Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
28Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Karakter (Teori & Aplikasi)

Pendidikan Karakter (Teori & Aplikasi)

Ratings: (0)|Views: 4,789|Likes:
Published by Nur Kholiq

More info:

Published by: Nur Kholiq on May 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/27/2013

pdf

text

original

 
PENDIDIKAN KARAKTER (TEORI & APLIKASI)
BAB IPENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Globalisasi dapat diartikan sebagai proses saling berhubungan yang mendunia antar individu, bangsa dan negara, serta berbagai organisasi kemasyarakatan, terutama perusahaan. Proses ini dibantu berbagai alat komunikasi dan transportasi yang berteknologicanggih, dibarengi kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi serta nilai-nilai sosial-budayayang saling mempengaruhi.Era globalisasi dengan ciri-ciri adanya saling keterbukaan dan ketergantungan antar negara. Akibat saling keterbukaan dan ketergantungan ditambah dengan arus informasiyang sangat cepat maka kompetisi antar negara pun akan semakin ketat terutama pada bidang ekonomi. Bagi Indonesia globalisasi ini tidak hanya memiliki dimensi domestik akan tetapi juga dimensi global. Dari sisi dimensi domestik globalisasi ini memberi peluang positif terutama untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi yang datang dari luar untuk meningkatkan peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Di samping itu dari sisikeuntungan domestik, pengaruh globalisasi ini dapat mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir kosmopolitan dan pola tindak kompetitif, suka bekerja keras, mau belajar untuk meningkatkan keterampilan dan prestasi kerja. Dari sisi globalisasi, kita hidup di dalamdunia yang terbuka, dunia yang tanpa batas. Perdagangan bebas serta makin meningkatnyakerjasama regional memerlukan manusia-manusia yang berkualitas tinggi. Kehidupanglobal merupakan tantangan sekaligus membuka peluang-peluang baru bagi pembangunanekonomi dan bagi pembangunan SDM Indonesia yang berkualitas tinggi untumemperoleh kesempatan kerja di luar negeri. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia baik untuk memenuhi SDM yang berkualitas bagikebutuhan domestik maupun global.Untuk menjawab tantangan sekaligus peluang kehidupan global di atas, diperlukan paradigma baru pendidikan. H.A.R. Tilar (2000:19-23) mengemukakan pokok-pokok  paradigma baru pendidikan sebagai berikut: (1) pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yang demokratis; (2) masyarakat demokratis memerlukan pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang demokratis; (3) pendidikan diarahkan untuk mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantanganinternal dan global; (4) pendidikan harus mampu mengarahkan lahirnya suatu bangsaIndonesia yang bersatu serta demokratis; (5) di dalam menghadapi kehidupan global yangkompetitif dan inovatif, pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi di dalam rangka kerjasama; (6) pendidikan harus mampu mengembangkankebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di ataskekayaan kebhinekaan masyarakat, dan (7) yang paling penting, pendidikan harus mampumeng-Indonesiakan masyarakat Indonesia sehingga setiap insan Indonesia merasa banggamenjadi warga negara Indonesia.Konflik-konflik sosial, tindakan-tindakan diskriminasi, perilaku yang exklusif dan primordial muncul karena belum semua masyarakat merasa, menghayati dan banggasebagai insan Indonesia. Dan di sinilah para pemimpin formal dan informal pada semuaaspek kehidupan harus menjadi teladan.Untuk mencapai tujuan ini diperlukan aktualisasi pendidikan nasional yang barudengan prinsip-prinsip : (1) partisipasi masyarakat di dalam mengelola pendidikan(
community based education
); (2) demokratisasi proses pendidikan; (3) sumber daya
1
 
