2
Berita Utama
Edisi 237 TEdisi 237 TEdisi 237 TEdisi 237 TEdisi 237 Tahun XIahun XIahun XIahun XIahun XI10 - 17 Mei 201110 - 17 Mei 201110 - 17 Mei 201110 - 17 Mei 201110 - 17 Mei 2011
Yang tidak tercantum di BOX Redaksional bukan wartawan kami. Dalam melaksanakan tugas jurnalistik wartawan kami dilengkapi dengan
Tanda Pengenal
dan
Surat Tugas Peliputan
dari Redaksi yang
masih berlaku
. Dan saat bertugas wartawan kami selalu membawa Surat Kabar Media Rakyat Edisi terbaru.
Redaksi :
Komplek DDN (Departemen Dalam Negeri)Blok B No. 7 Kec. Pondok GedeKel. Jatiwaringin Bekasi 17411
Telp.
(021) 8461157
Contact Person :
0812 9936 977, 0878 66 999 09
E-mail :
mediarakyat_new@yahoo.com
Website :
WWW.mediarakyatonline.com
Rekening
: Bank BRI Cab.KarawangNo. Rek : 0116-01-022016-50-9a/n: Hisar MT Sagala
Penerbit
: Yayasan Media Rakyat Intermedia
Percetakan
:
PT. Wahana Semesta Intermedia
Pemimpin Umum :
Hisar MT Sagala,
Penasehat :
KH. DR. TG. Abd. Rahman Anwar SH. MA, Drs. H. Ilyas Sabli, Bambang Nugroho. ST, Aleh Heryanto.ST, Drs. Insanul Kamil,Syamsurizon. SH. MSi, Drs. Ir. H. Didin Sahidin, NJ. MSP, Ir.H.Agus Irianto MM,
Konsultasi Hukum :
Susanto. SH,
Pemimpin Redaksi / Penanggung Jawab :
Hisar MT Sagala,
Dewan Redaksi :
Hisar MT Sagala,Drs.H. Asep Achmad Djaelani, MM, Iwan Saputra, SE, M.Si, Drs. H. Yono Kusyono,
Redaktur :
Irwan Hamid,
Litbang :
Herman Sugianto,
Manager Iklan :
Rudi Harris,
Manager Distribusi:
Herdi,
Layout / Design :
Ahmad Y, St,
Fhoto Grafer :
Hamin,
Staf Redaksi :
Jenri. S, Rusman, Rudi, Besti, Chandra.
PERWAKILAN/ BIRO :
Jakarta Pusat :
Ediatmo (Kepala), Nokipa,
Jakarta Utara :
Eka Lesmana (Kepala), Sarif, Yanto Sitanggang,
Jakarta Timur :
Sukron (Kepala), Wisnu,
Jakarta Barat :
Mohammad (Kepala), Nugraha, Tedy Sutisna,
Jakarta Selatan :
Hengki (Kepala), Yusandi, Sahrial Nova,
Karawang :
K. Komarudin, Warsian, Cece Wiriyadi,
Bogor, Depok :
Ali,Ruslan,
Kab. Bekasi :
S. Wahyudi, Suparman, Hamdan Bule, Amir Kebo, Suryanto, A. Natawi Jaya, Marulloh, H. Andang Hamdani,
Purwakarta :
Sapan Supriatna,
Biro Subang :
Iman,
Biro Kota Bandung :
Dodi Sulaeman (Kepala), Tuty Suhartati,
Bandung Barat :
Dayanto, Darfi,
Kabupaten Bandung :
Maman,
Sumedang/ Majalengka :
Edi Moelyana(kepala), Ani Suhartini,Wawan Setiawan, Budi,Ratim, Ruhiyat, Agus Atang, Darmansyah,
Biro Indramayu :
Abdullah (Kepala), Mukromin, Maskin, Suhada, NC Jawir,
Cirebon :
Masduri,
Kuningan :
Dian,
Biro Garut :
Undang Suryana (Kepala), Ali Hasan, Usep Jaelani,
Kab. dan Kota Sukabumi :
Rustandi, Ludy Herdiansyah,
Biro Cianjur :
Ruslan AG,Jaenudin,
Biro Kabupaten Tasik/ Kota Tasik :
Zamzam Hermansyah (Kepala), H. Ade Dimyati, Barkah Sudrajat, Iin Kartiwan, Widayanti, Yuyu Wahyudin, Dede R,
