Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sains Geoinformasi Peranan Informasi Teknologi Geospasial dalam Pengendalian Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta

Sains Geoinformasi Peranan Informasi Teknologi Geospasial dalam Pengendalian Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta

Ratings: (0)|Views: 238|Likes:
Published by Aji Putra Perdana
Proyek pengendalian demam berdarah dengue (DBD) Kota Yogyakarta fase II telah dilaksanakan dari 1 Agustus 2007 hingga 31 Juli 2009 dengan penekanan pada pemberantasan sarang nyamuk selektif menggunakan Insect Growth Regulator (IGR). Proses distribusi dan monitoring IGR melibatkan 262 pemantau DBD yang direkrut dan diseleksi dari Jumantik RT yang ada di Kota Yogyakarta, sedangkan kontrol kualitas dilaksanakan oleh 32 surveyor. Tujuan dari tulisan ini ialah memberikan gambaran peranan informasi dan teknologi geospasial di bidang kesehatan, khususnya pengendalian demam berdarah dengue berdasarkan pada pengalaman selama bergabung di Proyek Pengendalian Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta. Semua data, distribusi dan keberadaan IGR, Knowledge, Attitude, and Practices (KAP) survey terkait IGR dan proyek DBD, data demografis, data jumlah kasus/angka kematian akibat DBD akan diikatkan ke dalam Sistem Informasi Geografis untuk dapat dikorelasikan dan dianalisa secara spasial. Oleh karena itu, proyek pengendalian DBD ini memanfaatkan informasi dan teknologi geospasial yang meliputi penggunaan citra satelit Quickbird sebagai panduan lapangan dan pemetaan partisipatif untuk mendapatkan batas administrasi hingga level RW/RT, Global Positioning System (GPS) untuk menyimpan lokasi rumah yang dikunjungi oleh surveyor, serta pengelolaan informasi dan data yang dikumpulkan cukup banyak sehingga memerlukan wadah basisdata yakni dalam sebuah Geodatabase. Perkembangan informasi dan teknologi geospasial sangatlah membantu dalam kegiatan pengendalian DBD di Kota Yogyakarta.
Proyek pengendalian demam berdarah dengue (DBD) Kota Yogyakarta fase II telah dilaksanakan dari 1 Agustus 2007 hingga 31 Juli 2009 dengan penekanan pada pemberantasan sarang nyamuk selektif menggunakan Insect Growth Regulator (IGR). Proses distribusi dan monitoring IGR melibatkan 262 pemantau DBD yang direkrut dan diseleksi dari Jumantik RT yang ada di Kota Yogyakarta, sedangkan kontrol kualitas dilaksanakan oleh 32 surveyor. Tujuan dari tulisan ini ialah memberikan gambaran peranan informasi dan teknologi geospasial di bidang kesehatan, khususnya pengendalian demam berdarah dengue berdasarkan pada pengalaman selama bergabung di Proyek Pengendalian Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta. Semua data, distribusi dan keberadaan IGR, Knowledge, Attitude, and Practices (KAP) survey terkait IGR dan proyek DBD, data demografis, data jumlah kasus/angka kematian akibat DBD akan diikatkan ke dalam Sistem Informasi Geografis untuk dapat dikorelasikan dan dianalisa secara spasial. Oleh karena itu, proyek pengendalian DBD ini memanfaatkan informasi dan teknologi geospasial yang meliputi penggunaan citra satelit Quickbird sebagai panduan lapangan dan pemetaan partisipatif untuk mendapatkan batas administrasi hingga level RW/RT, Global Positioning System (GPS) untuk menyimpan lokasi rumah yang dikunjungi oleh surveyor, serta pengelolaan informasi dan data yang dikumpulkan cukup banyak sehingga memerlukan wadah basisdata yakni dalam sebuah Geodatabase. Perkembangan informasi dan teknologi geospasial sangatlah membantu dalam kegiatan pengendalian DBD di Kota Yogyakarta.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Aji Putra Perdana on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2014

pdf

text

original

 
PERANAN INFORMASI DAN TEKNOLOGI GEOSPASIAL DALAMPROYEK PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUEKOTA YOGYAKARTA FASE II
Aji Putra Perdana
1
 
