Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
5200_1444-7.PESANTRENOKE

5200_1444-7.PESANTRENOKE

Ratings: (0)|Views: 471 |Likes:
Published by Mimah Moetmainah

More info:

Published by: Mimah Moetmainah on May 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2012

pdf

text

original

 
 
i
PENGANTAR
Antara pendidikan dan kebudayaan memiliki hubunganyang amat erat. Keeratan hubungan itu sering diibaratkan sepertidua sisi mata uang. Sisi yang satu akan memiliki makna apabiladilengkapi dengan sisi yang sebelahnya. Demikian sebaliknya.Dilihat dari sisi pendidikan, hampir seluruh materi yang diberikandalam proses pendidikan pada hakikatnya adalah kebudayaan.Sebaliknya dari sisi kebudayaan, pelestarian kebudayaan padahakikatnya dicapai melalui proses pendidikan. Melalui pendidikansegala hal yang terkandung dalam kebudayaan dari suatugenerasi ditransfer dan ditrasformasikan kegenerasi
berikutnya.Demikian, proses itu akan berlangsung secara terus menerussehingga yang dapat disaksikan melalui pendidikan kebudayaansuatu bangsa tetap lestari. Oleh karena itu pendidikan seringdisebut proses pembudayaan. Ini berarti Pondok Pesantren(Ponpes) sebagai bentuk lembaga pendidikan memiliki perandalam pelestarian kebudayaan dalam arti ikut melakukan upayapengembangan, perlindungan dan pemanfaatan kebudayaan.Ponpes adalah lembaga pendidikan yang tergolong tua diIndonesia. Setua masuknya agama Isalam ke Nusantara. Ketikaagama Islam masuk penyebarannya dilakukan melalui mediapendidikan ini. Dalam rentang masa yang sepanjang itu lembagapendidikan Ponpes telah menunjukkan aktivitas dan peran yangluar biasa. Kini keberadaan Ponpes semakin berkembang. Tidakhanya dalam hal jumlah, tetapi juga jenis, sistem pengajaran,variasi ilmu yang diajarkan dan proses pelaksanaanpendidikannya memiliki ciri-ciri yang menarik untuk disimak.Berawal dari lembaga pendidikan yang mengutamakanpendidikan agama (Islam), kini Ponpes berkembang menjadilembaga pendidikan yang cenderung mengikuti pola pendidikandi sekolah Non-Ponpes. Usaha-usaha ke arah pembaharuan danmodernisasi
memang sebuah konsekuensi dari sebuah duniayangmodern
. 
Dalam posisi Ponpes sebagai lembaga tempatberprosesnya pembudayaan bagi para santri/santriwati,pertanyaanya adalah bagaimana peran Ponpes menanamkanapresiasi budaya yang berkembang di sekitar Ponpes?Pertanyaan ini muncul karena sebagai
 