Biro Ciamis:
Heri Herdiana (Kepala),
Biro Banjar :
Ahmad Setia (Kepala),
Tangerang :
Halim Untar (Kepala), Herman,
Lebak/ Pandeglang :
Belfri (Kepala), Herianto,
Serang :
Sukendar (Kepala), Nani,
Lampung : Kab. Tanggamus & Pringsewu:
Dahlan (Kab. Biro), Jainuddin,
Perwakilan Sumatera Selatan :
Alex Effendi (Kepala),
Kota Palembang,
Adiyanto(Kepala),
Kota Prabumulih / kab. Muara Enim :
Alex Effendi (Kepala), Indra Apriansyah, Wendi Karno, H.M. Taher SN, Teti Pega, Amiruddin,
Biro Batu Raja / OKU :
Sahmi(Kepala),
Biro Oku Selatan :
Thomas Ivan,
Ogan Ilir :
Marleni (Kepala), Astute,
Tulang Bawang :
Sumarta (Kepala), Nani,
Kota Metro :
Tohir (Kepala), Maman Irawan,
Pekanbaru :
Paizal (Kepala),Nurdin,
Padang :
Marqian,
Bengkulu :
Aman Sipahutar,
Biro Mukomuko
:
Hilman Daud,
Biro Bengkulu Utara :
Syaiful Bahkri S,
PerwakilanJambi :
Leman Burhan, (Kepala), Hendar,
Muara Bungo :
Suyono,
Kab. Tebo :
Heri Zaldi,
Musirawas/ Lubuk Linggau :
Iman Koesnadi, Agus Salim,
Biro Sarolangon :
LeniHartati,
Biro Bangko :
Zainal Arifin,
Dumai :
Suparta (Kepala), Parjio,
Tanjung Pinang :
Winarto (Kepala), Jerlin P, Rony Rudianto,
Biro Batam :
Ganda S.Prawira (Kepala), AgusStanza AMd, Englis Simaremare,
Biro Tanjung Balai Karimun :
Jerlin P (Kepala),
Kab. Lingga :
Heri Susanto (Kepala), Nurjaly, Hendrano,
Kab. Bintan :
Defran, Edi Ishak,Amdiman,
Biro Natuna :
Roy S. (Kepala),
Biro Kab. Anambas :
S. Edwar. S (Kepala),
Rokan Hilir :
M. Erickson. S.Pd (Kepala), Rasmali SH, Syahdan,
Purwokerto :
Hanapiah(Kepala), Kuswandi,
Batang :
Rika Ida (Kepala), Hapid,
Kota Semarang:
Irman Idrus (Kepala), Warsoma,
Cilacap :
Murtaqin,
Pekalongan :
Hetty(Kepala) Narwan,
Purbalingga:
Hermanda,
Yogyakarta :
Suratno,
Klaten :
Sutrisno, Tarmo,
Perwakilan Jawa Timur:
Deasy Epita A (Kepala),
Mojokerto :
Moh. Lutfi,
Biro Lamongan :
Adi Sugiarto(Kepala), Huala Simanjuntak, Julian Tri, Prayitno,
Biro Banyuwangi :
M. Arif Afadi,
Biro Jombang
: Moh Sabit (Kepala), Joko Bambang, Rohimah,
Kupang :
Moses Mone Kaka(Kepala)
,
Klaudius Edy Burga,
Kalimantan Barat :
Ranto Leonardo,
Kalimantan Selatan / Tengah :
Gatner Eka Tarung, SE (Kepala),
Banjar Masin :
Mulia,
Banjar Baru :
Asrian Talatika,
Pulang Pisau :
Yabi. K,
Samarinda :
Kipan Suerta, Delimah,
Belu & TTu:
Heribertus Kolo (Kepala), Lodowikus Umbu Lodongo, Robertus Seran, Agus TB. SH,
Flores Timur :
Ferdinandus (Kepala), K. Lewoema,
Sorong :
Dea (Kepala), Gonjali,
Kota Medan :
Torang Sihite (Kepala), Anggiat Sihombing, Bincar Royven Tamba, SampangManik,
Deli Serdang :
Sopian Indris Simanullang, Sidik Mahadi,
Biro Samosir :
Pardingotan Sitanggang,
Padang Sidempuan:
Chairun (Kepala), Hotman, Ali,
Bali :
Nyoman, PutuArtha.
