Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
10Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Islam Kontemporer A

Pendidikan Islam Kontemporer A

Ratings: (0)|Views: 2,371|Likes:

More info:

Published by: Âßrørìý Rørìý Røzîêqìý on May 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/20/2013

pdf

text

original

 
Pendidikan Islam Kontemporer; ProblemUtama, Tantangan dan Prospek 
http://abdulwahidilyas.wordpress.com/2010/08/26/pendidikan-islam-kontemporer-problem-utama-tantangan-dan-prospek/
PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER:PROBLEM UTAMA, TANTANGAN DAN PROSPEK 
Sebagai the agent of social change, pendidikan Islam dituntut untuk mampu memainkan peran secara dinamis dan proaktif. Di antara belitan berbagai persoalan besar, iadihadapkan pula pada berbagai tantangan dan prospek ke depan.. Mampukah pendidikan Islam keluar dari belitan permasalahan tersebut dan ikut ambil bagian secara aktif dalam hiruk-pikuknya lalu-lintas perubahan intelektual dan sosio-kultural Global Village dewasa ini? Adalah pengembangan wawasan intelektual yang kreatif dandinamis di berbagai bidang dalam siaran dan terintegrasi dengan Islam, merupakankata kunci yang harus dipercepat prosesnya, baik pada dataran teoritis maupun praksis.
1.
A. PENDAHULUAN 
Perkembangan yang cukup signifikan pada paruh pertama abad XX adalah semakinmeningkatnya intensitas perjuangan negara-negara Muslim Untuk melepaskan diri daridominasi kolonial Barat. Perjuangan tersebut banyak membuahkan hasil, dengandicapainya kemerdekaan di banyak negara Muslim. Namun dengan kemerdekaan yangdicapai tersebut, tidak berarti pula mereka telah lepas sama sekali, dari bayang-bayangdan dominasi Barat. Tidaklah mudah untuk merubah tatanan politik dan sosio-kulturalBarat yang telah cukup lama mengakar kuat dalam berbagai aspek kehidupan mereka.Upaya-upaya untuk melepaskan diri dari hegemoni Barat terus bergulir. Kenyataantersebut dapat dicontohkan dengan munculnya
bias
di dalam menerapkan sistem pemerintahan ke negara-negara Muslim. Ada yang berpegang pada bentuk kerajaan; adayang menerapkan sistem Kerajaan plus Perdana Menteri; ada yang mengangkat Presidendan Perdana Menteri; atau yang hanya Presiden. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh pula terhadap kebijakan-kebijakan yang diterapkan di sektor pendidikan.Berbicara tentang Pendidikan Islam atau pendidikan yang ada dan berkembang di negara-negara Muslim pada abad XXI, meskipun terdapat beberapa kasus perkecualian, makaakan dijumpai polarisasi baik dari aspek epistemologis, ontologis maupun aksiologisnya.Baik sistem, tujuan sampai pada dataran operasionalnya masih menjadi bahan kajianyang
debatable
di kalangan para ahli pendidikan Islam.
 
Ada beberapa faktor yang ditengarai menjadi penyebab munculnya silang pemikirantersebut.
 Pertama
, pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan Islam yang sekarangdikembangkan __baik sistem maupun substansinya__adalah cenderung diadopsi dariBarat. Kalaupun muncul gagasan-gagasan baru yang lahir dari pemikir-pemikir Muslim,hal tersebut dianggap hanya bersifat
tambal-sulam
. Dengan kata lain, melepaskan dirisama sekali dari pengaruh Barat adalah suatu hal yang
imposible.
Harus diakui bahwasebagian besar negara Islam masih merupakan negara Dunia ketiga (miskin atau masih berkembang), yang saat ini masih tertinggal beberapa langkah dari kemajuan yangdicapai oleh negara-negara Barat, yang mau tidak mau jalur atau
track 
track tersebutharus dilalui oleh negara-negara Muslim.
 Kedua,
karya-karya klasik pada masa kejayaanIslam yang merupakan representasi pemikiran pendidikan islam yang komperhensif cukup jarang dijumpai. Dalam hal ini kitab
Ta’limu al Muta’alim
al-Zarnuji sajalah yang-boleh jadi- dipandang sebagai pemikiran yang komperhensif tentang pendidikan Islam.Sementara, pemikiran-pemikiran pendidikan dari para tokoh lain seperti al-Ghazali, al-Mawardi ataupun Ibnu Khaldun, merupakan serpihan-serpihan yang berserakan di berbagai karyanya. Sehingga cukup sulit bagi para pakar pendidikan Islam dewasa iniuntuk menggali dan mengembangkan pemikiran-pemikiran orisinal dari kalangan Muslimsendiri, supaya tidak dicap menjiplak produk Barat.Rahman menyatakan bahwa, faktor yang makin membuat lebih
complicated 
adalah, bahwa pendidikan baru tersebut telah dicangkok dari organisme hidup lainnya di Eropa,dengan
background 
kultural, struktur internal dan konsistensinya sendiri. Meskipun halseperti ini juga pernah terjadi pada masa awal Islam dengan mengalirnya filsafat dansains yunani dalam intelektual Islam dan aliran spiritual. Perbedaan pokok yang terjadisekarang adalah bahwa peradaban Yunani telah musnah sementara peradaban Islam tetaphidup dan kuat serta mampu menghadapi tantangan dari sains Yunani dalam terma-termanya sendiri. Tetapi Peradaban Islam menghadapi sains barat moderen, pada berbagai posisi yang tak menguntungkan -secara psikologis maupun intelektual- yangdisebabkan oleh dominasi politik, agresi ekonomi dan hegemoni intelektual Barat.[1]Tulisan ini berupaya menyorot problem-problem utama yang dihadapi Pendidikan Islamkontemporer yang antara lain meliputi; Dikhotomi, masih bersifat terlalu general dan belum -paling tidak kurang- adanya
“problem-soving”
dari ilmu yang menjadi bahankajian (
Too general knowledge – No problem solving 
), rendahnya semangat penelitian(
 Lack of spirit of inquiry
), Memorisasi, dan Orientasi pada ijazah/sertifikat (
Certificateoriented 
) 1.
B. SITUASI SOSIO-KULTURAL 
Situasi dunia secara umum, oleh Tibi digambarkan bahwa, muncul perjuangan- perjuangan dan konflik di dalam masyarakat dunia kita yang mengambil bentuk-bentuk regional pada semua level, baik ekonomi, politik dan budaya. Konflik yang secara luas
 
