pendidikan kita. Masalah terbesar apa? Pendidikan akhlak, dimana akhlak yang dibangunmerupakan karakter dari hasil pendidikan.Jika ditelusuri perjalanan sejarah maka akan muncul informasi berkaitan dngan tujuan pendirian sekolah, sekolah pada awalnya memang dibuat bukan menyediakan lapangankerja. Sejarah mencatat nama Plato ( filsuf Yunani) adalah orang yang mula-mulamendirikan lembaga pendidikan yang mirip dengan sekolah kita sekarang, dengan namaAkademia. Dalam fikiran Plato tujuan mendirikan lembaga pendidikan bukan untuk mencetak tenaga kerja, bukan mengajarkan keterampilan untuk bekerja. Meskipundemikian, bukan berarti pada saat itu belum ada lapangan kerja, sebab semua pekerjaansaat itu bisa dikerjakan tanpa harus mengenyam bangku sekolah. Plato melihat adamasalah yang lebih esensial, ada masalah yang lebih besar, lebih mendasar, yang harusmenjadi tujuan pendidikan, yaitu manusia harus disiapkan agar menjadi manusia yang bijaksana. Manusia yang bijaksana itu ternyata sulit dihasilkan, yang agak mudahdihasilkan ialah manusia yang mencintai kebijaksanaan (
the lover of wisdom
).Ada banyak ciri manusia bijaksana yang dimaksud oleh Plato dan kawan-kawannya.Pada dasarnya, yang dimaksud mereka dengan manusia bijaksana atau pencintakebijaksanaan ialah manusia yang banyak pengetahuannya dan memiliki kemampuantinggi dalam pengendalian diri. Karena itulah Pythagoras mendirikan orde (aliran) yanglebih berorientasi dalam mengajarkan aktivitas ritual yang diduga dapat menjadikanseseorang memiliki kemampuan tinggi dalam mengendalikan diri.Sekolah ketika itu memang belum diarahkan untuk mencetak tenaga kerja. Sekolahketika itu menekankan tujuannya pada meningkatkan kemanusiaan manusia. Orang-orangterdidik haruslah menjadi panutan orang di sekitarnya dalam hal perikemanusiaan yangtinggi; mereka haruslah menjadi bintang bersinar dalam masyarakatnya, mereka harusmampu menjadi teladan kemanusiaan masyarakatnya. Diterimanya hukuman mati -yangdijatuhkan oleh pengadilan Athena- oleh Socrates menjelaskan kenyataan itu. Orang yang bijaksana atau pencinta kebijaksanaan yang dimaksud orang-orang Yunani Kuno itu miripsekali dengan akhlak mulia (dalam ajaran Islam). Mungkin tidak terlalu keliru biladisimpulkan bahwa inti pendidikan pada zamanYunani Kuno itu ialah pendidikan akhlak.Memang tujuan pendidikan tidaklah hanya akhlak mulia. Tujuan-tujuan lain ada juga.Misalnya pengetahuan yang banyak dan terampil bekerja. Tetapi, pembentukan akhlak selalu merupakan inti tujuan.Dalam UU Nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa keimanan dan ketaqwaan kepadaTuhan Yang Maha Esa adalah inti pendidikan kita. Tetapi dalam operasinya kita masihmenempatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai inti pendidikan.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr.Ahmad Tafsir (1991 dan 1996)menggambarkan kebanyakan orang tua menyekolahkan anak dengan tujuan: 1) agar anaknya tidak nakal. Anehnya; 2) alasan pemilihan sekolah oleh orang tua murid telah bergeser, khususnya pemilihan SMA. Dahulu, mutu akademik SMA merupakan kriteria pertama dalam pemilihan, ukuran yang mereka gunakan ialah prosentase lulusan yanglulus perguruan tinggi favorit. Sekarang menemukan data bahwa sebagian besar orang tuamurid menjadikan mutu akademik itu sebagai kriteria kedua. Kriteria nomor satu ialah besarnya kemungkinan sekolah itu mendidik anaknya agar tidak nakal. Jadi, tidak nakalmerupakan kriteria pertama dalam pemilihan SMA. Pergeseran itu dapat dipahami. Bilaanaknya di SMA nakal maka akan timbul banyak kerugian.
Pertama
, orang tua akan malu bila anaknya nakal,
kedua
, prestasi akademik anaknya itu akan turun bila nakal,
ketiga
,kesehatan anak itu akan merosot bila nakal,
keempat
, kadang-kadang pengeluaran uangakan lebih besar bila anaknya nakal. Jadi sebenarnya harapan pertama orang tua muridkepada sekolah ialah agar anaknya tidak nakal.Ada tiga tempat pendidikan yaitu sekolah, rumah, dan masyarakat. Lembaga pendidikan di rumah sudah jelas yaitu rumah tempat tinggal seseorang, lembaga
3