Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Berasal Dari Kata Pedagogi

Pendidikan Berasal Dari Kata Pedagogi

Ratings: (0)|Views: 271 |Likes:
Published by Neysa Putry Syarif

More info:

Published by: Neysa Putry Syarif on May 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2013

pdf

text

original

 
Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan katapedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiridari dua kata yaitu ‘Paedos’ (anak, pen) dan ‘Agoge’ yang berarti saya membimbing, memimpin anak.Sedangkan paedagogos ialah seorang pelayan atau bujang (pemuda, pen) pada zaman Yunani Kuno yangpekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak (siswa, pen) ke dan dari sekolah. Perkataanpaedagogos yang semula berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini, kemudian sekarang dipakai untuknama pekerjaan yang mulia yakni paedagoog (pendidik atau ahli didik atau guru). Dari sudut pandang inipendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju kepertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.Pendidikan berkaitan erat dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulaiperkembangan fisik, kesehatan keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepadaperkembangan Iman. Perkembangan ini mengacu kepada membuat manusia menjadi lebih sempurna,membuat manusia meningkatkan hidupnya dan kehidupan alamiah menjadi berbudaya dan bermoral.Sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir, Rupert C. Lodge dalam bukunya Philosophy of Education (NewYork : Harer & Brothers. 1974 : 23) menyatakan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan itumenyangkut seluruh pengalaman. Namun faktanya bahwa tidak semua pengalaman dapat dikatakanpendidikan. Mencuri, mencopet, korupsi dan membolos misalnya, bagi orang yang pernah melakukannyatentunya memiliki sejumlah pengalaman, tetapi pengalaman itu tidak dapat dikatakan pendidikan. Karenapendidikan itu memiliki tujuan yang mulia, baik dihadapan manusia maupun dihadapan Tuhan.Banyak rumusan pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya:a. John Dewey : pendidikan merupakan suatu proses pembentukan kecakapan mendasar secaraintelektual dan emosional sesama manusia.b. JJ. Rouseau : Pendidikan merupakan pemberian bekal kepada kita apa yang tidak kita butuhkan padamasa kanak-kanak, akan tetapi kita butuhkan pada saat dewasa.c. M. J. Langeveld : Pendidikan merupkan setiap usaha yang dilakukan untuk mempengaruhi danmembimbing anak ke arah kedewasaan, agar anak cekatan melaksanakan tugas hidupnya sendiri.Menurut Langeveld pendidikan hanya berlangsung dalam suasana pergaulan antara orang yang sudahdewasa (atau yang diciptakan orang dewasa seperti : sekolah, buku model dan sebagainya) dengan orangyang belum dewasa yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan.d. John S. Brubacher : Pendidikan merupakan proses timbal balik dari tiap individu manusia dalam rangkapenyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman dan dengan alam semesta.e. Kingsley Price mengemukakan: Education is the process by which the nonphysical possessions of culture are preserved or increased in the rearing of the young or in the instruction of adults. (Pendidikanadalah proses yang berbentuk non pisik dari unsur-unsur budaya yang dipelihara atau dikembangkandalam mengasuh anak-anak muda atau dalam pembelajaran orang dewasa).f. Mortimer J. Adler : pendidikan adalah proses dimana semua kemampuan manusia (bakat dankemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapa pun untuk membantuorang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu kebiasaan yang baik.Definisi di atas dapat dibuktikan kebenarannya oleh filsafat pendidikan, terutama yang menyangkutpermasalahan hidup manusia, dengan kemampuan-kemampuan asli dan yang diperoleh atau tentangbagaimana proses mempengaruhi perkembangannya harus dilakukan. Suatu pandangan atau pengertiantentang hal-hal yang berkaitan dengan objek pembahasan menjadi pola dasar yang memberi corak berpikir ahli pikir yang bersangkutan. Bahkan arahnya pun dapat dikenali juga.Dari berbagai pandangan di atas dapat dilihat bahwa dikalangan pakar pendidikan sendiri masih terdapatperbedaan-perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan ahli pendidikan itu dankondisi pendidikan yang diperbincangkan saat itu, yang semuanya memiliki perbedaan karakter danpermasalahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha yang dilakukandengan penuh kesadaran dan terencana (bertahap) dalam meningkatkan potensi diri peserta didik dalamsegala aspeknya menuju terbentuknva kepribadian dan aólaq mulia dengan menggunakan media danmetode pembelajaran yang tepat guna melaksanakan tugas hidupnya sehingga dapat mencapaikeselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2043347-pengertian-pendidikan/#ixzz1M59uezR8
Pada hakekatnya fungsi pendidikan adalahuntuk mengembangkan kemampuan sertameningkatkan mutu kehidupan dan martabatmanusia. (Undang–Undang Nomor 20 Tahun2003). Siswa sebagai subjek belajar, memiliki
 
