/  483
 
 
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin 
 
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
 
MANAJEMEN
 
 MelumpuhkanSenjata Syetan
 
Penerbit Buku Islam Kaffah
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin 
 
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin 
------- Katalog dalam Terbitan (KDT)------------------------------------------------------------------------------------------
 
MANAJEMEN QALBU: Melumpuhkan Senjata Syetan
 
Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Penerjemah: Ainul Haris Umar Arifin
 
Thayib, Lc.; Cetakan VI, Darul Falah Jakarta, 2005
 
500 him; 15,5x24 cm.
 
Judul Asli:
 Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi
 
 Mashayidisy Syaithan
 
Penerbit: Daar Ibnul-Jauzi
 
ISBN 979-3036-19-2
 
Edisi Indonesia: 
MANAJEMEN QALBU: Melumpuhkan Senjata Syetan
 
Penerjemah
 
: Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Lc.
 
 Desain Sampul
: HAKA Advertising
 
Cetakan Keenam
: Ramadhan 1426 H/Nopember 2005 M
 
Diterbitkan Oleh: 
PT
DARUL FALAH
 
PO. Box. 7816 JAT CC 13340-JAKARTAE-mail: DAR_ELFALAH@PLASA.COM
 
 
All Rights Reserved
-----------------------------------------------------------------------
 
Hak terjemahan dilindungi undang-undang
 
 
berlebihan, karena seperempat
mud 
tidak sampai satu setengah
uqiyah' 
]
Damaskus.Dalam
Shahihain
disebutkan, Anas berkata, "Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
berwudhu dengan satu
mud,
dan mandi dengan satu
sha' 
hingga dengan lima
mud."
 Dan Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq berwudhudengan sekitar setengah
mud 
atau lebih sedikit dari itu.Muhammad bin Ijlan berkata, "Paham terhadap agama (di antaranyaditandai dengan) menyempurnakan wudhu dan menyedikitkan penum-pahan air."Imam Ahmad berkata, "Dikatakan, termasuk sedikitnya pema-haman seseorang (terhadap agama) yaitu kecintaannya kepada air."Al-Maimuni berkata, "Aku berwudhu dengan air yang banyak, laluImam Ahmad berkata kepadaku, Wahai Abul Hasan! Apakah kamu relaseperti ini?' Maka aku serta-merta meninggalkan (dari penggunaan airyang banyak)."Abu Daud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari hadits Abdillah binMughaffal, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah
Shallallahu Alaihiwa Sallam
bersabda,
"Akan ada dalam umatku kaum yang berlebih-lebihan dalam soalbersuci dan berdoa.
"Jika Anda membandingkan hadits di atas dengan firman Allah,
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampauibatas."
(Al-A'raaf: 55).Dan Anda mengetahui bahwa Allah mencintai hamba yang beriba-dah kepada-Nya, maka akan muncullah kesimpulan bahwa wudhunyaorang yang was-was, tidaklah termasuk ibadah yang diterima Allah
Ta'ala,
meskipun hal itu telah menggugurkannya dari kewajiban terse-but, dan oleh sebab itu tidaklah akan dibukakan baginya pintu-pintusurga yang delapan karena wudhunya agar ia masuk darimana saja iasuka.Di antara kejelekan was-was yaitu orang yang bersangkutan terbe-bani dengan tanggungan air yang lebih dari keperluannya, jika air itumilik orang lain, seperti air kamar mandi (umum). Ia keluar daripada-
*) Satu
uqiyah
adalah sekitar satu ons. (Uhat kamus
 Al-Munawwir,
hal 1684, pen.).
 
