Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kilang Minyak Balongan

Kilang Minyak Balongan

Ratings: (0)|Views: 1,209|Likes:
Published by Indoplaces
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: Indoplaces on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

 
 
www.ginandjar.com
1
PENJELASAN MENGENAI PROYEK EXOR-I BALONGANOleh:Ginandjar KartasasmitaJakarta, 9 Juli 2002
Sehubungan dengan adanya masalah sekitar pembangunan proyek Exor-I Balongan di mana nama kami dilibatkan, sepertiyang kami ikuti dalam pemberitaan di media massa termasuk dalam liputan kegiatan Pansus Pertamina khususnya setelahdengar pendapat dengan pejabat-pejabat Kejaksaan Agung, maka dengan hormat bersama ini kami ingin menyampaikanpenjelasan tentang masalah tersebut dan keterkaitan kami didalamnya. Penjelasan ini akan kami coba lakukan sejak awalproyek ini direncanakan, bukan saja pada masa kami menjabat Mentamben pada periode 1988-1993, yaitu dalam KabinetPembangunan V, tetapi juga ketika kami masih menjadi Menmud UP3DN/Ketua BKPM periode 1983-1988.
 
Sebelumnya perlu kami sampaikan bahwa dengansurat tanggal 11 Juni 2001 kami telah menyampaikankepada Kejaksaan Agung pada periode pemerintahan yanglalu, penjelasan tentang masalah ini. Dan pada tanggal 17September 2001, kami telah memenuhi panggilan dari TimGabungan Kejaksaan Agung RI-BPKP-Pertamina (Exor-IBalongan) untuk memberi keterangan dan klarifikasimengenai apa yang kami ketahui mengenai kilang Exor-IBalongan. Dan terakhir dengan surat tanggal 5 Juni 2002kami kembali menyampaikan penjelasan kepada JaksaAgung, untuk menyampaikan kepada Jaksa Agungpenjelasan yang telah kami berikan kepada Tim Gabungan,sekaligus menambah beberapa keterangan yang bahan-bahannya kami peroleh kemudian.Penjelasan dibawah ini akan mencakup penjelasanyang telah kami sampaikan kepada Jaksa Agung tersebut.Sejak Repelita IV Pemerintah melakukan berbagaiupaya untuk menyiapkan bangsa kita memasuki era tinggallandas yang diharapkan dapat terwujud pada akhir PJP I.Salah satu prasyarat untuk tinggal landas adalahterciptanya suatu tingkat kemandirian yangmemungkinkan suatu bangsa untuk melanjutkanpembangunan dengan kekuatannya sendiri. Oleh karenaitu, berbagai upaya dicurahkan untuk membangun kemam-puan industri, teknologi dan sumberdaya manusia.Dengan semangat itu, dengan mendorong penggunaanproduksi dalam negeri oleh masyarakat kita dan olehpemerintah sendiri, akan terbangun lapisan dunia usahanasional yang mampu memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan untuk ekspor.Dengan demikian diharapkan pembangunan dapat makindidukung oleh kemampuan dalam negeri dan sekaligusmakin mengurangi ketergantungan terhadap impor, danterhadap utang luar negeri. Dalam rangka itu, peningkatannilai tambah merupakan bagian yang penting dari strategiindustrialisasi agar kita tidak hanya mengekspor bahanmentah, tetapi juga hasil olahan, sehingga kita dapatmendorong perluasan lapangan kerja serta memperolehnilai yang lebih besar dari hasil ekspor kita. Kesemuanyaitu dilakukan dengan kesadaran bahwa bangsa Indonesiaperlu mempersiapkan diri dalam mengantisipasi masadepan yang cirinya adalah dunia yang makin menyatu danpersaingan global yang makin ketat.Sektor pertambangan dan energi yang merupakansektor penting dalam menunjang pembangunan, mendapatperhatian yang serius mengingat kebutuhan akan energi dimasa depan akan makin meningkat dan sektor ini jugamerupakan salah satu penghasil devisa utama. Di sektormigas misalnya, perlu diantisipasi kecukupan pasokanBBM di dalam negeri serta penguatan industrinya. Kondisidi mana kita pada waktu itu hanya mengekspor minyak mentah dan masih mengimpor BBM dalam volume yangcukup besar untuk keperluan dalam negeri, perludipecahkan.Konsep
export oriented refinery
(EXOR)berkembang dan ditetapkan sebagai kebijaksanaanpemerintah pada masa Kabinet Pembangunan IV (1983-1988). Konsep ini didasari wacana pemikiran untuk meningkatkan nilai tambah dari minyak bumi yang kitamiliki agar kita tidak hanya menjadi pengekspor minyak mentah, adanya jaminan keamanan suplai atas kebutuhanBBM di dalam negeri yang makin meningkat, danmengurangi ketergantungan kita pada luar negeri akanproduk BBM.Upaya yang dilakukan Pertamina untuk menambah produksi BBM pada waktu itu antara lainadalah dengan meningkatkan efisiensi kilang-kilang yangada. Namun melihat kecenderungan peningkatankonsumsi BBM di dalam negeri, dengan hanyameningkatkan produktivitas dan efisiensi kilang yang adasaja, maka kebutuhan BBM di masa depan dipandangtidak akan terpenuhi. Oleh karena itu, dipandang perlumembangun kilang-kilang baru.Mengingat kemampuan negara yang terbatas,maka untuk pembangunan kilang ini diperlukan adanyakerjasama dengan luar negeri. Namun harus diupayakan
 
