomena ”ganti pemerintah, ganti kebijakan”yang mendatangkan ketidakpastian keber-sinambungan sebuah inisiatif;
 
Faktor resiko yang sulit dikelola karenabanyaknya hal-hal eksternal yangmendatangkan ketidakpastian terhadap nasibkemitraan di kemudian hari; dan lainsebagainya.
2. SEGITIGA EMAS KEMITRAAN
Jika berkaca dari keberhasilan sejumlah negara dalammengembangkan teknologi informasinya, maka
 
 
Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung
 
49
terlihat selalu adanya kemitraan yang solid antara tigaunsur utama yaitu pemerintah, swasta, dan perguruantinggi (dimana masyarakat atau komunitas akanmenjadi stakeholder dari kerjasama tersebut). ”Thegolden triangle” hanya akan berhasil diterapkanapabila pemrakarsa kemitraan benar-benar mengertihal-hal apa saja yang akan menjadi pemicu atauperangsang terjadinya kerjasama.
GAMBAR: KEMITRAAN RAGAM INSTITUSI
Adanya nilai tambah atau ”value-added” adalah halyang harus dapat dirasakan oleh siapa saja pihakyang ingin bekerjasama. Bagi pemerintah misalnya,kerjasama akan mendatangkan manfaat ataumemberikan nilai tambah apabila dapat membantumereka dalam hal meningkatkan kinerja pelayananpublik, memperbaiki kualitas good governance,mengoptimalisasi pemakaian sumber daya yangterbatas, dan lain-lain. Sementara bagi pihak swastamisalnya, sebuah kerjasama akan dianggapbermanfaat jika yang bersangkutan tidak hanyasemata-mata berhasil meningkatkan profitnya, tetapimemungkinkan mereka untuk meningkatkan kualitasproduk dan jasanya, memperluas jejaring calonpelanggan, menciptakan hubungan yang lebih baikdengan stakeholdernya, dan lain sebagainya.Sementara bagi perguruan tinggi, sejauh kerjasamaakan dapat meningkatkan basis pengetahuan,memperbaiki kualitas penyelenggaraan pendidikan,menciptakan produk-produk atau jasa-jasa inovatif,atau menawarkan pengalaman pembelajaran baru.
3. TIGA LAYER TOPOLOGI MODELKEMITRAAN
Berdasarkan segitiga emas kemitraan di atas, dapatdikembangkan sejumlah topologi model kemitraan.Topologi yang dimaksud secara esensial terdiri daritiga layer, masing-masing adalah sebagai berikut:
 
Layer Pertama adalah bentuk kemitraan antarapemerintah dan kalangan industri swasta,dimana masing-masing terdiri dari tiga jenis.Jenis pertama adalah kewenangan yangdiberikan pemerintah kepada satu atausejumlah perusahaan untuk melakukan suatuaktivitas tertentu. Jenis kedua adalah satu atausejumlah industri swasta yang melakukaninvestasi pada bidang tertentu di domainwilayah sebuah institusi pemerintah.Sementara jenis ketiga adalah kesepakatanantara pemerintah dan satu atau sejumlahpihak swasta untuk melakukan investasibersama.
 
Layer Kedua terdiri dari organisasi”intermediary” yang menyediakan jasanyauntuk melakukan eksekusi terhadap beragamaktivitas dimaksud. Tawaran jasa manajemenpengelolaan ini sifatnya adalah ”optional”,artinya dapat dilibatkan maupun tidak,tergantung konteks program yang ada dankesepakatan entitas pemerintah dan industriyang telah dijalin. Jenis organisasi eksekutorini dapat berupa perusahaan komersial, NGO,yayasan, lembaga pendidikan, atau bahkaninstitusi pemerintahan lainnya.
 
Layer Ketiga merupakan target akhir dariberagam kerjasa yang ada, yaitu masyarakatatau publik itu sendiri yang bersediamembayar pihak-pihak penyedia jasa melaluiberbagai mekanisme – seperti pajak, transaksi jasa, dan lain-lain.
GAMBAR: TOPOLOGI MODEL KEMITRAAN
Dengan berpegang pada ketiga layer ini, maka palingtidak sembilan model kemitraan dapat dikembangkanbeserta model bisnisnya masing-masing.
4. MODEL BISNIS RAGAM KEMITRAAN
Ambilah contoh sebuah topologi sederhana yaitu G-to-B-to-P (baca: Government to Business to Public).
 