 pendidikan yang profesional; dan (4) sumber daya penunjang yang memadai, dan (5)membangun pendidikan yang berorientasi pada kualitas individu berbasis karakter.Paradigma baru pendidikan di atas mengisyaratkan bahwa tanggung jawab pendidikantidak lagi dipikulkan kepada sekolah, akan tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalamarti sekolah dan masyarakat sama-sama memikul tanggung jawab. Dalam paradigma baruini, masyarakat yang selama ini pasif terhadap pendidikan, tiba-tiba ditantang menjadi penanggung jawab pendidikan. Tanggung jawab ini tidak hanya sekedar memberikansumbangan untuk pembangunan gedung sekolah dan membayar uang sekolah, akan tetapiyang lebih penting masyarakat ditantang untuk turut serta menentukan jenis pendidikanyang sesuai dengan kebutuhan, termasuk meningkatkan mutu pendidikan dan memikirkankesejahteraan tenaga pendidik agar dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena banyak kendala yangmempengaruhi, antara lain: (1) bagi masyarakat hal ini merupakan masalah baru sehingga perlu proses sosialisasi; (2) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota propinsi, kotamadyadan kabupaten, masalahnya lebih sederhana karena tingkat pendidikan dan ekonomi relatif  baik, sehingga tidak sulit menyeleksi orang-orang yang akan duduk pada posisi tanggung jawab ini; (3) bagi masyarakat yang tinggal di ibukota kecamatan dan desa masalahnyamenjadi rumit karena tingkat pendidikan masyarakatnya rendah dengan kondisi kehidupanmiskin.Permasalahan lain yang membutuhkan renungan sehingga dirasakan perlunya paradigma baru berkaitan dengan pendidikan, akhir-akhir ini banyak hal yang patutmenjadi bahan renungan mendalam. Misalnya masalah akhlak lulusan, kesesuaian lulusandengan lapangan kerja, masalah nasionalisme di tengah masa globalisasi, dan lain-lain.Mengapa lulusan pendidikan kita masih menghasilkan lulusan yang sebagiannya masihsanggup korupsi. Sebenarnya jiwa korup inilah yang menurunkan sifat berkolusi,nepotisme, monopoli, ketidakadilan dan sebagainya itu. Akar masalah adalah jiwa korup.Pendidikan sejatinya telah memberikan kontribusi pada pengembangan intelektual, banyak anak didik kita telah menorehkan prestasi pada ajang olimpiade baik pada tingkatnasional maupun internasional. Tapi disisi lain keberhasilan tersebut belum dibarengi padaupaya yang maksimal dalam menanamkan akhlak pada anak didik kita. Masih cukup banyak siswa-siswa kita di sekolah menengah yang nakal seperti mabuk-mabukan,tawuran, bolos sekolah. Padahal, kita mengetahui bahwa kenakalan itu potensial untuk kejahatan. Remaja yang nakal amat potensial untuk berkembang menjadi orang dewasayang jahat.Krisis ekonomi yang kita alami sekarang yang merambat ke krisis kepercayaan kepada pemerintah, sebagiannya diakibatkan oleh akhlak pelaku bisnis -dan orang-orang yang berhubungan dengan itu- yang kurang baik. Mereka itu adalah lulusan sekolah dan perguruan tinggi. Artinya, sekolah dan perguruan tinggi kita ikut ambil bagian juga sebagai penyebab terjadinya krisis yang kita alami sekarang.Sebenarnya, hasil pendidikan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pendidikan disekolah (dan perguruan tinggi). Rumah tangga dan masyarakat pun ikut menentukan.Karena itu, kata “pendidikan” yang dimaksud dalam buku ini mencakup pendidikan di tigatempat pendidikan tersebut.Apa yang seharusnya menjadi inti pendidikan kita? Beberapa tahun yang lalu adakeluhan dari Menteri Pendidikan tentang pendidikan kita, khususnya pendidikan formal.Keluhan itu ialah kurang sesuainya lulusan sekolah kita dengan tuntutan lapangan kerja.Dari sinilah muncul konsep
link and match
yang tekenal itu.Tidak dapat diragukan lagi bahwa masalah kurang relevannya kemampuan lulusandengan lapangan kerja memang merupakan salah satu kekurangan dalam pendidikan kita. Namun demikian ada satu hal yang harus diingat: itu bukan masalah terbesar dalam
2
 