 
www.ginandjar.com
2bahwa pembangunan kilang tersebut tidak menambahbeban bagi negara, baik beban utang maupun bebanterhadap APBN. Pendanaan proyek ini tidak bolehmemperberat
debt service ratio
(DSR) Pemerintah. Olehkarena itu, dikembangkan konsep
export oriented refinery
 di mana hasil penjualan dari kilang itu digunakan untuk membiayai investasi tersebut. Jadi pendanaannya dengansistem yang lazim disebut
non-recourse
, di mana seluruhpendanaan untuk membiayai pembangunan proyek tidak membebani APBN dan tidak dijamin oleh Pemerintah
1)
.Demikianlah apa yang kami ketahui dari konsep
export oriented refinery
yang berkembang dan telahditetapkan sebelum kami menjadi Mentamben.Pihak luar negeri yang berminat terhadappembangunan kilang dengan konsep ini pada waktu ituadalah Inggris. Dalam kunjungan ke Indonesia pada tahun1985 P.M. Inggris, Margaret Thatcher, menyampaikanminat untuk membantu modernisasi/ pembangunan kilangminyak di Indonesia, yang akan didukung dengan danahibah (
grant 
) dan bantuan bersyarat lunak (
soft loan
). Haltersebut kemudian menjadi kesepakatan kedua kepalapemerintahan. Salah satu hal yang patut diketahui adalahbahwa tawaran
grant 
dan
soft loan
lazimnya diberikansecara mengikat, yaitu bahwa perusahaan dari negaradonor dilibatkan dalam pelaksanaannya. Kami ketahuikemudian bahwa perusahaan yang diutarakan oleh pihak Inggris untuk melaksanakan kerjasama ini adalah FosterWheeler dan bahwa yang semula mereka rencanakanadalah menambah kapasitas kilang Balikpapan.Karena telah merupakan kesepakatan antara duapemerintah, dengan sendirinya tawaran tersebutditindaklanjuti oleh instansi-instansi kedua belah pihak.Di pihak Inggris, Kedutaan Besar Inggris aktif mewakilipemerintahnya.
1
Mengenai sistem pembelanjaan
non recouse
ini, kamisendiri bukan ahlinya, namun ada berbagai literatur, antaralain dalam buku Manajemen Proyek (Dari KonseptualSampai Operasional), karangan Iman Soeharto, DosenUniversitas Indonesia, diterbitkan oleh Penerbit Erlangga,1999, halaman 177, 183, s/d 185. Dalam buku tersebutantara lain dijelaskan bahwa “Dilihat dari latar belakang jaminan untuk satu pendanaan proyek, dikenal pendanaanyang disebut
non-recourse project financing
(NRPF).Berbeda dengan pendanaan proyek bentuk lain yangumumnya mendapatkan dana dengan jaminan dariperusahaan pemilik atau sponsor pemerintah, atau pihak ketiga, maka pada NRPF, tanggungan didasarkan ataskesinambungan usaha (
viability
) unit ekonomi hasil proyek itu sendiri dan aset unit tersebut sebagai jaminan (
collateral
)pembayaran kembali utang” (halaman 177). Dengansendirinya ada perbedaan biaya proyek antara kedua sistemtersebut yang terkait dengan masalah jaminan, resiko dansebagainya. Untuk dapat membandingkan antara keduanya,kepada sistem yang
recourse
perlu ditambah estimasiberbagai biaya tersebut (lihat lampiran 30).
Di pihak Indonesia, instansi yang berperan aktif disamping Pertamina adalah BPPT, seperti dapat dilihatpada korespondensi terlampir (lampiran 2). Dalam suratdari Foster Wheeler kepada Pertamina tanggal 3 Juli 1986disebutkan telah adanya pertemuan dengan Prof. Kho KianHo dari BPPT pada bulan Mei tahun yang sama.Keikutsertaan BPPT sejak awal dalammempersiapkan proyek kerjasama tersebut, dapat dilihatdari surat Menristek/Ka. BPPT kepada Presiden tanggal 1Juni 1987 (lampiran 3).Dalam surat itu Menristek/Ka. BPPTmenyampaikan prinsip-prinsip pokok proyek tersebutkepada Presiden. Dalam surat tersebut disarankan agar :1) Pembangunan kilang baru hendaknya dilakukan diJawa Barat bagian utara antara Jakarta dan Cirebon(Balongan sekarang), dengan berbagai pertimbangan-nya. Jadi bukan penambahan kapasitas kilang diBalikpapan.2) Kilang tersebut harus berupa kilang yang berorientasiekspor
(export oriented refinery).
 3) Pembiayaan pembangunan kilang berdasarkan
“non-recourse”
.4) Diingatkan pula urgensi waktu, karena di Thailandakan dibangun pula sebuah kilang yang berorientasiekspor.Dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan
non-recourse
adalah semacam penanaman modal asing keIndonesia dan suatu
 Joint Venture
yang longgar (lampiran 3 halaman 5). Dalam surat tersebut dinyatakan pula bahwaFoster Wheeler telah menyampaikan usulan pendahuluan(
 preliminary proposal
) kepada Pertamina dan BPPTeknologi mengenai
 Export Oriented Refinery
tersebut,yang pada dasarnya telah memenuhi semua persyaratandasar yang diminta (lampiran 3 halaman 3). Menristek/Ka. BPPT menyarankan agar Presiden menugaskan Pertaminauntuk memulai memproses dan melakukan negosiasidengan British Petroleum dan Foster Wheeler. Dari surattersebut tampak pula bahwa laporan dalam surat tersebutmerupakan rangkaian laporan-laporan sebelumnya(lampiran 3 halaman 4). Prinsip-prinsip tersebut itulah yang kita ketahuikemudian menjadi prinsip-prinsip pokok pembangunankilang di Balongan itu, termasuk peran konsorsium FosterWheeler didalam proyek tersebut.Selanjutnya, Dirut Pertamina dengan surat tanggal14 Juli 1987 menyampaikan tanggapan resmi Pertaminaatas
 proposal
yang disampaikan oleh konsorsium FosterWheleer mengenai proyek itu. Pertamina meminta agarada studi lebih rinci mengenai kelayakan dan rencanapembiayaan proyek ini, antara lain adanya ketentuanmengenai
non recourse financing
serta masalah pemasaran
 
