Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tokoh Muhammadiyah

Tokoh Muhammadiyah

Ratings: (0)|Views: 355 |Likes:
Published by Lisa Aprilia
Bagi yang membutuhkan silahkan didownload.
Mohon feedbacknya ya ^^
Bagi yang membutuhkan silahkan didownload.
Mohon feedbacknya ya ^^

More info:

Published by: Lisa Aprilia on Jun 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

 
1
Riwayat Tokoh-tokoh Muhammadiyah
1.
 
Riwayat KH. Achmad DahlanPada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan bergantinama Ahmad Dahlan. Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadikhatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902-1904, iamenunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan denganmemperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri,anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai AhmadDahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enamorang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, SitiAisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, KH. AhmadDahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. AhmadDahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah(adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam,1968: 9).Sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinyasendiri, yaitu :"Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa- peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati.Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin jugaengkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkanseolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkaumenghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan darisekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dantinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat.Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir  bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu denganmemperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah,serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka padaamal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyaikesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan(dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yangsistematis.
 
2
 
2.
 
KH. IbrahimSebelum Dahlan wafat, ia berpesan pada sahabat-sahabatnya agar tongkat kepemimpinan Muhamadiyah sepeniggalnya diserahkan kepada KiaiHaji Ibrahim. Mula-mula KH. Ibrahim yang terkenal sebagai ulama besar menyatakan tidak sanggup memikul beban yang demikian berat itu. Namunatas desakan sahabat-sahabatnya agar amanat pendiri Muhammadiyah bisadipenuhi, akhirnya dia bisa menerimanya. Kepemimpinannya dalamMuhammadiyah dikukuhkan pada bulan Maret 1923 dalam Rapat TahunanAnggota Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur MoehammadijahHindia Timur (Soedja`, 1933: 232). KH. Ibrahim dilahirkan di kampungKauman Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1874. Ia adalah putra dari KH. FadlilRachmaningrat, seorang Penghulu Hakim Negeri Kesultanan Yogyakarta pada zaman Sultan Hamengkubuwono ke VII (Soedja`. 1933: 227), dan iamerupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan.Ibrahim menikah dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman aliasDjojotaruno (Soeja`. 1933:228) pada tahun 1904. Pernikahannya dengan SitiMoechidah ini tidak berlangsung lama, karena istrinya segera dipanggilmenghadap Allah. Selang beberapa waktu kemudian Ibrahim menikah denganibu Moesinah putri ragil dari KH. Abdulrahman (adik kandung dari ibuMoechidah).Ibu Moesinah (Nyai Ibrahim yang ke-2) dikaruniai usia yang cukup panjang yaitu sampai 108 tahun, dan baru meninggal pada 9 September 1998.Menurut penilaian para sahabat dan saudaranya, Ibu Moesinah Ibrahimmerupakan potret wanita zuhud, penyabar, gemar sholat malam dan gemar silaturahmi. Karena kepribadiannya itulah maka Hj. Moesinah seringdikatakan sebagai ibu teladan (Suara `Aisyiyah. No.1/1999: 20).Masa kecil Ibrahim dilalui dalam asuhan orang tuanya dengandiajarkan mengkaji al-Qur'an sejak usia 5 tahun. Ia juga dibimbingmemperdalam ilmu agama oleh saudaranya sendiri (kakak tertua), yaitu KH.M. Nur. Ia menunaikan ibadah haji pada usia 17 tahun, dan dilanjutkan pulamenuntut ilmu di Mekkah selama lebih kurang 7-8 tahun. Pada tahun 1902 ia pulang ke tanah air karena ayahnya sudah lanjut usia.KH. Ibrahim yang selalu mengenakan jubah panjang dan sorbandikenal sebagai ulama besar dan berilmu tinggi. Setibanya di tanah air, KH.Ibrahim mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Banyak orang berduyun-duyun untuk mengaji kehadapan KH. Ibrahim. Beliau termasuk seorang ulama besar yang cerdas, luas wawasannya, sangat dalam ilmunyadan disegani. Ia hafal (hafidh) al-Quran dan ahli qira'ah (seni baca Al-Quran),serta mahir berbahasa Arab. Sebagai seorang Jawa, ia sangat dikagumi oleh banyak orang karena keahlian dan kefasihannya dalam penghafalan Al-Qur'andan bahasa Arab. Pernah orang begitu kagum dan takjub, ketika dalam pidato pembukaan (khutbah al-'arsy atau sekarang disebut khutbah iftitah) KongresMuhammadiyah ke-19 di Bukit Tingi Sumatera Barat pada tahun 1939, iamenyampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.
 