 potensi dan karakteristik unik, sangatmenentukan keberhasilan pendidikan.Kemampuan dan kesungguhan siswa merespon pengetahuan, nilai dan ketrampilan mempunyaiandil yang besar dalam keberhasilan belajar.Keberhasilan belajar siswa dipengaruhioleh banyak hal yang sangat kompleks, yaitusiswa, sekolah, keluarga dan lingkunganmasyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang berkualitas dan berprestasi, perlu adanyaoptimalisasi seluruh unsur tersebut.Tugas guru membantu siswa mencapaitujuannya, maksudnya guru lebih banyak  berurusan dengan strategi daripada memberiinformasi, tetapi justru siswa yang aktif mencariinformasi. Tugas guru mengelola kelas sebagaisebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggotakelas (siswa). Guru juga dapat mengembangkaniklim komunikasi di kelas selama pembelajaran berlangsung. Iklim komunikasi yang dimaksudadalah adanya umpan balik interaktif antaraguru dan peserta didik. Dengan demikian, siswaakan mampu memberikan respon balik 2terhadap materi pembelajaran secara aktif, tidak harus menunggu informasi dari guru.PERUMUSAN MASALAHApakah motivasi dan iklim komunikasi kelas berdampak terhadap hasil belajar kimia padasiswa SMA Negeri 1 Jogonalan Klaten?TUJUANTujuan umum penelitian ini ingin mendeskripsikanmotivasi, iklim komunikasi dalam kelas, dan hasil belajar peserta didik. Sedangkan tujuan khususyang hendak dicapai dalam penulisan makalah iniadalah ingin mendeskripsikan kontribusi motivasidan iklim komuniksi kelas terhadap mutu hasil belajar kimia pada peserta didik SMA Negeri 1Jogonalan KlatenKERANGKA BERPIKIR Gambar 1. Kerangka berpikir kontribusi motivasi belajar dan iklim komunikasi kelas terhadap hasil belajar kimiaPERUMUSAN HIPOTESISMotivasi belajar (X1)Hasil belajar Kimia (Y)Iklimkomunikasi(X2) 3Hipotesis dalam penelitian ini dapatdirumuskan bahwa motivasi belajar dan iklimkomunikasi dalam kelas berdampak positif (kontribusi yang signifikan) terhadap hasil belajar pada siswa SMA Negeri 1 JogonalanKabupaten Klaten.
 