 
www.ginandjar.com
3 jangka panjang dari produk-produk yang akan dihasilkanoleh Exor tersebut (lampiran 4).Dubes Inggris menemui kami pada bulan Juli1987, dalam kedudukan kami sebagai Ketua BKPM yangpada waktu itu kami rangkap sebagai Menteri MudaUP3DN. Dubes Inggris datang bersama calon-caloninvestor tersebut. Kami menerima mereka karena dalamkonsep pendanaan proyek tersebut, salah satu
option
-nyaadalah investasi PMA seperti yang digambarkan dalamsurat Menristek/Ka. BPPT tersebut diatas.Pembicaraan pada waktu itu meliputi antara lainrencana Pemerintah Indonesia untuk membangun kilangExor dengan mempertimbangkan bantuan PemerintahInggris dengan kerangka seperti yang dikemukakan dalamsurat Menristek/Ka. BPPT tersebut diatas. Persiapanpembangunan proyek ini ditangani oleh instansi-instansiyang secara fungsional berwenang menangani masalah ini,khususnya Pertamina dan BPPT.Pada waktu itu juga dibicarakan tentang berbagaikonsep pendanaan. Terutama PMA seperti konsep yangdikemukakan dalam surat Menristek/Ka. BPPT tersebutdiatas, namun jelas PMA yang lazim berlaku tidak dimungkinkan, karena pada waktu itu peraturan yangmembolehkan pihak asing membangun kilang di dalamnegeri belum ada. Pertemuan kami dengan Dubes Inggrisyang membawa perusahaan-perusahaan yang ditunjuk olehpemerintahnya untuk melaksanakan proyek, adalah sesuaifungsi dan tanggung jawab kami sebagai Ketua BKPMseperti tersebut di atas.Komunikasi berikutnya dari Dubes Inggris(lampiran 5) adalah untuk menyampaikan kepada kamihasil studi Foster Wheeler (lampiran 6) yang dilakukannyaatas permintaan Pertamina. Namun oleh karena konseppendanaan proyek tersebut tidak lagi merupakan investasi(dalam rangka PMA), maka kami tidak menanggapi dantidak melakukan tindak lanjut apa pun terhadap laporantersebut, karena masalah tersebut sepenuhnya tidak lagimenyangkut kewenangan kami selaku Ketua BKPM.Pada waktu kami diangkat menjadi Mentambenbulan April 1988, kami ketahui bahwa Pertamina dengansuratnya tanggal 7 Maret 1988 kepada Mentamben/KetuaDKPP, Prof. Subroto, telah melaporkan hasil evaluasiPertamina atas tawaran EXOR dari konsorsium FosterWheeler, dan mengajukan permintaan persetujuan prinsipuntuk pengembangan lebih lanjut proyek EXOR tersebut(lampiran 7).Sebagai jawabannya melalui surat tanggal 22Maret 1988, Mentamben/Ketua DKPP, Prof. Subrotomenyetujui pembangunan kilang yang berorientasi eksportersebut, yang dibangun dengan sistem pendanaan
non-recourse
