Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BKS04 Mutiara Hitam

BKS04 Mutiara Hitam

Ratings:

5.0

(3)
|Views: 4,905|Likes:
Published by Lukman El Hakim
Serial Bu Kek Sian Su
Serial Bu Kek Sian Su

More info:

Published by: Lukman El Hakim on Sep 04, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2012

pdf

text

original

 
Serial Bu Kek Sian Su (4)Mutiara HitamJalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apalagi karena waktu itu musimhujan telah mulai. Udara selalu diliputi awan mendung, kadang-kadang turun hujan rintik-rintik, sambungmenyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa, segala keadaan di dunia ini selalu men
-
datangkanuntung dan rugi, dipandang dari sudut kepentingan masing-masing. Para petani menyambut hari-harihujan dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena banyak air berarti berkah bagi mereka. Akantetapi di lain fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh karena pekerjaan atauper
-
 jalanan mereka terganggu oleh jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung henti.Hujan rintik-rintik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yangmelakukan per
-
 jalanan melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan, beristirahat di warung-warung sambil minum arak ha
-
ngat, di kuil-kuil atau setidaknya di bawah pohon rindang, pendeknya asalmereka dapat terlindung dari hujan. Kalaupun ada yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu diwaktu hujan rintik-rintik menambah dingin hawa udara pagi itu, mereka tentu bergesa-gesa agar cepattiba di tempat tujuan. Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, jupa serom
-
bongan kereta lewat dengancepatnya melalui jalan kecil, sejenak memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki kudadan cambuk, diseling suara pengendara yang menyumpah jalan buruk dan hawa dingin.Akan tetapi pada pagi hari itu, se
-
ekor kuda kurus berjalan perlahan me
-
lalui jalan kecil itu. Kuda yangkurus dan buruk, berjalan seenaknya seakan-
-
akan menikmati air hujan yang berjatuhan jarang di ataskepalanya. Warna kulit kuda ini agaknya dahulunya merah, kini penuh debu basah sehingga warnanyamenjadi coklat dan kotor. Penunggangnya sama dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan.Tidak merasa terganggu sama sekali. Duduk di atas punggung kuda sambil meniup suling! Aneh, mana adaorang lain berhujan-hujan meniup suling?Laki-laki itu tinggi tegap, usianya tentu mendekati lima puluh tahun. Raut wajahnya tampan dan gagah,pandang matanya sayu namun bersinar tajam. Kepalanya terlindung sebuah topi lebar, terbuat darianyaman rumput dan sudah butut, robek-robek pinggirnya. Pakaiannya longgar dan amat bersih, akantetapi sudah terhias tambalan di beberapa tempat. Biarpun keadaan orang dan ku
-
danya membayangkankemelaratan dan sama sekali tidak menarik, namun suara sulingnya luar biasa sekali. Sayang bahwatiupan suling seindah itu tidak pernah terdengar orang karena setiap kali ber
-
temu orang, laki-laki diatas kuda kurus ini selalu menghentikan tiupan sulingnya. Agaknya ia tidak suka kalau tiupan su
-
lingnyadidengar orang.Setelah keluar dari sebuah hutan kecil yang gelap, laki-laki itu menghentikan kudanya. Sepasang mata yang terlindung topi lebar itu memandang ke kanan kiri. Hutan terganti kebun dan sawah. Be
-
berapaorang petani sibuk bekerja di ladang, agak jauh dari jalan kecil itu. Laki-laki itu tampak tertarik dansejenak wajah yang tampan itu berseri. Kemudian ia menarik perlahan kendali kudanya. Binatang kurusitu berjalan lagi, seenak
-
nya. Hujan gerimis sudah mereda, tinggal kecil dan jarang, sebentar lagi jugaber
-
henti. Di timur, sinar matahari mulai menerobos awan tipis mengusir dingin. Laki-laki itu sejenakmemandang ke arah matahari yang belum menyilaukan mata, lalu mulutnya bernyanyi!"Syarat memimpin negara dan duniaadalah sembilan kebenaranmemperbaiki diri sendirimenghargai orang bijak dan pandaimencinta sanak keluargamenghormat pembesar tinggimengasihi pembesar rendah
 