1
Alumnus Kartografi dan Penginderaan Jauh Angkatan 2001, Mahasiswa S2 Magister PengelolaanPesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) Angkatan 2009 Fakultas Geografi UGM; (Eks)Asisten Data Management Unit Proyek Pengendalian Demam Berdarah Dengue Kota Yogyakarta,Yayasan TAHIJA.Email:ajiputrap@gmail.com 
ABSTRAK 
Proyek pengendalian demam berdarah dengue (DBD) Kota Yogyakarta fase II telah dilaksanakan dari 1Agustus 2007 hingga 31 Juli 2009 dengan penekanan pada pemberantasan sarang nyamuk selektif menggunakan
 Insect Growth Regulator 
(IGR). Proses distribusi dan monitoring IGR melibatkan 262 pemantau DBD yang direkrut dan diseleksi dari Jumantik RT yang ada di Kota Yogyakarta, sedangkankontrol kualitas dilaksanakan oleh 32 surveyor. Tujuan dari tulisan ini ialah memberikan gambaran perananinformasi dan teknologi geospasial di bidang kesehatan, khususnya pengendalian demam berdarah dengue berdasarkan pada pengalaman selama bergabung di Proyek Pengendalian Demam Berdarah Dengue KotaYogyakarta. Semua data, distribusi dan keberadaan IGR,
 Knowledge, Attitude, and Practices
(KAP) surveyterkait IGR dan proyek DBD, data demografis, data jumlah kasus/angka kematian akibat DBD akandiikatkan ke dalam Sistem Informasi Geografis untuk dapat dikorelasikan dan dianalisa secara spasial. Olehkarena itu, proyek pengendalian DBD ini memanfaatkan informasi dan teknologi geospasial yang meliputi penggunaan citra satelit Quickbird sebagai panduan lapangan dan pemetaan partisipatif untuk mendapatkan batas administrasi hingga level RW/RT,
Global Positioning System
(GPS) untuk menyimpan lokasi rumahyang dikunjungi oleh surveyor, serta pengelolaan informasi dan data yang dikumpulkan cukup banyak sehingga memerlukan wadah basisdata yakni dalam sebuah Geodatabase. Perkembangan informasi danteknologi geospasial sangatlah membantu dalam kegiatan pengendalian DBD di Kota Yogyakarta.Kata kunci: Informasi Geospasial, Demam Berdarah Dengue,Kota Yogyakarta
1. PENDAHULUAN
Demam berdarah dengue (DBD) telah menjadi perhatian utama dalam masalah kesehatanmasyarakat dan secara umum ditemukan di daerah tropis dan menyebar seperti malaria (Teng,1997). Banyak negara-negara di Asia telah mengalami tingkat kasus demam berdarah dengue yangluar biasa pada tahun 1998. Tahun 2004 Indonesia melaporkan angka kasus demam berdarahdengue tertinggi di kawasan Asia Tenggara dan pada tahun 2006 di kawasan Asia Tenggara 57%angka kasus disumbangkan oleh Indonesia (WHO Regional Office for South-East Asia, 2007).Hingga saat ini, banyak usaha dan strategi yang telah dilakukan untuk mengendalikan demam berdarah dengue baik oleh Pemerintah di bawah koordinasi Departemen Kesehatan maupun jugaoleh lembaga-lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat. Strategi pengendalian demam berdarah dengue secara umum melalui pemberantasan sarang nyamuk, pendidikan/penyuluhan kesehatan, dan koordinasi antar sektor dengan berbagai metode yangdigunakan.Sebuah proyek pengendalian demam berdarah dengue untuk melindungi sekitar 108.000keluarga (520.000 jiwa) telah digagas untuk dilakukan di Kota Yogyakarta (jumlah penduduk Propinsi DIY kira-kira 3.300.000 jiwa pada tahun 2006), paling tidak selama satu tahun pertama.Sasaran proyek ini adalah pengendalian tempat perkembangbiakan nyamuk 
 Aedes aegypti
(L.)
 
dengan menggunakan pengendali pertumbuhan serangga (
 Insect Growth Regulator 
). Jenis-jenistempat penampungan air yang menjadi sasaran, yaitu bak mandi, bak air, dan sumur (sumur  pemukiman penduduk). Kegiatan proyek pengendalian DBD ini meliputi pembagian
 Insect Growth Regulator 
setiap tiga bulan, pemeriksaan serologi pada anak-anak,
adult aspiration
 (pengambilan nyamuk dewasa dengan menggunakan alat
adult aspirator 
), surveikepompong/demografi. Semua data, pembagian dan prevalensi Sumilarv, serta survei pengetahuan, sikap dan praktik (
knowledge, attitudes, and practices
/KAP) terkait penentuansasaran, manfaat dan keamanan
 Insect Growth Regulator 
, data demografi dan kasus/kematian akandimasukkan ke dalam sistem informasi geografis (SIG) untuk dikorelasi dan dianlisis secaraspasial.
1.1.
 