(lampiran 8). Dengan demikian pembangunanproyek EXOR pada tingkat kebijaksanaannya, sesuaiaturan undang undang, telah ditetapkan oleh pemerintahdalam hal ini DKPP pada masa Kabinet Pembangunan IV.Ketika kami menjabat sebagai Mentamben padaKabinet Pembangunan V (April 1988 – Maret 1993), kamidiingatkan oleh Presiden mengenai pentingnya proyek ini,dan diminta untuk segera menindaklanjuti. Salah satuaspek yang penting adalah adanya tawaran dana dariPemerintah Inggris seperti yang disepakati pada waktukunjungan P.M. Margaret Thatcher. Langkah yang kamilakukan dalam rangka itu adalah memberitahu MenteriNegara Perencanaan Pembangunan Nasional/KetuaBappenas melalui surat tanggal 16 September 1988(lampiran 11) tentang adanya permohonan
grant 
dan
soft loan
yang diajukan Foster Wheeler kepada PemerintahInggris untuk proyek ini. Kami meminta agar Bappenas,sesuai prosedur sebagai instansi yang berwenang, untuk dapat memproses lebih lanjut bantuan tersebut. Karenayang berwenang menentukan besarnya nilai proyek adalahMenko Ekuin dan Wasbang, surat tersebut kami tembus-kan juga kepada Menko Ekuin dan Wasbang. Langkahselanjutnya yang kami lakukan adalah membentuk TimPengarah Pengembangan Kilang Minyak Untuk Eksporyang diketuai oleh Dirjen Migas (lampiran 12). Tim iniyang anggotanya mewakili berbagai instansi dibentuk bukan hanya untuk kilang Exor-Balongan saja, tetapiuntuk merumuskan kebijaksanaan pembangunan kilangExor pada umumnya.Sebagai catatan atas saran tim tersebut konfigurasikilang ini telah mengalami perubahan dalam kapasitasmaupun jenis minyak yang diolah serta unit-unitnya.Semula kapasitas kilang adalah 100 ribu bph menjadi 125ribu bph, dengan minyak yang diolah semula sebagianbesar minyak mentah ringan, dan hanya sebagian kecilminyak berat, kemudian menjadi 80% minyak berat (Duri)dan 20% minyak ringan (Minas)
.
Demikian pula kilang inidilengkapi dengan beberapa unit pengolahan yang akanmeningkatkan kemampuan dan jenis produksinya. Dengansendirinya perkiraan-perkiraan yang dibuat pada waktuproyek ini mulai direncanakan berbeda dengan kondisiakhirnyaPerlu kami catat pula bahwa dalam surat tanggal 6September 1988 kepada Dirjen Migas (lampiran 10),Foster Wheeler mengkonfirmasikan prinsip-prinsipPemerintah Indonesia dalam pembangunan Kilang Exor iniyakni :a) Proyek ini tidak boleh membebani anggaran negara,dan karenanya tidak boleh ada pinjaman kepadaPemerintah maupun Pertamina dan tidak adapembebanan terhadap aset Pertamina.b) Proyek ini tidak boleh menimbulkan dampak yangmerugikan bagi neraca keuangan Pertamina, dengankata lain pendapatan Pertamina tidak boleh berkurangdengan adanya proyek ini.

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Silwina Emarita liked this
Heru Karbudiasto liked this
Ucok Manalu liked this
ibnujandi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->