190
 Melumpuhkan Senjata Syetan
 
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin 
 
nya dengan memiliki tanggungan atas apa yang lebih dari keperluannya.Lama-kelamaan hutangnya semakin menumpuk, sehingga membaha-yakan dirinya di Alam Barzah dan ketika Hari Kiamat.
Was-was terhadap Batalnya Wudhu
 Termasuk berlebih-lebihan adalah was-was dan ragu-ragu terhadapbatalnya bersuci, padahal itu tidak perlu.Dalam
Shahih Muslim
dari Abu Hurairah
 Radhiyallahu Anhu,
iaberkata, "Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda,
"Jika salah seorang dari kamu merasakan sesuatu dalam perutnya,sehingga ia sulit (menentukan): Apakah telah keluar sesuatu dari- padanya atau belum? Maka hendaknya ia tidak keluar dari masjid,sehingga ia mendengar suara atau mencium bau (kentut)."
 Syaikh Abu Muhammad*' berkata, "Dianjurkan bagi setiap orangagar memercikkan air pada kelamin dan celananya saat ia kencing. Halitu untuk menghindarkan was-was daripadanya, sehingga saat ia mene-mukan tempat basah (dari kainnya) ia akan berkata, 'Ini dari air yangsaya percikkan'." Hal ini berdasarkan riwayat Abu Daud, Nasa'i, IbnuMajah dan hadits ini
shahih.
Lihat
takhrij-nya
dalam
 Al-Itmam
melalui
sanad-nya
dari Suryan bin Al-Hakam Ats-Tsaqafi atau Al-Hakam binSufyan ia berkata, "Bahwasanya Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam
 jikabuang air kecil beliau berwudhu dan memercikkan air."Dalam riwayat lain disebutkan, "Aku melihat Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
buang air kecil, lalu beliau memercikkan air padakemaluannya."Sedangkan Ibnu Umar
 Radhiyallahu Anhuma
beliau memercikkanair pada kemaluannya sehingga membasahi celananya.Sebagian kawan Imam Ahmad mengadu kepada beliau bahwa iamendapatkan (kainnya) basah setelah wudhu, lalu beliau memerintah-kan agar orang itu memercikkan air pada kemaluannya jika ia kencing,seraya berkata, "Dan jangan engkau jadikan hal itu sebagai pusat per-hatianmu, lupakanlah hal itu."
*) Beliau adalah Al-Maqdisi, penulis kitab
 Dzammul Was-was,
seperti telah disebutkandi muka.
 
 Melumpuhkan Senjata-Senjata Syetan ...
191
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin 
 
Al-Hasan dan lainnya ditanya tentang hal serupa, maka beliaumenjawab, "Lupakanlah!" Kemudian masih pula ditanyakan padanya,lalu dia berkata, "Apakah engkau akan menumpahkan air banyak-banyak 
 
(untuk membasuh kencingmu)? Celaka kamu! Lupakanlah hal itu!"
Was-was setelah Kencing
 Termasuk berlebih-lebihan adalah apa yang banyak dilakukan olehorang-orang yang suka was-was dan ragu-ragu seusai kencing mereka.Dan hal itu ada sepuluh macam:
 As-saltu/an-natru, an-nahnahatu, al-masyyu, al-qafzu, al-hablu, at-tafaqqudu, al-wajuru, al-hasywu, al-ishabatu,ad-darjatu.*
 Adapun
as-saltu
yaitu ia menarik (mengurut) kemaluannya dari pang-kal hingga ke kepalanya. Memang ada riwayat tentang hal tersebut,tetapi haditsnya
gharib
dan tidak diterima.
 Dalam Al-Musnad 
dan
Sunan Ibnu Majah**
dari Isa bin Yazdad dari ayahnya, ia berkata, "Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda,
'Jika salah seorang dari kamubuang air kecil, maka hendaklah ia menarik (mengurut) kemaluannyasebanyak tiga kali'."
 Mereka berkata, "Karena dengan
as-saltu
dan
an-natru
(keduanyabermakna menarik/mengurut, dalam hal ini mengurut kemaluan) makaakan bisa dikeluarkan sesuatu yang ditakutkan kembali lagi setelahbersuci."Mereka juga berkata, "Jika untuk itu memerlukan berjalan beberapalangkah, lalu ia lakukan, maka itu lebih baik."Adapun
an-nahnahatu
(berdehem) dilakukan untuk mengeluarkan(air kencing) yang masih tersisa. Demikian juga dengan
al-qafzu,
yangberarti melompat di atas lantai kemudian duduk dengan cepat.Sedangkan
al-hablu
yaitu bergantung di atas tali hingga tinggi, lalumenukik daripadanya kemudian duduk.
*) Syaikh Mahmud Khathab As-Subki dalam
 Ad-Dinul Khalish
(1/192, cet.4) berkata,"Hendaknya setiap orang membersihkan diri (dari kencingnya) sesuai dengankebiasaannya seperti: Berjalan, berdehem, berlari atau tiduran. Demikianlah orang
 
yang mengerti."
 
**) (no. 326), Ahmad, (4/347), Al-Baihaqi (1/113), Abu Daud dalam
 Al-Maras.il
(no.3),Ibnu Abi Syaibah (1/161) dari jalur Zam'ah bin Shalih dan Zakaria bin Ishaq dari Isa
 
bin Yazdad (bertambah), sehingga dikatakan, "Ia melebihi (bertambah) dari ayahnyakarena hadits ini."
Sanad 
hadits ini rf/ia'»/karena ke-»WKrsa/-annya (tidak bersambunghingga kepada Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam).
Demikian seperti dikatakan olehAbu Hatim, seperti yang dinukilkan oleh anaknya dalam
 Al-Ilal
(1/42). Lihat
 Al- Itmam
(19076).
 
192
 Melumpuhkan Senjata Syetan
 
Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin 

Sections

show all« prev | next »

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...