Makassar :
Darwis
Jakarta,(MR)
Intelijen harus mendudukkan jelas mengenai batas-batasyuridis dalam menjalankan tugas. Pemberian wewenangintelijen untuk menangkap dalam undang-undang dinilaiakan merusak mekanisme criminal justice system.Hal ini diungkapkan Direktur Program Imparsial saatditemui di gedung LBH Jakarta, Senin (2/5). "Kami menilaisikap pemerintah yang tetap bersikukuh memberikankewenangan pemeriksaan intensif alias penangkapan didalam undang-undang intelijen kepada lembaga intelijenbukan hanya akan merusak mekanisme criminal justice sys-tem, melainkan juga akan membajak sistem penegakanhukum itu sendiri," ujar Al Araf.Ia juga mengingatkan jika intelijen sebagai institusinegara merupakan institusi yang seharusnyamengedepankan kepentingan negara dibandingkankepentingan penguasa. "Intelijen harus tetap pada relnyasebagai institusi yang memberikan peringatan dini (earlywarning) dari ancaman terhadap keutuhan bangsa dannegara, selain itu intelijen juga harus bisa memberikananalisis-analisis dan atau penilaian intelijen (intelligenceasssesment) yang akurat terhadap berbagai isu strategis,"imbuhnya.Berkaca dari rezim orde baru, lanjutnya, atas namamengantisipasi ancaman terhadap keutuhan bangsa dannegara, intelijen bertindak sewenang-wenang danmengabaikan hak asasi manusia serta lebih mencerminkankepentingan penguasa dibandingkan kepentingan bangsadan negara.Oleh karenanya, menurut Al Araf, pemberian kewenanganmenangkap kepada lembaga intelijen adalah langkahmundur dalam proses reformasi sektor keamanan."Pemberian kewenangan penangkapan kepada lembagaintelijen akan menimbulkan tumpang-tindih kerja antar-aktor keamanan khususnya antara lembaga intelijen non-judicialdengan institusi kepolisian," imbuhnya.
>>Eka Lesmana
Wewenang PenangkapanIntelijen Dinilai Akan RusakSistem Hukum
Jakarta,(MR)
Sebanyak 60 persen wakil rakyat yang ada di DPR dinilaitidak pantas menduduki jabatan tersebut. Bahkan, anggotaDPR dianggap tidak ubahnya produk outsourcing."Sebagian besar anggota DPR tidak paham konstitusi,mereka di-outsourcing oleh partai," ujar pengamat politik dariuniversitas Indonesia, Rocky Gerung, saat ditemui di gedungPP Muhamadiyah, Jakarta Pusat, Senin (2/5).Menurutnya, partai politik yang ada saat ini tidak punyakurikulum pendidikan kewarganegaraan. "Partai lebih banyakmenyuruh anggota dewan sebagai debt collector daripadaedukator publik," ujarnya.Ia juga yakin jika saat ini banyak orang yang merasa jijikke gedung DPR. "Mestinya orang itu datang ke DPR ibarattamasya ke taman bunga. Tapi orang merasa jijik ke sana,sebab sudah berubah dari taman bunga ke peternakan ular,"imbuhnya.Partai sendiri, menurut Rocky, tidak dikendalikan ketuadan kongres, tapi oleh oligarki. "Jadi, misalnya,dua partaiberselisih di pusat, di daerah mereka bersekutu. Bisa sama-sama tukar tambah. Sebenarnya, desain partai kitamemburuk. Sementara, proses pendidikan politik tidakberjalan, karena dikejar-kejar debt collector buat pemilihanpemilu kada," kata Rocky.
>> Mohammad
Anggota DPRTak Ubahnya ProdukOutsourcing
Jakarta,(MR)
Pemerintah berjanji akanmenyerahkan DIM (Daftar Investarisasi Masalah) ke DPR terkait RUU BPJS (BadanPenyelenggara Jaminan Sosial).Rencananya, pemerintah akanmemberikan DIM tersebut pada9 Mei, dan bila tidak mencapaikesepakatan, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso siap pasang badan."Pemerintah janji 9 Meimaksimal serahkan DIM ke pansus. Kalau berujung padadeadlock artinya tidak jadi,maka kebangetan banget peme-rintah. Dan saya akan pasang badan kalau deadlock. DPR akan gunakan hak untuk ingat-kan pemerintah," tegas Priyo diGedung Parlemen, Jakarta,Selasa.Bila dalam waktu seminggudari 9 Mei pemerintah tidak memberi niatan baiknya untuk mewujudkan BPJS, maka Priyosiap melaporkan menteri-men-teri yang dinilai kurang mendu-
Priyo Tuding MenkeuHalangi RUU BPJS
kung kesuksesan BPJS. Dankabarnya, Menkeu Agus Mar-towardjojo yang dinilai meng-halangi RUU BPJS tersebut."Dan menteri yang diang-gap paling menghalangi, boco-rannya, Kementerian Keuanganyang agak bandel," tandasnya.RUU yang juga dituntutoleh kaum buruh untuk segeradisahkan tersebut, memangsangat penting bagi rakyat In-donesia, di mana di dalamnyaterdapat ketentuan yang me-ngatur tentang jaminan keseha-tan, kematian, kecelakaan kerja, pensiun, dan hari tua.Memang RUU BPJSmembutuhkan banyak biayauntuk merealisasikannya, danmenurut Priyo, pemerintahmasih dalam tahap mengum- pulkan dana. "Pemerintahmemang sepertinya masihmenghela nafas atau kalauenggak cukup dana kita cari bersama. Kan ada dana APBNRp1.300 triliun ya kita cuilkansedikit kan enggak masalah,"ujarnya.