 Kota Yogyakarta dan Demam Berdarah Dengue
Yogyakarta, sebuah kota berpenduduk 506.000-522.000 orang, adalah ibukota propinsiDaerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terletak di selatan tengah pulau Jawa. Yogyakartamerupakan satu-satunya propinsi di Indonesia yang secara formal masih diperintah olehKesultanan dari jaman sebelum penjajahan, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
 
PropinsiDIY terbagi menjadi 5 kabupaten (Tabel 1), dengan tiap kabupaten terbagi menjadi unit-unit yangdisebut kecamatan (Gambar 1) yang selanjutnya terbagi ke dalam desa-desa yang disebutkelurahan, yang terbagi menjadi Rukun Warga (RW) yang terdiri atas kira-kira 250 rumah (kepalakeluarga), yang selanjutnya terbagi ke dalam Rukun Tetangga (RT), yaitu unit administratif terkecil yang terdiri atas 50-80 rumah (kepala keluarga).
Gambar 1.
Peta Administrasi Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta merupakan kabupaten terbesar keempat di DIY dengan luas 32,5 km
2
 namun paling padat penduduknya (kira-kira 16.000 jiwa per kilometer persegi); perbedaankepadatan penduduk ini menjelaskan banyaknya perbedaan kejadian demam berdarah dengue yang
 
 parah di Propinsi ini. Dengan tingkat kejadian (
incidence rate
/IR) 17,7 kasus per 10.000 penduduk, Kota ini memiliki tingkat kejadian dua tiga kali lebih tinggi daripada kabupaten Sleman(7,6) atau Bantul (6,3) (Tabel 1). Berdasarkan hal tersebut maka penelitian dilaksanakan di KotaYogyakarta dengan harapan dapat menganalisa terhadap hasil intervensi yang dilakukan.
Tabel 1
. Ukuran jumlah penduduk, jumlah penghuni dan tingkat kejadian (IR per 10.000 jiwa) kasus demam berdarah dengue per kabupaten untuk Propinsi Yogyakarta pada 2006. Jumlah penghuni didasarkan pada perkiraan jumlah orang per rumah di Bantul yang dilakukan selama rekonstruksi pascagempa bumi
Kabupaten Penduduk Penghuni Jumlah kasus
 Incident Rate
 (IR)
Yogyakarta 506.000 105.417 888 17,7Sleman 826.558 172.200 626 7,6Bantul 780.177 162.537 493 6,3Kulonprogo 443.819 92.462 71 1,6Gunung Kidul 746.457 155.512 106 1,4
Totals 3.303.011 688.127 2.184 6,6
1.2.
 
 Pelaksana Lapangan
Proyek bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta, dalam hal ini Dinas KesehatanKota Yogyakarta yang dibantu juga oleh pihak Puskesmas dan Kelurahan di Kota Yogyakartatelah menyeleksi dari tenaga sukarela yang dikenal dengan juru pemantau jentik hingga diperoleh262 tenaga jumantik. Proyek telah memperkerjakan 262 tenaga jumantik purna waktu di tingkatRT yang bekerja untuk 
Operational Unit 
dan 32 tenaga sukarela untuk komponen UniversitasGadjah Mada (Unit Pengawasan Kualitas, Riset, dan Serologi atau
Quality Control, Research, and Serology Unit 
/QCRS). Karena para pekerja ini diminta untuk bekerja lebih dari sekedar sebagai jumantik, mereka juga dikenal dalam Proyek ini sebagai Pemantau DBD. Para Pemantau DBD dan32 tenaga Surveyor berperan utama bersama dengan
GIS and Data Management Unit 
dalam pengumpulan data dan pemanfaatan informasi dan teknologi geospasial dalam rangka membantu pelaksanaan proyek pengendalian demam berdarah dengue, sehingga diharapkan dapat tepatterdistribusi secara merata dan sasaran kegiatan yakni menekan angka kasus demam berdarahdengue dapat tercapai.
1.3.
 
 Informasi dan Teknologi Geospasial 
Demam berdarah dengue tidak dapat menyebar secara langsung dari satu orang ke orangyang lain, akan tetapi penyebaran penyakit ini tidak dapat dihindarkan dari sudut spasial (Holmes,1997). Epidemiologis, profesional kesehatan masyarakat, geograf secara tradisional telah lamamelakukan analisa hubungan antara lokasi, lingkungan dan penyakit. Dr. John Snow adalah salahsatu pionir di lapangan. John Snow membuat peta kasus kolera terkait dengan pompa air di BroadStreet sebagai contoh yang bagus. Sekarang ini informasi dan teknologi geospasial sudahdigunakan dalam survey dan monitoring penyakit, seperti malaria dan juga demam berdarahdengue, diantaranya penggunaan sistem informasi geografis dalam pengelolaan informasi hinggaanalisa data dan citra satelit penginderaan jauh.Informasi dan teknologi geospasial ini juga dipergunakan dalam proyek pengendaliandemam berdarah dengue di Kota Yogyakarta untuk dapat secara efektif dalam penggunaaninformasi dan manajemen data yang dikumpulkan oleh aktivitas proyek. Informasi berupa data

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->