 pendidikan kita. Masalah terbesar apa? Pendidikan akhlak, dimana akhlak yang dibangunmerupakan karakter dari hasil pendidikan.Jika ditelusuri perjalanan sejarah maka akan muncul informasi berkaitan dngan tujuan pendirian sekolah, sekolah pada awalnya memang dibuat bukan menyediakan lapangankerja. Sejarah mencatat nama Plato ( filsuf Yunani) adalah orang yang mula-mulamendirikan lembaga pendidikan yang mirip dengan sekolah kita sekarang, dengan namaAkademia. Dalam fikiran Plato tujuan mendirikan lembaga pendidikan bukan untuk mencetak tenaga kerja, bukan mengajarkan keterampilan untuk bekerja. Meskipundemikian, bukan berarti pada saat itu belum ada lapangan kerja, sebab semua pekerjaansaat itu bisa dikerjakan tanpa harus mengenyam bangku sekolah. Plato melihat adamasalah yang lebih esensial, ada masalah yang lebih besar, lebih mendasar, yang harusmenjadi tujuan pendidikan, yaitu manusia harus disiapkan agar menjadi manusia yang bijaksana. Manusia yang bijaksana itu ternyata sulit dihasilkan, yang agak mudahdihasilkan ialah manusia yang mencintai kebijaksanaan (
the lover of wisdom
).Ada banyak ciri manusia bijaksana yang dimaksud oleh Plato dan kawan-kawannya.Pada dasarnya, yang dimaksud mereka dengan manusia bijaksana atau pencintakebijaksanaan ialah manusia yang banyak pengetahuannya dan memiliki kemampuantinggi dalam pengendalian diri. Karena itulah Pythagoras mendirikan orde (aliran) yanglebih berorientasi dalam mengajarkan aktivitas ritual yang diduga dapat menjadikanseseorang memiliki kemampuan tinggi dalam mengendalikan diri.Sekolah ketika itu memang belum diarahkan untuk mencetak tenaga kerja. Sekolahketika itu menekankan tujuannya pada meningkatkan kemanusiaan manusia. Orang-orangterdidik haruslah menjadi panutan orang di sekitarnya dalam hal perikemanusiaan yangtinggi; mereka haruslah menjadi bintang bersinar dalam masyarakatnya, mereka harusmampu menjadi teladan kemanusiaan masyarakatnya. Diterimanya hukuman mati -yangdijatuhkan oleh pengadilan Athena- oleh Socrates menjelaskan kenyataan itu. Orang yang bijaksana atau pencinta kebijaksanaan yang dimaksud orang-orang Yunani Kuno itu miripsekali dengan akhlak mulia (dalam ajaran Islam). Mungkin tidak terlalu keliru biladisimpulkan bahwa inti pendidikan pada zamanYunani Kuno itu ialah pendidikan akhlak.Memang tujuan pendidikan tidaklah hanya akhlak mulia. Tujuan-tujuan lain ada juga.Misalnya pengetahuan yang banyak dan terampil bekerja. Tetapi, pembentukan akhlak selalu merupakan inti tujuan.Dalam UU Nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepadaTuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. Tetapi dalam operasinya kita masihmenempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr.Ahmad Tafsir (1991 dan 1996)menggambarkan kebanyakan orang tua menyekolahkan anak dengan tujuan: 1) agaanaknya tidak nakal. Anehnya; 2) alasan pemilihan sekolah oleh orang tua murid telah bergeser, khususnya pemilihan SMA. Dahulu, mutu akademik SMA merupakan kriteria pertama dalam pemilihan, ukuran yang mereka gunakan ialah prosentase lulusan yanglulus perguruan tinggi favorit. Sekarang menemukan data bahwa sebagian besar orang tuamurid menjadikan mutu akademik itu sebagai kriteria kedua. Kriteria nomor satu ialah besarnya kemungkinan sekolah itu mendidik anaknya agar tidak nakal. Jadi, tidak nakalmerupakan kriteria pertama dalam pemilihan SMA. Pergeseran itu dapat dipahami. Bilaanaknya di SMA nakal maka akan timbul banyak kerugian.
 Pertama
, orang tua akan malu bila anaknya nakal,
kedua
, prestasi akademik anaknya itu akan turun bila nakal,
ketiga
,kesehatan anak itu akan merosot bila nakal,
keempat 
, kadang-kadang pengeluaran uangakan lebih besar bila anaknya nakal. Jadi sebenarnya harapan pertama orang tua muridkepada sekolah ialah agar anaknya tidak nakal.Ada tiga tempat pendidikan yaitu sekolah, rumah, dan masyarakat. Lembaga pendidikan di rumah sudah jelas yaitu rumah tempat tinggal seseorang, lembaga
3

Activity (28)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Arief Ayip liked this
Fyan Nak Cools liked this
Muh Arif liked this
Syeful Mubarok liked this
S'cwegh Blue liked this
dedi_yulianto liked this
TiiBle Aja liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->