terjadi adalah antara budaya Barat yang sangat dominan dengan tradisi ilmu bersifat
 pre-industrial,
yang masih rendah tingkat penguasaannya terhadap alam. Masyarakat dunia,oleh Tibi, dipandang sebagai masyarakat
non-egalitarian
karena memiliki struktur yang
asymmentric
.[2] Dari sinilah pangkal tolak munculnya subordinasi Non-Barat terhadap Barat. Dunia Barat dengan kekuatan kultur industrinya yang ditopang dengan penguasaanilmu pengetahuan dan teknologi, mampu menaklukkan dan menata kembali sebagian besar negara-negara Perindustri (negara-negara Dunia Ketiga). Tibi mencatat bahwa
 gap
antara masyarakat Industri (yang disebut dengan Kelompok Utara) dengan masyarakatPerindustri (yang disebut dengan kelompok Selatan) semakin lebar dalam kurun 1970-an.[3]Situasi tersebut merupakan buah yang dipetik dari kegagalan masa sebelumnya yangterus berlangsung. Rahman menggambarkan bahwa, sejenis sekularisme telah muncul didunia Islam pada masa-masa premoderenis yang disebabkan karena kemandegan pemikiran Islam (
the stagnation of Islamic thinking 
) pada umumnya, dan padakhususnya, disebabkan oleh kegagalan hukum dan lembaga-lembaga shari’ahmengembangkan diri dalam upaya memenuhi tuntutan kebutuhan dan perubahan yangterjadi di dalam masyarakat. Hal ini jelas mempengaruhi jalannya moderenisasi Islam,khususnya dalam lapangan pendidikan.[4]Selanjutnya, proses modernisasi di berbagai kawasan Muslim menampakkan perbedaan- perbedaan substansial, yang disebabkan oleh empat faktor: (1) apakah suatu wilayah budaya akan tetap mempertahankan kedudukannya
vis-a-vis
ekspansi politik Eropa atauia didominasi dan diperintah oleh sebuah negara kolonial Eropa, baik secara
de jure
maupun
de facto,
(2) karakteristik organisasi ulama atau kepemimpinan keagamaan, dansifat hubungan mereka dengan institusi-institusi pemerintah sebelum terjadinya penjajah;(3) keadaan perkembangan pendidikan Islam dan budaya yang menyertainya sesaatsebelum terjadinya penjajahan; dan (4) sifat kebijakan kolonial secara keseluruhan darikekuatan penjajah tertentu seperti Inggris, Perancis atau Belanda.[5]1.
C. PROBLEM UTAMA
Beberapa problem utama yang mewarnai atmosfer dunia pendidikan Islam padaumumnya setidaknya dapat diklasifikasikan dalam lima hal. Jika dianalisis, maka dapatdisimpulkan bahwa problem-problem tersebut merupakan rangkaian yang saling kait-mengkait dan berjalan secara berkelindan. Persoalan-persoalan tersebut adalah sebagai berikut:1.
1. Dichotomic 
Masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan Islam adalah
dikhotomi
dalam beberapaaspek yaitu; antara Ilmu Agama dengan Ilmu Umum, antara Wahyu dengan Akal setaraantara Wahyu dengan Alam. Munculnya problem dikhotomi dengan segala perdebatannya telah berlangsung sejak lama. Boleh dibilang gejala ini mulai tampak pada

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
abumeisha liked this
Evi Jayanti liked this
Ratno Andes liked this
IRa Wati PoenYa liked this
Vinaeka Cell liked this
ILham Dikara liked this
Abde Firmansyah liked this
Nur Kholiq liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->