 
Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung
 
50
Dalam kerangka ini, sebuah institusi pemerintahmemberikan wewenang dan “endorsement” kepadasebuah sektor industri untuk secara langsungmenyediakan sebuah jasa pelayanan masyarakat atasnama pemerintah. Model bisnis yang terjadi di sini –dilihat dari segi “revenue stream” dan “valuedelivery” adalah sebagai berikut. Masyarakat melaluimekanisme pajak atau biaya per transaksi melakukanpembayaran kepada pihak swasta terkait. Sesuaidengan kesepakatan, pendapatan bersih tersebutdibagi antara perusahaan yang terlibat danpemerintah. Dalam format ini pemerintahdiuntungkan karena tanpa mengeluarkan biayainvestasi sesenpun, mereka dapat memberikan sebuahpelayanan baru kepada masyarakat – belum lagiterhitung sejumlah pendapatan per transaksi yangdiperolehnya. Sementara pihak swasta terkait jugamerasa untung, karena selain memiliki hakeksklusivitas dalam menggarap sebuah pasar, yangbersangkutan dapat segera mengembalikan nilaiinvestasinya melalui pendapatan dari transaksi yangkontinyu tersebut – dan segera menciptakan profitdalam jangka menengah dan panjang.Contoh lainnya adalah sebuah format dimanaperusahaan menginvestasikan sumber dayakeuangannya melalui proyek atau program yangdipromosikan oleh institusi pemerintahan melaluitopologi kemitraan B-to-G-to-P. Pemerintah merasadiuntungkan di sini karena mendapatkan anggaranuntuk melakukan investasi baru, sementara pihakswasta cukup senang dengan mekanisme ROI atauskema pengembalian pinjaman yang menguntungkan– apalagi jika diiming-iming pembagian keuntungandi kemudian hari.Contoh berikutnya adalah ketika pemerintahbersama-sama dengan industri swasta melakukaninvestasi dalam topologi GP-to-P. Hal ini biasadilakukan untuk sebuah program yang membutuhkanbiaya cukup besar sehingga tidak mungkin hanyadibebankan kepada sebuah institusi semata. Skemapengembalian investasi diperhitungkan secarasungguh-sungguh disamping kesepakatan untukmembagi pendapatan dari hasil pelayanan kepadamasyarakat tersebut.
5. TAWARAN PERANAN PIHAK KETIGA
Sering kari dijumpai dalam kenyataannya, bahwainstitusi pemerintah maupun industri swasta yang adatidaklah memiliki lengan-lengan unit eksekusi(misalnya dalam pemerintahan seperti KementrianKoordinasi, Bapenas, Lembaga Kajian, dan lainsebagainya; sementara dalam swasta seperti HoldingCompany, Grup Korporasi, dan lain-lain). Yang biasadilakukan dalam konteks ini adalah menunjuk pihakketiga untuk menjadi lembaga eksekutor inisiatif program atau proyek yang ada. Model bisnis bagieksekutor ini bisa beraneka ragam, mulai dari berbagihasil, biaya manajemen (baca: management fee), ataukombinasi keduanya.
GAMBAR: MODEL BISNIS RAGAM KEMITRAAN
Secara konsep bisnis, konsep ini dapat dikategorikansebagai sebuah usaha pengalihdayaan atauoutsourcing. Banyak keuntungan atau manfaat yangdapat diperoleh bersama dalam melakukan kemitraandengan pihak ketiga ini, antara lain:
 
Biaya investasi dan operasional yang lebihmurah karena ditangani oleh pihak yangpaling berkompeten melakukan aktivitasterkait;
 
Kualitas pekerjaan dan pelayanan yang jauhlebih baik karena selain mereka memilikiinfrastruktur, fasilitas, dan kompetensi yanglengkap, akses secara langsung ke publikdapat dilakukan melalui berbagai kanal;
 
Kemampuan untuk selalu memperbaikikinerjanya secara berkesinambungan telah”embedded” dalam manajemen profesionalyang mereka miliki;
 
Mekanisme kontrol yang lebih sederhana danefektif karena ditangani oleh sebuah institusioutsourcing; dan
 
Pembagian tugas yang jelas antara pemilikdan penyelenggara inisiatif yang terkadang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadiisu tersendiri.Satu hal yang perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh terutama dalam kaitannya dengan penerapangood governance adalah pembagian tugas danpertanggung jawaban yang jelas antara semua pihakyang terlibat dalam kemitraan. Salah satu kerangkauntuk mempromosikan transparansi, akuntabilitas,tanggung jawab dan independensi adalah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->