/  9
 
 1
WATERMARKING
DIGITAL PADA CITRA DI RANAH FREKUENSI DENGANMENGGUNAKAN
 DISCRETE COSINE TRANSFORM 
(DCT)
 
Hilma Solihat, Akmal, Erick PaulusJurusan Matematika FMIPA Universitas PadjadjaranJl. Raya Bandung-Sumedang km 21 Jatinangor 45363. Telp/Fax:022-7794696
 
ABSTRAK
 Proses
Watermaking Digital
pada citra merupakan proses penyisipan suatu data sebagai hak cipta(
copyright)
dari citra yang disisipinya. Citra yang disisipi (citra induk) dan data yang disisipkan (logo)
 
yangdigunakan dalam skripsi ini merupakan citra berwarna bertipe JPG. Proses ini dilakukan di ranah frekuensidengan menggunakan
 Discrete Cosine Transform
(DCT).Pada proses penyisipan, citra induk diubah ke dalam ranah frekuensi menggunakan DCT, sedangkanlogo ditransformasi ke dalam nilai biner (0,1) dan nilai 0 diubah menjadi -1 untuk disisipkan. Setelahpenyisipan n nilai biner selesai, citra yang ter-
watermark 
akan ditransformasi dari ranah frekuensi ke ranahspatial menggunakan IDCT.Pada proses ekstraksi, selain citra ter-
watermark 
, diperlukan juga citra induk sebelum disisipi
watermark 
sebagai referensi perubahan n nilai koefisien DCT citra. Masing-masing citra ditransformasiDCT, tiap nilai DCT citra dibandingkan. Selisih yang didapat dari perbandingan n nilai koefisisen DCTitulah yang merupakan nilai dari logo.Proses
watermarking
ini aman secara visual, namun rentan jika mengalami manipulasi citra. Logo tidak dapat diungkap kembali jika citra ter-
watermark 
mengalami manipulasi citra.
 
Kata kunci
:
Watermark,
hak cipta
 ,
DCT, citra digital, JPG, biner.
 
 ABSTRACT 
 Image watermarking digital process is the data embedding process for copyright protection of theimage. An inserted image (main image) and watermark image used in this paper are JPG type image. This process is performed in frequency domain using Discrete Cosine Transform (DCT). In the embedding process, the main image transformated into frequency domain using the DCT, whilewatermark image converted into binary value (0,1) then the value 0 converted into -1 for embedding. After the insertion of n binary values is completed, the watermarked image will be transformed from frequencydomain into spatial domain using the IDCT. In the extraction process, besides the watermarked image, the main image is also required beforeinserted as a reference of n DCT component image changed. Each image transformed using DCT, eachimage DCT value are compared. The difference acquired from comparison of n DCT component value that represents the value of the watermark image.This watermarking process is safe visually, but susceptive if get image manipulation. Watermark imagecan not be extracted when the watermarked image has been manipulation.
 
 Keywords
: Watermark, copyright, DCT, digital image, JPG, biner.
 
1.
 
PENDAHULUAN
Internet merupakan sistem jaringan terluasyang menghubungkan banyak komputer di dunia.Berkembangnya internet membuat data daninformasi dalam format digital terdistribusidengan mudah dan cepat. Hal tersebutmenyebabkan ketidakterbatasan akses danpenyalinan media digital, dan tidak menutupkemungkinan penyalahgunaan suatu media digitalakan terjadi. Oleh karena itu diperlukan suatuperlindungan hak cipta terhadap media digitaltersebut.Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk melindungi hak cipta suatu media digital, seperti:
encryption, copy protection, visible marking,header marking,
dan sebagainya (Sirait, 2001).Teknologi
watermarking
merupakan suatu solusidalam melindungi hak cipta kepemilikan terhadapdata-data digital, yang akhir-akhir inidikembangkan para peneliti. Proses
watermarking
melindungi hak cipta suatu media
 
 2
digital dengan cara menempelkan informasiidentitas pemilik dalam data media digital.Sebagian besar peneliti dalam dunia digital
watermark 
fokus pada salah satu media, misalnyacitra, audio, video atau text. Di dunia citrakhususnya dalam hal kompresi citra banyak yangmenggunakan
 Discrete Cosine Transform
(DCT),salah satu contohnya JPG. DCT bekerja dengancara memisahkan citra ke dalam bagian frekuensiyang berbeda-beda. Dewasa ini popularitas citrayang menggunakan kompresi citra JPGmeningkat pesat karena faktor rasio kompresinyayang cukup kompetitif. Maka proseswatermarking yang akan dikembangkan haruslahtahan terhadap proses kompresi JPG tersebut.
2.
 