>> Mohammad
Jakarta,(MR)
Anggota Komisi VIIRomahurmuziy menyampai-kan beberapa fraksi DPRsepakat untuk menaikkanharga BBM subsidi atau pre-mium. Menurutnya, kebijakanmenaikkan harga premiumsudah rasional mengingatharga minyak dunia yangmelambung tinggi."Sebenarnya DPR sudahsepakat untuk dinaikkanpremiumnya. Dari yang saya lihat begitu, fraksi lain juga sudahsetuju,” kata Romahurmuziy, Rabu (4/5). Dalam kajiannya,penaikan harga premium bisa sekitar Rp 500 per liter.Romahurmuziy melanjutkan, jika pemerintah inginmenaikkan harga premium, waktu yang tepat adalah Aprilatau Mei karena dua bulan tersebut akan terjadi deflasi.Kalaupun ada, inflasi yang terjadi tidak terlalu tinggi. "Kalausudah melangkah Juni-Juli akan sulit karena itu bulan inflasi.Orang-orang bayar sekolah, setelah itu sudah bulan inflasilagi," jelasnya.Lebih lanjut, Romahurmuziy melihat penaikan premiumsudah layak dari sisi ekonomi, politik, dan sosial. Sebagaiperbandingan, negara China yang sosialis saja sudahmenaikkan harga BBM sebanyak 9%-16%.Selain itu, Indonesia Crude-Oil Price (ICP) sudah di atasasumsi sejak November tahun lalu. Penaikan harga premiumsangat wajar dilakukan.Romahurmuziy juga mendesak presiden menaikkanharga premium. Beberapa golongan masyarakat mungkintidak mau menerima kenaikan premium. Namun, haltersebut dianggap bisa dikompensasi dengan insentif lain."SBY kan sudah tidak boleh nyalonin lagi tahun depandan dulu SBY juga pernah menaikkan harga premium. Masasekarang nggak mau?" cetusnya.Jika pemerintah diam saja terhadap penaikan harga BBM,kuota BBM subsidi harus dinaikkan. Romahurmuziymemperkirakan kuota BBM subsidi akan naik menjadi 40,5 juta kiloliter. "Dengan asumsi kuartal 1 sudah naik 3%, jadikeseluruhan tahun bisa dibilang kuota bisa sampai 40,5 jutakiloliter," katanya.Memang pemerintah masih punya cara mengatasipembengkakan subsidi BBM karena penaikan harga minyak.Romahurmuziy sendiri menyebutkan masih ada 4 carapemerintah untuk mengatasi pembengkakan subsidi BBM. “Defisit kita kan boleh melebar asal tidak melebihi 3%. Kedua,itu bisa dikompensasi melalui penghematan K/L (kemente-rian dan lembaga) di kuartal 4 nanti. Ketiga, dari selisih kurssaja kita bisa dapat untung. Keempat, kita punya cadanganrisiko fiskal sebesar Rp4 triliun,” sebutnya.