JENIS DAN PENDEKATAN PENELITIANJenis penelitian ini merupakan penelitiandiskriptitf kuantitatif. Sesuai permasalahan yangdiangkat yang diangkat pada penelitian iniadalah permasalahan asosiatif, yaitu suatu pertanyaan peneliti yang bersifatmenghubungkan dua variabel atau lebih.Hubungan variabel dalam penelitian adalahhubungan kausal, yaitu hubungan yang bersifatsebab akibat. Ada variabel independent (variabelyang mempengaruhi) dan variabel dependent(dipengaruhi). Variabel independent dalam penelitian ini motivasi (X1) dan iklim komunikasikelas (X2) dan variabel dependent adalah hasil belajar kimia (Y1).
ndidikan dalam islam
Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun kultural,secara makro persoalan yang dihadapi pendidikan Islam adalah bagaimana pendidikan Islam mampumenghadirkan disain atau konstruksi wacana pendidikan Islam yang relevan dengan perubahanmasyarakat. Kemudian disain wacana pendidikan Islam tersebut dapat dan mampu ditranspormasikan ataudiproses secara sistematis dalam masyarakat. Persoalan pertama ini lebih bersifat filosofis, yang kedualebih bersifat metodologis. Pendidikan Islam perlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada dataranfilosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya.Dalam menghadapi peradaban modern, yang perlu diselesaikan adalah persoalan-persoalanumum internal pendidikan Islam yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikanIslam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu denganlainnya.
Pertama
, Persolan dikotomik pendidikan Islam, yang merupakan persoalan lama yang belum terselesaikansampai sekarang. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuktidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Karena, dalam pandanganseorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT (
Suroyo, 1991 : 45)
.Mengenai persoalam dikotomi, tawaran
Fazlur Rahman
, salah satu pendekatannya adalah denganmenerima pendidikan sekuler modern sebagaimana telah berkembang secara umumnya di dunia Barat danmencoba untuk “mengislamkan”nya yakni mengisinya dengan konsep-konsep kunci tertentu dari Islam.Lebih lanjut Fazlur Rahman, mengatakan persoalannya adalah bagaimana melakukan modernisasipendidikan Islam, yakni membuatnya mampu untuk produktivitas intelektual Islam yang kreatif dalamsemua bidang usaha intelektual bersama-sama dengan keterkaiatan yang serius kepada Islam (
Fazlur Rahman, 1982 : 155, 160). A.Syafi’i Ma’arif (1991 : 150)
, mengatakan bila konsep dualisme dikotomikberhasil ditumbangkan, maka dalam jangka panjang sistem pendidikan Islam juga akan berubah secarakeseluruhan, mulai dari tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi. Untuk kasus Indonesia, IAIN misalnyaakan lebur secara integratif dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri lainnya. Peleburan bukandalam bentuk satu atap saja, tetapi lebur berdasarkan rumusan filosofis.
Kedua
, perlu pemikiran kembali tujuan dan fungsi lembaga-lembaga pendidikan Islam
(Anwar Jasin, 1985 :15 
) yang ada. Memang diakui bahwa penyesuaian lembaga-lembaga pendidikan akhir-akhir ini cukupmengemberikan, artinya lembaga-lembaga pendidikan memenuhi keinginan untuk menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu umum dan ilmu agama serta keterampilan. Tetapipada kenyataannya penyesuaian tersebut lebih merupakan peniruan dengan pola tambal sulam ataudengan kata lain mengadopsi model yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum, artinya adaperasaan harga diri bahwa apa yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum dapat jugadilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan agama, sehingga akibatnya beban kurikulum yang terlalubanyak dan cukup berat dan terjadi tumpang tindih. Sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan Islam harusmemilih satu di antara dua fungsi, apakah mendisain model pendidikan umum Islami yang handal danmampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain, atau mengkhususkan pada disainpendidikan keagamaan yang berkualitas, mampu bersaing, dan mampu mempersiapkan mujtahid-mujtahidyang berkualitas.
Ketiga,
persoalan kurikulum atau materi Pendidikan Islam, meteri pendidikan Islam “terlalu dominasimasalah-maslah yang bersifat normatif, ritual dan eskatologis. Materi disampaikan dengan semangatortodoksi kegamaan, suatu cara dimana peserta didik dipaksa tunduk pada suatu “meta narasi” yang ada,tanpa diberi peluang untuk melakukan telaah secara kritis. Pendidikan Islam tidak fungsional dalam

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->