Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
47Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perdarahan Uterus Disfungsional

Perdarahan Uterus Disfungsional

Ratings: (0)|Views: 5,851|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Yudi Rakhmadi on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/13/2013

pdf

text

original

 
PENDAHULUAN
Hampir semua wanita pernah mengalami gangguan haid selama masahidupnya. Gangguan ini dapat berupa kelainan siklus atau perdarahan. Masalah inidihadapi oleh wanita usia remaja, reproduksi dan klimakterik.Haid yang tidak teratur pada masa 3-5 tahun setelah menars dan pramenopause (3-5 tahun menjelang menopause) merupakan keadaan yang lazimdijumpai. Tetapi pada masa reproduksi (umur 20-40 tahun), haid yang tidak teratur  bukan merupakan keadaan yang lazim, karena selalu dihubungkan dengan keadaanabnormal.Di Indonesia belum ada angka yang menyebutkan kekerapan perdarahanuterus disfungsional ini secara menyeluruh. Kebanyakan penulis memperkirakankekerapannya sama dengan diluar negeri, yaitu 10% dari kunjungan ginekologik. DiRSCM/ FKUI pada tahun 1989 ditenukan 39% kasus perdarahan uterus disfungsionaldari kunjungan poliklinik endokronologi dan reproduksi.
PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL
Adalah perdarahan abnormal dari uterus baik dalam jumlah, frekuensi maupunlamanya, yang terjadi didalam atau diluar haid sebagai wujud klinis gangguanfungsional mekanisme kerja poros hipotalamus-hipofisis-ovarium, endometrium tanpakelainan organik alat reproduksi, seperti radang, tumor, keganasan, kehamilan ataugangguan sistemik lain.Perdarahan uterus disfungsional dapat berlatar belakang kelainan-kelainanovulasi, siklus haid, jumlah perdarahan dan anemia yang ditimbulkannya.Berdasarkan kelainan tersebut maka perdarahan uterus disfungsional dapat dibagiseperti table 1.
Tabel 1. Latar belakang kelainaan perdarahan uterus disfungsional (PUD)dan bentuk kelainannya.
Dasar kelainanBentuk klinisOvulasiPUD ovulatoriPUD anovulatorik SiklusMetroragiaPolimenoreaOligomenoreaAmenoreaJumlah perdarahanMenoragia1
 
Perdarahan bercak prahaidPerdarahan bercak paskahaidAnemiaPUD ringanPUD sedangPUD beratTiga kategori yang berhubungan dengan PUD yaitu
estrogen breakthroghbleeding, estrogen wthdrawal bleeding 
dan
 progestin breakthrough bleeding.
 Estrogen breakthrough bleeding 
timbul bila estrogen berlebihan menstimulasiendometrium untuk berproliferasi. Dengan progesteron yang kurangendometrium lepas dengan interval yang irreguler dan menyebabkanvasokonstriksi tidak adekuat dan menyebabkan perdarahan. Bila kadar estrogen tinggi maka perubahan yang terjadi berlangsung lama dan dalam jumlah banyak.
 Estrogen withdrawal bleedin
disebabkan kadar estrogen yang tiba-tibarendah misal setelah ooforektomi bilateral, penghentian terapi estrogeneksogen atau sebelum ovulasi pada siklus menstruasi yang normal. Hal ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dan cenderung tidak timbul bilakadar estrogen tetap rendah. Perdarahan yang terjadi relatif sedikit.
 Progestin breakthrough bleeding 
timbul bila rasio progesteron/estrogen tinggiseperti pada pemberian kontrasepsi yang mengandung progesteron.Endometrium menjadi atrofi dan ulserasi oleh karena kekurangan estrogen danmenyebabkan perdarahan irreguler.Pada perdarahan uterus disfungsional ovulatorik perdarahan abnormal terjadi pada siklus ovulatorik dimana dasarnya adalah ketidakseimbangan hormonal akibatumur korpus luteum yang memendek atau memanjang, insufisiensi atau persistensikorpus luteum. Perdarahan uterus disfungsional pada wanita dengan siklusanovulatorik muncul sebagai perdarahan reguler dan siklik.Sedang pada perdarahan uterus disfungsional anovulatorik perdarahanabnormal terjadi pada siklus anovulatorik dimana dasarnya adalah defisiensi progesterone dan kelebihan progesterone akibat tidak terbentuknya korpus luteumaktif, karena tidak terjadinya ovulasi. Dengan demikian khasiat estrogen terhadapendometrium tak ber lawan. Hampir 80% siklus mens anovulatorik pada tahun pertama menars dan akan menjadi ovulatorik mendekati 18-20 bulan setelah menars.2
 
Perdarahan uterus disfungsional dikatakan akut jika jumlah per darahan padasatu saat lebih dari 80 ml, terjadi satu kali atau berulang dan memerlukan tindakan penghentian perdarahan segera. Sedangkan perdarahan uterus disfungsional kronis jika perdarahan pada satu saat kurang dari 30 ml terjadi terus menerus atau tidak tidak hilang dalam 2 siklus berurutan atau dalam 3 siklus tak berurutan, hari perdarahan setiap siklusnya lebih dari 8 hari, tidak memerlukan tindakan penghentian perdarahan segera, dan dapat terjadi sebagai kelanjutan perdarahan uterusdisfungsional akut.
PATOFISIOLOGI PUD
Berdasarkan gejala klinis perdarahan uterus disfungsional dibedakan dalam bentuk akut dan kronis. Sedangkan secara kausal perdarahan uterus disfungsional dapatterjadi pada siklus ovulatorik, anovulatorik maupun pada keadaan dengan folikel persisten.a. Pada siklus ovulatorik, perdarahan dapat dibedakan menjadi:
Perdarahan pada pertengahan siklus- Perdarahan yang terjadi sedikit dan singkat- Penyebabnya karena rendahnya kadar estrogen
Perdarahan akibat gangguan pelepasan endometrium- Biasanya terjadi banyak, memanjang- Penyebabnya adanya korpus luteum persisten, kadar estrogen rendah sedang progesteron terus terbentuk.
Perdarahan bercak, pra haid dan pasca haid- Hal ini disebabkan insufisiensi korpus luteum sedangkan pasca haiddisebabkan oleh karena defisiensi estrogen sehingga regenerasi endometriumterganggu. b. Pada siklus anovulatorik, dasar perdarahan pada keadaan ini adalah tidak adanyaovulasi karena tidak terbentuk korpus luteum yang disebabkan oleh defisiensi progesteron dan kelebihan estrogen. Perdarahan yang terjadi dapat normal, sedikitatau banyak dengan siklus yang teratur atau tidak teratur.c. Perdarahan uterus disfungsional pada keadaan folikel persisten sering dijumpai pada masa perimenopause dimana terjadi hiperplasi endometrium oleh karena pengaruh estrogen baik jenis adenomatosa maupun atipik. Mula-mula haid biasa3

Activity (47)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Astari Putri liked this
Nabila Annisa liked this
Febriyana Saleh liked this
pipitanakmama liked this
Faradila Hakim liked this
shindrummer liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->