>> Mohammad
Romahurmuziy:
DPR SepakatNaikkan BBM Subsidi
Romahurmuziy
Jakarta,(MR)
Langkah mencegah radika-lisme tidak hanya cukup dengankotbah, sebab para pelakuradikalisme memiliki pola pikir yang berbeda. "Mengatasiradikalisme tidak cukup hanyaulama yang berkotbah, ulama-ulama moderat sudah tidak
Kotbah Tak Cukup Cegah Radikalisme
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai
Biasanya gerakan radikalini dalam kotbahnyamenanamkan kebenciandan permusuhan kepadanegara dan agama lain.Jadi ini tidak bisa dengankhotbah, harus adatindakan fisik yang palingnetral adalah hukum,"
mereka anggap lagi karena panutannya adalah Osama,"kata Kepala Badan NasionalPenanggulangan Terorisme(BNPT) Irjen Pol AnsyaadMbay dalam diskusi publik Indonesiana tentang mengupasradikalisme disekitar kita diJakarta, Rabu(4/5).Ansyaad Mbay mengata-kan pelaku tindakan radikalismeitu sulit dikalahkan karenamereka punya akses internasio-nal, memiliki pembiayaan,sistematis dan terorganisasi."Biasanya gerakan radikalini dalam kotbahnya menanam-kan kebencian dan permusuhankepada negara dan agama lain.Jadi ini tidak bisa dengankhotbah, harus ada tindakanfisik yang paling netral adalahhukum," katanya.Ansyaad mengatakan, tidak ada faktor tunggal yang menja-di akar masalah radikalismesebab yang terjadi adalah kore-lasi dari semua faktor sepertikemiskinan dan ketidakadilanyang sudah mengkristal.Gerakan radikalisme di Indo-nesia menurut Ansyaad Mbay bukan barang impor tapi adasejak lama atau "home ground"yaitu NII.Lebih lanjut dia mengata-kan, ada dua bentuk radikalismedi Indonesia yaitu radikalismeteroris dan radikalisme nontero-ris yang motifnya sama yaitu jihad untuk membentuk negaraIslam dan memformalkan syariatIslam sebagai hukum formal.Menurut dia, saat ini radikalyang teroris dan nonterorissudah bersatu, karena merekamengangkat isu lokal sebagai jihad.Ansyaad juga menanggapi positif jika ada pendekatan poli-tik penting dilakukan dimanadari kelompok radikal masuk dalam partai politik. "Saya kira banyak partai politik yang platformnya sama denganmereka, kenapa tidak direkrutsaja sebagai anggota partai,"kata Ansyaad.
>> Eka LesmanaJakarta,(MR)
Kepergian Komisi VIII DPR RI ke Australia dalam rangkakunjungan kerja penangananfakir miskin tidak hanya dinilaisia-sia, tapi juga ada masalahkomunikasi yaitu bahasaInggris. Menurut Ketua UmumPPIA (Perhimpunan Pelajar In-donesia di Australia) SubhanZein, delegasi Komisi VIIImenghabiskan banyak waktusaat berkomunikasi dengan pihak Australia."Hasil pengamatan kamidalam pertemuan Komisi VIIIdengan Mr Stephen Kelly, Man-ager for Aged Care and Inter-national Programs, Departmentof Health and Services, dan Mr Peter Van Vliet, Assistant Sec-retary for Multicultural Affairs,
PPIA:
Komisi VIII DPR Tidak SemuaFasih Berbahasa Asing
Department of Immigration andCitizenship, menunjukkan pro-ses penerjemahan yang dilaku-kan secara dua arah, dari bahasaInggris ke bahasa Indonesia dari pihak penyaji, dan dari bahasaIndonesia ke bahasa Inggrisdari pihak Komisi VIII DPR RImenyebabkan banyaknya wak-tu yang terbuang sia-sia. Dalamcatatan kami, sebuah kalimat pendek atau frase panjang yangdisampaikan penyaji rata-ratamemakan waktu 7 detik,"ujarnya dalam siaran pers yangdimuat dalam website resmiPPIA, Selasa (3/5).Pada sesi tanya jawab,Subhan mengatakan terjadi berulang kali kesalahpahamanantara penanya dengan panjafakir miskin Komisi VIII. PPIAustralia memberikan rekomen-dasi atas kendala bahasa yangterjadi saat kunker 26 April hing-ga 2 Mei 2011, yaitu diperlu-kannya kecakapan berbahasaasing bagi yang akan diberang-katkan kunker ke luar negeri.Tak tanggung-tanggung,PPIA meminta adanya ijazah pendidikan tinggi di negarayang berbahasa sama dengannegara yang dituju dan lulussertifikasi kecakapan berba-hasa. Bila anggota DPR tidak fasih berbahasa asing, sekira-nya kunker ke luar negeri ditun-da."Pembatasan izin kunju-ngan kerja anggota DPR bagimereka yang tidak memiliki keca-kapan berbahasa asing yangmencukupi untuk menerima danmenyampaikan informasi secaradua arah dengan baik," kata-nya. "Anggota DPR yang akanmelakukan kunjungan negaratidak menunjukkan kecakapan berbahasa sebagaimana terse- but di atas, maka kunjungantersebut hendaknya ditundahingga mereka mendapatkan pelatihan bahasa asing seperti bahasa Inggris," katanya.Sementara itu, pimpinanrombongan Abdul Kadir Kar-ding yang juga Ketua KomisiVIII DPR enggan berkomentar dan memberi keterangan terkaitkunjungan dan evaluasi PPIAustralia.
>> Tedy Sutisna