DASAR TEORI2.1 Citra Digital
Suatu citra dapat didefinisikan sebagai fungsiintensitas cahaya 2 dimensi, dimana nilai x dan ymerupakan koordinat spasial dan nilai f(x,y)merupakan tingkat kecerahan (
brigtness
) suatucitra pada koordinat tertentu (Suhendra,2004:1).Suatu citra diperoleh dari penangkapan kekuatansinar yang dipantulkan oleh objek. Citra digitalmerupakan suatu matriks dimana indeks baris dankolomnya menyatakan suatu titik pada citratersebut dan elemen matriksnya (yang disebutsebagai elemen gambar / piksel / pixel / 
 pictureelement 
/ pels) menyatakan tingkat keabuan padatitik tersebut.Frekuensi dalam citra mempunyai perananpenting karena informasi citra disimpan dalambentuk frekuensi. Semakin tinggi frekuensi citra,semakin tinggi informasi yang ada. Nilaifrekuensi didapatkan dengan melihat selisih nilailevel warna dua pixel, semakin tinggi selisihnya(frekuensinya), semakin tinggi nilai informasinyapada daerah tersebut.
 
2.1.1 Warna dan Ruang Warna
Warna pada dasarnya merupakan hasilpersepsi dari cahaya dalam spektrum wilayahyang terlihat oleh retina mata, dan memilikipanjang gelombang antara 40nm sampai dengan700nm. Tingkat ketajaman / resolusi warna padacitra digital tergantung pada jumlah “bit” yangdigunakan oleh komputer untuk mempresentasikan setiap pixel tersebut. Tipeyang sering digunakan untuk merepresentasikancitra adalah “8-bit citra” (256
colors
, 0 untuk hitam – 255 untuk putih), tetapi dengan kemajuanteknologi perangkat keras grafik, kemampuantampilan citra di komputer hingga 32 bit (256warna).Citra
monochrome
atau citra hitam-putihmerupakan citra satu kanal, dengan citra f(x,y)merupakan fungsi tingkat keabuan dari hitam keputih, x menyatakan variabel baris (garis jelajah)dan y menyatakan variabel kolom atau posisi digaris jelajah. Sebaliknya citra berwarna dikenal juga dengan citra multi-spektral, dengan warnacitra biasanya disusun oleh tiga komponen warna,yaitu merah, hijau, dan biru (
 Red, Green, Blue – RGB
).Suatu citra dalam model RGB terdiri daritiga bidang citra yang saling lepas. Intensitaspada suatu titik merupakan kombinasi dari tigaintesitas warna tersebut, yaitu (f 
merah
(x,y)), (f 
hijau
 (x,y)), dan (f 
biru
(x,y)). Nilai dari masing-masingkomponen warna RGB pada suatu pixel dalamcitra digital berkisar antara 0 sampai 255.Representasi nilai ini berupa integer. Suatu warnadispesifikan sebagai campuran sejumlahkomponen warna utama.
Spectrum grayscale
 (tingkat keabuan) yaitu warna yang dibentuk darigabungan tiga warna utama dengan jumlah yangsama, berada pada garis yang menghubungkantitik hitam dan putih.
2.1.2 Format Citra Digital JPEG
JPEG (
 Joint Photographic Experts Group
)adalah format gambar yang banyak digunakanuntuk menyimpan gambar-gambar denganukuran lebih kecil. Format file ini memilikiektestensi .jpg (untuk DOS) atau .jpeg. Formatini umumnya digunakan untuk menyimpan citradigital hasil foto. Format ini baik digunakanuntuk citra yang memiliki warna beragam ataucitra bergradien, sehingga citra memilikifrekuensi yang tinggi.Citra yang bertipe JPG menggunakan teknik kompresi yang menyebabkan kualitas citra turun(
lossy compression
). Setiap kali mengkonversicitra dengan tipe JPG dari tipe lain, ukuran citrabiasanya akan mengecil, kualitasnya turun dantidak dapat dikembalikan lagi. Meskipundemikian penurunan kualitas gambar hampirtidak terlihat mata.Karakteristik citra bertipe JPEG ini jugamampu menayangkan warna dengan kedalaman24-bit
true color 
, mampu menyimpan
alphachannel
serta mampu menyimpan gambar denganmode warna RGB, CMYK, dan
Grayscale
.
 
