Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mencari Metode Pendidikan Karakter Untuk Paud

Mencari Metode Pendidikan Karakter Untuk Paud

Ratings: (0)|Views: 414 |Likes:
Published by ayooomaju

More info:

Published by: ayooomaju on May 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

 
MENCARI METODE PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK PAUD: BELAJAR BERBASIS LAYANAN (SERVICE LEARNING)?A.
 
LATAR BELAKANG
Masyarakat dunia saat ini tengah disibukkan oleh berbagai persoalan sosial multisektoral. Kasus-kasus korupsi, kriminalitas, penggunaan obat-obat terlarang, narkoba, seks bebas, intensitasnya meningkat diberbagai kalangan termasuk dikalangan pelajar dan anak-anak. Kasus-kasus tersebut muncul salah satunya dapat disebabkan oleh semakin rapuhnyakecerdasan emosi para individu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Achenbach bersamaHoell (Sumarta, 2000:181) yang telah melakukan penelitian selama 15 tahun (1970-1980-an)terhadap anak±anak, menemukan:³... hasil penelitian menunjukkan terjadinya penurunan kadar kecerdasan rasa secaraajeg di seluruh dunia ditengah meningkatnya kecerdasan pikir (IQ) dan prestasiakademis. Tanda-tanda penurunan itu antara lain kian tingginya kasus penyalahgunaannarkotika dan obat-obat terlarang, meningkatnya kasus kriminalitas dan tindak kekerasan, hingga depresi, gampang putus asa, keterkucilan, kehamilan tak diinginkan,dan putus sekolah´.Lebih lanjut Sumarta (2000) menjelaskan bahwa:³...terjadinya serangkaian kasus-kasus tersebut titik berangkatnya bermula darisemesta pendidikan yang gagal dalam membentuk manusia dewasa yang berwatak danmerdeka mandiri. Pendidikan nasional cenderung menonjolkan pembentukankecerdasan pikir dan menepikan penempaan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkankecerdasan batin. Dari sini lahir manusia-manusia berotak pintar, manusia berprestasisecara kuantitatif akademik, namun tiada berkecerdasan rasa, tiada berkecerdasan budisekaligus sangat berketergantungan, tidak merdeka mandiri´.Pada dasarnya tujuan pendidikan adalah membina manusia menjadi manusia sejati yang berbudi pekerti luhur, seimbang jasmani rohani, pikir dan rasa atau dengan kata lainmemanusiakan manusia. Ledesma, seorang humanis Roma, pada pertengahan abad ke-16,sebagaimana yang dikutip oleh Sardi (1985) merumuskan tujuan pendidikan, sebagaimana berikut, ³Membantu seseorang manusia mandiri yang mampu arif atas kehidupannya sendiri,supaya akal budinya berkembang, supaya dapat terlibat dalam tata kemasyarakatan dandengan demikian dapat semakin mudah mencapai tujuan hidup yaitu bersatu denganTuhan´. Tujuan ini sama dengan konsep Ki Hajar Dewantara (Sardi, 1985) bahwa, ³Tujuan pendidikan adalah supaya dapat memajukan kesempurnaan hidup peserta didik yaitu selarasdengan kodratnya, serasi dengan adat istiadat, dinamis, memperhatikan sejarah bangsa danmembuka diri pada pergaulan kebudayaan lain´.
 
