Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mantra 2 Jadi

Mantra 2 Jadi

Ratings: (0)|Views: 284 |Likes:
Published by mouniqamiya

More info:

Published by: mouniqamiya on May 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2011

pdf

text

original

 
Mantra
1
KOMAT KAMIT
KENALI MILIKMU, KAWAN!
Salam MANTRA!Sahabat MANTRA, kali ini MANTRA hadir dengan rentetan kasus yang dapat kamiangkat guna meramaikan edisi ini. Perjalanan ke Desa Klakah yang dilakukan oleh tim telahmembuahkan kisah-kisah yang patut kita simak bersama. Klakah merupakan sebuah desa kecil diwilayah Boyolali yang kaya akan kesenian tradisionalnya. Bawurku-Kesenianku menjadi laporanutama kami dalam edisi kedua ini. Laporan yang kami kemas sengaja dihadirkan untuk memberiinformasi kepada pembaca tentang bagaimana nafas kesenian Bawur masih dapat bertahanhingga saat ini.Isu
klaim
yang merebak dewasa lalu, hendaklah kita jadikan cerminan bersama. Kurang bijak tentu, jika kita melihat fakta yang demikian hanya dari satu sisi. Hingga muncul emosisesaat untuk saling menyalahkan. Akan lebih bijak, jika kita merenung sejenak. Instropeksi diritentu menjadi sebuah keharusan yang layak kita kerjakan. Bukan hanya sekedar tahu, tapi marikita kenali budaya dan aneka macam warisan yang ditinggalkan oleh pendahulu negeri ini.Akhir kata, semoga tulisan-tulisan yang kami sajikan dapat memberi informasi dan pengetahuan baru bagi pembaca MANTRA.Sebelum mengakhiri sapa ini, tidak lupa keredaksian MANTRA juga mengucapkanterima kasih kepada Bapak Sukadi selaku dosen pembimbing PPL hingga MANTRA edisi keduaini dapat lahir tepat pada waktunya. Akhir kata selamat membaca!KEREDAKSIAN MANTRA
 
Mantra
2
MENU MANTRA 
Dosen Pembimbing:
Drs. G. Sukadi;
Pemimpin Umum
: Nungki PrabawatiMulyono; Pemimpin Redaksi: NungkiPrabawati Mulyono;
Sekretaris
: RirisBerliani;
Bendahara
: Kanti Rahayu;
Rancang Grafis
: Herlinda Mipur Marindang;
Devisi Perusahaan
:Theresia Ni Putu Trisnawati; Marietta SriHermawatiningsih;
Staff Redaksi
:Erniati Thomas Moda, Laurentia Erikahartantri, Indri widhihastuti.Redaksi menerima sumbangan tulisandan gambar terkait isi rubrik (SuratPembaca, Opini, Resensi Buku/Film,Karikatur, Foto, dan Saran Kritik untuk MANTRA). Tulisan diketik rapi, huruf Times New Roman 12, spasi 1.5,maksimal 2 halaman kuarto, dan disertaiCV/data diri.
Redaksi berhak menyunting tulisansejauh tidak mengubah isi.
Alamat: Sekretariat PBSID UniversitasSanata Dharma Mrican,Tromol Pos 29 Yogyakarta
Komat-Kamit... 1Ngudar Perkara... 3
Klinong-Klinong...6
Urun Rembug... 8
Lakon... 10Urun Rembug... 13Ngudar Ukara... 14 
Resensi... 18
Cerpu... 20
Potret... 21
Cerpu... 23
Info Mantra... 27
Kilas Mantra... 35
Primbon... 37
Serat Pemaos... 41
 
3
NGUDAR PERKARA 
BAWURKU KESENIANKU
“Walaupun harus merogoh kantong, kami rela asal kesenianku tetap maju.”( 
Ronto,salah satu tokoh dalam kesenian Campur Bawur Krido Budoyo
 )
Kasus
klaim
Malaysia yang pernah menggegerkan Indonesia beberapa waktusilam merupakan bukti nyata bahwa bangsa ini kurang memperdulikan kesenianyang sudah dimiliki. Benar ada istilah yang mengatakan bahwa seseorang akanmerasa kehilangan ketika orang lain telah mengambilnya.Hal inilah yang akan menuntun kita untuk menilik,bagaimana kesenian daerah itu hidup dan tetap lestari disuatu daerah tertentu? Tulisan ini akan mencoba menguak napak tilas kesenian-kesenian daerah yang masih hidup danberkembang khususnya di desa Klakah, Selo, Boyolali.Campur Bawur, Ketoprak, Topeng Ireng, Kobro Siswo, dan Soreng adalah jenis-jeniskesenian yang masih langgeng hingga saat ini di desa tersebut.“Campur Bawur atau dalam istilah Jawa dikatakan
obahe ngawur 
adalahsebuah kesenian daerah yang mengisahkan buku Ramayana yang diperagakan olehsekelompok orang dalam sebuah cerita bisu (tarian) dan diiringi musik gamelan,”tutur Suhartono saat kami temui di kediamannya. Kesenian Campur Bawur inisudah ada sejak zaman nenek moyang ratusan tahun yang lalu, sehingga keseniantersebut merupakan tradisi turun-temurun.Seperti yang telah dipaparkan di atas, kesenian Campur Bawur merupakanjenis kesenian yang lumayan tinggi nilainya, selain sebagai gambaran bukuRamayana, juga merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat terhadapkesenian yang mereka miliki. “Walaupun harus merogoh kantong, kami rela asalkesenianku tetap maju,” ucap Ronto (43). Tidak dapat dipungkiri memang, agartetap eksis mereka harus mengeluarkan uang sekitar 60 juta untuk membeli kostum
Mantra

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->