 3
2.2
 Discrete Cosine Transform (DCT)
besertapenggunaannya di ranah frekuensi
 Discrete Cosine Transform
(DCT) adalahsebuah fungsi dua arah yang memetakanhimpunan N buah bilangan real menjadihimpunan N buah bilangan real pula. DCT bisadigunakan untuk mengubah sebuah sinyalmenjadi komponen frekuensi dasarnya (Khayam,2003).
2.2.1 DCT satu dimensi
DCT satu dimensi menyatakan sebuah sinyaldiskrit satu dimensi sebagai kombinasi linear daribeberapa fungsi basis berupa gelombang kosinusdiskrit dengan amplitudo tertentu seperti bentuk gelombang suara. Masing-masing basis memilikifrekuensi yang berbeda-beda, maka transformasitermasuk ke dalam transformasi domainfrekuensi.Amplitudo fungsi basis dinyatakan sebagaikoefisien dalam himpunan hasil transformasiDCT. Persamaan DCT satu dimensi didefinisikanpada persamaan di bawah ini (Cabeen, 2000):
α
 
π
  

 
      
 Keterangan :T (u)f(x)N
α
(u)= koefisien ke-u himpunan hasiltransformasi DCT= anggota ke-x himpunan asal= banyaknya suku himpunan asal danhimpunan transformasi= parameter skala untuk setiap bit
watermark 
,
α
>0
 
        
 Transformasi balikan yang memetakanhimpunan hasil transformasi DCT ke himpunanbilangan semula disebut IDCT
 
α

π
 

 
2.2.2 DCT dua dimensi
 
DCT dua dimensi dapat dipandang sebagaikomposisi dari DCT pada masing-masingdimensi. Citra mempunyai sinyal dua dimensi,maka pengolahannya menggunakan DCT duadimensi.Persamaan DCT dua dimensi :

α
α
 
π
  

 

π
 
 
Persamaan IDCT dua dimensi :
 
α
α

π
 

 

π
 
 
2.3
Watermark
ing Digital
Watermarking
merupakan salah satu bidangdari kriptografi.
Watermarking
didefinisikansebagai suatu proses penyisipan/ penempelan data(
watermark 
) ke dalam objek mutimedia untuk melindungi hak milik dari objek multimediatersebut secara permanen (Cox et al, 1997).
Watermarking
memiliki potensi untuk memenuhikebutuhan yang tidak disediakan kripografi,karena peletakan informasi
watermark 
dalam isiyang tidak dapat diambil dalam penggunaannormal, bahkan
watermark 
bisa melindungi hak cipta suatu citra setelah mengalami manipulasicitra pada umumnya.Pada tugas akhir ini penulis akan menelitimengenai penyisipan
watermark 
pada media citramenggunakan logo sebagai label
watermark 
,dengan mengambil nilai biner dari logo tersebutuntuk disisipkan dalam citra induk. Penyisipanlogo akan lebih efektif dibandingkan teks, citraataupun suara, karena selain tidak sensitif terhadapa kesalah bit, ukuran
 file
juga tidak terlalu besar. Nilai biner dari logo yangdigunakan memiliki operasi komputasi yang tidak terlalu rumit namun tetap menjamin visualisasiyang cukup baik terhadap citra aslinya.
2.3.1 Karakteristik
Watermark
Digital
Sifat-sifat yang umum dimiliki oleh suatuaplikasi
watermarking
(Cox et al, 1997) adalah :
 
Fidelity,
yaitu perbandingan antara kualitasmedia penampung setelah disisipi
watermark 
 dengan kualitas media aslinya. Sebagian besaraplikasi
watermarking
mengharuskanalgoritma
watermark 
digital menanamkanlabel/tanda
watermark 
sedemikian rupa,sehingga
watermark 
tersebut tidak 

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...