3
 
KH. Ibrahim juga memimpin kaum ibu supaya rajin beramal dan beribadah, senantiasa mengingat Allah, rajin mengerjakan perintah agamaIslam dan diberi nama Adz-Dzakiraat (Soedja`, 1933: 136). PerkumpulanAdz-Dzakiraat ini banyak memberikan jasa kepada Muhammadiyah dan`Aisyiyah, misalnya banyak membantu pencarian dana untuk KasMuhammadiyah, `Aisyiyah, PKU, Bagian Tabligh, dan bagian TamanPoestaka.Pengajian yang diasuh KH. Ibrahim itu memakai metode sorogan dan weton.Pengajian dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Jum`at dan Selasa. Dalammenerapkan dua macam metode tersebut, dipakai waktu yang berbeda, yaitu1)
 
Pada pagi hari mulai pukul 07.00 sampai 09.00 dengan cara sorogan, yaitumengaji dengan diajar seorang demi seorang/satu persatu, terutama untuk anak-anak muda yang ada di Kauman pada saat itu.2)
 
Pada waktu sore hari sesudah ashar sampai kurang lebih pukul 17.00dengan cara weton, yaitu cara mengajar mengaji dengan cara Kyaimembaca sedang santri-santrinya mendengarkan dengan memegangkitabnya masing-masing.Semenjak kepemimpinan Ibrahim, kemajuan Muhammadiyah begitu pesat. Muhammadiyah berkembang di seluruh Indonesia, dan meresap diseluruh Jawa dan Madura. Kongres-kongres mulai diselenggarakan di luar kota Yogyakarta, seperti Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya,Kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan, Kongres Muhammadiyah ke-17 di Solo, Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi, KongresMuhammadiyah ke-21 di Makasar, dan Kongres Muhammadiyah ke-22 diSemarang. Dengan berpindah-pindahnya tempat kongres tersebut, makaMuhammadiyah dapat meluas ke seluruh wilayah Indonesia.Menurut catatan Bapak AR Fachruddin (1991), pada masakepemimpinan KH. Ibrahim, kegiatan-kegiatan yang dapat dikatakanmenonjol, penting dan patut dicatat adalah :a.
 
Pada tahun 1924, Ibrahim mendirikan Fonds Dachlan yang bertujuanmembiayai sekolah untuk anak-anak miskin. Pada tahun 1925, ia jugamengadakan khitanan massal. Di samping itu, ia juga mengadakan perbaikan badan perkawinan untuk menjodohkan putra-putri keluargaMuhammadiyah. Dakwah Muhammadiyah juga secara gencar disebarluaskan ke luar Jawa (AR Fachruddin, 1991). b.
 
Pada periode kepemimpinan Ibrahim, Muhammadiyah sejak tahun 1928mengirim putra-putri lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah(Mu`allimin, Mu`allimat, Tabligh School, Normaalschool) ke seluruh pelosok tanah air, yang kemudian di kenal dengan 'anak panahMuhammadiyah' (AR Fachruddin, 1991).c.
 
Pada Kongres Muhammadiyah di Solo pada tahun 1929, yaitu pada masakepemimpinannya, Muhammadiyah mendirikan Uitgeefster My, yaitu badan usaha penerbit buku-buku sekolah Muhammadiyah yang bernanung

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->