Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
STRATEGI INTEGRASI IMTAQDALAM PEMBELAJARAN
DISUSUN
DALAM RANGKA MEMENUHISALAH SATU PERSYARATAN KENAIKANPANGKAT JABATAN GURU
Oleh :
 N a m a : Drs. Nur Kholiq N I P : 19630108 198703 1004
PEMERINTAH KABUPATEN JEPARADINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGAUNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS
SMA NEGRI 1 KEMBANG
Jl. Bangsri – Keling, Km 6 Kembang
59453, Telp. (0291) 7730048
 
32
BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang
Suatu kenyataan bahwa kemerosotan akhlak akhir-akhir ini tidak hanya menimpakalangan orang dewasa tetapi telah merembet pada kalangan pelajar tunas-tunasmuda. Orang tua, pendidik, dan mereka yang berkecimpung dalam bidang agamadan sosial banyak mengeluh terhadap perilaku mereka yang tidak baik. Perilakumereka yang nakal, keras kapala, mabuk-mabukan, tawuran, pergaulan bebas, pesta obat-obatan terlarang, bergaya hidup mewah dan pendek kata perilakumereka tidak mencerminkan pelajar yang berpendidikan.Melihat kenyataan tersebut, dunia pendidikan bertekad untuk berbenah diri danmencari solusi yang tepat dalam upaya mengatasi krisis akhlak yang melanda para pelajar. Para pemikir pendidikan menyerukan agar kecerdasan akal diikutikecerdasan moral dan pendidikan agama. Kiranya tepatlah kurikulum peningkatankeimanan dan ketaqwaan (imtaq) sebagai solusinya.Alasan pemilihan judul penelitian ini adalah pentingnya iman dan taqwa sebagairuh dan jiwa ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Pentingnya pengembangankurikulum berwawasan imtaq dapat dijelaskan melalui tiga hal, yaitu : (1) ditinjaudari segi perundang-undangan ; (2) ditinjau dari segi kecerdasan emosional (EQ),dan (3) ditinjau dari kecerdasan emosional spiritual (ESQ).
1. Pentingnya imtaq ditinjau dari segi perundang-undangan
Pengembangan imtaq di sekolah sangat penting sebagai upaya untumewujudkan tujuan pendidikan. Sesuai dengan UU NO. 20 Tahum 2003 pasal3 yang berbunyi, Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkankemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabatdalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untu berkembangnya potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
 
32
 bertanggung jawab.” Dalam pembukaan UUD 1945 dalam Diknas ( 2005 : 2 )menyebutkan bahwa konsep mencerdaskan kehidupan bangsa harus dimaknaisecara luas, yakni meliputi (a) kecerdasan intelektual, (b) kecerdasanemosional, dan (c) kecerdasan spiritual. Untuk mewujudkan tujuan pendidikannasional, pendidik hendaknya tidak hanya membina kecerdasan intelektual,wawasan dan keterampilan semata, tetapi harus diimbangi dengan membinakecerdasan emosional dan keagamaan. Dengan kata lain memberikan nilai-nilai agama atau imtaq dalam ilmu penngetahuan atau memberikan moralitasagama kepada ilmu.Selaras dengan hal tersebut, dikatakan oleh Ahmad Djazuli dalam Diknas( 2005 : 2 ) bahwa dalam tujuan pendidkan nasional, pembinaan imtaqmerupakan inti tujuan pendidikan nasional. Hal ini berarti bahwa pembinaanimtaq bukan hanya tugas dari bidang studi pendidikan agama saja melainkantugas pendidikan secara keseluruhan sebagai suatu sistem. Artinya, sistem pendidikan nasional dan seluruh upaya pendidikan sebagai satu sistem yangterpadu harus secara sistematis diarahkan untuk menghasilkan manusia yangutuh, sebagai ciri pokoknya adalah manusia yang beriman dan bertaqwaterhadap Tuhan Yang Maha Esa.Berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, pasal 3dikatakan bahwa manusia yang dicita-citakan ialah manusia yang berkembang potensinya secara utuh yaitu manusia yang iman dan taqwa tehadap TuhanYang Maha Esa dengan diimbangi pekerti yang mulia, memiliki ilmu pengetahuan, cakap, sehat jasmani dan rohani, kreatif, mandiri, tanggung jawab, serta memiliki sikap demokratis. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pendidikan harus dirancang dan dilaksanakan secara terpadu dan harus berpusat pada pendidikan keimanan dan ketaqwaan. Untuk mewujudkanmanusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa bukansemata-mata tanggung jawab guru pendidikan agama akan tetapi merupakantanggung jawab semua guru bidang studi. Guru dalam menyusun program pengajarannya harus terpadu. Keterpaduan yang dimaksud ialah keterpaduantujuan, keterpaduan materi, keterpaduan proses, dan keterpaduan lembaga pendidikan.
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more