UU Sistem Pendidikan Nasional, Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menetapkan tujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Ini berarti tujuan pendidikan ini kerap dengan muatan karakter, karena merupakan perpaduanantara tampilan fisik dengan mental yang kelak akan dimiliki oleh keluaran pendidikan.Upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional sebenarnya memuat implikasi yangmenyeluruh dalam membina aspek kemanusiaan. Insan pendidikan tidak hanya bertugas dandituntut untuk piawai dalam mengembangkan aspek kognisi dan jasmaninya namun juga pakar dalam mengemban amanah dan mengasah aspek rasa. Dengan demikian masyarakatIndonesia diharapkan dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan sesuai denganketetapan Tuhan. Baik secara individu maupun dalam bermasyarakat dan bernegara.Pendidikan anak usia dini memenuhi komitmen intenasional mengenai pendidikanuntuk semua, klosul pertama menyatakan bahwa, expanding and improving comprehensiveearly childhood care and education, especially for the most vulnerable and disadvantagedchildren; lebih jauh lagi pada klosul ke enam dinyatakan secara menyeluruh program pendidikan harus memenuhi aspek kualitas seperti dinyatakan, improving all aspects of thequality of education and ensuring excellence of all so that recognized and measurablelearning outcomes are achieved by all, especially in literacy, numeracy and essential lifeskills. Pada klosul pertama pendidikan untuk semua terutama pendidikan bagi anak usia dinisudah menggejala baik negara maju maupun berkembang, akan tetapi pemenuhan aspek kualitas, keterukuran dan pemenuhan lifeskills esensial masih belum memenuhi standar yangditetapkan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah guru yang qualified hanya sekitar 20%, sehingga banyak berimplikasi pada proses pembelajaran, cara penanganan kelas, proses penilaian danlebih jauh lagi sulit mengukur pada hampir semua tahapan pendidikan dan sulit pula untuk mengukur kecakapan hidup esensial yang dikuasai oleh peserta didik pada pendidikan anak usia dini.Sementara itu produk impor pembelajaran merebak mewarnai penyelenggaraan PAUDantara lain menggunakan Beyond Center and Circle Time atau penggunaan PendekatanSentra dan Lingkaran dengan penekanan pada teori yang dikemukakan
Howard
G
ardner,
 
 Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Teori ini menekankan bahwa setiapanak memiliki potensi dan bakat yang dapat dikembangkan dalam kemampuan-kemampuan. Adapun kemampuan ini yaitu:
 
1.
 
Linguistic intelligence ("word smart")2.
 
Logical-mathematical intelligence ("number/reasoning smart")3.
 
Spatial intelligence ("picture smart")4.
 
Bodily-Kinesthetic intelligence ("body smart")5.
 
Musical intelligence ("music smart")6.
 
Interpersonal intelligence ("people smart")7.
 
Intrapersonal intelligence ("self smart")8.
 
 Naturalist intelligence ("nature smart")According to Dr. Gardner, our schools and culture focus most of their attention onlinguistic and logical-mathematical intelligence. We esteem the highly articulate or logical people of our culture. However, Dr. Gardner says that we should also place equal attention onindividuals who show gifts in the other intelligences: the artists, architects, musicians,naturalists, designers, dancers, therapists, entrepreneurs, and others who enrich the world inwhich we live. Unfortunately, many children who have these gifts don¶t receive muchreinforcement for them in school. Many of these kids, in fact, end up being labeled "learningdisabled," "ADD (attention deficit disorder," or simply underachievers, when their uniqueways of thinking and learning aren¶t addressed by a heavily linguistic or logical-mathematicalclassroom. The theory of multiple intelligences proposes a major transformation in the wayour schools are run. It suggests that teachers be trained to present their lessons in a widevariety of ways using music, cooperative learning, art activities, role play, multimedia, fieldtrips, inner reflection, and much more.Dalam pelaksanaan beberapa permasalahan dalam pendidikan anak usia dinidilakukan secara parsial dan hasil yang belum bisa diukur dengan model dan metode pembelajaran menggunakan cara yang sama sekali asing, lebih banyak menggunakan asumsiyang belum terukur dibandingkan dengan yang bersumber dari lingkungan sekitar. Dengan penataan yang lebih bersifat imitasi dan metode pembelajaran exs import, hasilan pendidikanPAUD yang diharapkan berhasil menciptakan warga belajar yang berkarakter agak skeptisdapat diwujudkan. Keberatan ini disebabkan pengajar hanya akan mengajar berdasarkankesiapan dan persepsi yang dimilikinya dengan mempertimbangan aspek kesederhanaan ataulebih bersifat melakukan pendekatan
undersimplificated.
Guru hanya akan melakukan salahsatu dari delapan kemampuan intelegensi yang paling dikuasainya dan mengabaikankecakapan lainnya pada diri peserta didik yang tidak ia kuasai.Tujuan utama pendidikan untuk anak usia dini untuk menumbukembangkan potensiyang dimiliki anak didik, karena sejumlah tuntutan instan seperti yang diharapkan oleh orang

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
HeNdra Jo Yach liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->