mencinta rakyat seperti anakmengundang ahli-ahli bangunanmenghibur pengunjung dari jauhmengikat persahabatan dengan negara lain!”Sambil bernyanyi, laki-laki itu me
-
lakukan gerakan-gerakan aneh dengan sulingnya. Setiap kata-kata iabarengi dengan gerakan suling yang kalau diperhatikan merupakan gerakan menulis kata-kata itu,menulis di udara dan sungguh aneh, setiap gerakan menulis ini meng
-
akibatkan suara angin melengking yang berbeda-beda! Andaikata pada waktu itu terdapat seorang ahli silat tinggi yang menyaksikangerakan-gerakan ini, tentu dia akan terheran-heran dan merasa ka
-
gum karena selain melihat gerakanluar biasa, juga akan merasa betapa dari gerakan ini keluar hawa pukulan mujijat! Akan tetapi, kalaugerakan-gerakan sambil bernyanyi itu terlihat oleh orang biasa, tentu ia akan mengira bahwa laki-
-
lakiberkuda itu seorang yang miring otaknya.Melihat keadaannya yang melarat, tak seorang pun akan mengira bahwa laki
-
-laki ini sesungguhnyaadalah seorang pendekar besar, seorang pendekar sakti yang pada belasan tahun yang lalu amatterkenal dan sukar dicari tandingnya. Jarang ada orang yang mengetahui namanya, dan para tokoh duniapersilatan hanya mengenalnya sehagaiSULING EMAS . Telah belasan tahun dunia persilatan kehilangantokoh ini dan tidak seorang pun tahu ke mana perginya. Dahulu orang mengenal Kim-siauw-eng (PendekarSuling Emas) sebagai seorang laki-laki yang tinggi tegap dan tampan gagah, pakaiannya terbuat daripadasu
-
tera halus berwarna hitam, dengan sulaman benang emas menggambarkan bulan dan sebatang sulingdi bagian dadanya. Dahulu, belasan tahun yang lalu, sepak terjangnya amat mengagumkan kawan maupunlawan. Mulia seperti malaikat bagi yang tertolong, hebat mengerikan seperti iblis bagi penjahat yangdibasminya. Itulah dia Suling Emas!Akan tetapi laki-laki setengah tua yang menunggang kuda kurus itu, yang pakaiannya membuat ia lebihpatut di
-
sebut jembel, sama sekali tidak memper
-
lihatkan bekas bahwa dialah sesungguhnya SulingEmas. Jauh bedanya bagaikan bumi dengan langit. Suling yang tadi ditiupnya kini berselubung tembagadi luarnya, merupakan suling biasa. Hanya seorang ahli kalau melihat gerakan-gerakannya sambilbernyanyi tadi, akan mendapat kenyataan bahwa selama be
-
lasan tahun bersembunyi ini, kepandaianSuling Emas tidaklah mundur, bahkan makin hebat. Gerakan-gerakannya tadi
-
sama sekali bukangerakan seorang gila hendak menari, melainkan gerakan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat, yaitu Ilmu SilatSastra Awan dan Angin yang berdasarkan gerakan penulisan huruf-huruf dari kitab Tiong-yong!Nyanyiannya tadi adalah ayat-ayat dari kitab Tiong-yong. Jangan dikira bahwa gerakan-gerakan ituhanyalah gerakan sembarangan, karena setiap huruf yang ditulis, merupakan gerakan lihai sekali, baikdalam bentuk serangan maupun dalam bentuk tangkisan.Kuda kurus itu berjalan terus. Sinar matahari pagi kini mencipta suasana cerah dan indah. Burung-burung berkicau menambah keindahan suasana. Lalu lintas mulai ramai setelah kini hujan berhenti dantembok kota Tai-goan sudah tampak dari jauh, Suling Emas tidak bernyanyi lagi, tidak pula meniupsulingnya. Bahkan sulingnya, kini tersembunyi di balik baju
-
nya yang penuh tambalan. Ia menunduk, tidakmemperhatikan orang-orang yang lewat dan bersimpang jalan dengannya. Sudah terlalu lama iamengasingkan diri, perhatiannya terhadap manusia dan dunia menipis. Kadang-kadang ketenangannyaterganggu oleh batuk. Apabila serangkai
-
an batuk menyerangnya, mulutnya membayangkan rasa nyeri yang ditahan-tahan. Dan rangkaian batuk yang menyesakkan dada ini membuat ia kecewa.Suling Emas kecewa akan dirinya sendiri. Percuma saja belasan tahun ia menyembunyikan diri. Ia dapatbersembunyi daripada dunia ramai, namun ia tidak dapat bersembunyi daripada pikiran dan hatinyasendiri! Kemanapun juga ia pergi, ke puncak-puncak gunung yang sunyi, ke dalam guha-guha yang sepi dimana tidak nampak bayangan manusia lain, pikiran dan perasaan hatinya selalu mengejarnya. Bayanganwajah wanita-wanita yang pernah merampas hatinya, selalu menggodanya. Ia mempergunakan kekuatan
 