lembaga pendidikan yang
 
 
iiberada di tengah-tengah kehidupan suatu masyarakat, Ponpesmerupakan konsentrasi yang tidak dipisahkan dengan kondisilingkungannya, termasuk budaya yang berkembang di sekitarPonpes. Selain itu, sebagai lembaga pendidikan yang berlatarbelakang agama Islam sudah barang tentu kebudayaan Islammenjadi fokus yang yang dikembangkan di lembaga ini. Tentangbagaimana pandangan Ponpes terhadap kebudayaan dilingkungan Ponpes, menarik untuk dikutip dalam uraian iniadalah hasil wawancara yang disampaikan oleh Burhanuddindari Kajian Islam Utan Kayu dengan KH Muhyiddin pimpinanPesantren Nurul Islam, Jember, pada Kamis, 16 Januari 2003.
1
 Menurut KH Muhyiddin Ponpes harus lihai untuk menjadikanapresiasi budaya lokal sebagai salah satu strategi dalamberintegrasi dengan masyarakat di sekitarnya. Bahkandisebutnya Ponpes
“merupakan sub
-kultur yang tak bisa dilepaskan dari masyarakat itu sendiri. Jika ada pesantren yang ekslusif bak hidup di atas menara gading, maka sejatinya dia telah kehilangan akar historis dan sosiologis kehadiran 
 pesantren”.
Bertolak dari uraian di atas, timbul banyak pertanyaantentang peran pesantren dalam menanamkan apresiasi budayakepada para santrinya. Pertanyaan ini muncul karena pendidikandi pesantren cenderung dinilai hanya mementingkan pendidikanilmu agama Islam dan kurang memperhatikan pendidikankebudayaan. Pendidikan kebudayaan pun hanya terbatas padakebudayaan yang bernafaskan agama Islam saja.Berkenaan dengan masih adanya beberapa pertanyaan itu,Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah melakukan
penelitian dengan memusatkan perhatian pada ”PERANAN
PONDOK PESANTREN DALAM MENANAMKAN APRESIASI
KESENIAN”
.
Untuk mendapatkan gambaran tentangpenyelenggaraan penanaman apresiasi budaya tersebut telah
 
dipilih beberapa Ponpes di lingkungan Provinsi Jawa Barat,
 
Sumatera Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan sebagaiobyek penelitian. Harus diakui, jumlah dan jenis Ponpes yangdijadikan obyek dan jumlah responden masih terbatas biladibandingkan dengan jumlah Ponpes yang ada. Berdasarkan
1
 
Sumber: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=302
 
 
 
iiihasil pendataan yang dilakukan oleh Direktorat PendidikanKeagamaan (Madrasah Diniyah) dan Pondok Pesantren,Direktorat Jenderal Pendidikan Agama, Departemen Agama, jumlah Ponpes terus berkembang. Jumlah Ponpes hingga tahun
 
2005/2006 di seluruh Indonesia sebanyak 16.015 buah.Mengingat besarnya jumlah itu, Presiden Susilo BambangYudhoyono ketika menerima pengasuh pondok pesantren se-
 
Indonesia, dan pengurus tingkat pusat dan wilayah
Rabithah 
 
Ma‟ahid Islamiyah
(Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia) di
 
Istana Negara (21/5/2007) menyatakan:
”....kehadiran ribuan
pondok pesantren itu merupakan aset, kekuatan dan pusat kebajikan bagi umat, bangsa, dan negara yang tidak ternilai 
harganya”.
 Meskipun jumlah Ponpes yang diteliti masih terbatas, tetapidiharapkan dari hasil penelitian ini dapat diperoleh gambaran
 
tentang kondisi Ponpes dalam melaksanakan misinya sebagai
 
lembaga pendidikan agama Islam dan dalam menanamkan
 
apresiasi budaya bangsa kepada generasi muda. Di sampingdata dihimpun dari penelitian lapangan, juga dilakukanpengumpulan melalui penelitian kepustakaan dan jasa terknologi
 
komunikasi Internet. Penelitian dilaksanakan oleh suatu TimPeneliti yang terdiri atas:1. Prof. Dr. Edi Sedyawati (Penasihat)2. Drs. Junus Satrioatmodjo (Penasihat)3. Drs. Nunus Supardi (Koordinator)4. Dra. Dloyana Kusumah (Peneliti)5. Mikka Wildha Nurrochsyam SS (Peneliti)6. Wawan Gunawan S,Sn (Peneliti)7. Nasrudin SS (Peneliti)8. Drs. Nugroho, AS (Peneliti)9. Drs. Sudjana (Peneliti)10. Sjaiful Muzahid, SH (Peneliti)11. Dra. Ernayanti (Peneliti)12. Agus Sudarmaji, S.Kom (Dokumentasi)
 
2
Sumber:
http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2007/05/21/1853.html

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Raudhatul Jannah liked this
Nur Izanni liked this
blangyuzril liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->