dan kekerasan hati, menekan semua itu, namun hasilnya merusak jantungnya sendiri. Suling Emas selamabelasan tahun hidup bersengsara, hidup nelangsa, hidup menyiksa batin sendiri, korban asmara!Ketika kudanya berjalan perlahan, bermacam kenangan memenuhi kepalanya, kenangan yang timbul dariserangkaian batuk yang menyerangnya tadi. Karena serangan batuk ini mengingatkannya kembali akankeadaan dirinya. Teringatlah ia akan nasib ayah bundanya, nasib gurunya. Mereka itu, orang-orang tua yang tidak sempat ia balas dengan kebaktian itu, yang telah lama meninggalkannya seorang diri di duniaini, juga mengalami nasib buruk dalam cinta kasih. Ayah bundanya gagal dalam cinta kasih se
-
hinggabercerai sampai mati. Kemudian gurunya yang tercinta, gurunya yang menjadi pula pengganti ayahbundanya, mengalami kegagalan asmara yang lebih pahit pula. Kasihan gurunya Kim-mo-Taisu, pendekarsakti yang patah hati!Suling Emas kembali menarik napas panjang, tangan kirinya membenamkan topinya makin dalam.Matahari di se
-
belah kanannya mulai menyilaukan mata dan topinya amat baik untuk melindungi matanyadari sinar matahari. Ia terme
-
nung kembali, tampaknya melenggut ngantuk di atas punggung kudanya.Be
-
tapapun sengsara orang tua dan gurunya menjadi korban asmara gagal, jika diban
-
dingkan denganapa yang ia alami, me
-
reka itu masih mendingan! Terbayang wajah wanita yang menjadi cintaper
-
tamanya, gadis yang terjungkal ke dalam jurang dan tewas pada saat mereka ber
-
dua sedangbertunangan! Kemudian wajah cintanya yang kedua, yang kini menjadi nyonya pangeran, hidup mewah danmulia
-
bersama suami dan anak-anaknya! Akhirnya terbayang pula wajah cintanya yang ketiga, atau yangterakhir, wajah Kam Lin Lin, atau lebih tepat sekarang di
-
sebut Ratu Yalina, ratu suku bangsa Khitan diutara!“Ahh, bodoh!” Suling Emas menyendal kendali kudanya merasa gemas kepada dirinya sendiri yang iaanggap amat lemah. “Engkau sudah tua bangka ber
-
pikir yang bukan-bukan!” Di dalam hati
-
nya iamenyumpahi diri sendiri. Lamunan-lamunan, kenangan-kenangan, dan pikiran macam itulah yang selalumengejar dan menggodanya, kemanapun juga ia pergi, sehingga akhirnya timbul batuk yang menggerotidadanya.Kalau sudah terganggu oleh kenang
-
-kenangan seperti itu hatinya serasa di
-
remas, terasa sakit danperih, semangat
-
nya melemah dan seluruh tubuhnya lelah, membuat ia malas dan satu-satunyake
-
inginan hanya tidur, kalau mungkin tidur selamanya tanpa sadar lagi! Sebuah kuil tua di pinggir jalan,di luar kota Tai-goan menarik hatinya karena ia melihat tempat mengaso yang enak dalam kuil tua itu, dimana ia dapat mengaso dan tidur memenuhi keinginan hatinya. Di
-
belokkannya kuda kurus itu ke kirime
-
masuki pekarangan kuil tua yang penuh rumput, seperti juga kuilnya sendiri yang sudah kosong dantidak terpelihara, pe
-
karangan itupun kotor penuh rumput. Akan tetapi hal ini menguntungkan bagi kudakurus yang terus saja melahap rum
-
put hijau di depan kuil. Kuda itu dilepas begitu saja oleh SulingEmas yang me
-
masuki kuil dengan mata setengah tidur! Tanpa menoleh ke kanan kiri tanpamempedulikan beberapa orang pengemis yang duduk di sudut ruangan depan, ia terus melangkah kedalam, mengebut-ngebutkan ujung baju membersihkan lantai di sudut yang kosong, lalu duduk bersandardin
-
ding, terus melenggut tidur! Hanya de
-
ngan istirahat beginilah batuk yang me
-
nyerangnya menjadiberkurang.Mengapa pendekar sakti seperti Suling Emas sampai menjadi begini? Padahal, kalau ia menghendakikedudukan, Kerajaan Sung akan membuka kesempatan sebesarnya kepada Suling Emas, tokoh yangsudah banyak dikenal, bahkan Kaisar sendiri memberi penghargaan kepada Suling Emas, memberi izinistimewa kepada Suling Emas, untuk memasuki istana setiap saat sesuka hatinya! Selain ini, juga parapimpinan Beng-kauw yang menjadi orang-orang paling berpengaruh di samping Kaisar Nan-cao, juga akanme
-
nerimanya dengan tangan terbuka. Betapa tidak? Suling Emas adalah cucu kepo
-
nakan dari ketuaBeng-kauw! Mengapa ia menolak semua kemuliaan ini dan me
-
milih penghidupan miskin, terlantar, patahhati dan terserang penyakit?

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ardi Umbara liked this
suma_han liked this
suma_han liked this
suma_han liked this
suma_han liked this
suma_han liked this
Budi Haryyani liked this
Anshory Jr. liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->